Sabtu, 30 April 2011

''antara iktiar dan doa''


''Pembicaraan tentang lebih dulu mana antara doa dan ikhtiar seorang manusia dalam kehidupannya menjadi topik yang hangat di kalangan santri di Padepokan Tashawwuf, sehingga ketika ada suatu kesempatan bercengkrama dengan Sang Guru Bijak Bestari, salah seorang santri menanyakannya kepada Sang Guru.
Santri: Guru, dalam menghadapi suatu masalah, manakah sikap yang sebaiknya kita ambil, berikhtiar dulu semampu kita lalu menyempurnakannya dengan berdoa? Ataukah Berdoa dulu dengan keyakinan kemudian dilanjutkan dengan ikhtiar kita?
Guru:Pertanyaan yang bagus anakku… Memang dalam sejarah hidup manusia, pertanyaan itu senantiasa muncul di kalangan umat, namun ketika seseorang sudah mencapai kesempurnaan dalam hikmah kehidupan, niscaya dia akan mengerti tentang persoalan tersebut dengan segala variasinya.
Anakku, sebenarnya kedua sikap itu sama-sama benar, hanya saja masing-masing memiliki sebab dan kondisi yang berbeda yang Allah paksakan supaya kita melakukan itu.
Ketika kita berada pada kondisi kesadaran bahwa kemampuan kita ini yang merupakan ‘pinjaman serta titipan’ dari Kemampuan Allah yang hendaknya kita gunakan secara optimal untuk menyelesaikan permasalahan kita, maka kita akan bersikap mengupayakan ikhtiar dulu secara optimal, baru setelah itu menyempurnakannya dengan doa. Kita saat itu menyadari bahwa sempurnanya doa kita memerlukan syarat ikhtiar dulu. Maka kita akan berusaha sekuat tenaga kita untuk berikhtiar dulu baru kemudian berdoa.

Sementara pada kondisi yang lain, ketika pengenalan kita terhadap Allah yang melingkupi semua aspek Af’al (Perbuatan-perbuatan), Asma (Nama-nama), Shifat (Sifat) serta Dzat-Nya sedang menguat sedemikian sehingga menyebabkan kita menyadari dan meyakini bahwa ternyata Wujud Dia-lah satu-satunya sumber dari segala daya dan kemampuan di semesta alam ini, termasuk kemampuan kita awalnya berasal dari pelimpahan Kemampuan dari-Nya, maka sebuah doa yang kita lantunkan dengan keyakinan tinggi, merupakan awal dari ikhtiar kita dalam kehidupan.
Di sini, sempurnanya doa kita bersumber dari kesadaran akan posisi kita sebagai ciptaan yang lemah tanpa daya, berhadapan dengan Dia Sang Pencipta yang Maha Rahman, Pemelihara yang sempurna.
Santri: Lalu bagaimana caranya kita bisa mengetahui kita sedang berada pada kondisi yang mana dari kedua hal di atas Guru?

Guru: Anakku, dalam hidup ini kita harus selalu melatih diri untuk senantiasa melihat peristiwa keluar , maupun ke dalam diri kita dan hendaknya kita jujur serta dapat menyelaraskan keduanya. Dengan kejujuran pada diri sendirilah kita secara bertahap akan mengetahui, kondisi obyektif kesadaran dan keyakinan kita terhadap hidup dan Dia Yang Maha Hidup, Pengelola kehidupan dan segala hakikat kehidupan ini. Secara bertahap kita akan dapat mengetahui tahap kesadaran batin apa yang kita miliki.
Untuk itu kita hendaknya senantiasanya meningkatkan pengetahuan dan pengenalan kita terhadap Allah Rabb al-Alamin, serta mencermati suasana batin kita dalam merespons bertambahnya pengetahuan tersebut.
Santri: Maksudnya bagaimana Guru?
Guru: Karena antara pengetahuan dan sikap batin kita adalah dua hal yang berbeda, maka meningkatkan pengetahuan adalah satu hal, sedangkan mengendalikan sikap batin adalah hal yang lain lagi.
Kita bisa saja memiliki pengetahuan tentang tauhid yang paripurna karena pengetahuan itu bisa dipelajari. Tetapi, pada saat yang sama karena kita tidak bisa memenangkan pertempuran keyakinan dandalam batin kita, bisa saja keyakinan kita tentang Allah sebagai sumber dari segala sesuatu (kondisi, masalah, kekuatan, rezeki, dsb.) lemah, akibatnya kita lebih khawatir terhadap kondisi yang akan menimpa kita dari pada yakin bahwa semua kondisi yang kita hadapi adalah seizin Allah dan Dia tujukan sebagai sarana pembelajaran buat kita.
Mari coba kita aplikasikan pada persoalan sehari-hari kita. Misalnya kita seorang sarjana S-1 Teknik Elektronika yang baru lulus dan belum memperoleh pekerjaan. Ayat-ayat Al-Quran tentang Allah sebagai sumber rezeki sudah berkali-kali kita baca, mengerti bahkan kita hafal. Tetapi soal memenangkan pertempuran batin akan kecemasan masa depan ekonomi dan status kita adalah dipengaruhi oleh seberapa pengetahuan kita tentang Allah itu meresap di dalam batin kita.
Pikiran kita yang logis membuat pengetahuan yang benar kita pahami, tetapi dzikr, perilaku akhlak mulia serta kesadaran batin pengakuan kita terhadap kesempurnaan Allah-lah yang mempengaruhi kemenangan batin kita untuk meyakini sesuatu yang kita pahami.
Jadi, pengetahuan tentang rezeki, Allah sumber rezeki (Ar-Raazak), haruslah kita lengkapi dengan latihan batin berupa senang berdzikr di setiap kondisi, mengamalkan akhlak mulia, agar kekhawatiran masa depan rezeki kita bisa ditenangkan oleh keyakinan bahwa Allah Ar-Raazak sudah mengatur rezeki kita secara bijaksana dan tak pernah salah bagi. Dan Allah-lah yang menjamin kebahagiaan masa depan kita, selama kita mengikuti Kehendak-Nya.

Bila kita membiasakan bertindak demikian dalam hidup ini, maka secara bertahap keyakinan kita terhadap ayat-ayat berikut ini Insya Allah akan Allah kuatkan:
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”(QS Thaaha 20: 132)
“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat),”(QS.Al-Mu’min 40:51)
“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,’Sesungguhnya segala sesuat berasal dari Allah, dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kembalinya segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah 2: 155-156)
“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al-Baqarah 2: 115)
Nah..anakku, semoga uraianku ini bisa kaumengerti, dan kalian dapat bersikap sesuai dengan kapasitas keyakinan. Yang penting kalian jujurlah pada diri sendiri, dan membiasakan menilai tindakan orang lain dengan kacamata kalian, sebab sesungguhnya lapis demi lapis kebenaran dan hikmah itu sedemikian lebar dan di luar jangkauan nalar kita.
Santri: Baik Guru, semoga Allah membimbing kami dalam memahami serta mengamalkan doa dan ikhtiar secara benar. Terimakasih atas penjelasan Guru…''

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz