Sabtu, 30 April 2011

jadilah pohon yang berbuah,dalam nasehat ISA as.

'' Alhamdulillah, dalam rangka mendapatkan pelajaran untuk bekal Tazkiyatun Nafs (pensucian jiwa), kami menemukan sebuah tulisan kutipan sahabat Zamzam AJT dalam notes-nya di Facebook beliau tentang nasihat Rasulullah Isa as. kepada para murid beliau. Sebuah nasihat yang baik untuk kita renungkan bersama..

Berkumpulah para murid di sekeliling Nabi Isa as., mereka kembali dengan membawa bakul yang dengan qadar Allah telah terisi penuh buah-buah kurma yang baru masak. Setelah mereka bersembahyang tengah hari, mereka makan bersama sang Nabi.
Dan ketika mereka melihat Barnabas (juru tulis sang Nabi) bermuram muka, maka bangkitlah rasa takut dalam dada para murid, mereka mulai mencurigai jangan-jangan kebersamaan mereka dengan sang Nabi sudah tidak akan lama lagi.
Dari itu Nabi Isa as. menghibur para muridnya, sabdanya:
“Janganlah kalian takut, karena hingga kini saat kepergianku dari kalian semua belumlah tiba, dan aku masih akan berada diantara kalian dalam sedikit waktu lagi.
Karena itu, harus kuwasiatkan kepada kalian sekarang, sebagaimana telah aku sampaikan ke seluruh khalayak Israel, bahwa kalian harus mewartakan tentang taubat, agar Allah merahmati dosa-dosa Israel.

Dan hendaknya setiap orang agar berhati-hati dengan sifat malas, karena setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik akan dipotong dan akan dilemparkan ke dalam api pembakaran!
Sebuah perumpamaan, ada seorang pribumi yang memiliki lahan tanaman anggur, di tengah-tengahnya ada kebun kurma dan balsan yang di dalamnya ada sebuah pohon Tin.
Maka ketika sang pemilik kebun melihat bahwa pohon Tin tersebut sudah tiga tahun tidak menghasilkan buah, berkatalah ia kepada tukang kebunnya, “Tebanglah pohon yang busuk ini, karena memberatkan kepada tanah!”. Lalu tukang kebun menjawab, “Janganlah begitu ya tuanku, karena pohon ini sungguh indah!”
Dijawablah oleh sang pemilik tanah, “Diamlah, bagiku tidak ada perlunya keindahan tanpa faidah! Dan engkau harus mengetahui bahwa pokok kurma dan balsan itu lebih indah dari Tin!
Ketahuilah, dahulu aku pernah menanam cangkokan dari pokok kurma dan balsan di tengah-tengah halaman rumahku, kemudian kedua pohon tersebut aku kitari dengan pagar yang mahal. Akan tetapi, ketika kedua pohon itu tidak menghasilkan buah dan hanya tumpukan daun-daun semata yang merusak tanah di depan rumah, maka aku perintahkan kedua pohon itu untuk dipindahkan!
Apakah bisa aku maafkan sebuah pohon Tin yang jauh dari rumahku, yang memberatkan tanah kebun dan tanaman anggurku, dimana semua pohon yang lain menghasilkan buah. Sungguh aku tidak dapat membiarkan pokok pohon ini lagi!”
Lalu tukang kebun itu menjawab, “Wahai tuan, sebenarnya tanah ini subur sekali, oleh karena itu tunggulah setahun lagi. Aku akan pangkasi dahan-dahan pokok Tin ini, akan aku hilangkan darinya tanah yang terabuk, dan akan kuberi tanah yang kering dan batu-batu supaya ia berbuah”
Pemilik tanah menjawab, “Cobalah kerjakan itu, dan aku akan menunggu pokok pohon Tin ini berbuah”
Nabi Isa as. bertanya kepada para muridnya: “Pahamkah kalian dengan perumpamaan tersebut?”.
Para murid menjawab, “Tidak tuan, cobalah tafsirkan untuk kami”
Nabi Isa as. menjawab: “Ketahuilah oleh kalian, bahwa sang pemilik tanah itu adalah Allah, sedangkan tukang kebunnya itu adalah syariat-Nya!
Di sisi Allah, di surga, ada pokok pohon kurma dan pohon balsan, pokok kurma itu adalah setan dan pokok balsan itu adalah sang manusia pertama. Kemudian diusirlah keduanya, karena keduanya tidak menghasilkan buah berupa amal-amal saleh, bahkan keduanya mengucapkan kata-kata yang tidak baik dimana menjadi membawa hukuman atas para malaikat dan banyak manusia!
Dan oleh karena Allah telah menempatkan manusia di tengah-tengah para mahluk-Nya, yang kesemua ciptaan-Nya itu bertasbih memuji-Nya menurut titah-Nya, maka jika manusia itu tidak membuahkan sesuatu, Allah akan memotongnya dan melemparkannya ke neraka!
Karena Dia tidak memaafkan kepada sosok malaikat dan manusia pertama itu, Dia melaknat si malaikat itu untuk selama-lamanya, tetapi kepada si manusia hanya untuk sementara.
Maka berkatalah syariat Allah, bahwa bagi si manusia tersebut dalam kehidupan ini telah disediakan bermacam-macam rizqi yang lebih dari cukup, melampaui sekedar kebutuhannya. Karena itu, ia harus tahan dalam menerima derita penempaan dan menjauhkan diri dari kelezatan-kelezatan duniawi, agar ia berbuah amalan yang saleh!
Maka atas dasar itulah Allah memberikan kepada manusia kesempatan untuk bertobat. Aku katakan kepada kalian, bahwa Allah telah mewajibkan atas manusia untuk bekerja demi mencapai suatu tujuan seperti yang pernah dikemukakan oleh Ayub, Nabi dan kekasih Allah: ‘Sesungguhnya burung itu dilahirkan untuk terbang, ikan itu untuk berenang, demikian juga manusia ini dilahirkan untuk bekerja!’
Dan telah berkata pula bapak kita, Nabi Allah, Dawud: ‘Apabila kita makan dari buah kerja tangan kita, akan diberkatilah kita, dan menjadi baik bagi tubuh’. Untuk tujuan ini, maka setiap orang harus bekerja menurut bakatnya masing-masing!
Wahai, cobalah kalian katakan kepadaku, jika bapak kita Dawud dan anaknya Sulaiman telah bekerja keras dengan kedua tangan mereka sendiri, apakah yang seharusnya diperbuat oleh seorang yang berdosa ini?”.
Yahya menjawab, “Ya guru, sebenarnya amal itu adalah sesuatu yang baik, akan tetapi kaum fakirlah yang harus melaksanakannya’. Nabi Isa as. menjawab: “Ya, karena mereka tidak bisa berbuat yang lain dari selain itu. Akan tetapi tidakkah engkau ketahui wahai Yahya, bahwa untuk menjadi lebih saleh, maka seorang yang saleh itu harus dapat membebaskan dirinya dari segala kebutuhan.
Matahari dan bintang-bintang yang lain itu menjadi kuat karena memakan perintah Allah, sehingga mereka tidak dapat berbuat dari selain yang diperintahkan itu, maka tiadalah bagi mereka itu suatu kelebihan.
Katakanlah kepadaku, tatkala Allah memerintahkan untuk bekerja, apakah Allah berfirman: ‘Seorang fakir itu harus makan dari keringat dahinya?’. Atau apakah Ayub mengatakan: ‘Sebagaimana burung itu dilahirkan untuk terbang, maka demikian pula dengan si fakir, ia dilahirkan untuk bekerja?’
Tidak, tetapi Allah telah memfirmankannya untuk seluruh manusia: ‘Dengan keringat di wajahmu, engkau akan makan rotimu!’
Dan Ayub (as.) berkata: ‘Bahwa manusia itu dilahirkan untuk bekerja!’
Atas dasar itulah, maka hanya yang bukan tergolong dari jenis manusia lah yang terbebas dari seruan tersebut! Sebenarnya, tidak ada penyebab lain dari meningkatnya harga barang-barang di pasar itu selain disebabkan oleh adanya segolongan besar kaum yang pemalas, tidak bekerja!
Maka, andaikata mereka itu mau bekerja, sebagian bertani, sebagian memancing ikan di air, niscaya dunia ini berada dalam kelimpahan dan kelebihan yang besar!
Dan, segala kekurangan yang terjadi itu, sungguh akan diperhitungkan di Hari Pembalasan yang dashyat kelak!!”[]
REFERENSI:
- AQ.[39]:39. “Katakanlah: ‘Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu (’alaa makaanatikum), sesungguhnya aku pun bekerja, maka kelak engkau akan mengetahui!’.” Ref.[6]:135, [11]:93, [11]:121, [9]:105.
- AQ.[17]:13-14. “Dan pada tiap-tiap insan itu Kami gantungkan kalung (amal perbuatan)-nya pada lehernya, dan akan Kami keluarkan baginya pada Hari Qiyamah sebuah kitab (catatan amal) yang ditemuinya dalam keadaan terbuka. Bacalah kitabmu! Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini membuat perhitungan atasmu!”
- AQ.[30]:30. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada ad-diin, fitrah Allah, yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, itulah ad-diinul qoyyim, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”
- Imran bin Hushain ra. bertanya kepada Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, apa dasarnya kerja orang yang bekerja?”. Rasulullah saw. menjawab: “Setiap orang itu dimudahkan untuk mengerjakan apa yang dia telah diciptakan untuk itu” (Shahih Bukhari, no.2026)
- Imran bin Hushain ra. menceritakan bahwa ada seorang yang bertanya ke Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, apakah telah diketahui siapa2 penghuni surga dan siapa2 penghuni neraka?”. Jawab Nabi saw.: “Ya!”. Tanya, “Jika demikian, apa gunanya amal-amal orang yang beramal?”. Rasulullah saw. menjawab: “Masing-masing bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan, atau menurut apa yang dimudahkan kepadanya!” (Shahih Bukhari, no.1777)''

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz