Rabu, 11 Mei 2011

Arsyad Thalib Lubis Kristolog Batak Kharismatis

Nama lengkapnya Muhammad Arsyad Thalib Lubis. Ia dilahirkan pada bulan Ramadan 1326 H/Ok-tober 1908 M di Sta-bat, kota kecil di Kabupaten Langkat, sekitar 40 km ke arah Utara Kota Medan, Sumatera Utara. Ayahnya bernama Lobai Thalib ibn H. Ibrahim Lubis dan ibunya Kuyon binti Abdullah atau Mar-koyom Nasution. Sejak awal, Arsyad Thalib tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kuat tradisi Islamnya.
Sejarah keilmuannya dapat dilacak jauh hingga ke Kerajaan Asahan, Sumatera Utara. Dua tahun setelah berakhirnya Perang Dunia I, tepatnya tahun 1916, Syeikh Abdul Hamid dan teman-temannya mendirikan satu instansi pendidikan Islam yang diberi nama Madrasah al-Ulum al-Arabiyah. Berikutnya, madrasah ini berkembang menjadi instansi pendidikan ternama di Asahan, bahkan di Sumatera Utara, disamping ada Madrasah Islam Stabat-Langkat, Madrasah Islam Binjai, dan Madrasah al-Hasaniyah di Medan.
Karena keilmuannya yang mendalam, Arsyad Thalib Lubis mendapat penghargaan gelar "Syeikh". Sebagai ulama beliau mumpuni dalam pelbagai cabang ilmu-ilmu Islam, seperti Tawhid (Aqidah), Fiqh, Ushul Fiqh, Hadits, Sejarah, dan Kristologi. Namun, keahliannya"di bidang Kristologi lebih melambungkan namanya sebagai "kristolog besar" dari Sumatera. Dalam bidang Aqidah, Syeikh Arsyad dikenal sebagai sosok pengajar Tawhid yang mumpuni di UNIVA (Universitas Al-Washliyah), Sumatera Utara. Dalam bidang hadits, ia menulis buku Mustha-lah Hadits dan mengajarkan al-kutub al-sittah. Sedangkan dalam kajian sejarah, ia menulis buku Sirah Nabawiyah. Penguasaan seluruh cabang ibnu tersebut dipelajari di lingkungan pesantren tradisional yang ada di Sumatera Utara. Tercatat, pada periode 1917-1930, ia pernah berguru kepada Syeikh Hasan Maksum di Medan untuk memperdalam ilmu Tafsir, Hadits, Fiqh, dan Ushul Fiqh.
Kharismatik
Selain keilmuannya yang luas, Arsyad Thalib Lubis, hingga hari ini, juga dikenal sebagai sosok "kristolog" yang kharismatik. Penguasaannya terhadap sejarah dan doktrin agama-agama,
khususnya Yahudi dan Kristen, sangat mendalam. Keahliannya di bidang kristologi ini menjadi "alat" dakwah yang amat efektif di Tanah Batak. Buku pertama berjudul Rahasia Bible (1926) ditulis ketika ia masih berusia 26 tahun. Buku ini kemudian dicetak ulang pada tahun 1934. Buku ini pun menjadi rujukan penting bagi para dai ormas Al-Washliyah dalam penyebaran agama Islam di Porsea, Tapanuli Utara.
Zending Kristen yang masuk ke Sumatera Utara berusaha untuk menyebarkan Injil di kalangan masyarakat Batak. Inilah buah motivasi Sir Thomas Stamford Reffles, wakil kerajaan Inggris di Sumatera. Kemudian pada 1840, seorang antroplog, Frans W. Junghum (1804-1864) dari Jerman diutus oleh pemerintah Belanda untuk membuat kajian dan penyelidikan di Tanah Batak. Hasil penelitiannya berjudul Keadaan Tanah Batak menarik missionaris Van Der Tuuk untuk mengkristenkan orang Batak pada tahun 1848. Puncak gerakan kristenisasi di Tanah Batak adalah dengan hadirnya pendeta Ludwig I Nommensen (1. 6 Februari 1834). Ia meninggal di Sigumpar, dekat Balige, Sumatera Utara, tanggal 23 Mei 1918.
Masih menurut Arifinsyah dan kawan-kawannya, karena kepiawaian
Nommensen dalam mengkristenkan orang-orang Batak, dia mendapat julukan "Rasul Orang Batak". Kejayaannya menanamkan agama Kristen, mulai dari lembah Silindung hingga ke Ujung Utara Keresidenan Tapanuli telah mendapat pengargaan Doctor Hononoricausa (HC) dalam teologi dari Belanda tahun 1881, Doctor teologi dari Universitas Bonn (Jerman) tahun 1904, dan diberi gelar pengawas (Ephorus) oleh RMG (Rhijuse Mission Gelseschaft).
Saat Nommensen meninggal pada 23 Mei 1918, gereja telah membaptis lebih 180.00 orang Batak. Sekolah-sekolah berjumlah 510 buah dan mempunyai 32.700 orang murid yang terdaftar. Gereja telah dipimpin oleh 34 orang pendeta Batak dan dibantu oleh 788 orang guru Injil dan 2.200 orang Sintua (ketua gereja kampung).
Maka, sangat mafhum, jika kemudian Arsyad Thalib Lubis mengambil pelajaran dari sejarah kristenisasi di atas dan mencoba mendakwahkan Islam agar hadir kembali di Tanah Batak. Ia keluar-masuk kampung yang ada di Tanah Batak dan Tanah Karo untuk berdialog dan berdiskusi tentang kristianitas. Tidak sedikit penduduk kemudian memeluk Islam. Diantara dialog yang pernah dila-koninya adalah dengan pendeta Rivai
Burhanuddin (Pendeta Kristen Advent), Van Den Hurk (Kepalar Gereja Katolik Sumatera Utara), dan Dr. Sri Hardono (tokoh Kristen Katolik).
Selain dialog dan diskusi seputar kristianitas, Syeikh Arsyad juga menulis beberapa karya mengenai Kristen, diantaranya Rahasia Bible, Keesaan Tuhan Menurut Kristen dan Islam, Perbandingan Agama Islam dan Kristen, dan Berdialog dengan Kristen Adventis. Dalam buku-buku ini, Syeikh Arsyad menjelaskan hakikat agama Kristen dan dok-trin-doktrinnya.
Banyak ilmuwan di Indonesia dan Malaysia mengakui keunggulan karya monumental Perbandingan Agama Islam dan Kristen (Medan, 1969). Buku setebal 478 ini diterbitkan kembali oleh penerbit Firman "Islamiyah", (Medan 1403 H/1983 M). Di Malaysia, buku ini terakhir kali dicetak tahun 1982. Pakar perbandingan agama dari Universitas Islam Internasional Malaysia, Dr. Kamaroniah Kamaruzzaman, memuji kualitas karya Syeikh Arsyad tersebut.
Di buku inilah dibandingkan beberapa ajaran penting yang ada dalam Islam dan Kristen, seperti pokok ajaran Islam-Kristen, dosa warisan, penebusan dosa, ketuhanan Yesus, kitab-kitab suci Taurat, Zabur, Injil dan Alquran, dan nubuwat Nabi Muhammad dalam Bible. Dakwah Arsyad Thalib Lubis melalui kristologi sangat terasa hasilnya. Kehadirannya disenangi oleh masyarakat Batak (Porsea) dan Tanah Karo. Karyanya "Pedoman Gndek" (Pedoman Singkat) yang diterjemahkan oleh Terang Ginting dan "Pokok-pokok Ajaran Islam" merupakan karyanya yang disebarkan ke tengah-tengah masyarakat. Akhirnya, beberapa masyarakat di daerah yang masih menganut animisme seperti Kecamatan Tiga Binanga dan Kutalimbaru banyak yang menganut Islam. Hingga hari ini, Islam di Tiga Binanga dan daerah lainnya seperti Tiga Beringin, Pancur Jawi (semuanya berada dalam Kecamatan Tiga Binanga) Islamnya dikenal kuat.
Setelah sekian lama mengemban misi dakwah Islam, Arsyad Thalib Lubis menghadap Allah pada 25 Jumadil Awwal 1392 H/6 Juli 1972 M. Kini, bumi Sumatera Utara menunggu penerus jejak kristolog kharismatis yang tak kenal lelah dalam menggali ilmu dan berdakwah ini.''sumber (republika)

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz