Sabtu, 07 Mei 2011

Falsafah Adat Saisuak Yang Sampai Kini Masih Terpakai 6



1. Aman dan Damai

Bumi yang Damai

  1. Kalau adat berbuhul sintak, sekata baru dijalankan, lurus yang tak mungkin menghindar, hukum yang benar yang diturutkan,
  2. Sudah mujur yang teraih; paham seukur yang dicapai, keruh yang sudah diperjernih, kusut yang sudah diselesaikan,
  3. Tak ada keruh yang takkan jernih, tak ada kusut yang takkan selesai, sepuas silang dan selisih, dapat yang benar tibalah damai,
  4. Supaya sama tampak putih hati, tanda jernih tak berlumpur, berjabat tangan malah kini, begitu adat di hlinangkabau,
Hidup di Dunia
1. Hidup di atas bumi alam ini, menghuni kota dan nagari, ada empat corak dan ragamnya,

a. Pertama, hidup di bumi - kasih pada pacul dan tembilang, suka bersawah dan bertani, memelihara ternak sampai berkembang, kuat bertahun dan menanam, muda tanaman karena disiang ( bersih ), mau mencangkul dan meratakan, jangan tanggung-tanggung,
b. Kedua, hidup di laut - sampan pengayuh kebesaran, alat perkakas serba lengkap, namanya tegak di pertukangan ( nelayan ), tahu dengan ombak yang berdebur, ingat dengan badai yang akan tiba, badan sehat tiang utama, kepintaran pun ada juga,

c. Ketiga, Hidup di awang-awang ( berdagang ) - terbang menyisir awan biru, sayap rimbun ekor pun panjang, mau menjaring angin lalu ( bergaya ), kalau patah sayap tercabut bulu, siang dan malam silih berganti, pandai menenggang yang seperti itu, hidup berniaga itu namanya,

d. Keempat, hidup di langit ( ulama ), iman teguh amalan taat, tahu dengan mungkin dan patut, dunia akhirat supaya selamat, yang baik cinta di hati, pada yang baik tunggang niatan, nafsu dibendung akal budi, pandangan pada dunia berukuran,

2. Itulah macamnya hidup yang empat, diatas dunia supaya dipakaikan, pegang amanat erat-erat, amanat yang jangan dilupakan.
15B. Ciri Masyarakat Minang

2. Masyarakat nan Sakato


Ciri-cirinya :
Bumi senang padi menjadi, padi masak jagung mengupil, anak buah senang sentosa, ternak berkembang biak, bapak kaya ibu bertuah, mamak disembah orang pula

Unsur-unsurnya :
1. Saiyo Sakato, yaitu seia sekata, seperti kata pepatah :

a. Proses pengambilan keputusan
- Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat, bulat supaya boleh digelindingkan, pipih supaya boleh dilayangkan

b. Mendukung hasil keputusan dengan utuh
- Seciap bagaikan ayam, sedenting bagaikan besi,

c. Semangat musyawarah
- Duduk sendiri bersempit-sempit, duduk bersama-sama berlapang-lapang, kata sendiri dibulati ( dimantapkan ), kata bersama dirundingkan (sebelum diputuskan)

d. Semangat kebersamaan
- Ke hulu se-entak galah, ke hilir serengkuh dayung, sekata lahir dan batin, sesuai mulut dan hati,

e. Anti sikap otoriter
- Walau hinggap ingin mencekam, kuku yang tajam tak berguna, walau memegang tampuk alam, kata mufakat yang kuasa, yang baik diambil dengan mufakat, yang buruk dibuang dengan rundingan,

f. Filosofi mengatasi silang sengketa
- Kalau pecah, pecahnya pelupuh, kalau kusut, kusutnya bulu ayam, retak yang tidak membawa mara ( bahaya ), jengkel yang tidak membawa sengsara, genting yang berpantang putus, biang yang tidak akan tembus,

g. Penyelesaian masalah di luar musyawarah buruk
- Yang benar kata seiya ( sekata ), yang raja kata mufakat, baik kata di dalam mufakat, dicari rundingan yang seiya, dicari kata yang sebuah, beriya-iya dengan yang muda, bertidak-tidak dengan yang tua,

h. Untuk mufakat perlu musyawarah
- Mengeruk sehabis lobang, meraba sehabis rasa, habis daya badan tergeletak, habis faham akal berhenti, katapun putus sendirinya, diindang ditampi teras, dikuras dedak di niru, dipilih gabah satu satu, dalam di pilih, dipilih lagi.

2. Sahino Samalu, yaitu harga diri individu menyatu/melebur menjadi harga diri kelompok suku, seperti kata pepatah :

a. Suku yang tidak boleh dianjak, malu yang tidak dapat dibagi, sesimpul seikat erat, seikat sesimpul mati, seikat bagaikan lidi, sesusun bagaikan sirih, selubang bagaikan tebu, serumpun bagaikan serat,

b. Sesakit sesenang, sehina semalu, serasa seperiksa, seadat selembaga, satu larangan clan pantangan,

c. Dekat jelang menjelang, jauh cinta mencinta, jauh di mata dekat di hati, jauh mencari suku, dekat mencari ibu.

3. Anggo Tanggo, tata pergaulan yang tertib dengan mematuhi aturan-aturan clan undang-undang serta pedoman-pedoman clan petunjuk-petunjuk yang diberikan penguasa adat, seperti kata pepatah :

a. Negeri berpagar undang, kampung berpagar aturan, tiap lesung berayam jago,

b. Negeri berpenghulu, kampung punya ketua, rumah punya tungganai, sawah berpematang, lading berbatas batu, rimba berbatas pohon jilung, bukit berbatas pohon murbai, padang berbatas pohon linggundi, hak yang berpunya, genggam yang beruntuk, seukur makanya jadi, sesuai makanya dipakai.

c. Salah cotok melentingkan, salah ambil mengembalikan, salah makan meludahkan, salah langkah surut kembali, salah kepada manusia minta maaf, salah kepada Tuhan minta tobat.

4. Sapikue Sajinjiang, yaitu saling membantu dengan pedoman berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, seperti kata pepatah :

a. Yang berat sama dipikul, yang ringan, sama dijinjing, ke bukit sama mendaki, ke lurah sama menurun, yang ada sama di makan, yang tidak ada sama dicari,

b. Keluk paku kacang belimbing, tempurung lenggang*lenggangkan , bawa menurun ke Saruaso, tanamlah sirih di uratnya, anak dipangku kemenakan dibimbing, orang kampung dipatenggangkan, tenggang negeri jangan binasa, tenggang serta dengan adatnya,

c. Yang lemah perlu ditunjang, yang miring perlu ditopang, ayam ada yang merinduk, sirih diberi junjungan ( batang ), hidup’ sandar bersandar, bagaikan aur dengan tebing.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz