Sabtu, 07 Mei 2011

Falsafah Adat Saisuak Yang Sampai Kini Masih Terpakai 3





Kato Pusako, yaitu petuah nenek moyang yang disampaikan secara turun temurun untuk menjadi pedoman hidup bagi anak cucu dalam bentuk pepatah petitih seperti :
  • Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah
  • Hidup berakal, mati beriman
  • Adat hidup tolong menolong, adat mati jenguk menjenguk, adat kaya beri memberi dan adat miskin saling membantu
  • Karajo baiak ba imbauan - karajo buruak baambauan ( amar makruf nahi munkar )
Kato Daulu, yaitu kato daulu kato ditepati artinya setiap ucapan merupakan janji atau ikrar yang harus ditepati oleh setiap orang yang mengucapkannya demi
kemuliaan dan harga dirinya.

Kata Buatan, yaitu ikrar yang diterapkan berdasarkan persetujuan semua pihak dalam suatu permusyawaratan yang dilakukan menurut “alui dan patuik”sepanjang adat. Hal ini tergambar dari pepatah adat : Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat dan tuah sepakat orang yang banyak.
Kata Kemudian, yaitu suatu ikrar yang terpaksa diperbarui karena tak terlaksananya ikrar terdahulu. Hal ini tergambar dari pepatah :Janji ditepati, ikrar dimuliakan dan elang tak sekali hinggap, pikiran tak sekali tumbuh.
8. Penerapan Adat

Lingkungan Pemerintahan Adat
  1. Berhitung dan satu, mengaji dari alif, naik dan jenjang yang di bawah dan turun dari tangga yang di atas.
  2. Kemenakan tunduk kepada mamak, mamak tunduk kepada penghulu, penghulu tunduk kepada mufakat, mufakat tunduk kepada kebenaran dan kebenaran itu berdiri sendiri.
  3. Mufakat tunduk kepada kebenaran dan menurut alur aturan yang pantas.
Lingkungan Pemerintahan
  1. Adat nan maniru manuladan, sahino samalu dan saraso sapanso.
  2. Alur sama diturut, jalan bersih yang ditempuh, adat sama dipakai dan aturan sama diturut.
  3. Yang meniru meneladani, bagaimana orang begitu pula kita, mencontoh pada yang ada, meneladan pada masa lampau dan mencari tuah kepada yang menang.
  4. Berlaba sama beruntung, kehilangan sama merugi, mengukur sama panjang, menyambung sama lebar, berbagi sama banyak, menimbang sama berat, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, kebukit sama mendaki dan ke lurah sama menurun.
  5. Yang ada sama dimakan, yang tidak sama dicari.
  6. Kalau jauh ingat mengingat, kalau dekat kunjung-mengunjungi.
  7. Tertelentang sama minum air, tertelungkup sama makan tanah, melompat sama patah dan merunduk sama bungkuk.
  8. Yang tua dimuliakan, yang muda dikasihi dan seusia diajak kawan.
  9. Kabar baik berhimbauan dan kabar buruk berhamburan.
  10. Pucuk pauh sedang terjela, penjolok bunga langgundi, agar jauh silang sengketa perhalus basa dan basi.
  11. Yang merah ialah sega, yang burik ialah kundi, yang indah adalah basa ( basi ) dan yang baik adalah budi.
Lingkungan Kehidupan Berdunsanak dan Berkorong Kampung
  1. Kampung berpagar dengan pusaka, negeri berpagar dengan aturan, disana aturan yang berlaku, baris yang tahan tilik dan aturan yang tahan uji.
  2. Menimbang sama berat, mengukur sama panjang. Tiba di mata tidak dipejamkan, tiba di perut tidak dikempiskan, tiba di dada tidak dibusungkan.
  3. Mendapat sama berlaba, kehilangan sama merugi, mengukur sama panjang, menyambung sama lebar, berbagi sama banyak clan menimbang sama berat.
  4. Yang ada sama dimakan, yang tidak ada sama dicari, hati gajah sama dipotong, hati tungau sama dicercah, yang besar bagi bertumpuk dan yang kecil bagi secercah.
  5. Perang sesuku sama dilipat ( berhenti ), perang dengan penyamun sama dihadapi.
  6. Tiba di dunsanak dunsanak pertahankan, tiba di kampung kampung dipertahankan, tiba di negeri negeri dipertahankan, tiba di bangsa bangsa pertahankan.
  7. Kalau kusut, kusutnya bulu ayam, dengan musyawarah diselesaikan, biduk lalu kiambang bertaut.
Lingkungan Mencari Nafkah
  1. Ingin kaya tekun mencari ( berusaha ), ingin tuah bertabur emas, ingin mulia tepati janji, ingin lurus rentangkan tali.
  2. Ingin nama tinggalkan jasa, ingin pandai rajin belajar.
  3. Manusia : Yang buta peniup seruling, yang pekak pelepas bedil, yang lumpuh penghuni rumah, yang dungu untuk suruhan, yang buruk untuk pekerja, yang kuat pengangkut beban, yang jangkung menjadi galah, yang pendek penyeruduk, yang pintar tempat bertanya, yang cerdik tempat berunding dan yang kaya tempat bertenggang.
  4. Tanah : Yang lereng tanami padi, yang tunggang tanami bambu, yang gurun jadikan kebun, yang basah jadikan sawah, yang padat untuk perumahan, yang munggu jadikan pekuburan, yang lubang tambak ikan, yang padang tempat gembala, yang becek kubangan kerbau clan yang rawang renangan itik.
  5. Kayu : Yang kuat untuk tonggak tua, yang lurus untuk rasuk paran, yang lentik untuk bubungan, yang bungkuk untuk tangkai bajak, yang kecil untuk tangkai sapu, yang setapak untuk papan tuai, yang ranting untuk pasak sunting, yang pangkal untuk kayu api dan abunya untuk pupuk padi.
  6. Bambu : Yang panjang untuk pembuluh, yang pendek untuk perian dan yang rebung untuk penggulai.
  7. Sagu : Sagunya untuk bekal ke dangau, ruyungnya ke tangkai bajak, ijuknya untuk atap rumah, pucuknya untuk daun rokok, lidinya untuk sapu.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz