Sabtu, 07 Mei 2011

Iskandar Waworuntu

Monday, 25 April 2005 08:00

Islam Luar Biasa Indah, Sebetulnya, sejak kecil Iskandar Waworuntu bersinggungan dengan Islam. Iskandar kecil sudah sering puasa, kendati hanya ikut-ikutan teman-temannya yang beragama Islam. Bahkan waktu usia 12 tahun ia sudah mengucapkan syahadat. ''Waktu itu ikut teman mengikuti ilmu kanuragan (bela diri-red) dan di situ harus diislamkan. Jadi saya bersyahadat, tetapi hanya untuk kepentingan yang sempit,'' tutur pemilik usaha di bidang pertanian organik ini.
Waktu itu ia belum tergerak untuk memeluk agama Islam. Apalagi, latar belakang keluarganya pun tak ada yang mendukungnya untuk mengenal Islam lebih jauh. Ayahnya, Wiya Waworuntu (almarhum), adalah seorang aktivis lingkungan dan ibunya, seorang pelukis asal Inggris, Judith, adalah penganut Kristen yang taat.
Bangku sekolah tak lagi menarik minat Iskandar di usianya yang ke-14. Ia memutuskan untuk tidak meneruskan sekolah usai tamat SMP dan lebih memilih hidup dengan caranya. Dia merantau dan berpetualang. Daerah 'jajahannya' bahkan sampai Australia, dia tinggal beberapa waktu di negeri itu.
'c2~
Selama petualangannya, hampir semua agama pernah ditekuninya, termasuk Islam.''Saya lebih senang yang pendekatannya lebih ke spiritualisme,'' kata pemilik usaha pertanian organik Pupuan Organic Farm di Bali ini tentang alasan yang membuatnya jatuh hati pada suatu agama.
'c2~
Tahun 1972 ia tinggal di Yogyakarta dan aktif di Bengkel Teater. Di sini ia pernah mengawali membuat kerajinan kulit di Kasongan berupa tas, dompet, ikat pinggang, dan aneka cindera mata lainnya. Sekitar tujuh tahun ia menekuni usaha itu.
'c2~
Tahun 1982 Iskandar mengikuti transmigrasi spontan bersama teman-temannya dan membuka pertanian di Bengkulu. Di sinilah ia bertemu dengan belahan jiwanya, Darmila. Pada tahun 1984 mereka menikah dan tahun 1987 pasangan muda ini meninggalkan Bengkulu.
'c2~
Kehidupan perkawinan menuntunnya untuk kembali dekat dengan Islam. Isterinya seorang Muslim. Satu ucapan yang mengesankan dari sitrinya tentang agamanya adalah, ''Orang melihat Islam dari jauh sebagai agama yang paling senang menakut-takuti.''
'c2~
Ia kembali menyelami Islam setelah melihat ketekunan istrinya beribadah. Dan yang terlihat di dalam Islam, kata Iskandar, berbeda sekali dengan wajah yang selama ini tampak di permukaan. ''Mudah-mudahan itu bagian dari hidayah saya menemukan Islam,''ungkap pendiri Yayasan Lingkungan Hidup Wisnu di Bali ini.
Iskandar mengakui semua tuntunan yang dicarinya sebagai seorang praktisi lingkungan dalam konteks kedudukan manusia dan alam, justru ia temukan di dalam Islam. Tuntunannya amat rapi dan komplet, kata ayah dari Tanri (19 tahun), Tanra (17 tahun), Krisna (12 tahun), dan Wiya (1).
'c2~
Di dalam Islam, kata Iskandar, ia menemukan sesuatu yang terbaik yang dicarinya. Bagi banyak orang yang belum kenal Islam, syariat Islam terkesan berat: shalat lima waktu, puasa, belum lagi harus bersunat.
'c2~
Sesudah jatuh cinta pada Islam, syariat itu menjadi sesuatu yang luar biasa indah. ''Bagi saya, Islam itu bukan pilihan, tetapi hidayah yang tak habis-habisnya kita syukuri. Bagi saya Islam sesuatu yang luar biasa indah karena saya diberi tuntunan untuk bisa lebih dekat dengan Allah,''ungkap Iskandar yang baru 4-5 tahun ini betul-betul tekun beribadah menjalankan ajaran Islam.
'c2~
Iskandar mengatakan isterinya sangat senang setelah ia betul-betul berislam lahir batin. Namun, ketika Iskandar memutuskan memeluk agama Islam, anak-anaknya sudah ada yang meningkat remaja. ''Sampai sekarang ada dua anak saya yang masih dalam keadaan bimbang. Sedangkan anak yang ketiga malah pernah masuk pondok pesantren,'' ujarnya yang mengaku tak letih mendoakan agar anak-anaknya itu mendapatkan jalan dan hidayah seperti yang dia harapkan.
'c2~
Sekarang ia dengan beberapa teman sedang berusaha untuk membuat sebuah pusat kajian lingkungan, khusus untuk menfasilitasi para santri di pondok pesantren tradisional sebelum mereka kembali ke masyarakat. ''Sesudah mereka di Pondok Pesantren selama 7-10 tahun, saya ingin mereka dapat melakukan kegiatan yang berkaitan dengan ilmu-ilmu terapan dan semua bisa dipertanggungjawabkan. Sehingga nanti bisa dipakai sebagai bekal kehidupan mereka di masyarakat,''tutur dia.
'c2~
Saat ini ia sedang menyiapkan tempatnya dan sudah punya tanah di daerah Imogiri. ''Mudah-mudahan kami bisa mengumpulkan uang lebih cepat, sehingga insya Allah tahun ini sudah bisa mulai. Mudah-mudahan ini menjadi cikal bakal sebuah kebaikan tradisi untuk mendapatkan rezeki yang barokah,''kata Iskandar yang senang belajar apa saja secara otodidak ini.
'c2~
Ia pun saat ini sedang mencoba untuk melaksanakan keyakinannya yaitu membuat rumah makan yang halalan thoyyiban sesuai tuntunan Islam, tetapi juga bisa diterima secara umum. Rumah makan yang didirikan sejak Juni 2004 di Yogyakarta tersebut berawal dari keprihatinannya terhadap hampir semua industri yang punya tendesi zalim, yang mengabaikan kepentingan kesehatan dan sosial.
'c2~
''Usaha saya ini niatnya dalam rangka ibadah. Saya berharap Sobo menjadi sebuah jalan. Bahan-bahan yang digunakan tetap berpegang dengan nilai-nilai yang mau saya perjuangkan, yaitu thoyyiban, baik, dan bermanfaat bagi kesehatan, serta berkeadilan. Selain itu tentu saja juga harus memberikan rasa dan suasana yang enak,''tutur Iskandar yang lahir di Jakarta tahun 1954 ini.
'c2~
Orientasinya pada bahan lokal. Bahan baku restorannya ditanam dengan cara tidak merusak lingkungan dan bisa meningkatkan pendapatan petani. Semoga berhasil. Sumber Harian Republika - Dialog Jum-at.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz