Senin, 02 Mei 2011

Kumpulan Kisah Sufi Aththar an-Nisaburi


anekdot sufi Kisah-kisah sufistik berikut ini, menurut Idries Shah, berasal dari Aththar An-Nisaburi. Ajaran-ajaran Aththar An-Nisaburi banyak disertai gambaran-gambaran biografi, fabel, pepatah dan apologi, yang tidak hanya mengandung ajaran moral tetapi kiasan-kiasan yang menggambarkan tentang tahap-tahap khusus perkembangan manusia.
Aththar menggunakan tema suatu ‘perjalanan’ atau ‘pencarian’ sebagai analogi dari tahap-tahap keberhasilan jiwa manusia dalam mencari kesempurnaan.

JAWABAN YESUS
Beberapa orang Israel mencaci Yesus suatu hari, ketika dia berjalan melintasi bagian kota mereka. Tetapi ia menjawab dengan mengulang doa atas nama mereka.
Seseorang berkata kepadanya: “Engkau berdoa untuk orang-orang ini, tidakkah engkau merasa marah kepada mereka?”
Ia menjawab: “Aku hanya dapat membelanjakan apa yang ada dalam dompetku.”
HATI
Seseorang menghampiri orang gila yang sedang menangis dalam kesedihan yang memilukan.
Ia bertanya: “Mengapa engkau menangis?”
Orang gila menjawab: “Aku menangis untuk menarik belas kasihan hati-Nya.”
Yang lain berkata kepadanya: “Ucapanmu bohong, karena Dia tidak memiliki hati lahiriah.”
Orang gila menjawab: “Engkaulah yang salah, karena Dia pemilik seluruh hati yang ada. Melalui hati engkau dapat berhubungan dengan Tuhan.”
DITAWARI DERMA YANG TIDAK DAPAT DITERIMA
Apa! Akan kau berikan sejumlah uang
(Yang akan) menghapus namaku dari Daftar Kaum Darwis?
DONGENG FAZL-RABBI
Suatu hari seorang tua yang kikir pergi menjeguk Fazl-Rabbi, untuk membahas beberapa hal.
Karena lemah dan gelisah, orang tua ini menusukkan tongkat besinya ke luka di kaki Fazl-Rabbi.
Mendengar dengan sopan, apa pun yang dikatakan oleh si orang tua, Fazl-Rabbi tidak berkata-kata, kendati ia menjadi pucat dan kemudian memerah, karena lukanya terasa sakit dan besi tersebut tetap menancap di kakinya.
Kemudian, ketika yang lainnya telah menyelesaikan urusannya, ia mengambil selembar kertas darinya dan menandatanganinya.
Ketika orang tua itu sudah pergi, ia senang karena berhasil dalam ketekunannya, Fazl-Rabbi membiarkan dirinya roboh.
Salah seorang bangsawan yang hadir mengatakan:
“Tuanku, Anda duduk di sana dengan darah mengucur dari kaki Anda, dan orang tua itu menusuknya dengan tongkat besinya, dan Anda sama sekali tidak berkata apa pun.”
Fazl-Rabbi menjawab:
“Aku sama sekali tidak memberi tanda kesakitan, karena Aku takut kalau ketakutannya mungkin menyebabkan ia bingung, dan bahwa ia mungkin menyerahkan ketekunannya karena bantuanku. Kasihan sekali dia, bagaimana aku dapat menambah masalahnya dengan cara demikian?”
Jadilah manusia sejati: mempelajari kebangsawanan dari pemikiran dan tindakan, seperti Fazl-Rabbi.
BUDAK TANPA MAJIKAN
Berkelana dengan jubah tambalan, wajahnya menghitam karena matahari, seorang darwis tiba di Kufah, di mana ia berjumpa dengan seorang pedagang.
Si pedagang berbicara kepadanya, dan memutuskan bahwa ia pasti seorang budak yang tersesat.
“Karena tindak-tandukmu halus, Aku akan memanggilmu Khair (bagus).” Katanya, “Engkau bukan budak?”
“Itulah saya,” jawab Khair.
“Akan kuantar engkau pulang, dan engkau dapat bekerja untukku sampai berjumpa tuanmu.”
“Saya senang sekali,” ujar Khair, “Karena sudah sangat lama saya mencari tuan saya.”
Ia bekerja beberapa tahun pada orang tersebut, yang mengajarinya menjadi penenun; oleh sebab itu nama keduanya adalah Nassaj (penenun).
Setelah layanannya yang lama, merasa bersalah karena terlalu mengeksploitasinya, pedagang tersebut mengatakan, “Aku tidak tahu siapa dirimu, tetapi sekarang engkau bebas untuk pergi.”
Khair Nassaj, Guru Agung Tarekat (Sufi), melanjutkan perjalanannya ke Mekkah tanpa penyesalan karena ia telah menemukan bagaimana melanjutkan perkembangannya, daripada tanpa memiliki nama dan diperlakukan seperti budak.
Ia adalah guru asy-Syibli, Ibrahim Khawwas dan juga Guru Agung kaum Sufi. Ia meninggal lebih dari seribu tahun yang lalu, di usia seratus duapuluh.
KOTAK AJAIB
Suatu ketika seorang laki-laki ingin menjual karpet kasar, dan ia pun menawarkannya di jalan.
Orang pertama yang melihat mengatakan:
“Ini karpet yang kasar, dan sangat usang.” Maka ia pun membelinya sangat murah. Kemudian pembeli tersebut berdiri dan mengatakan kepada lainnya yang tengah berjalan:
“Karpet ini lembut bagai sutra, tak ada yang seperti ini.”
Seorang Sufi yang melintas mendengar orang yang membeli itu dan berusaha menjual barang yang sama dengan dua gambaran yang berbeda.
Sang Sufi berkata kepada si penjual karpet:
“Wahai penjual karpet, masukkan aku dalam kotak ajaibmu, yang dapat mengubah karpet kasar menjadi halus, barangkali bisa mendatangkan permata!”
BULAN
Sang Bulan ditanya:
‘Apa hasratmu yang paling kuat?”
Dijawab:
“Kalau Matahari hendak menghilang, dan tetap terselubung dalam awan selamanya.”
LIMARATUS KEPING EMAS
Salah seorang pengikut Junaid mengunjunginya dengan dompet berisi limaratus keping emas.
“Apakah engkau memiliki uang lebih dari ini?” tanya sang Sufi. “Ya, saya punya.”
“Apakah engkau ingin lebih banyak?”
“Ya, benar.”
“Maka engkau harus menyimpannya, karena engkau lebih membutuhkannya daripada aku; karena aku tidak memiliki apa pun dan tidak menginginkan apa pun. Engkau membutuhkannya dan selamanya ingin lebih banyak.”
ORANG GILA DAN MUADZIN
Seorang muadzin mendaki puncak menara dan mengumandangkan adzan. Sementara itu, seorang gila melintas dan seseorang bertanya kepadanya:
“Apa yang dilakukannya di sana, di atas menara?”
Si gila menjawab:
“Orang di atas itu sesungguhnya mengocok kulit kacang yang kosong.”
Ketika engkau mengucapkan sembilanpuluh sembilan Nama Allah, maka engkau seperti bermain dengan kulit kacang yang kosong. Bagaimana Tuhan dapat dimengerti melalui nama-nama?
Karena engkau tidak dapat mengucapkan dalam kata-kata ‘mengenai hakikat Tuhan, paling baik tidak usah bicara tentang siapa pun sama sekali.
(Kitab-Ilahi)
KERANGKA RELIGIUS
Suatu hari ketika Sahabat Umar ra. melihat dari permulaan hingga habis sebuah kitab suci Yahudi, Nabi Muhammad saw bersabda:
“Engkau terlalu sederhana dengan kitab itu. Jika ingin mendapat suatu manfaat darinya, engkau harus menjadi seorang Yahudi. Menjadi seorang Yahudi yang sempurna lebih baik daripada Muslim yang tidak sempurna; dan membuang-buang waktu dengan kitab Yahudi adalah kepalang tanggung dan tidak memberimu manfaat dengan satu cara atau cara yang lain.
Kesalahanmu adalah bahwa engkau tidak melakukan sesuatu atau pun lainnya dalam sikap ini. Engkau tidak yakin, sangsi pun engkau juga tidak. Lalu, Bagaimana keadaanmu ini, Bagaimana dapat digambarkan?”
(Kitab-Ilahi)
KISAH NABI MUSA A.S.
Suatu ketika Musa a.s. memohon kepada Allah swt. untuk menunjukkan kepadanya salah satu sahabat Allah, dan sebuah suara menjawab:
“Pergilah ke sebuah lembah dan di sana engkau akan menjumpai seorang yang dicintai, orang terpilih, yang menempuh Jalan (pencapaian)!”
Musa pun pergi dan menjumpai orang tersebut, berpakaian compang-camping, dikerubuti berbagai serangga dan binatang melata lainnya.
Musa bertanya, “Dapatkah aku membantumu?”
Laki-laki tersebut menjawab, “Utusan Allah, bawakanlah aku secangkir air, karena sangat haus!”
Ketika Musa kembali dengan membawa air, ia menemukan laki-laki tersebut terkapar sekarat. Ia pergi mencari potongan baju untuk membalutnya. Ketika kembali, ia justru melihat tubuh laki-laki tersebut dilahap seekor singa padang pasir.
Musa sangat tertekan dan menangis:
“Engkau Yang Mahaperkasa dan Maha Mengetahui, Yang mengubah lumpur menjadi manusia. Sebagian menjadi penghuni Surga, lainnya harus disiksa, satu bahagia yang lain menderita. Ini lawan asas yang tidak dapat dimengerti oleh siapa pun.”
Kemudian muncul suara dari dalam diri Musa:
“Orang ini telah bergantung kepada Kami untuk minum dan kemudian berpaling dari kepercayaan itu. Ia bergantung kepada Musa untuk makanannya, percaya pada perantara. Ia telah bersalah karena meminta bantuan dari yang lain setelah puas dengan Kami …”
Hatimu senantiasa melekat sendiri dan makin melekat lagi pada keinginan. Engkau harus tahu bagaimana menjaga hubungan dengan asal-usulmu …
(Ilahi-Nama)
RUH SEBELUM PENCIPTAAN TUBUH
Ketahuilah mengenai waktu ketika di sana ada ruh dan tanpa tubuh.
Inilah masa selama beberapa tahun, yang setiap tahunnya sama dengan seribu tahun kita.
Ruh-ruh tersebut berbaris. Dunia diperlihatkan kepada mereka. Sembilan dari sepuluh ruh berlari menuju dunia.
Kemudian Surga diperlihatkan pada ruh yang tersisa. Sembilan dari sepuluh ruh berlari menuju Surga.
Kemudian Neraka diperlihatkan kepada ruh yang tersisa. Sembilan dari sepuluh ruh berlari menghindarinya dengan ketakutan.
Maka tinggallah beberapa ruh, mereka yang tidak terpengaruh oleh apa pun. Mereka tidak tertarik pada Dunia maupun Surga, juga tidak takut Neraka.
Sebuah Suara Semesta berkata pada ruh-ruh yang tinggal tersebut:
“Wahai ruh-ruh bodoh, apa yang kalian inginkan?”
Secara serempak mereka menjawab:
“Engkau mengetahui segala pengetahuan, bahwa Engkau-lah Yang kami inginkan, dan bahwa kami tidak ingin meninggalkan KehadiranMu.”
Suara itu berkata:
“Menginginkan Kami penuh bahaya, menimbulkan kesulitan dan akibat yang tidak terhitung.”
Ruh-ruh menjawab:
“Dengan senang hati akan kami alami apa pun untuk bersama-Mu, dan kehilangan apa pun agar kami mendapatkan segalanya.”
(Ilahi-Nama)
UJIAN
Berkait dengan ucapan Syaqiq al-Balkh kepada murid-muridnya:
“Kupertaruhkan Imanku kepada Allah, dan pergi mengarungi hutan ganas dengan uang sekadarnya di saku. Aku pergi haji dan pulang, dan uang receh ini masih ada.”
Salah seorang muridnya berdiri dan berkata:
“Jika Anda memiliki uang receh di saku, Bagaimana Anda dapat mengatakan, bahwa Anda menggantungkan segala sesuatu kepada yang lebih Tinggi?”
Syaqiq menjawab:
“Tidak ada lagi yang dapat kukatakan, anak muda ini benar. Ketika engkau menggantungkan segala sesuatu kepada-Nya, maka tidak ada tempat lagi untuk apa pun, sekecil apa pun, sebagai suatu perbekalan!”
(Kitab-Ilahi)
MUHAMMAD, IBNU ISA
Muhammad, ibnu Isa, salah seorang sahabat Pemimpin Ummat, karena kecerdasannya melebihi yang lain.
Suatu hari ia berkuda melintasi jalanan di Baghdad, diiringi pelayan dalam jumlah cukup banyak. Orang-orang pun saling bertanya:
“Siapa laki-laki itu, begitu mempesona, kudanya bagus, begitu kaya?”
Dan seorang perempuan tua yang berjalan tertatih diantara mereka menjawab:
“Itu orang miskin, bukan orang kaya. Karena, jika Allah meniadakan kesenangannya, ia tidak akan memiliki benda seperti sekarang.”
Mendengar ini, Muhammad ibnu Isa, turun dari kudanya yang sehat dan bagus, dan mengakui bahwa memang begitulah keadaannya.
Sejak saat itu ia meninggalkan keinginannya untuk memamerkan kekayaannya.
PEMAHAMAN ORANG GILA
Terdapat orang gila yang tidak ikut ambil bagian dalam jamaah shalat. Di hari Jum’at, dengan penuh kesulitan, orang-orang membujuknya untuk hadir.
Tetapi ketika sang Imam memulai, orang gila tersebut justru melenguh seperti lembu jantan.
Orang-orang menyangka bahwa ia hanya sedang kambuh lagi gilanya, tetapi pada saat yang sama ingin membantunya. Sesudah shalat mereka menegurnya:
“Apakah engkau tidak berpikir tentang Allah, engkau bersuara seperti seekor binatang di tengah-tengah shalat jamaah?”
Si orang gila menjawab:
“Aku hanya melakukan apa yang dikerjakan Imam. Ketika ia telah menekankan, ia membeli seekor lembu, maka aku pun bersuara seperti seekor lembu!”
Ketika jawaban aneh ini disampaikan kepada sang Imam, ia mengakui:
“Ketika aku menyebut Allahu Akbar, aku sedang memikirkan pertanianku. Dan ketika sampai pada alhamdulillah, aku berpikir bahwa aku akan membeli seekor lembu. Pada saat itulah aku mendengar suara lenguhan.”
SI KIKIR DAN MALAIKAT MAUT
Setelah bekerja keras, berdagang dan meminjamkan (uang) si kikir telah menumpuk harta, tigaratus ribu dinar. Ia memiliki tanah luas dan banyak gedung, dan segala macam harta benda.
Kemudian ia memutuskan untuk beristirahat selama satu tahun, hidup nyaman, dan kemudian menentukan mengenai bagaimana masa depannya. Tetapi, segera setelah ia berhenti mengumpulkan uang, ketika itu juga muncul Malaikat Maut di hadapannya untuk mencabut nyawanya.
Si kikir pun berusaha dengan segala daya upaya, agar Malaikat Maut yang pantang menyerah itu, tidak jadi menjalankan tugasnya. Ia berkata:
“Bantulah aku, hanya tiga hari saja, dan akan kuberikan sepertiga hartaku.”
Malaikat Maut menolak, dan mulai menarik nyawa si kikir. Kemudian si kikir berkata lagi:
“Jika engkau membolehkan aku tinggal dua hari lagi, akan kuberi engkau duaratus ribu dinar dari gudangku.”
Tetapi sang Malaikat Maut tidak mau mendengarkannya. Bahkan ia menolak memberi tambahan tiga hari demi tigaratus ribu dinarnya. Kemudian si kikir berkata:
“Tolonglah, kalau begitu beri aku waktu untuk menulis sebentar.”
Kali ini Malaikat Maut mengizinkannya, dan si kikir menulis dengan darahnya sendiri.
“Wahai manusia, manfaatkan hidupmu. Aku tidak dapat membelinya dengan tigaratus ribu dinar. Pastikan bahwa engkau menyadari nilai dari waktu yang engkau miliki.”
KEPALA KELEDAI
Seorang bodoh melihat kepala keledai di atas sebatang kayu di halaman.
Ia bertanya, “Apa yang terjadi di sana?”
Ada yang menjawab, “Diletakkan di sana untuk memalingkan mata iblis!”
“Engkau ini berotak keledai, dan itulah mengapa engkau menggantungkan kepala keledai! Ketika hidupnya, ia tidak dapat menghindari batang kayu yang memukulnya. Sekarang, ketika mati, bagaimana dapat menolak mata iblis?”
KEMUSTAHILAN DAN KEBODOHAN
Apa yang tampak mustahil dan tidak, adalah lebih baik daripada kebodohan manusia yang menganggapnya mustahil.
CAHAYA
Pecinta (kekasih) sejati akan menemukan cahaya hanya jika, seperti lilin, dirinya adalah bahan bakar, membakar dirinya sendiri.
UMMAT KRISTEN DAN MUSLIM
Suatu ketika, seorang Kristen menjadi Muslim. Keesokannya ia telah mulai minum anggur.
Dalam keadaan mabuk, ibunya datang dan berkata:
“Anakku, apa yang engkau kerjakan? Bertingkah dalam cara seperti ini engkau telah menolak Yesus, dan juga gagal menyenangkan Muhammad. Tetaplah berpijak pada keyakinanmu! Tidak seorang pun dapat menjadi manusia dan menyembah berhala sama baik mempertahankan keyakinan lain.”
POHON TIDAK MENYADARI AKAN KEADAANNYA
Suatu hari seorang laki-laki menebang pohon. Seorang Sufi yang melihatnya, mendekat dan berkata:
“Lihatlah cabangnya yang segar ini, penuh dengan getah, bahagia karena ia belum tahu kalau dipotong.”
“Barangkali memang tidak diketahui kerusakan akan membuatnya menderita, tetapi akan mengetahui pada waktunya.”
“Sementara itu, engkau tidak dapat menalarnya.”
Pemotongan ini, ketidaktahuan ini, inilah keadaan manusia.
ANAK PANAH
Ketika anak panah lepas dari busurnya, mungkin melesat lurus, mungkin pula tidak, sesuai kehendak pemanahnya. Betapa aneh, bahwa ketika anak panah melesat tanpa melenceng, tergantung pada keahlian pemanah: tetapi jika keluar dari kebenaran, merupakan anak panah yang menerima perintah keliru!
RAJA MAHMUD DAN BUNCIS
Suatu hari, Raja Mahmud yang perkasa dari Ghazna pergi berburu, ia terpisah dari kelompoknya. Ia kemudian mendatangi asap yang berasal dari sebuah api kecil, di mana ia juga menemukan perempuan tua dengan belanganya.
Raja Mahmud berkata:
“Hari ini engkau mendapat tamu seorang raja, apa yang engkau masak di atas apimu?”
Perempuan tua itu menjawab, “Ini rebusan buncis.”
Raja Mahmud bertanya, “Wahai perempuan tua, maukah engkau memberiku sedikit?”
“Tidak,” jawab perempuan itu, “Karena ini hanya untukku. Kerajaanmu tidak berharga sebagaimana buncis-buncis ini. Engkau boleh saja menginginkan buncisku, tetapi aku tidak menginginkan apa pun yang engkau miliki. Buncis-buncisku bernilai seratus kali lipat daripada semua milikmu. Lihat musuh-musuhmu, yang berusaha mengambil alih milikmu. Aku bebas, dan memiliki kacang buncisku.”
Mahmud yang perkasa memandang pemilik kacang tersebut, memikirkan kekuasaannya yang dipersengketakan, dan menangis.
KETIDAKSADARAN
Engkau tidak tahu apa pun tentang dirimu sendiri dan bagaimana keadaannya.
Dirimu seperti lilin dalam sarang lebah: apa yang diketahui, apa yang diketahui, api ataukah selokan?
Ketika terpasang di tempat lilin, dan cahayanya terpancar, barulah diketahui.
Sama saja, engkau akan mengetahui dirimu hidup ketika engkau mati, dan hanya berpikir dirimu hidup.
ORANG GILA DAN PEGULAT
Seorang gila setengah mabuk memanggil pembawa peti mati setelah pemakaman.
“Siapa orang yang jatuh dalam cengkeraman kematian ini?”
Mereka menjawab, “Hai orang gila, ini jasad juara gulat, pemuda terbaik selama hidupnya.”
Si orang gila menjawab, “Ia mati oleh lawan yang perkasa, tak diketahui kalau hal itu akan terjadi padanya.”
DUA CINCIN
Seorang laki-laki mencintai dua perempuan dengan adil. Mereka berdua memintanya mengatakan siapa diantara mereka yang paling disukai.
Laki-laki tersebut minta waktu sampai keputusannya diketahui. Kemudian ia membuat dua cincin, masing-masing sangat mirip. Lalu ia memanggil keduanya dan mengatakan, “Orang yang paling kucintai, dialah yang mengenakan cincin ini.”
INI, JUGA, AKAN BERLALU
Seorang raja yang sangat berkuasa, memerintah banyak wilayah, berada dalam posisi cemerlang lantaran orang-orang bijak yang dipekerjakannya. Suatu hari ia merasa bingung sendiri dan memanggil penasihatnya.
Katanya, “Aku tidak tahu sebabnya, tetapi sesuatu mendorongku untuk mencari cincin yang memungkinkan diriku menjadikan negara yang tenteram. Aku harus memiliki cincin itu. Dan cincin ini harus dapat membuatku bahagia di kala duka. Pada saat yang sama, jika aku merasa bahagia dan melihatnya, maka cicin itu dapat menjadikanku sedih.”
Orang-orang bijak saling berunding, dan mereka berada dalam perenungan yang amat dalam. Akhirnya mereka memutuskan sifat-sifat cincin yang sesuai dengan raja mereka. Cincin yang dirancang itu, bertuliskan sebuah legenda: Ini, juga, Akan Berlalu.
RAJA YANG MERAMALKAN MASA DEPANNYA
Seorang raja yang juga ahli perbintangan meramal bintangnya, bahwa pada hari dan jam tertentu malapetaka akan mendekatinya.
Ia kemudian membangun rumah batu yang kuat, dan menempatkan beberapa penjaga di luar.
Suatu hari, ketika berada di dalamnya, ia sadar bahwa masih dapat melihat cahaya (siang). Ia menemukan lubang yang kemudian ditutupnya pula, untuk mencegah kemalangan masuk. Dengan menutup pintu, menjadikan dirinya sendiri tawanan dengan kedua tangannya sendiri. Dan karena itu, sang raja pun meninggal dunia.
RUANG INI
Pada dinding dalam lengkungan tekkia di gedung meditasi Aththar yang bersambungan, tertulis kata-kata:
“Disediakan untuk Orang Bijak (Hakim) Tamtim.”
Syeikh Aththar menyuruh murid tertuanya untuk meneliti sikap semua pendatang baru terhadap persembahan tersebut.
Ia menggambarkan bahwa semua yang memberikan tanggapan dalam cara tertentu, akan mengembangkan kekuatan mistik secara benar dan cepat; dan yang mengatakan atau melakukan sesuatu akan pergi atau harus disuruh pergi.
Aththar tidak pernah menanyakan kepada muridnya, pelamar mana yang bersikap demikian. Tetapi mereka meneliti, selama bertahun-tahun, hasilnya sesuai yang digambarkan.
Suatu hari ia ditanya, mengapa meninggalkan persembahan tersebut di sana. Jawabnya, “Untuk menunjukkan mereka yang tidak tanggap, dan tampaknya tidak cukup menunjukkan tentang pengalaman-pengalaman tertentu, akan mengkhianati kemampuan diri atau tidak mencukupi, pada seseorang yang tahu bagaimana membuat suatu ujian.”
Catatan:

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz