Minggu, 08 Mei 2011

Siapakah Orang Batak Itu?


Siapakah Orang Batak Itu?
Ada yang bilang orang Batak bersaudara dengan orang Filipina dan Thailand. Ada
pula yang mengatakan bahwa orang Batak berasal dari India. Atau, orang Batak
hampir sama dengan orang Toraja.

Banyak versi yang mengira-ngira, siapa dan dari mana orang Batak itu berasal.

Versi sejarah mengatakan, si Raja Batak dan rombongannya datang dari Thailand,
terus ke Semenanjung Malaysia, lalu menyeberang ke Sumatera dan menghuni
Sianjur Mula Mula, lebih kurang 8 km arah Barat Kota Pangururan, ibu kota
Kabupaten Samosir, di pinggiran Danau Toba.

Versi lain mengatakan, orang Batak datang dari India melalui Barus atau dari
Alas Gayo, berkelana ke Selatan hingga bermukim di pinggir Danau Toba.

Diperkirakan, si Raja Batak hidup sekitar tahun 1200 (awal abad ke-13). Raja
Sisingamangaraja XII salah satu keturunan si Raja Batak yang merupakan generasi
ke-19 (wafat 1907), maka anaknya bernama si Raja Buntal adalah generasi ke-20.

Batu bertulis (prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof
Nilakantisasri (Guru Besar Purbakala dari Madras, India) menjelaskan bahwa pada
tahun 1024 kerajaan Cola dari India menyerang Sriwijaya yang menyebabkan
bermukimnya 1.500 orang Tamil di Barus.

Pada tahun 1275, Mojopahit menyerang Sriwijaya, hingga menguasai daerah Pane,
Haru, Padang Lawas. Sekitar tahun 1400, kerajaan Nakur berkuasa di sebelah
timur Danau Toba, Tanah Karo dan sebagian Aceh.

Dengan memperhatikan tahun dan kejadian di atas, diperkirakan si Raja Batak
adalah seorang aktivis kerajaan dari Timur Danau Toba (Simalungun sekarang),
dari selatan Danau Toba (Portibi), atau dari barat Danau Toba (Barus), yang
mengungsi ke pedalaman akibat terjadi konflik dengan orang-orang Tamil di Barus.

Akibat serangan Mojopahit ke Sriwijaya, si Raja Batak yang ketika itu pejabat
Sriwijaya, ditempatkan di Portibi, Padang Lawas, dan sebelah timur Danau Toba
(Simalungun)

Sebutan Raja kepada si Raja Batak diberikan oleh keturunannya karena
penghormatan, bukan karena rakyat menghamba kepadanya. Demikian halnya
keturunan si Raja Batak, seperti Si Raja Lontung, Si Raja Borbor, Si Raja Oloan
dan sebagainya, meskipun tidak memiliki wilayah kerajaan dan rakyat yang
diperintah.

Selanjutnya menurut buku Leluhur marga-marga Batak, dalam silsilah dan legenda,
yang ditulis Drs Richard Sinaga, Tarombo Borbor Marsada anak si Raja Batak ada
tiga orang, yaitu Guru Teteabulan, Raja Isombaon, dan Toga Laut. Dari ketiga
orang inilah dipercaya terbentuknya marga-marga Batak.

Di antara masyarakat Batak, ada yang mungkin setuju bahwa asal-usul orang Batak
dari negeri yang berbeda, tentu masih sangat masuk akal. Siapa yang bisa
menyangkal bahwa Si Raja Batak yang pada suatu ketika antara tahun 950-1250
Masehi muncul di Pusuk Buhit, adalah asli leluhur Orang Batak?

Sejak zaman dulu, orang Batak memang perantau ulung. Di Sumatera Utara saja
banyak orang Batak yang bermukim di daerah Asahan, Labuhan Batu. Mereka sejak
lama telah menghapus marganya kemungkinan karena kebiasaan mereka setelah
memeluk agama Islam.

Bahkan, di daerah Langkat ditemukan penduduk bermarga seperti Gerning, Lambosa,
Ujung Pinayungan, Berastempu, Sibayang, Kinayam, Merangin angin, dan lain-lain
yang konon merupakan kelompok marga Malau (WM Hutagalung, Pustaha Batak, Tulus
Jaya, hal 58).

Konon menurut cerita, istri Raja Langkat berasal dari kelompok Marga tersebut.
Batak apa pula mereka kita namakan?

Mungkin, banyak literatur tersimpan di Negeri Belanda sana yang belum
mengungkap bagaimana sesungguhnya pluralisme di Tanah Batak. Namun, dengan
kacamata nasional, kita melihat bahwa Indonesia sangat kaya dengan adat dan
budaya daerah, salah satunya adalah adat dan budaya Batak.


Filosofi Dalihan Natolu

Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak
dilahirkan hingga meninggal, yakni dalam tiga posisi yang disebut Dalihan
Natolu (Bahasa Batak Toba). Di Simalungun disebut Tolu Sahundulan.

Dalihan dapat diterjemahkan sebagai tungku dan hundulan (tempat duduk) sebagai
"posisi duduk". Keduanya mengandung arti yang sama, yakni tiga posisi penting
dalam kekerabatan orang Batak, yaitu pertama, hula-hula atau Tondong, yaitu
kelompok orang-orang yang posisinya "di atas", yaitu keluarga marga pihak istri
sehingga disebut Somba-somba.

"Somba marhula-hula" berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri agar
memperoleh keselamatan dan kesejahteraan.

Kedua, Dongan Tubu atau Sanina, yaitu kelompok orang yang posisinya "sejajar",
yaitu teman/saudara semarga. Manat mardongan tubu artinya menjaga persaudaraan
agar terhindar dari perseteruan.

Ketiga, Boru yaitu kelompok orang yang posisinya "di bawah", yaitu saudara
perempuan kita dan pihak marga suaminya, keluarga perempuan pihak ayah. Dalam
kehidupan sehari hari kita harus elek marboru, artinya agar selalu saling
mengasihi supaya mendapat berkat.

Dalihan Natolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi
tersebut. Ada saatnya menjadi hula-hula/tondong, ada saatnya menempati posisi
dongan tubu/sanina dan ada saatnya menjadi boru. Dengan Dalihan Natolu, adat
Batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta, atau status.
(R-8):'' sumber (osdir com)

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz