Sabtu, 07 Mei 2011

Sri Lestari Masagung : Kembali ke Pangkuan Islam

Wednesday, 29 June 2005 15:19

Sri Lestari, 42, yang akan Anda simak kisahnya berikut ini, termasuk salah seorang yang telah berhasil diubah oleh sebuah sistem pendidikan non-Islam. Sehingga ia yang dilahirkan dari sebuah keluarga muslim, telah tersesat selama hampir 30 tahun, karena sejak SD sampai SMA bersekolah di lembaga pendidikan non-Islam.

Untuk saudaraku kaum muslimin berhati-hatilah dalam mendidik dan menyekolahkan anak-anak kita, menyekolahkan anak-anak kita di Sekolah Islam jauh lebih baik untuk dunia dan akhirat !
Sebagai seorang wiraswastawan yang cukup sukses, Ir. Wijanarko --Ayah Sri Lestari--menghendaki agar putri tertuanya dapat mengecap pendidikan di sekolah yang cukup bergengsi. Pada waktu itu, sekitar tahun 50-an, di kota Yogyakarta belum ada sekolah negeri atau Islam yang cukup bergengsi. Yang ada baru sekolah milik Katolik Santa Steladus. Singkatnya, Sri Lestari dan adik laki-lakinya yang cuma semata wayang itu, dimasukkan oleh orang tuanya ke sekolah tersebut. Sri Lestari merasa kerasan (betah) bersekolah di situ. Apalagi ia termasuk murid yang cerdas, sehingga sentua guru dan kawan kawannya sayang kepadanya.

Suasana yang harmonis dan iklim belajar yang baik, menyebabkan sava tidak ingin bersekolah di tempat lain. Karena itu, ketika saya lulus SD, saya tidak ingin melanjutkan ke SMP lain. Sava memilih sekolah di Santa Steladus. Kebetulan St. Steladus memiliki Taman Kanak-kanak (TK) sampai SMA.

Begitu pun ketika saya lulus SMP, saya tetap melanjutkan pendidikan di SMA sekolah tersebut. Karena lebih banyak bergaul dalam lingkungan Katolik,saya menjadi lebih akrab dengan tradisi Katolik dibandingkan tradisi agama saya sendiri (Islam).

Meskipun begitu, pada setiap waktu magrib, eyang putri (nenek) saya selalu menyuruh mengaji Al-Quran. Karena saya amat sayang kepada nenek, saya turuti saja apa yang diperintah nenek. Tidak heran--meskipun saya belajar di sekolah Katolik--saya dapat baca-tulis huruf Arab dan membaca Al-Quran.

Ada satu hal yang membuat saya begitu terkesan dengan Katolik, yakni ajaran kasih. Saya yang banyak bergaul di lingkungan Katolik menyaksikan, betapa semangat pengabdian dan kepedulian mereka kepada nasib sesama manusia, terutama yang sedang mendapat kemalangan, begitu tinggi.
Mereka dengan senang hati akan menolong siapa saja yang perlu ditolong. Hal-hal seperti inilah yang tidak saya jumpai di lingkungan masyarakat saya yang notabene adalah kaum muslimin. Meskipun kedua orang tua sava, termasuk sanak-famili saya telah berkali-kali mengingatkan agar saya menjaga jarak dengan segala bentuk kegiatan di gereja Katolik, toh itu tidak cukup ampuh untuk menghalangi saya ikut kebaktian.

Berbeda dengan adik sava yang laki-laki. Meskipun is juga bersekolah di St. Steladus, tetapi is tetap tegar dengan pendiriannya sebagai seorang muslim. Sedangkan saya, bahkan bercita-cita menjadi biarawati. Karena itu, ketika lulus SMP, saga Iangsung mendaftarkan diri di sekolah susteran St. Steladus, yaitu pendidikan khusus bagi calon-calon biarawati, yang seluruh muridnya wanita.

Di sekolah susteran inilah, iman kristiani saya bertambah mantap. Dan, saya sudah memutuskan untuk menjadi seorang biarawati. Tamat sekolah susteran, saya melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Ketika sava duduk di semester V, ayah saya meninggal dunia.

Musibah ini memaksa saya hares mengikhlaskan untuk meninggalkan bangku kuliah. Saya ingin agar adik saya yang laki-laki selesai kuliah. Dan, itu sudah pasti butuh banyak biaya. Sebab itu, saya mengalah. Akhimya, saya memutuskan hijrah ke Jakarta.

Beruntung saya segera mendapat pekerjaan di Rumah Sakit Sint Carolus, Salemba Raya, Jakarta. Karena latar pendidikan saya, saya dipercaya menjadi asisten dokter. Di rumah sakit milik Kristen inilah, saya banyak mencurahkan pengabdian untuk membantu mereka yang butuh pertolongan. Tekad saya sudah bulat dan mantap untuk menjadi seorang biarawati yang mengabdi untuk kemanusiaan.

Kembali ke Pangkuan Islam

Pada suatu hari di bulan Oktober 1983, saya diajak seorang kawan saya, seorang wanita muslimah, sekadar jalan-jalan mencari angin. Kami singgah di Toko Buku Wali Songo dan melihat buku-buku Islam. Ketika itu, seseorang yang tidak saya kenal menegur kami, "Dokter, ya?" ujar orang tersebut menebak. Saya pun menjelaskan bahwa saya hanva seorang pembantu dokter di RS St. Carolus. Orang tersebut yangmalah menawarkan pekerjaan kepada saya.

Singkat cerita, tawaran itu pun saya terima. Maka, mulai 28 Oktober 1983, saya resmi bekerja di TB Wali Songo dan di tugaskan sebagai sekretaris. Kepindahan saya bekerja di tempat ini, kelak akan membawa hikmah yang amat besar buat diri dan masa depan saya.

Suasana TB Wali Songo yang kental dengan misi Islam, membuat saya terkenang kembali ke masa-masa kecil di Yogyakarta. apalagi di belakang toko buku itu (masih satu bagian dengan toko buku) ada Masjid Al-A'raaf yang selalu ramai dikunjungi masyarakat. Terutama pada waktu shalat dan pengajian. Dan satu hal lagi, 15 menit menjelang masuk waktu shalat (biasanya zuhur, ashar, magrib, dan isya) di kumandangkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan suara lembut syahdu yang dipancarkan secara sentral ke seluruh ruangan.

Saya kerap menyaksikan kaum mushmin yang shalat berjamaah. Saya pun teringat kepada orang-orang yang saya cintainya--ayah, ibu, dan eyang-yang semuanya sudah dipanggil Yang Kuasa (meninggal dunia). Mereka tidak jemu jemunya mengingatkan saya agar saya kembali masuk Islam.

Bahkan, almarhumah ibu saya ketika menjelang saat-saat terakhir hidupnya, berpesan wanti-wanti. "Kowe kudu ball iho, nduk. Menowo ora, sesuk orang ketemu 1ho karo ibu ono-ono". Maksudnya kamu harus kembali (ke Islam). Kalau tidak, nanti di sana (akhirat) tidak akan ketemu dengan ibu.

Hati saya amat terenyuh jika mengingat semua itu. Saya amat terharu dengan sikap ibu yang saya rasakan sebagai ke prihatinnan seorang ibu kepada anaknya yang tersesat. Saya dapat merasakan betapa almarhumah ibu seperti membawa beban berat menghadap Tuhannya.

Perasaan-perasaan seperti itulah yang semakin mengusik ketenangan saya. Jiwa saya semakin gelisah. Sebagai gadis Jawa, saya dididik untuk patuh kepada orang tua. Sampai saat itu, saya merasa belum dapat membalas budi baik orang tua. Ammarhumah ibu memang tidak memaksa agar saya kembali ke Islam, tetapi almarhumah hanya berharap agar saya punya pengertian untuk itu.

Apalagi, adik saya yang laki-laki secara halus mencoba mengajak saya kembali ke pangkuan Islam. Hampir satu bulan, sejak saya bekerja di TB Wali Songo, akhirnya setelah melalui pertimbangan dan perenungan yang cukup matang, saya pun memutuskan untuk kembali ke pangkuan Islam.

Maka, tepat pada hari ulang tahun saya yang ke-34, 27 November 1983, di hadapan beberapa saksi di Masjid Al-A'raaf Kwitang, Jakarta, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Saya bukan masuk Islam, tapi saya kembali ke pangkuan Islam. Ya, saya memang ibarat kembalinya si anak hilang ke pangkuan bundanya. Allahu Akbar Walillah ilhamd.

Tidak lama sesudah itu, datang hikmah berikutnya. Haji Masagung mempersunting saya untuk mendampingi hidup nya di dunia dan akhirat. Cita-cita saya semula yang ingin menjadi biarawati, setelah menjadi muslimah tentu saja harus ditinjau kembali. Sebab, Islam. tidak menganjurkan untuk hidup membujang (lajang). Islam bahkan -menganjurkan umatnya untuk menikah.

Demikianlah, akhimya dengan penuh keikhlasan, lamaran (pinangan) tersebut saya terima. Setelah menjadi istri Masagung, kesempatan untuk mendalami Islam semakin terbuka lebar. Apalagi toko buku suami saya banyak menyedia kan buku buku Islam. Alhamdulillah, kini, saya sudah menjadi Hajjah, dan Haji Masagung sudah dipanggil Yang Kuasa. Kendatipun begitu, saya telah bertekad untuk melanjutkan cita-cita almarhum suami saya untuk membangun pondok pesantren di kawasan Citeureup.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz