Kamis, 06 Oktober 2011

Wasiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Mahkota Cahaya : Wasiat Rasulullah



Wasiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Salam Sahabat Mahkota Cahaya,,'' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan kepada kita empat wasiat yang sangat agung. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam hadits beliau yang masyhur.

عَنْ أَبِي نَجِيْح اَلْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَة رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً بَلِيْغَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا. قَالَ: أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.
Dari Abu Najih Al-'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang mendalam. Yang dengannya hati menjadi bergetar dan air mata berlinangan karenanya. Maka kami berkata, "Ya Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehatnya orang yang akan berpisah, maka berilah wasiat kepada kami!" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah 'azza wa jalla; mendengar dan taat (kepada penguasa) walaupun yang memerintah kalian seorang budak Habasyi (Ethiopia). Karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup (berumur panjang) di antara kalian, niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka (ketika itu) wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnahnya Al-Khulafaa`ur Raasyiduun sepeninggalku, pegang kuat-kuat dan gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian. Dan berhati-hatilah kalian dari perkara baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (HR. Al-Imam Ahmad 4/126-127, Abu Dawud no.4607, At-Tirmidziy no.2676 dan beliau menyatakan, "Hadits hasan shahih", Ibnu Majah no.42-43, dan Ad-Darimiy no.96)
Dalam riwayat An-Nasa`iy dari Jabir bin 'Abdillah disebutkan,
وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
"Dan setiap kesesatan ada di neraka."

Hadits ini mengandung wasiat yang agung, yang menyeluruh dan mencakup berbagai hal. Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mewasiatkan agar bertakwa kepada Allah 'azza wa jalla, mentaati penguasa, berpegang teguh dengan sunnah dan wajibnya berhati-hati hari kebid'ahan. Perkara-perkara ini merupakan sesuatu yang paling penting. Apabila ummat Islam berpegang teguh dengannya niscaya akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhiratnya.
Hadits ini merupakan pokok yang agung. Mengandung bimbingan-bimbingan yang agung, mencakup dan menyeluruh. Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan nasehat yang agung dan wasiat yang mengena kepada ummat Islam. Di mana beliau shallallahu 'alaihi wa sallam membimbing mereka kepada perkara-perkara yang agung, yang tidak akan tegak agama dan dunia mereka kecuali dengan berpegang teguh dengan perkara-perkara tersebut dan mengikutinya. Dan tidak ada solusi bagi problematika mereka kecuali dengan menerapkannya dengan sebenarnya.

Penjelasan Global Hadits Ini
Pertama, tidak ada agama kecuali dengan bertakwa kepada Allah yaitu mentaati Allah, melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Kedua, tidak akan tegak agama dan dunia mereka kecuali dengan adanya pemimpin yang shalih dan adil yang menuntun mereka dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Menerapkan syari'at Allah di tengah-tengah mereka, mengatur barisan mereka, menyatukan kalimat mereka dan mengangkat bendera jihad untuk mereka dalam rangka meninggikan kalimat Allah. Dan kewajiban atas ummat adalah mentaatinya dengan sebenar-benarnya terhadap apa yang mereka sukai ataupun yang tidak mereka sukai selama pemimpin tersebut istiqamah di atas perintah Allah dan menerapkan hukum-hukum-Nya.
Islam mewajibkan kepada ummat untuk taat kepada penguasanya dalam hal yang ma'ruf walaupun penguasa tersebut berbuat maksiat selama kemaksiatannya tidak sampai kepada kekufuran. Ini semuanya untuk kemaslahatan Islam dan muslimin serta dalam rangka menjaga persatuan mereka dan melindungi darah-darah mereka.
Ketiga, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan wejangannya berkaitan dengan sikap ummat terhadap perselisihan dan orang-orang yang menyelisihi kebenaran. Maka beliau shallallahu 'alaihi wa sallam membimbing kita agar berpegang teguh dengan kebenaran dan kembali kepada manhaj yang lurus yakni manhajnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Al-Khulafaa`ur Raasyiduun radhiyallahu 'anhum. Dan tidaklah sunnah (jalan hidup) dan manhaj mereka kecuali Kitabullah yang Allah nyatakan, "Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur`an) kebathilan baik dari depan maupun dari belakangnya." (Fushshilat:42), dan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang suci.
Maka pada keduanya terdapat keselamatan dan kebahagiaan. Dan pada keduanya juga ada solusi yang benar yang akan memutuskan berbagai perselisihan yang ada di antara kelompok-kelompok ummat Islam sampai ke akar-akarnya sesuai dengan yang Allah ridhai. Dan akan bersatulah kalimat muslimin di atas kebenaran. Dan setiap solusi apapun yang disodorkan yang tidak sesuai dengan apa yang Allah inginkan maka itu adalah kesalahan dan akibatnya adalah kegagalan.
Keempat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan kepada kita dari kebid'ahan dan perkara-perkara baru dalam agama. Betapa seringnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan ummatnya dari bahayanya bid'ah dan kerusakannya dengan penjelasan yang gamblang bahwasanya setiap bid'ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan berada di neraka.
Sungguh benar-benar sangat disayangkan bahwasanya banyak dari ummat Islam yang tidak berpegang teguh dengan Al-Qur`an tidak juga dengan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keyakinan-keyakinan mereka. Bahkan justru mereka telah dikuasai oleh bid'ah dalam jalan hidup mereka, dalam aqidahnya, ibadahnya, akhlaknya dan lain-lainnya. Yang sebenarnya ini merupakan sikap meniru-niru orang-orang kafir. Sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
"Benar-benar kalian akan mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian (orang-orang Yahudi dan Nashara) sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai seandainya mereka masuk ke lubang biawak niscaya kalian pun akan memasukinya." (HR. Muslim)
Diambil dari Mudzakkiratul Hadiits An-Nabawiy fil 'Aqiidah wal ittibaa' hadits ke-10, karya Asy-Syaikh Al-'Allaamah Rabi' bin Hadi Al-Madkhaliy dengan beberapa perubahan.

Empat Wasiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
1. Bertakwa kepada Allah 'azza wa jalla
Wasiat Rasulullah yang pertama adalah agar kita bertakwa kepada Allah.
Takwa adalah wasiatnya Allah kepada orang-orang dahulu (sebelum ummat Islam) dan orang-orang sekarang (ummat Islam).
Allah berfirman,
وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللهَ
"Dan sungguh Kami telah mewasiatkan (memerintahkan) kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan (juga) kepada kalian, bertakwalah kepada Allah." (An-Nisaa`:131)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Bertakwalah kepada Allah di mana pun kalian berada. Dan ikutilah perbuatan yang jelek dengan perbuatan yang baik, niscaya perbuatan yang baik tersebut akan menghapuskan dosa perbuatan yang jelek. Dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik." (HR. At-Tirmidziy dari Abu Dzarr dan Mu'adz bin Jabal radhiyallaahu 'anhumaa, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahiihul Jaami' 96)
Adapun yang dimaksud takwanya seorang hamba kepada Rabbnya adalah dia menjadikan antara dirinya dan apa-apa yang dia takuti dari Rabbnya berupa kemurkaan-Nya, kemarahan-Nya dan siksaan-Nya sebuah perlindungan/benteng yang akan melindunginya dari apa yang dia takutkan tersebut. Yaitu dengan cara melaksanakan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan. Dalam artian dia melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya yang dilandasi keikhlasan dan mengikuti sunnah Rasul-Nya.
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu menyatakan, "Takwa adalah Allah ditaati dan tidak dimaksiati, diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufuri."

2. Taat kepada Penguasa
Wasiat kedua adalah taat kepada penguasa kaum muslimin. Yang merupakan kewajiban atas semua kaum muslimin. Bahkan Allah telah memerintahkannya dalam firman-Nya,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأَمْرِ مِنْكُمْ
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian." (An-Nisaa`:59)
Yang dimaksud ulil amri dalam ayat ini adalah para 'ulama dan para penguasa kaum muslimin, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir dan lainnya dari kalangan ahli tafsir.
Hal ini juga diperkuat oleh sabda beliau,
"Barangsiapa yang taat kepadaku maka sungguh dia taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka dia bermaksiat kepada Allah. Dan barangsiapa yang taat kepada amirku (yakni penguasa kaum muslimin) maka dia taat kepadaku. Dan barangsiapa bermaksiat kepada amirku, berarti dia bermaksiat kepadaku." (HR. Al-Bukhariy dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Akan tetapi taat kepada penguasa terbatas pada perkara yang ma'ruf (yakni selain maksiat). Kita taat kepada mereka ketika mereka memerintahkan yang wajib, yang sunnah ataupun yang mubah. Ketika mereka memerintahkan maksiat maka kita tidak boleh mentaatinya.
Rasulullah bersabda,
"Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu dalam perkara yang ma'ruf." (HR. Al-Bukhariy dan Muslim dari 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,
"Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Allah." (HR. Al-Imam Ahmad)

3. Berpegang Teguh dengan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Sunnahnya Al-Khulafaa`ur Raasyiduun
Wasiat yang ketiga adalah wajib bagi kita untuk berpegang teguh dengan sunnahnya beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dan sunnahnya Al-Khulafaa`ur Raasyiduun (Abu Bakr, 'Umar, 'Utsman dan 'Ali).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menerangkan kepada kita bahwa siapa saja yang hidup sepeninggal beliau maka dia akan menjumpai perselisihan yang sangat banyak.
Hal ini diperkuat dalam hadits yang masyhur tentang iftiraaqul ummat (perpecahan ummat). Di antaranya hadits Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallaahu 'anhuma, dia menyatakan, "Ketahuilah bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berdiri di tengah-tengah kami, lalu beliau bersabda, "Ketahuilah bahwa orang-orang sebelum kalian dari kalangan Ahli Kitab telah terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan ummat ini (ummat Islam) akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua golongan di neraka dan satu golongan di surga, yaitu Al-Jama'ah." (Lihat Shahiihul Jaami' no.2638)
Di dalam riwayat lain dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash diterangkan bahwasanya golongan yang selamat tersebut (yang dalam hadits Mu'awiyah dinamakan Al-Jama'ah) adalah orang-orang yang mengikuti aku dan para shahabatku.
Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa wajib bagi kita untuk memahami Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan pemahamannya para shahabat. Karena dalam hadits yang kita bahas ini (hadits Al-'Irbadh bin Sariyah) ketika terjadi perselisihan ummat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mewasiatkan kepada kita agar berpegang teguh dengan sunnah beliau dan sunnahnya Al-Khulafaa`ur Raasyiduun. Beliau tidak mencukupkan, "Berpeganglah kalian dengan sunnahku!" Akan tetapi beliau memerintahkan kepada kita di samping berpegang teguh dengan sunnah beliau, kita juga harus berpegang teguh dengan sunnahnya Al-Khulafaa`ur Raasyiduun. Dalam artian kita mengikuti sunnahnya Al-Khulafaa`ur Raasyiduun dalam menerapkan sunnahnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Ini menunjukkan akan wajibnya memahami Islam dengan pemahaman mereka (para shahabat) terlebih khusus Al-Khulafaa`ur Raasyiduun.

4. Hati-Hati dari Kebid'ahan
Wasiat Rasulullah yang terakhir dalam hadits ini adalah wajib bagi kita untuk menjauhi segala bid'ah. Adapun yang dimaksud bid'ah adalah setiap keyakinan atau amalan atau ucapan yang diada-adakan setelah wafatnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan niatan beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, akan tetapi tidak ada dalil padanya baik dari Al-Qur`an, As-Sunnah ataupun perbuatannya Salafus Shalih (para shahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in).
Dalam hadits ini dijelaskan bahwa seluruh bid'ah (perkara baru dalam agama) adalah kesesatan. Tidak ada yang baik padanya. Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam seluruh haditsnya yang menerangkan tentang bid'ah beliau menyatakan bahwa semua bid'ah adalah sesat.
Bahkan bid'ah lebih berbahaya daripada kemaksiatan. Orang yang sudah terjerumus kepada bid'ah maka dia susah untuk bertaubat karena dia merasa beribadah kepada Allah. Adapun orang yang bermaksiat dia merasa dirinya telah berbuat dosa kepada Allah sehingga besar kemungkinannya untuk bertaubat kepada Allah dibandingkan orang yang berbuat bid'ah.
Semoga Allah selalu membimbing kita agar tetap istiqamah dalam menempuh jalan yang lurus, aamiin.
Wallaahu A'lam bish-Shawaab.

Maraaji': Qawaa'id wa Fawaa`id minal Arba'iin An-Nawawiyyah, hadits ke-28 dan Al-Qaulul Mufiid fii Adillatit Tauhiid.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz