Minggu, 29 Januari 2012

Al-Marhum Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka Tuo (W. 1922) dan Polemik Tarikat Naqsyabandiyah dengan Mufti Mekah Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (W. 1916)


oleh: al-Faqir ila Rahmatillah Apria Putra

Syekh Muhammad Sa’ad atau yang dikenal dengan Syekh Mungka atau “Beliau Surau Baru” merupakan salah seorang ulama besar yang terkemuka di Minangkabau di masanya. Di ranah Minang, beliau diakui kealimnya, digelari dengan Syaikhul Masyaikh (guru besar) karena dikunjungi oleh berbagai Ulama di Minangkabau, dan lebih dari itu beliau merupakan pemuka Tarikat Naqsyabandiyah al-Khalidi terkemuka di pulau perca ini. Kemasyhurannya paling tidak dikarenakan bantahan beliau terhadap Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi lewat risalahnya yang begitu besar pengaruhnya dikalangan ulama-ulama masa itu.

Beliau dilahirkan di Koto Tuo, Mungka, Payakumbuh, pada tahun 1857 dari suku Kutianyia (Pitopang). Di kampung halamannya, beliau telah berguru kepada beberapa ulama terkemuka Minangkabau kala itu, diantaranya Syekh Abu Bakar Tabiang Pulai (w.1889), Syekh Muhammad Jamil Tungkar (w. 1890), Syekh Muhammad Shaleh Padang Kandih (w. 1912). Kemudian beliau melanjutkan pengembaraan intelektualnya di Mekah, Yaman dan Madinah, yaitu pada tahun 1894-1898 dan 1912-1915. di Tanah suci beliau sempat menimba ilmu kepada ulama-ulama terkemuka seumpama Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Muhammad Hasbullah al-Makki dan Syekh Ahmad bin Zainuddin al-Fatani. Beliau dikabarkan juga pernah berguru kepada Mufti al-‘Allamah az-Zawawi, guru Sayyid Usman Betawi yang masyhur. Disana beliau juga bertemu dengan ulama-ulama Tarikat yang mempunyai reputasi seperti Syekh Abdul Karim Banten (Tarikat Qadariyah wa Naqsyabandiyah), Syekh Abdul ‘Azhim Maduri (Tarikat Naqsyabandiyah Muzhariyah) dan Syekh Abdul Qadir al-Fatani (Tarikat Syathariyah), halmana pertemuan beliau dengan ulama-ulama ini tentu menambah wawasan intelektual beliau.

Setiba di kampung halaman, Mungka, beliau mendirikan sebuah surau bertingkat dua yang dinamai dengan Surau Baru. Surau ini menjadi terkemuka, dan menarik banyak orang-orang siak dari berbagai penjuru Minangkabau. Banyak diantara murid-muridnya menjadi ulama besar dikemudian hari. Sebahagian besar ulama-ulama Tua yang mengikuti pergolakan awal XX tersebut merupakan hasil didikan beliau ini.

Foto: Surau Baru Mungka saat ini setelah beberapa kali renovasi. nampak ciri khasnya telah hilang, padahal dulu Surau ini besar bergonjong bertingkat 2, dengan sebuah menara menjulang ke langit

Dalam bidang intelektual, beliau dituakan diantara ulama-ulama Tua. Pernah, sebelum wafatnya beliau menjadi pendiri dan penasehat Ittihad Ulama Sumatera (Persatuan Ulama Sumatera) bersama dengan ulama-ulama besar lainnya seperti Syekh Abdullah Beliau Halaban (w. 1926). Dalam tulis menulis, beliau juga dikenal mahir mengarang dalam bahasa Arab, apalagi dalam jawi. Karangan-karangan beliau konon cukup banyak. Tapi sayang, hanya satu dua karangan beliau itu yang sampai kepada kita.

Pada tahun 1906 datanglah sebuah Risalah dari Mekkah al-Mukarramah, yang dikarang oleh Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi (1852-1915), seorang ulama di Mesjidil Haram – Mekkah, menjabat sebagai Imam dan Khatib dalam Mazhab Syafi’i, yang juga berasal dari Minang tepatnya dari Ampat Angkat –Bukittinggi. Risalah itu berjudul Izhar Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bis Shadiqin (=menyatakan kebohongan orang-orang yang menyerupai orang yang benar). Risalah itu sesampainya di Padang kemudian dicetak di daerah itu dan tersebar luas di Minangkabau. Yang mana dalam Risalah (berjumlah 144 halaman pada cetakan Mesir) dipertanyakanlah keabsahan Tarikat Naqsyabandiyah, dipakailah beberapa dalil untuk menyatakan bahwa Tarikat Naqsyabandiyah tak lebih dari bid’ah belaka, hingga yang lebih parahnya dalam Risalah itu diserupakanlah orang-orang yang memakai Rabithah sebagai orang yang menyembah berhala.

Tentu saja dengan kemunculan Risalah ini membuah geger masyarakat Minangkabau, apatah lagi ulama-ulamanya, karena Tarikat Naqsyabandiyah telah menjadi amalan bagi setiap ulama, dan berbagai daerah di Minangkabau menjadi pusat Tarikat terpadat di dunia Melayu. Kehidupan Tarikat bagi ulama-ulama Minangkabau yang diibaratkan sebagai pakaian itu sekarang jelas terusik dengan kehadiran risalah tersebut.

Masyarakat luas jadi hiruk pikuk, banyak kehebohan terjadi, hingga ada yang saling mengkafirkan. Dari sinilah pangkal timbulkan kaum muda di Minangkabau, mereka yang hendak mengusik pengajian ulama-ulama tua itu, merusak kato mufakat, sampai sekarangpun masih banyak yang bertipe seperti ini.

Disaat kericuhan itu semakin menjadi, sedangkan ulama-ulama Tarikat sendiri masih banyak yang diam, maka tampillah Syekh Muhammad Sa’ad Mungka untuk mengangkat penanya, menuliskan sebuah Risalah sebagai I’thiradh (bantahan) akan kitab Syekh Ahmad Khatib itu, sekaligus mendudukan masalah Tarikat Naqsyabandiyah dengan sebenar-benarnya. Syekh Muhammad Sa’ad ketika itu menulis sebuah Risalah yang berjudul Irgham Unufil Muta’annitin fi Inkarihim Rabithathal Washilin (= meremukkan hidung penantang, yaitu mereka yang mengingkari Rabithah orang-orang yang telah sampai kepada Allah) . Kitab ini kemudian dikirim ke Mekkah lewat jama’ah haji. Pada permulaan Risalah itu, Syekh Sa’ad menulis:

(Setelah Basmallah dan Hamdalah serta shalawat)
Tatakala di thaba’ orang kitab izhar Zaghlil Kazibin dan masyhurlah sikatib negeri Minangkabau, gaduhlah orang awam dan caci mencaci mereka itu, hingga mengkafirkan setengah mereka itu mereka yang lain orang yang ditetapkan oleh Allah hatinya atas yang haq. Dan demikian itu dengan sebab tersebut di dalam kitab izhar tersebut menyerupakan orang yang pakai rabithah dengan orang yang menyembah berhala dan di datangkan beberapa dalil dari pada al-Qur’an dan hadist dan kalam sahabat dan ulama sufiyah. Maka dengan sebab itu memintalah dari pada al-haqir Muhammad Sa’ad bin Tanta’ Mungka Tuo setengah dari pada ikhwan dari pada ahlus shalah bahwa menyebutkan al-Haqir akan wajah bagi penguatkan segala dalil rabithah dan bagi penolakkan segala wajah membatalkan rabithah dan pemasukkan amalan Tarikat Naqsyabandiyah kepada syari’at, supaya jangan terlonsong dan terkecuh orang-orang yang tiada kuasa menfahamkan dalil. Maka oleh itulah terbukalah hati hamba bagi menyuratkan beberapa wajah mengambil dalil dengan beberapa ayat dan hadist bagi menetapkan Rabithah, dan beberapa wajah bagi penolakan mengambil dalil dengan beberapa ayat dan hadist atas batil rabithah dan lainnya. Dan memudakan hamba dengan kadar yang sedikit atas sekira-kira faham hamba yang lemah dan hamba namai akan dia dengan Irgham Unufil Muta’annitin fi Inkarihin Rabithathal Washilin. Dan harap hamba daripada Allah Ta’ala akan bahwa dijadikannya akan dia akan tulus ikhlas bagi wajahnya yang karim dan akan jadi sebab bagi me[ng]hela do’a ikhwan yang shaleh-shaleh dan bagi memperoleh limpahan cahaya yang dipetaruhkan-Nya pada hati auliya’-Nya yang shadiqin dan bagi menang dengan jannatul Na’im.

(kutipan al-Ayatul Bayyinat fi Izalati Khurafat ba’dh Muta’ashsibin karangan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, cetakan at-Taqdum al-Ilmiyah – Mesir pada tahun 1908, hal. 13-14)

Setelah muqaddimah-nya, Syekh Sa’ad Mungka kemudian menjelaskan duduk perkara masalah Tarikat, tersebab Beliau ulama Tarikat pula maka dijelaskan bahwa Tarikat Naqsyabandiyah ada asalnya dari Syara’ berdasarkan dalil-dalil yang sharih dan yang tersirat. Dibantahnyalah keterangan-keterangan Syekh Ahmad Khatib dengan hujjah yang berdalil pula. Tak tanggung-tanggung dalam risalah-nya, Syekh Sa’ad juga mempesertakan kajian ilmu alat yang komplit, mulai tata bahasa hingga ilmu ushul. Lalu masuklah Syekh Sa’ad mengoreksi keterangan-keterangan Syekh Ahmad Khatib yang menurut faham beliau berjauh-jauhan dalil dan madlul¬-nya itu, sebagai jauh panggang daripada api.

Kemudian Syekh Sa’ad berpesan kepada masyarakat luas agar tidak terpedaya dengan omongan orang-orang yang ingkar seumpama Syekh Ahmad Khatib itu, dengan ucapan :
Dan janganlah terpedaya segala saudara dengan kata segala orang yang ingkar, dan jika ada ia ulama pada zhahir sekalipun; bermula Tarikat Naqsyabandiyah tiada asal baginya pada syari’at, dan rabithah dan khalwat empat puluh hari dan meninggalkan makan daging selama suluk tiada pula asalnya bagi syari’at tetapi ia daripada setengah bid’ah yang ditegah, karena bahwasanya ini kata palsu saja dan kecohan dan supaya akan nyata asalnya kemudian. (al-Ayat al-Bayyinat hal. 32)

Syekh Sa’ad kemudian menjelaskan bahwa ilmu Tarikat ini ialah ilmu shudur (hati) bukan ilmu suthur (yang tersurat dalam kertas). Yaitu berupa Talqin khusus yang diberikan oleh Ahlinya, oleh karena itu pokok dalil tidak dituntut diketahui oleh orang awam. Dan lagi para tokoh Tarikat ini terkenal sebagai orang-orang yang tsiqah (terpercaya). Asal talqin berasal dari Nabi Muhammad, kemudian turun kepada sayyidina Abu Bakar, lanjutnya tali bertali kepada tokoh-tokoh dan Syekh-syekh ikutan, yangmana mereka itu orang-orang yang alim, mempunyai dua sayap zhahir dan Bathin. Mereka tidak mempunyai sifat-sifat keliru, baik itu kekeliruan basyariyah maupun kekeliruan nafsiyah. Mereka mempunyai kemuliaan turun temurun sampai hari kiamat.

Mengenai ungkapan Syekh Ahmad Khatib perihal bid’ah, maka Syekh berujar betapa banyak bid’ah-bid’ah yang bisa menjadi sunat. Adapun mengenai hadist yang diketengahi oleh Syekh Ahmad Khatib, dan yang banyak dipakai oleh penentang-penentang Tarikat:
كل بدعة ضلالة و كل ضلالة فى النار
Maka Syekh Sa’ad mengemukakan, bahwa yang dimaksud bid’ah yang sesat dalam hadist ini tertentu pada bid’ah syar’iyyah semata, bukan bid’ah lughawi, ini merupakan kekeliruan memahami. Keterangannya ada dalam kitab Fatawa al-Haditsiyah karangan Imam Ibnu Hajar al-Haitami, ungkap beliau. Kemudian Syekh Sa’ad mengungkapkan, pengingkaran Syekh Ahmad Khatib terhadap Tarikat Naqsyabandiyah merupakan pengingkaran terhadap “Ahlullah yang auliya’”, sebab waliyullah itulah yang mengajarkannya. Perbuatan Syekh Ahmad Khatib ini sangat terlarang, “saya takut menyebutnya”, ungkap Syekh Sa’ad.

Menyangkut masalah larangan makan daging selama suluk yang disebutkan Syekh Ahmad Khatib tidak berasal dari Syara’ itu, dijawab oleh Syekh Sa’ad bahwa ada asalnya dari syara’. Ada beberapa hadist yang dikemukakan oleh Syekh Sa’ad yang intinya menghentikan makan daging beberapa waktu gunanya untuk i’tidal ikhtiyari (menjaga kesederhanaan diri), apatah lagi dalam rangka berriyadhah (berlatih diri) bersuluk tentu dianjurkan. Adapun dalil yang dipakai Syekh Ahmad Khatib yang menegahkan larangan makan daging, menurut Syekh Sa’ad tidak tepat, sebab hadist yang menegahkan itu maksudnya ialah menghentikan makan daging selama-lamanya, sedangkan suluk tidak begitu adanya. Itulah yang dimaksud hadist tersebut jika ditinjau asbabul wurud-nya.

Mengenai “Suluk” yang dikatakan Syekh Ahmad Khatib merupakan buatan guru-guru tarikat semata, dijawab Syekh Sa’ad bahwa itu merupakan hal keliru. Syekh Sa’ad kemudian menyebutkan hadist yang secara tersirat merupakan dalil menegakkan “Suluk”, kemudian beliau katakan dalam kitab-kitab mu’tabar juga banyak ditemui dalil-dalilnya, seumpama dalam kitab Ittihaf Saadat Muttaqin Syarah Ihya’ Ulumuddin, disini disebutkan bahwa Imam Ghazali pernah melakukan khalwat 40 hari selama 3 kali.

Bantahan yang keras dikemukakan oleh Syekh Ahmad Khatib terhadap rabithah guru yang diamalkan oleh ahli Naqsyabandiyah, dengan beberapa ayat syekh Ahmad Khatib mencela rabithah hingga sampai menyerupakan orang yang berabithah dengan penyembah berhala. Syekh Sa’ad membantah hujjah Syekh Ahmad Khatib tersebut, beliau berujar bahwa syekh Ahmad Khatib keliru memahami makna rabitah yang hakiki. Menghadirkan rupa guru, ungkap Syekh Sa’ad, sesaat sebelum berzikir bukan berarti menyembah guru. Tidak sama halnya dengan orang musyrik yang menyembah berhala dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah. Yang satu menghadirkan sementara, yang satu menyembah, amat jauh perbedaan keduanya, jawab Syekh Sa’ad. Sehingga hal ini tidak cocok menjadi dalil menolak rabithah, tambah beliau.

Dengan adanya Risalah Syekh Sa’ad ini, menjadi legalah ulama-ulama Minangkabau kala itu. Kericuhan yang terjadi akibat Risalah Syekh Ahmad Khatib mulai mereda perlahan-lahan. Hal ini diungkap dengan syukur oleh Syekh Muhammad Sa’ad Mungka sebagai berikut:

Maka terbujuklah dengan dia setengah segala hati yang pecah-pecah wal hamdulillah ‘ala dzalika.
(Risalah Tanbihul Awam ‘ala Taghrirat Ba’dhil Anam karangan Syekh Muhammad Sa’ad Mungka, cetakan De Volherding – Padang, tahun 1910, hal. 3)

Namun ketenangan ulama Naqsyabandiyah tidak bertahan lama, sebab beberapa waktu kemudian datang lagi Risalah karangan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi sebagai bantahan atas kitab Irgham Unufil Muta’annitin. Kitab ini berjudul al-Ayatul Bayyinat fi Izalati Khurafat Ba’dhil Muta’assibin (= bukti-bukti yang nyata untuk menghilangkan khurafat sebahagian orang-orang yang fanatik), sampai di Padang pada tahun 1907 dan dicetak untuk disebarkan. Dalam Risalah ini Syekh Ahmad Khatib menambah keterangannya perihal Tarikat Naqsyabandiyah yang menurutnya tak berasal dari Syara’ tersebut. Risalah ini lebih tebal dari kitab Izhar (yakni 224 halaman), lebih luas cakupannya. Dalam kitab ini, Syekh Ahmad Khatib berujar bahwa Syekh Sa’ad tidak membaca dengan cermat kitabnya. Dalil-dalil Syekh Sa’ad diibaratkan sebagai “sarang lawah” (laba-laba) yang rapuh, tidak berarti.

Pada dasarnya hujjah yang dipakai Syekh Ahmad Khatib dalam al-Ayatul Bayyinat sama dengan yang terdapat dalam Izhar, cuma pada risalah ini beliau berusaha mengoreksi keterangan-keterangan Syekh Sa’ad Mungka, mencari cela di mana kelemahan beliau. Dalam risalah-nya, Syekh Ahmad Khatib tampak lebih menfokuskan waktu untuk membahas persoalan rabithah secara utuh, sehingga perkara rabithah lebih mendominasi halaman-halaman al-Ayatul Bayyinat, di samping masalah-masalah lainnya.

Dengan hadirnya al-Ayatul Bayyinat membuat masyarakat kembali ricuh, perdebatan masalah Tarikat kembali semarak di Minangkabau. Beberapa ahli Tarikat meminta kepada Syekh Sa’ad untuk kembali mengangkat pena buat menolak segala hujjah dan sangka Syekh Ahmad Khatib atas Tarikat Naqsyabandiyah. Namun Syekh Sa’ad tidak serta merta menggoreskan kalamnya untuk menolak Sang mufti. Ditimbangnyalah baik-baik masalah ini, sesudah berdo’a dan bertawassul kepada arwah saadat Naqsyabandiyah, maka terbukalah hati beliau untuk menyuratkan sebuah wajah menolak hujjah orang yang mungkir kepada Tarikat Naqsyabandi. Maka beliau tulislah sebuah risalah yang berjudul Tanbihul Awam ‘ala Taghrirat Ba’dhil Anam (= peringatan bagi orang yang awam akan tipuan sebahagian orang-orang). Setelah selesai ditulis risalah inipun dibawa kehadapan Syekh Ahmad Khatib di Mekkah, selain itu risalah ini juga di cetak untuk disebarkan kepada khalayak ramai. Tanbihul Awam dicetak di Padang pada percetakan De Volherding di tahun 1910, terdiri atas 87 halaman.

Foto: Sampul kitab Tanbihul Awam 'ala Taghrirat Ba'dhil Anam karangan Syekh Mungka (Terbitan de Voltherding, Padang, 1910)

Pada permulaan risalah ini, Syekh Sa’ad menuliskan perihal pribadi beliau. Dengan rendah hati dan tawadhu’, beliau umpamakanlah keadaan yang menimpanya seperti seekor kambing yang hendak menanduk sebuah batu besar. Bagaimanapun caranya kambing itu menanduk, mustahil batu besar itu akan hancur, malahan tanduk kambing itu yang akan luluh. Beliau, dengan kerendahan hatinya, membilang diri beliau belumlah cukup ilmu, belum alim benar. Namun karena ini mencakup perihal orang banyak, beliau lalu mencoba merangkai kata, sehingga jadilah sebuah risalah yang berjudul Risalah Tanbihul Awam dengan berkat pertolongan Allah dan Tasawwul dengan segala penghulu Tarikat Naqsyabandi, maka selesailah kitab Tanbihul Awam, yang menurut beliau hanya berupa “lafazd-lafazd yang sedikit”. Tak lain harapan yang beliau ingini dari penulisan ini ialah supaya “terbujuk kembali segala hati yang pecah”. (hal. 4)

Secara umum isinya juga mempertegas dan memperluas cakupan risalah-nya terdahulu, Irgham Unufil Muta’annitin, sambil menolak i’tiradh (penolakan) dari Syekh Ahmad Khatib. Namun walau begitu, di sinilah tampak keulamaan besar beliau. Dalam Tanbihul Awam Syekh Sa’ad banyak menggunakan kalimat-kalimat kinayah (sindiran) terhadap Syekh Ahmad Khatib, dinama dalil-dalil Syekh Ahmad Khatib yang semula menjadi hujjah penolak Tarikat Naqsyabandiyah, beliau jadikan pula hujjah untuk memperkuat dan memperkokoh Tarikat Naqsyabandiyah. Disini kemahiran beliau yang ahli ilmu Alat nampak sekali, kelihaian beliau memainkan ilmu Mantiq jelas terlihat. Disini terlihat kecerdasan beliau, yang kadangkala keras, kadangkala penuh humoris, bahkan bisa membuat orang merasa geli dan tertawa.

Salah satu contoh ungkapan Syekh Ahmad Khatib, yang beliau –Syekh Sa’ad- tanggapi dengan sangat cerdas dan menggelitik, ialah ungkapan Syekh Ahmad Khatib yang mengatakan : “Dalil yang di dalam kampir garam beliau (maksudnya Syekh Sa’ad) hanya sekedar itulah”. Dijawab dengan cerdas oleh Syekh Sa’ad:
Maka berkata hamba : telah maklum bagi tiap-tiap orang yang berakal bahwasanya yang di dalam kampir garam ialah garam dan rasanya masin (asin), gunanya memperelok rasa tiap-tiap makanan. Maka memintak mengeluarkan dalil dari kampir garam ialah perkataan orang yang berubah akal. Dan jika ada murad [maksud] beliau menyerupakan ilmu hamba dengan garam pada pihak masin (asin) boleh memberi muslahat, maka demikian itu puji yang mentaqdirkan akan dia Allah ta’ala pada mulut beliau, tetapi murad beliau tiada munasabah (sesuai) akan dia. Dan jika ada murad beliau memperolok-olokkan hamba dengan menyerupakan ilmu hamba yang kurang dengan garam yang baik faedah, maka yaitu tiada patut dengan maqam (kedudukan) beliau yang tinggi, karena beliau orang alim besar, sudah lama mengajar dalam Mesjidil Haram, jadi guru oleh segala guru, tiada bandingan beliau dalam alam Minangkabau ini, tapi karena hawa nafsu takut juga beliau bahasa akan gugur pangkat beliau karena kitab beliau dibanding orang, maka sebab itulah beliau buat perkataan seperti perkataan orang jalang-jalang seperti yang telah dilihat dalam kitab yang beliau buat itu.
(Tanbihul Awam hal. 14)

Diantara ungkapan Syekh Sa’ad yang bernada keras kepada Syekh Ahmad Khatib, misalnya :
Jika ditanya kepada orang yang sadar, apa hukumnya kepada orang yang bercakap seperti cakap beliau ini (maksudnya Syekh Ahmad Khatib. Pen), barangkali orang tersebut akan menjawab: sepatutnya dijahit saja mulutnya dengan jarum besi, supaya orang-orang lain jangan terpedaya pula dengan ucapannya lalu mereka turut sesat dan menyesatkan. (Tanbihul Awam hal. 20)

Adapula ungkapan Beliau Syekh Sa’ad yang menggelikan dan humoris, yaitu ketika menanggapi ungkapan Syekh Ahmad Khatib yang mengatakan : “Segala yang engku sebutkan dalam kitab engku tersebut tidak sanggup untuk menolak kentut serangan saya itu dari janggut engku, seperti yang telah dilihat pada awal kitab engku”. Maka dijawab oleh Syekh Sa’ad dengan ucapan:
Memang serangan engku itu mempunyai beberapa kentut, seperti binatang kukuih yang selalu menyerang dengan kentutnya. Jika memang kentut serangan tidak akan dapat hamba tolak dari janggut hamba, maka pastilah baunya amat busuk. Dan setiap yang berbau busuk amatlah batil. Lalu hamba berkata, kebenaran telah datang, kebatilan telah lenyap, sebenarnyalah kebatilan itu pasti lenyap. (Tanbihul Awam hal. 67)

Selain membahas katerangan-keterangan Syekh Ahmad Khatib mengenai Tarikat Naqsyabandiyah, dalam risalah Tanbihul Awam ini juga terdapat sindiran Syekh Sa’ad kepada Syekh Ahmad Khatib yang mencela adat Minangkabau mempusakakan harta kepada kemenakan. Ungkapan Syekh Ahmad Khatib itu ialah : “betapakah orang kita Minangkabau yang berpusaka kepada kemenakan yang ada segala hartanya pusaka daripada mamaknya, maka makanan dan minuman dan pakaian daripada pusaka mamaknya. Dan meng-adat-kan ia akan pusaka bagi kemenakan yang menyalahi suruh Allah… “ (al-Ayatul Bayyinat hal. 15). Maka dijawab oleh Syekh Sa’ad :
Fa aqulu maka berkata pula hamba : tiada lazim daripada keadaan orang Minangkabau berpusaka kepada kemenakan bahwa akan ada sekalian harta mereka itu dan pakaian mereka itu dan minuman mereka itu haram, karena telah maklum bagi tiap-tiap orang bahwasanya mereka itu senantiasa mencari kehidupan seperti berniaga dan bertanam padi dan tembakau dan sebagainya. Dan jika haram harta mereka itu semuanya maka sepatutnya bahwa tiada menerima akan dia orang di Mekkah, apabila dikirim orang kepada mereka itu atas jalan sedekah atau badal haji atau sebagainya. Tetapi yang hamba lihat dan hamba dengar mengambil saja mereka itu akan dia. Dan beliau yang mengharamkan itupun (maksudnya : Syekh Ahmad Khatib. Pen) tiada juga menolak akan dia, apabila dikirim orang kepada beliau hanyalah beliau terima saja, maka antara perbuatan beliau dan kata beliau berlain-lainan. (Tanbihul Awam hal. 11)

Pada akhir bahasannya, Syekh Sa’ad dalam Tanbih-nya memberikan wasiat yang cukup panjang dengan menjelaskan kedudukan ilmu zhahir dan bathin (yaitu halaman 77-84), kemudian beliau menyebutkan beberapa kitab karangan ulama-ulama besar Mekkah dan Madinah yang menolak ingkar orang kepada Tarikat Naqsyabandiyah, memperkokoh amalan Naqsyabandi, diantara yang beliau sebutkan ialah kitab as-Suyuful Maslulah karangan Syekh Husein Ahmad al-Hindi, beberapa karangan as-Sayyid Muhammad Mahdi al-Kurdi dan karangan Sayyid Umar bin Salim al-‘Attas.

Hadirnya Tanbihul Awam kembali membuat lega ulama-ulama Minangkabau, bahkan ada sebagian ulama tersebut yang mengikuti jejak Syekh Sa’ad untuk membela Tarikat Naqsyabandiyah, diantaranya ialah menantu Syekh Sa’ad sendiri, Syekh Khatib ‘Ali al-Minangkawi yang mengarang kitab Burhanul Haq (terbit tahun 1928 di Pulo Bomer – Padang). Banyak pula diantara ulama-ulama yang sebelumnya belum memasuki ranah Tarikat kemudian bertekun mengamalkan Tarikat Naqsyabandi, setelah memuthala’ah, memperbanding-bandingkan kitab Syekh Ahmad Khatib dengan kitab Syekh Sa’ad Mungka. Salah seorang dari ulama besar itu ialah Maulana Syekh Muda Wali al-Khalidi Naqsyabandi, ulama besar di Aceh, pernah menulis dalam kitabnya Intan Permata mengenai keputusan perdebatan Syekh Ahmad Khatib dengan Syekh Sa’ad Mungka sebagai berikut:
Ketahuilah hai segala ummat Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwasanya karangan yang mulia Syekh Ahmad al Khatib yang bernama: Izhar Zighlil-Kazibin, tentang membantah Rabithah dan Thariqat naqsyabandiyah itu adalah silap dan salah paham dari Syekh yang mulia itu, karena beliau itu telah ditolak oleh yang mulia Syekh Sa`ad Mungka Payakumbuh (Sumatra Tengah) dengan kitabnya Irghamu Unufil Muta`annitin. Kemudian kitab ini dijawab pula oleh yang mulia Syekh Ahmad al khatib dengan kitabnya as Saiful Battar (maksudnya kitab al-Ayatul Bayyinat. Pen). Kitab ini pun ditolak oleh yang mulia Syekh As`ad Mungka dengan kitabnya yang bernama Tanbihul `Awam. Pada akhirnya patahlah kalam Tuan Syekh Ahmad al-Khatib. Karena itu maka hamba yang faqir ini, Syekh Muhammad waly al Khalidy sebabnya mengambil Thariqat Naqsyabandiyah adalah setelah muthala`ah pada karangan karangan Syekh Ahmad Khathib dan karangan karangan Syekh Sa`ad Mungka, dimana antara karangan kedua-dua orang ulama itu sifatnya soal jawab dan debat-berdebat. Perlu diketahui bahwa Tuan Syekh Ahmad Khatib itu murid Sayyid syekh Bakri bin sayyid Muhammad Syatha. Sedangkan Tuan Syekh As`ad Mungka murid Mufti Az Zawawy, gurunya Syekh Usman Betawi yang masyhur itu. Maka muncullah kebenaran ditangan Tuan Syekh Sa`ad Mungka apalagi saya telah melihat pula kitab as-Saiful Maslul karangan ulama Madinah selaku menolak kitab Izhar Zighlil Kazibin. Oleh sebab itu bagi murid-muridku yang melihat karangan syekh Ahmad Khatib itu janganlah terkejut, karena karangan beliau itu ibarat harimau yang telah dipancung kepalanya.

Menurut keterangan dari yang mulia Syekh Arifin Batu Hampar (w. 1939), salah seorang murid Syekh Ahmad Khatib dan sebagai pelaku sejarah, pada satu ketika, setelah perdebatan itu, Syekh Ahmad Khatib dan Syekh Muhammad Sa’ad pernah bertemu dalam satu acara jamuan makan di Mekkah al-Mukarramah. Syekh Ahmad Khatib merasa heran melihat penampilan Syekh Sa’ad, yang menurut dugaan beliau Syekh Sa’ad bertubuh gemuk seperti beliau dan ulama-ulama Arab lainnya, padahal postur Syekh Sa’ad kecil dan agak kurus. Kemudian, Syekh Ahmad Khatib mempersilahkan Syekh Sa’ad duduk di sampingnya. Setelah usai makan minum, Syekh Ahmad Khatib dan Syekh Mungka tampak berbicara panjang lebar dalam suasana ramah tamah. Seakan-akan diantara beliau berdua tidak pernah terjadi perdebatan sengit lewat kitab-kitabnya.

Foto: Makam Syekh Mungka (kiri) dan anak beliau Syekh Muhammad Jamil Sa'adi (kanan). (Foto: Penulis)

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz