Minggu, 29 Januari 2012

Katalog Naskah Kuno Islam: Surau Lubuk Landur dan Mesjid Syekh Bonjol


Oleh: al-Haqir Apria Putra


Penyusun: DR. Ahmad Taufik Hidayat, Apria Putra dan Chairullah Ahmad
Hal: 139+xviii
cetakan pertama, November 2011
Penerbit: PT. Tinta Mas Indonesia, Jakarta dan Komunitas Suluah Padang

Pasaman, sebuah kawasan yang terletak di rantau Minangkabau sebelah utara, telah memainkan peranan penting dalam penyebaran keilmuan Islam lewat lembaga pendidikan tradisional, Surau. Tercatat beberapa Surau terkemuka, berikut tokoh-tokoh ulama yang mempunyai nama besar hadir di daerah ini. satu cacatan yang cukup tua, perihal jalannya agama di negeri Minangkabau, secara jelas menyebut Pasaman menjadi salah satu sentra pendidikan Islam di abad XVIII. Tepatnya di Rao, tempat mukim Syekh Tuanku di Tampang, yang mahir dalam ilmu Mantiq dan ma’ani, disamping pelajaran-pelajaran agama lainnya, khusus dalam bidang Tasawuf.

Di abad XIX, Pasaman juga menorehkan dinamika panjang yang mengisi lembar-lembar Sejarah Minangkabau, yaitu dengan perang Paderi, sebuah gerakan keagamaan yang berpengaruh luas hingga Sumatera bagian utara. Posisi Pasaman, tepatnya Bonjol, yang dijadikan wilayah inti Paderi bukan hanya karena daerahnya yang dipagar oleh benteng alam yang kokoh saja, lebih dari itu disebabkan oleh tokoh-tokoh ulama di Daerah ini memang teruji dalam bidang keagamaan, disamping alim dalam keilmuan, juga mempunyai keteguhan yang kuat dalam menegakkan perintah agama. Salah satu pusat pendidikan Surau yang terkemuka di abad XIX, begitu pula sampai saat ini, ialah Kumpulan. Ketokohan ulama besar Syekh Ibrahim bin Fahati al-Khalidi (1764-1914), yang dikenal dengan “Angguik Balinduang Kumpulan” memang menjadi buah bibir dikalangan orang-orang siak di berbagai wilayah Sumatera. Berikut Surau dan pengajarannya yang disamping mendalami agama lewat kitab, juga mengajarkan Tasawuf lewat kearifan Tarikat Naqsyabandiyah, menjadi daya tarik yang begitu kuat, sehingga banyak dikalangan penuntut ilmu agama jatuh hati ke Kumpulan.

Terdapat banyak surau-surau terkemuka di abad XIX dan awal abad XX yang menyandarkan isnad keilmuannya ke Kumpulan. Diantara surau-surau itu, yang masih eksis dan tetap menjaga tradisi keilmuannya sampai saat ini, ialah Surau Syekh Lubuk Landur dan Mesjid (baca: Surau) Syekh Muhammad Sa’id Bonjol. Keterikatan kedua lembaga tradisional ini, berikut eksistensinya dalam menjaga tradisi keilmuan Islam, layaknya surau Kumpulan, dapat disaksikan dalam manuskrip-manuskrip kuno yang masih tersimpan dan terpelihara pada koleksi dua lembaga ini.


Surau Lubuk Landur dan Mesjid Syekh Bonjol: Jejak historis pendidikan Islam ala Sufi di rantau Pasaman


Surau Lubuk Landur dan Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol menjadi basis intelektual Islam, terutama dalam bidang Tarikat Naqsyabandiyah, dan tetap begitu hingga saat ini. Kedua lembaga ini paling tidak telah memapankan posisinya dalam jaringan keilmuan Islam di Minangkabau pada (awal) abad XX, dan menancapkan pengaruh yang kuat ke berbagai daerah, bahwa ke luar wilayah Minangkabau.

Foto: Tim bersama Syekh Mustafa Kamal Lubuk Landur, Mei 2011

Surau Lubuk Landur, merupakan satu corak pendidikan Islam tradisional yang didirikan oleh Syekh Muhammad Bashir (w. 1912, dalam usia 122 tahun), seorang ulama terkemuka, setelah menimba ilmu agama beberapa tahun diberbagai surau, khususnya Kumpulan, dan Mekkah al-Mukarramah. Menurut garis keturunan nasab, diketahui bahwa beliau mempunyai hubungan yang erat dengan tokoh Paderi, dimana buyut beliau, Peto Sulaiman, berkerabat dengan Peto Syarif (Tuanku Imam Bonjol). Peto Sulaiman mempunyai istri dari Sikilang Sasak Pasaman, dari istrinya ini beliau dikaruniai seorang anak yang kemudian dikenal dengan Salim Peto Bandaharo, yang merupakan ayah dari Syekh Muhammad Bashir sendiri. Dalam catatan biografi Syekh Ibrahim Kumpulan disebutkan bahwa Syekh Muhammad Bashir ialah salah satu khalifah Syekh Ibrahim yang terkemuka, disamping ulama-ulama lain seperti Syekh Syahbuddin Sayurmatinggi, Syekh Mudo Kinali, Syekh Yunus Tuanku Sasak dan lainnya.

Setelah menimba ilmu ke berbagai surau, Syekh Muhammad Bashir kemudian melanjutkan pengembaraan intelektual ke Mekkah al-Mukarramah. Disamping melaksanakan Haji, beliau juga meluangkan waktu untuk menuntut ilmu kepada ulama-ulama terkenal disana, khususnya dalam bidang Tarikat Naqsyabandiyah. Karena prestasinya dalam bidang yang terakhir ini, beliau kemudian juga memperoleh ijazah Naqsyabandiyah dari Syekh ‘Ali Ridha di Jabal Abi Qubais Mekkah, disamping dari Syekh Kumpulan. Sekembalinya ke kampung halaman beliau, Syekh Muhammad Bashir kemudian memapankan karir keulamaanya di Lubuk Landur. Disini beliau mendirikan surau, disebuah kawasan yang asri, tepat dipinggir sungai Ikan Larangan. Syekh Muhammad Bashir mengajarkan keilmuan keislaman di surau Lubuk Landur sampai beliau wafat ditahun dalam usia yang sepuh 122 tahun. Kepemimpinan Surau Lubuk Landur kemudian dipegang oleh anak beliau yang juga ‘alim, yaitu Syekh Muhammad Amin. Setelah Syekh ini wafat, kepemimpinan surau ini digantikan sementara oleh Syekh Abdul Jabbar Lubuk Landur. Kemudian digantikan oleh seorang ulama yang cukup terkenal, Syekh Abdul Madjid, yang tak lain ialah anak Syekh Muhammad Amin sendiri. Syekh Abdul Madjid wafat pada tahun 1984. Beliau kemudian digantikan oleh anak beliau, Muzardin Syekh Mustafa Kamal, hingga saat ini.

Sentra pendidikan tradisional kedua, yang mempunyai koneksi dengan Kumpulan dalam hal Tarikat Naqsyabandiyah ialah Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol. Mesjid ini terletak di kampung Ganggo Hilir Bonjol. Tidak seperti surau-surau Tarekat kebanyakan yang terletak jauh dari keramaian, Mesjid ini berada di tepi jalan raya yang dapat dijangkau dengan mudah. Ulama yang terkemuka dan mempunyai pengaruh besar, sebagai pendiri Mesjid ini ialah Syekh Muhammad Sa’id Bonjol (1888-1979), atau yang lebih dikenal dengan Syekh Bonjol. Beliau terkemuka sebagai salah seorang ulama Tarikat Naqsyabandiyah yang diterimanya dari Syekh Kumpulan. Disamping itu, beliau merupakan salah satu sesepuh Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah), teman perjuangan Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung.

Lama Syekh Sa’id belajar keberbagai ulama mumpuni hingga Mekkah al-Mukarramah, setelah kembali ke kampung halamannya, beliau mendirikan Mesjid tempat sidang jum’at, disini beliau mengajar, khususnya Suluk Tarikat Naqsyabandiyah. Dalam transmisi keilmuan Islam di Pasaman, Syekh Sa’id merupakan mata rantai penting. Murid-murid beliau bukan hanya berasal dari wilayah sekitar, tapi juga dari berbagai pelosok Minangkabau. Hingga saat ini, Mesjid ini masih tetap eksis, memakai tradisi lama dan mengelar Suluk setiap tahun.

Karakter umum Naskah Lubuk Landur dan Mesjid Syekh Bonjol

Sebagai lembaga transmisi keilmuan Islam di Minangkabau pada abad-abad lalu, Surau Lubuk Landur dan Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol menyimpan khazanah Naskah yang mempunyai karakter yang khas. Disinyalir di dua lembaga ini dulunya menyimpan banyak koleksi Naskah keagamaan, berdasarkan fakta bahwa dulunya dua tempat ini begitu masyhur dikalangan penuntut ilmu.

Inventaris, berikut pendeskripsian dan digitalisasi naskah di Lubuk Landur dilakukan oleh sebuah Tim yang terdiri Mahasiswa Sastra Arab Fak. Adab yang tergabung dalam kelompok pecinta naskah “Komunitas Suluah”, yang diketuai Charullah Ahmad. Di Surau ini, dalam sebuah lemari tua, terdapat puluhan naskah dalam keadaan memprihatinkan. Setelah diadakan pembersihan, penyusunan kembali dan pendeskripsian tercatat lebih dari 40 buah naskah.

Naskah-naskah Lubuk Landur ini memiliki karakteristik yang cukup khas, yaitu naskah-naskah lokal contents yang ditulis oleh beberapa ulama Pasaman yang pernah menimba ilmu di tanah suci Mekah. Selain dari Syekh Lubuk Landur sendiri, juga terdapat nama-nama seperti Muhammad Shaleh bin Malin Pandito Ujung Gading, Haji Abdul Manan bin Abdul Jabbar Kajai Talu, Syekh Muhammad Amin (Anak Syekh Lubuk Landur), Ibnu Abdullah Rao, Muhammad Shaleh bin Murid Rao dan lainnya. Disamping itu juga ada karya-karya ulama terkemuka Melayu lainnya, seperti Syekh Daud bin Abdullah Fathani, Syekh Jalaluddin Aceh dan Syekh Ahmad Khatib Sambas. Dari kolofon naskah diketahui bahwa sebahagian besar naskah-naskah itu ditulis di Mekah, tepatnya di kampung Syamiyah.

Foto: Tim dan Naskah Kuno Lubuk Landur

Sedangkan dari segi isi, naskah-naskah Lubuk Landur termasuk kaya, sebab naskah-naskah ini mencakup berbagai bidang keilmuan Islam, seperti ilmu alat (Nahwu dan Sharaf), Tauhid, Fiqih dan Tasawuf. Naskah-naskah itu didominasi oleh teks-teks Tasawuf, termasuk didalamnya mengenai Tarikat Naqsyabandiyah, Tarikat Qadiriyah, Tarikat Rifa’iyah dan Tarikat Samaniyah. Salah satu naskah yang cukup istimewa di surau ini ialah, naskah al-Urwatul Wusqa wa Silsilah al-Wali al-Atqa, mengenai silsilah Syekh Muhammad Saman. Selain itu terdapat satu bundel naskah yang terdiri dari Surat-surat, kumpulan ijazah dan sebuah Wasiat Syekh Ibrahim Kumpulan.

Untuk lokasi kedua, Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol, dilakukan inventaris dan pendeskripsian pada akhir tahun 2009, oleh Tim Filologia Mahasiswa Sastra Arab, yang dikoordinasi oleh Malik Akbar. Dilokasi ini ditemui 16 naskah dalam berbagai keilmuan Islam. Namun naskah-naskah yang mendominasi di lokasi ini ialah mengenai Tasawuf.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz