Senin, 12 November 2012

Otak Busuk JIL serta siasatnya yang berupaya meruntuhkan pondasi islam

Asaalamu'alaikkum sahabat pengunjung yang budiman ?
Munculnya gagasan liberalisasi Islam akhir-akhir
ini telah begitu meresahkan masyarakat Islam . Hal itu karena ide dan gagasan yang mereka usung sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah dan syariat Islam Bacalah artikel ini dengan seksama mudah-mudahan saudara mengerti apa itu ( JIL )? Dan ada apa di balik semua kekolotanya untuk merobak ISLAM. Di antara wacana yang mereka sebarkan ialah
mempertanyakan
1. kesucian Al-Qura'an,
2. Mengkritik otoritas Nabi,
3.dan menghujat para ulama.
Pemikiran yang merusak seperti ini sudah
seharusnya dibendung dan dilawan dengan
pemikiran yang tepat dan benar. Karena membiarkannya berarti hanya akan membuat virus tersebut
leluasa bergerak dalam merusak system agama samawat ini dan mencari mangsa.
Di sinilah umat Islam memiliki kewajiban untuk membentengi dirinya dari arus liberalisasi Islam ( Jil ) Saudaraku mari Hati-hatilah terhadap pemahaman Baru katakanlah cukuplah islam sebagaimana mestinya dan seperti yang telah di contohkan oleh yang mulia Muhammadurrasullah.
Dari itulah Bentengilah anak-anak,adik-adik,serta kita sendiri,Bukankah Ilmu agama itu sangat penting dan insya allah dapat meneguhkan hati dari bujuk rayu syaitan jagalah mata ,telinga,dan pemahaman tontonan yang memang sudah di racuni dengan dosis yang sangat berbahaya bagi kesehatan aqidah ke imanan kita'',

Arti Liberalisme ;
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, liberal berarti bersifat bebas dan berpandangan bebas (luas dan terbuka). Sedangkan liberalisme artinya ialah aliran ketatanegaraan dan ekonomi yang menghendaki demokrasi dan kebebasan pribadi untuk berusaha dan berniaga (pemerintah tidak boleh turut campur) atau usaha perjuangan menuju kebebasan.

Dalam fatwa MUI tentang pluralisme, liberalisme,
dan sekularisme agama disebutkan bahwa
liberalisme adalah memahami nash-nash agama (Al-Qura'an & Sunnaah) dengan menggunakan akal
pikiran yang bebas; dan hanya menerima doktrin-
doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran
semata.

Menurut Hemat Mahkota Cahaya '' Mungkinkah Akal Menuntun Agama?
Seharusnya '' Agama lah yang menuntun akal '' Ajaran islam itu cocok di semua zaman,

Kata-kata liberal sulit dicari dalam kamus bahasa
Arab karena ia berasal dari barat yang kemudian diserap ke bahasa lain. Menurut Abdurrahim bin
Shamayil As-Silmi, memang sulit mendefinisikan
liberalisme secara singkat dan padat. Tetapi, ada
pemikiran mendasar yang disepakati oleh orang-
orang liberal. Yakni gerakan yang menjadikan
kebebasan sebagai landasan, tujuan, motivasi, dan target yang hendak digulirkan dalam kehidupan manusia. Asal Mula Liberalisasi Islam di Indonesia, secara sistematis dimulai pada awal tahun '' 1970 -an. Pada 3 Januari ''

Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI), Nurcholish Madjid, secara resmi menggulirkan perlunya dilakukan sekularisasi Islam. Sejak itu, peristiwa- peristiwa tragis susul-menyusul dan berlangsung secara liar, sulit dikendalikan lagi, hingga kini. Dengan mengadopsi gagasan Harvey Cox melalui bukunya '' The Secular City " Nurcholish Madjid membuka pintu masuk arus sekularisasi dan liberalisasi dalam Islam, menyusul kasus serupa dalam tradisi Yahudi dan Kristen. Menurut buku
tersebut, sekularisasi adalah pembebasan manusia dari asuhan agama dan metafisika, pengalihan perhatiannya dari dunia lain menuju dunia kini. Karena sudah menjadi satu keharusan, kata Cox, maka kaum Kristen tidak seharusnya
menolak sekularisasi. Sebab sekularisasi
merupakan konsekuensi otentik dari kepercayaan '' BIBLE ''. Maka, tugas kaum Kristen adalah mendukung dan memelihara sekularisasi. Pengaruh Cox baru tampak jelas di Indonesia
pada pemikiran Nurcholish Madjid secara resmi meluncurkan gagasan sekularisasinya dalam diskusi di Markas PB Pelajar Islam Indonesia (PII) di Jakarta. Ketika itu, Nurcholish meluncurkan makalah berjudul '' Keharusan Pembaharuan
Pemikiran Islam '' Dan Masalah Integrasi Umat.
Dua puluh tahun kemudian, gagasan itu
kemudian diperkuat lagi dengan pidatonya di
Taman Ismail Marzuki Jakarta, pada tanggal ( 21 oktober) yang dia beri judul, Beberapa Renungan tentang Kehidupan Keagamaan di Indonesia.
Seperti kita ketahui, arus sekularisasi dan liberalisasi terus berlangsung begitu deras dalam berbagai sisi kehidupan: sosial, ekonomi, politik, dan bahkan pemikiran keagamaan. Kini, setelah 30 tahun berlangsung, arus besar itu semakin
sulit dikendalikan, dan berjalan semakin liar.
Penyebaran paham "pluralisme agama,
dekonstruksi agama, dekonstruksi Kitab Suci
dan sebagainya, kini justru berpusat di kampus- kampus dan '' organisasi Islam "sebuah fenomena
yang khas Indonesia. Paham-paham ini menusuk
jantung Islam dan berupaya merobohkan Islam dari
pondasinya yang paling dasar.

Program Liberalisasi Islam ;
Secara sistematis, Liberalisasi Islam di Indonesia
yang sudah dijalankan sejak awal tahun 1970-an,
dilakukan melalui tiga bidang penting dalam
ajaran Islam, yaitu;
1. Liberalisasi bidang akidah ;
dengan penyebaran paham Pluralisme Agama.
2. Liberalisasi bidang syariah ;
dengan melakukan perubahan metodologi ijtihad,
3. Liberalisasi konsep Wahyu ;
dengan melakukan dekonstruksi terhadap al-Quran.

Dalam disertasinya di Monash University,
Australia, Dr. Greg Barton, memberikan sejumlah
program Islam Liberal di Indonesia, yaitu;

1. Pentingnya konstekstualisasi ijtihad,
2. Komitmen terhadap rasionalitas dan pembaruan,
3. Penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama,
4. Pemisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-
sektarian negara.
Dari disertasi Barton tersebut dapat diketahui, bahwa memang ada strategi dan program yang sistematis dan metodologis dalam liberalisasi Islam di Indonesia. Penyebaran paham Pluralisme
Agama yang jelas-jelas merupakan paham
syirik '' Modern " Dilakukan dengan cara yang sangat masif, melalui berbagai saluran, dan dukungan dana yang luar biasa.
Dari program tersebut, ada tiga aspek liberalisasi Islam yang
sedang gencar-gencarnya dilakukan di Indonesia.
1. Liberalisasi akidah Islam Liberalisasi akidah Islam dilakukan dengan menyebarkan paham Pluralisme Agama. Paham ini, pada dasarnya menyatakan, bahwa semua
agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama.
Menurut penganut paham ini ;
2. Semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama. Atau mereka menyatakan, bahwa agama adalah persepsi relatif terhadap Tuhan yang mutlak, sehingga karena kerelatif-annya,
3. Setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini, bahwa agamanya sendiri yang lebih benar atau lebih baik dari agama lain !. atau mengklaim bahwa hanya agamanya sendiri yang benar.
Bahkan menurut Charles Kimball, salah
satu ciri agama jahat (evil) adalah agama yang
memiliki klaim kebenaran mutlak (absolute truth
claim) atas agamanya sendiri.
Di Indonesia, penyebaran paham ini sudah sangat
meluas, dilakukan oleh para tokoh, cendekiawan,
dan para pengasong ide-ide liberal. Berikut ini di
antara pernyataan mereka:

Semua agama sama. Semuanya menuju jalan
kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar. (Majalah GATRA, ( 21 Desember).

Ulil juga menulis, Dengan tanpa rasa sungkan dan
kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah
tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang
menuju Yang Mahabenar. Semua agama, dengan
demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam
menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama
ada dalam satu keluarga besar yang sama, yaitu
keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang
tak pernah ada ujungnya.
dalam artikelnya berjudul '' Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam '' Ulil Abshar Abdalla.
Relativisme kebenaran
Paham Pluralisme Agama berakar pada paham
relativisme akal dan relativisme iman.

Banyakcendekiawan yang sudah termakan paham ini
dan ikut-ikutan menjadi agen penyebar paham
relativisme ini, khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Islam. Sebagai contoh, Prof. Dr.
Azyumardi Azra, rektor UIN Jakarta menulis dalam
sebuah buku terbitan Fatayat NU dan ( Ford
Foundation) Islam itu memang pluralis, Islam itu banyak, dan
tidak satu. Memang secara teks, Islam adalah
satu tetapi ketika akal sudah mulai mencoba
memahami itu, belum lagi mengaktualisasikan,
maka kemudian pluralitas itu adalah suatu
kenyataan dan tidak bisa dielakkan.

'' Liberalisasi Al-Qura'an
Salah satu wacana yang berkembang pesat
dalam tema liberalisasi Islam di Indonesia saat ini
adalah tema dekonstruksi Kitab Suci ''

Di kalangan Yahudi dan Kristen, fenomena ini sudah
berkembang pesat. Kajian Biblical Criticisma atau studi tentang kritik Bible dan kritik teks Bible
telah berkembang pesat di Barat.
'' Dr. Ernest C.Colwell '' dari School of Theology Claremont,
misalnya, selama 30 tahun menekuni studi ini,
dan menulis satu buku berjudul '' Studies in
Methodology in Textual Criticism on the New Testatementa ''.
Pesatnya studi kritis Bible itu telah mendorong
kalangan Kristen dan Yahudi untuk melirik al-Quran
dan mengarahkan hal yang sama terhadap al-Quran.!

Alphonse Mingana,
pendeta Kristen asal Irak dan guru besar di Universitas Birmingham Inggris, mengumumkan bahwa sesudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan kritik teks terhadap ''Al-QUR'AN''
sebagaimana telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa '' Ibrani-Arami '' dan
kitab suci Kristen yang berbahasa YUNANI ''. Hampir satu abad lalu, para orientalis dalam bidang studi al-Quran bekerja keras untuk menunjukkan bahwa al-Quran adalah kitab bermasalah sebagaimana Bible. Mereka tidak
pernah berhasil.

Tapi lebih parah lagi, kini, imbauan itu
sudah di ikuti begitu banyak manusia dari kalangan Muslim iyu sendiri, dan ini tentu sangat menusuk jantung hati islam.

Sesuai paham pluralisme agama, maka semua agama harus di dudukkan pada posisi yang sejajar, sederajat, tidak boleh ada yang mengklaim lebih tinggi, lebih benar, atau paling
benar sendiri. Begitu juga dengan pemahaman tentang Kitab Suci. Tidak boleh ada kelompok agama yang mengklaim hanya kitab sucinya saja yang suci.

Liberalisasi Syariat Islam ;
Inilah aspek liberalisasi yang paling banyak muncul dan menjadi pembahasan dalam bidang liberalisasi Islam (JIL). Hukum-hukum Islam yang sudah nyata pasti, dibongkar dengan paksa dan dibuat hukum baru yang dianggap sesuai dengan perkembangan zaman. Disinilah letak Busuk nya Otak Jil yang menjadikan agama hanya sebuah syimbol yang dapat di ralat dan di kelola menurut nafsunya sendiri.

Seperti disebutkan oleh Dr. Greg Barton, salah satu program liberalisasi Islam di Indonesia adalah kontekstualisasi ijtihad.
Para tokoh liberal biasanya memang menggunakan metode kontekstualisasi sebagai salah satu mekanisme dalam merombak hukum Islam. Sebagai contoh, salah satu hukum Islam yang banyak dijadikan objek liberalisasi adalah
hukum dalam bidang keluarga. Misalnya, dalam
masalah perkawinan antar-agama, khususnya
antara Muslimah dengan laki-laki non Muslim.
Dalam sebuah tulisannya, '' Azyumardi Azra ''
menjelaskan metode kontekstualisasi yang dilakukan oleh gerakan pembaruan Islam di Indonesia, yang dipelopori
'' Nurcholish Madjid '' Bila di telusuri secara mendalam, dapat ditemui bahwa gerakan pembaruan yang terjadi sejak
tahun tujuh puluhan memiliki komitmen yang cukup kuat untuk melestarikan tradisi (turats) dalam satu bingkai analisis yang kritis dan sistematis Pemikiran para tokohnya didasari kepedulian yang sangat kuat untuk melakukan
formulasi metodologi yang konsisten dan universal terhadap penafsiran '' al-Quran '' suatu penafsiran yang rasional yang peka terhadap konteks kultural dan historis dari teks Kitab Suci dan konteks masyarakat modern yang memerlukan bimbingannya. Menjelaskan pendapat Nurcholish Madjid,
Azyumardi Azra menulis, bahwa al-Quran menunjukkan bahwa risalah Islam disebabkan universalitasnya adalah selalu sesuai dengan lingkungan kultural apa pun, sebagaimana (pada saat turunnya) hal itu telah disesuaikan dengan kepentingan lingkungan semenanjung Arab.
Karena itu, al-Quran harus selalu di kontekstualisasikan dengan lingkungan budaya penganutnya, di mana dan kapan saja. Apa yang dikatakan Azra sebagai bentuk apresiasi
syariat atau fiqih yang mendalam oleh Nurcholish Madjid adalah sebuah pujian yang sama sekali tidak berdasar. Nurcholish sama sekali tidak pernah menulis tentang metodologi fiqih dan hanya melakukan dekonstruksi terhadap beberapa hukum Islam yang tidak disetujuinya. Ia
pun hanya mengikuti jejak gurunya, Fazlur Rahman, yang menggunakan metode hermeneutika untuk menafsirkan al-Quran.

Faktor Asing
Islam dipandang sebagai ancaman potensial bagi Barat,
atau Islam dipandang sebagai isu politik potensial untuk meraih kekuasaan di Barat, maka berbagai daya upaya
dilakukan untuk menjinakan dan melemahkan Islam.
Salah satu program yang kini dilakukan adalah dengan melakukan '' proyek liberalisasi '' Islam besar-besaran di Indonesia dan khususnya dunia Islam. Proyek liberalisasi Islam ini tentu saja masih menjadi bagian dari tiga cara
pengokohan '' Hegemoni Barat di dunia Islam '' yaitu melalui
'' Program Kristenisasi '' imperialisme
modern, dan orientalisme. David E. Kaplan menulis, bahwa sekarang AS mengeluarkan dana puluhan juta dollar dalam
rangka kampanye '' UNTUK MENGUBAH MASYARAKAT MUSLIM '' tetapi juga untuk '' MENGUBAH ISLAM '' ! , itu sendiri.

Menurut Kaplan, '' Gedung Putih telah menyetujui strategi
rahasia '', yang untuk pertama kalinya AS memiliki
kepentingan nasional untuk mempengaruhi apa yang terjadi di dalam Islam. Sekurangnya di 24 negara Muslim, AS secara diam-diam telah mendanai '' Radio Islam '', acara-acara TV, kursus-Kursus di '' sekolah Islam '', pusat-pusat kajian,
workshop politik, dan program-program lain
yang mempromosikan Islam moderat (versi AS). Yang tidak lain berupaya menjauhkan generasi - genarasi muda muslim itu sendiri dari islam yang kaffah..

Liberalisasi di Perguruan Tinggi Islam ;
Jika Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, dan
sebagainya menjadi pelopor liberalisasi Islam di
organisasi Islam dan masyarakat, maka Prof. Dr.
Harun Nasution melakukan liberalisasi Islam dari
dalam ''Kampus-Kampus Islam ''. Ketika menjadi rektor IAIN Ciputat, Harun mulai melakukan gerakan yang serius dan sistematis untuk melakukan perubahan dalam studi Islam. Ia
mulai dari mengubah kurikulum IAIN. Berdasarkan hasil rapat rektor IAIN se-Indonesia di Ciumbuluit Bandung, Departemen Agama RI memutuskan, buku mata pelajaran Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya (IDBA), karya Prof. Dr. Harun Nasution direkomendasikan sebagai buku wajib rujukan mata kuliah.
Pengantar Agama Islam mata kuliah komponen
Institut yang wajib diambil oleh setiap mahasiswa IAIN.
Harun Nasution sendiri mengakui ketika itu tidak semua rektor menyetujuinya. Sejumlah rektor senior menentang keras keputusan tersebut. Tapi, entah
kenapa, keputusan itu tetap dijalankan oleh
pemerintah, nah ini menjadi tanda tanya di benak kita ?
Buku IDBA dijadikan buku rujukan dalam studi Islam. Karena ada instruksi dari pemerintah (Depag) yang menjadi payung yang melindungi, dan penanggung jawab IAIN-IAIN, maka materi dalam buku Harun Nasution itu pun dijadikan bahan
kuliah dan bahan ujian untuk perguruan swasta yang menginduk kepada Departemen Agama.
'' Pada tanggal 3 Desember ''
Prof. HM Rasjidi,
Menteri Agama pertama, sudah menulis laporan
rahasia kepada Menteri Agama dan beberapa
eselon tertinggi di Depag. Dalam bukunya, Koreksi
terhadap Dr. Harun Nasution tentang Islam
Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Prof. Rasjidi menceritakan isi suratnya, Laporan Rahasia tersebut berisi '' kritik terhadap buku Sdr. HARUN NASUTION ''yang berjudul Islam
Ditinjau dari Berbagai Aspeknya.
Saya menjelaskan kritik saya fasal demi fasal dan
menunjukkan bahwa gambaran Dr. Harun Tentang Islam itu sangat berbahaya, dan saya mengharapkan agar Kementerian Agama mengambil tindakan terhadap buku tersebut, yang oleh Kementerian Agama dan Direktorat
Perguruan Tinggi dijadikan sebagai buku wajib di
seluruh IAIN di Indonesia. Selama satu tahun lebih surat Prof. Rasjidi tidak diperhatikan. Rasjidi akhirnya mengambil jalan lain untuk mengingatkan Depag, IAIN, dan umat
Islam Indonesia pada umumnya. Setelah nasehatnya tidak diperhatikan, ia menerbitkan kritiknya terhadap buku Harun tersebut. Maka, lahirlah buku Koreksi terhadap Dr.
Harun Nasution tersebut. Kesalahan yang sangat fatal dari buku IDBA karya Harun adalah dalam menjelaskan tentang
agama-agama. Di sini, Harun menempatkan Islam sebagai agama yang posisinya sama dengan agama-agama lain, sebagai evolving religion (agama yang berevolusi). Padahal, '' ISLAM ADALAH AGAMA WAHYU,YANG BERBEDA DENGAN AGAMA lAIN''yang merupakan
agama sejarah dan agama budaya (historical dan
cultural religion). Harun menyebut agama-agama
monoteis yang dia istilahkan juga sebagai agama tauhid ada empat, yaitu Islam, Yahudi, Kristen, dan Hindu. Ketiga agama
pertama, kata Harun, merupakan satu rumpun.
Agama Hindu tidak termasuk dalam rumpun ini. Tetapi, Harun menambahkan, bahwa kemurnian tauhid hanya dipelihara oleh Islam dan Yahudi. Tetapi kemurnian tauhid agama Kristen dengan adanya faham Trinitas, sebagai diakui oleh ahli-
ahli perbandingan agama, sudah tidak terpelihara lagi. Apakah benar agama Yahudi merupakan agama
dengan tauhid murni sebagaimana Islam? Sebagai orang yang mengerti dan memahami Jelas pendapat Harun itu sangat tidak benar. Kalau agama Yahudi merupakan agama tauhid murni, mengapa dalam al-Quran dia dimasukkan
kategori '' Kafir Ahlul Kitab ? Kesimpulan Harun itu jelas sangat mengada-ada dan tidak sepeatutnya.

Akhir kata Sebagai penduduk Muslim terbesar,umat Islam Indonesia saat ini benar-benar sedang menghadapi ujian keimanan yang sangat berat.
Di tengah berbagai krisis dan keterpurukan yang semakin mengkwatirkan ini, umat Islam di Indonesia di timpa rekayasa dari tangan-tangan syatan ,yang berupaya merusak agama yang di ridhoi allah subhahana wata'ala, mereka gempur dari luar dan dalam dengan paham-paham syirik modern dan berbagai pemikiran liberal yang berupaya membongkar dengan terang sendi-sendi ajaran dan keyakinan umat Islam. Ironis dan menyedih kan , Ujung tombak dari penyebaran paham ini Justru para individu,tokoh, cendekiawan,
ulama, dan lembaga yang secara formal
menyandang nama Islam. Tentu saja bagi mereka yang telah termakan ideologi tangan-tangan raksasa para syaitan.
ini tantangan yang sangat berat. Sebab, para ulama
dan cendekiawan yang seharusnya di amanahkan untuk menjaga agama, justru banyak yang berbalik menjadi perusak agama ini di karenakan kedangkalan pemahaman tentang islam itu sendiri sehingga dapat tertipu oleh siasat-siasat musuh-musuh allah. Inilah zaman
fitnah, zaman yang MULAI MUNCUL AJARAN-AJARAN BARU, zaman di mana yang haq dan yang bathil sudah bercampur aduk.
'' Baginda Rasulullah saw sudah pernah mengingatkan,
Yang merusak umatku adalah orang alim yang durhaka dan ahli ibadah yang bodoh. Seburuk-
buruk manusia yang buruk adalah ulama yang
buruk dan sebaik-baik manusia yang baik adalah
ulama yang baik.(HR Ad-Darimy)''.
Beliau juga bersabda, '' Termasuk di antara perkara yang aku khawatirkan atas umatku adalah tergelincirnya
orang alim (dalam kesalahan) dan silat lidahnya
orang munafik tentang al-Quran.(HR Thabrani
dan Ibn Hibban).
Di tengah ujian berat proyek liberalisasi Islam ( JIL )
Yang tidak lain siasat kristenisasi besar-besaran, kita berdoa, mudah-mudahan tidak banyak kyai, ulama,
cendekiawan,cerdik pandai, yang tergoda
oleh berbagai bujukan dan tipuan duniawi yang
ditujukan untuk menghancurkan kekuatan Islam
dari luar dan dalam. Pemikiran-pemikiran yang destruktif terhadap Islam, saat ini sering dikemas dengan
bungkusan yang menarik dan dijajakan oleh
pedagang-pedagang yang piawai dalam
bersilat-lidah dan tak jarang juga berhujjah
dengan al-Quran Bahkan aneh nya selain berhujjah mereka juga tidak segan-segan mengkritik Al-qur'an dengan penafsiran ala barat. Bisa dikatakan, liberalisasi Islam di Indonesia, saat ini, adalah tantangan yang terbesar yang
dihadapi semua komponen umat Islam, baik
pondok pesantren, perguruan tinggi Islam, ormas
Islam, lembaga ekonomi Islam, maupun partai
politik Islam. Sebab, liberalisasi Islam telah menampakkan wajah yang sangat jelas dalam '' Menghancurkan Islam '' dari asasnya, baik akidah Islam, al-Quran, maupun syariat Islam. Tidak ada cara lain untuk membentengi keimanan kita, keluarga kita, dan jamaah kita,
kecuali dengan meningkatkan ilmu-ilmu keislaman yang benar dan memohon pertolongan kepada Allah. '' Yaa Allah, tunjukkanlah Kami yang benar
itu benar dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk mengikutinya dengan Baik , dan tunjukkanlah yang bathil itu bathil adanya, dan berikanlah kemampuan
kepada kami untuk menghindarinya. Amiiin Yaa hanan Yaa Mannan Yaa Badi'as Samawati Wal Ikram.Allahuma Shalli a'la muhammad wa ala ali sayyidina muhammad wa a'la ahli baitihi.'' dari berbagai sumber ,serta di perbarui seperlu nya''salah dan khilaf dalam penulisan mohon di maaf kan

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz