Senin, 10 Desember 2012

Cerita Sengsara Membawa Nikmat (Bagian 12)

''Sambungan Dari Bagian 11''
12. Tertipu
HARI amat panas, angin berembus lunak lembut. Ketika itu tengah hari tepat, sedang buntar bayang-bayang. Burung-burung beterbangan dari pohon ke pohon sambil bersiul-siul dan berbunyi dengan suka dan riangnya. Ada pula yangmelompat-lompat di atas rumput mencari tempat yang kelindungan, akan melepaskan lelah pulang dan mencari mangsanya. Pada sebuah bangku dekat sebuah telaga Kebun Raya di Bogor, duduk seorang muda. Itulah Midun yang sedang melihat angsa dua sekawan hilir mudik di telaga. Amat berlainan keadaannya dengan burung-burung di kebun itu. Ia duduk tidak bergerak, memandang airyang amat jernih dengan tenangnya. Sungguhpun matanya terbuka, tetapi pikiran Midun melayang entah ke mana. Entah apa yang terjadi pada sekelilingnya, tiadalah diketahui Midun. Ia bermenung, seakan-akan ada suatu masalah yangsulit dipikirkannya. Lebih sejam Midun dengan hal demikian itu, ia pun menarik napas panjang, sebagai memutuskan pikirannya. Kemudian ia berkata dalam hatinya, "Sudah hampir sebulan saya di sini, makan tidur saja sepanjang hari. Akan tinggal menetap saja di sini, apakah yang akan dapat saya kerjakan, karena di negeri orang. Akan pergi, berat hatiku meninggalkan Halimah, dan ia sendiri beserta ayahnya menahani saya pula. Menurut hemat saya, mengingat pergaulan kami yang sudah-sudah, jika saya katakan apa yang tercantum di hati saya kepada Halimah, tak dapat tiada enggan ia menolak, dan tentu diterimanya. Hal itu nyata benar kepada saya, ketika kami berjalan-jalan berdua saja di kebun ini. Tidak saya saja yang sangat bercintakan dia, tetapi Halimah kalau tidakkan lebih, samalah agaknya dengan saya pula. Bukankah ketika kami duduk di sini, Halimah ada berkata, 'Udo, alangkah bagusnya angsa dua sekawan itu berenang kian kemari dengan senangnya, tidak ada yang disusahkannya?' Ketika kami duduk di bangku dekat sungai sebelah sana, ia berkata pula, 'Aduhai, Udo! Tampak-tampak oleh saya negeri Padang dan kuburan ibu. Tahun mana musim pabila, dan dengan jalan apakah lagi maka tercapai oleh saya negeri yang sangat saya cintai itu?'
Nah, apa lagi, sungguhpun kawat yang dibentuk, ikan di tebat yang dituju. Bukankah hanya tinggal pada saya saja lagi.
Tetapi, tetapi, kalau saya nyatakan pula perasaan saya dan diterimanya, apakah yang akan kami makan kelak, karena saya tidak ada berpencarian. Ah, sudahlah, rezeki elang tak dapat oleh musang. Jika jodohku tiadakan ke mana, saya perlu mencari penghidupan dulu. Bukankah pangkal kesenangan itu uang? Jika ada uang, yang dimaksud sampai dan yang dicita datang. Tetapi kalau tidak ada uang ... celakalah hidup."
Midun berdiri lalu berjalan menuju Kampung Empang tempat ayah Halimah tinggal. Pikirannya sudah putus hendak meninggalkan negeri itu. Segala perasaannya kepada Halimah, disimpannya dalam peti wasiat di sanubarinya. Nanti jika sudah datang waktunya, baru ia berani membukakannya. Hampir sampai ke rumah, dari jauh sudah kelihatan olehnya Halimah berdiri di tepi jalan di muka rumahnya. Setelah dekat, Halimah berkata, "Ke mana, Udo? Sudah lama sayamenanti belum juga pulang? Saya sangka Udo sudah sesat, atau ditipu Werak*
(Werner, orang yang mencari-cari kuli kontrak untuk onderneming dan
tambang) supaya Udo suka jadi kontrak." Halimah berkata itu dengan senyum dan bersenda gurau. Maka Midun berkata pula, katanya, "Asal orang di sini menipu saya, apa boleh buat. Sengaja menyeberang kemari, memang akan ditipu orang, tetapi sampai kini belum juga ada orang yang hendak menipu."
Kedua mereka naik ke rumah. Hidangan sudah tersedia, lalu mereka itu makan bersama-sama. Setelah sudah makan, ibu tiri dan ayah Halimah, Midun dan Halimah duduk ke beranda muka. Tidak lama antaranya, Midunpun berkatalah, "Bapak! Yang saya maksud dari Padang akan mengantarkan Halimah kemari, sudah sampai dan selamat tidak kurang suatu apa. Sudah hampir sebulan saya di sini, hilir mudik tidak keruan saja. Sekarang biarlah saya mencarikan untung nasib saya barang ke mana. Akan begini saja sepanjang hari, tentu tidak boleh jadi. Tidak saja janggal pada pemandangan orang keadaan saya ini, tetapi bersalahan pula. Saya berjalan tidak jauh, melainkan di tanah Jawa ini juga.
Akan pulang sekali-kali tidak, karena alangan yangsudah saya ceritakan kepada Bapak. Sebab itu saya harap Bapak izinkanlah saya pergi dari sini. Mudah-mudahan kelak, jika ada hayat dikandung badan, kita bertemu pula."
Muka Halimah pucat mendengar perkataan Midun yang sekonyong-konyong itu datangnya. Sudah sebulan di Bogor tak ada disebut-sebut Midun kepadanya tentang hal itu. Setiba-tiba
ia hendak pergi saja. Halimah berpikir kalau-kalau ada perkataannya yang salah, atau ada yang tidakmenyenangkan hati Midun di rumah itu. Biar bagaimanapun jua ia berpikir, satu pun tak ada teringat kepadanya. Dalam pada itu, bapak Halimah berkata, katanya, "Bagi bapak, kalau boleh, Anak tinggal di sini saja. Anak, bapak pandang tidak sebagai orang lain lagi, melainkan sudah sama dengan Halimah. Ada sama kita makan, tidak sama ditahan. Lagi pula Halimah tentuakan canggung Anak tinggalkan, sebab Anak sudahdisangkanya ... tidak sebagai orang lain lagi."
"Benar kata Bapak itu," ujar Midun, "tetapi akan begini sajakah selamanya? Syukur kalau Bapak masih mencari, tetapi jika Bapak tidak kuat lagi, bagaimana? Sebab itu saya berharap benar-benar, Bapak izinkan juga saya pergi hendaknya. Tentang Halimah, saya rasa tentu dia akan mengizinkan, sebab saya berjalan ini dengan maksud baik, lagi tidak jauh. Besok seboleh-bolehnya dengan kereta api pagi saya berangkat ke Betawi."
Walau bagaimana juga ketiga beranak itu menahaninya, tetapi Midun keras jua hendak pergi. Oleh sebab itu maka diizinkanlah oleh mereka, tetapi jangan jauh dari Bogor, dan berharap bertemu jua kelak. Midun berjanji pula, bahwa ia tidak akan jauh, dan bila akan kembali ke Padang, tentu ia menemui mereka itu lebih dahulu.
Pada malam itu Midun membuat sepucuk surat untuk Halimah, yang akan diberikannya. Jika dikatakan dengan mulut tidak akan terkeluarkan, apalagi di muka bapak Halimah. Surat itu ditulisnyadengan tulisan cara surau saja. Demikian bunyinya:
Bogor, 20 Februari 19..
Adikku Halimah!
Sungguhpun Adinda sudah mengaku kakak kepadakakanda, tetapi perasaan sudah sama-sama dimaklumi. Pada ruangan mata Adinda, nyata kepada kakanda apa yang tersimpan dalam dada Adinda. Tetapi kakanda berlipat ganda daripada itu. Harapan kakanda besar, cita-cita kakanda tinggi terhadap kepadamu, Adikku! Kakanda minta dengan sangat, harapan kakanda yang mulia dan suci bersih itu, janganlah kiranya Adinda putuskan. Jika Adinda abaikan, nyawa kakanda
tentangannya. Sebab itu sudilah kiranya Adinda mengikat erat, menyimpai teguh untuk sementara waktu. Kepergian kakanda ini tersebab Adinda dan keperluan kita berdua.
Peluk cium kakanda, MIDUN
Setelah sudah surat itu dilipatnya, lalu dimasukkannya ke saku bajunya. Maka Midun pun tidurlah dengan nyenyaknya, sebab pikirannya sudah tetap. Pagi-pagi benar ia sudah bangun. Sudah minum pagi mereka pun pergilah bersama-sama mengantarkan Midun. Baru saja sampai di stasiun, Halimah pergi membeli karcis ke Betawi. Kemudian karcis itu diberikannya kepada Midun. Karena Midun merasai selain daripada karcis ada pula sebuah surat, maka waktu itu Midun segera pula mengambil surat yang dibuatnya semalam, lalu diberikannya kepada Halimah. Hal itu seorang pun tak ada yang melihat, karena bapak ibu dan famili yang lain sudah masuk ke dalam stasiun.
Kereta sudah datang, maka mereka itu pun bersalam-salaman. Yang pergi meminta maaf danmemberi selamat tinggal, yang tinggal begitu pula,lalu memberi selamat jalan. Ketika Midun bersalam dengan Halimah, tangan mereka gemetar, s.ama-sama tak hendak melepaskan. Sesaat kemudian Midun berkata, "Halimah, jangansaya dilupakan!"
Midun melepaskan tangan Halimah, lalu melompat naik kereta. Sampai kereta api berangkat, ia tidakmemperlihatkan mukanya ke jendela kereta. Amat sedih hatinya bercerai dengan kekasihnya itu. Tetapi apa hendak dikatakan, karena ia terpaksa meninggalkan gadis yang dicintainya itu. Halimah pun lebih-lebih lagi, sekuat-kuatnya ditahannya kesedihan hatinya, karena takut akan diketahui ayahnya, ibu tiri, dan familinya. Sungguhpun demikian mukanya sangat pucat, air matanya berlinang-linang dan ia sebagai terpaku di muka stasiun itu. Sampai kereta api hilang dari matanya,baru ia pulang. Itu pun kalau tidak ditarik adiknya, tidaklah ia sadarkan dirinya.
Setelah kereta api berangkat, Midun segera mengambil surat Halimah dari sakunya. Untung surat itu bertulis dengan tulisan Arab. Dalam suratitu dilampirkannya sehelai uang kertas f 50,-. Surat itu demikian bunyinya:
Bogor, 20 Februari 19 .
Paduka Kakanda yang tercinta! Dengan hormat!
Setelah jauh tengah malam, baru adinda maklum apa maksud Kakanda meninggalkan adinda. Sekarang insaflah adinda akan ujud perkataan Kakanda kepada ayah yang mengatakan "maksud baik" kemarin. Dan adinda mengerti pula, apa sebabnya Kakanda menyimpan rahasia hati Kakanda selama ini terhadap kepada adinda. Pergilah Kakanda, pergilah! Lamun Halimah tidakkan ke mana. Adinda akan setia dari dunia laluke akhirat kepada Kakanda. Sebab itu janganlah Kakanda sia-siakan pengharapan adinda, anak piatu ini. Adinda siap akan menyerahkan nyawa dan badan adinda, bilamana saja Kakanda kehendaki.
Bersama ini adinda sertakan uang sedikit untuk belanja di jalan. Harap Kakanda terima dengan segala suci hati. Selamat jalan!
Peluk cium adinda, HALIMAH
Surat ini dimasukkan Midun kembali ke sakunya perlahan-lahan. Pikirannya melayang kepada pergaulannya kelak, manakala ia sudah menjadi suami istri dengan Halimah. Kemudian teringat pulaoleh Midun akan perjalanannya itu. la belum pernah ke Betawi, hanya melihat kota itu dari atas kereta api saja. Ke manakah ia akan pergi, karenaseorang pun belum ada yang kenal kepadanya di Betawi?
Dalam Midun berpikir-pikir demikian itu, sambil melihat ke luar dari jendela kereta api, kedengaran olehnya suara orang, katanya,"Assalamu'alaikum!"
Midun melihat lalu menyahut,"Wa'alaikumussalam!" Seorang Arab bersalam dengan Midun, lalu duduk dekatnya, karena di situ ada tempat terluang. Setelah orang Arab itu duduk, ia berkata pula, "Bang hendak ke mana?"
"Hendak ke Betawi!" jawab Midun dengan hormatnya. "Kalau saya tidak salah, Bang tinggal diEmpang, betul?"
"Betul, Tuan juga acap kali saya lihat lalu lintas pada jalan di muka rumah tempat saya tinggal. Tuan tinggal di Empang jugakah?"
"Tidak. Saya cuma menumpang saja di situ, di rumah saudara saya. Sudah dua bulan lamanya sampai sekarang.
Rumah tempat tinggal saya di Betawi. Saya di Bogor, sebab ada urusan perniagaan."
"Kalau begitu, berniagakah Tuan di Betawi?"
"Ya, betul. Maksud Bang ke Betawi apa pula? Abang orang berniaga seperti saya juga?"
Mendengar pertanyaan itu, Midun berbesar hati. Dari tadi ia memikirkan, ke mana ia akan pergi setelah sampai di Betawi. Sekarang ia sudah berkenalan dengan seorang yang tinggal di Betawi. Kata Midun dalam hatinya.
"Sekaranglah yang sebaik-baiknya akan menceritakan hal saya terus terang kepada orangArab ini. Biarlah saya katakan saja apa maksud saya ke Betawi. Mudah-mudahan karena ia seorang Arab, berasal dari Tanah Suci, sudi ia menolong saya. Ah, kalau ia suka mengajar saya berniaga, alangkah baiknya. Maka Midun berkata,katanya, "Saya ini bukan saudagar, Tuan! Saya baru datang ke tanah Jawa ini. Sampai sekarang baru sebulan saya di sini. Maksud saya ke Betawi ini, hendak mencari penghidupan. Saya amat ingin hendak menjadi orang berniaga. Sudikah Tuan mengajar saya berniaga?"
"Jadi Abang orang mana?"
"Saya orang Padang."
"Belum pernahkah Abang ke Betawi?"
"Tidak pernah sekali juga. Dari Padang saya terus saja ke Bogor."
"Baiklah. Kalau Bang suka, dengan karena Allah saya suka menolong dan mengajar Abang berniaga."
"Terima kasih banyak, Tuan! Asal Tuan suka mengajar saya berniaga, sekalipun akan Tuan jadikan orang suruh-suruhan dulu, saya terima dengan segala suka hati."
"Baiklah. Nanti kalau kereta sudah sampai di Betawi, ikutlah ke rumah saya! Nama Bang siapa?"
"Nama saya Midun. Saya harap karena Tuan sekarang sudah saya pandang sebagai induk semang saya, jangan lagi Tuan memanggil 'abang' kepada saya. Sebut sajalah nama saja!"
"Baiklah. Begitu pula sebaliknya, sebab Midun sudah mengaku induk semang kepada saya, tentu Midun harus pula mengetahui nama saya. Saya bernama Syekh Abdullah al-Hadramut. Sekarang saya mau bertanya sedikit, tapi saya harap jangangusar. Waktu Midun datang ke Bogor tempo hari, saya lihat bersama istri. Tentu saja istri Midun itu orang Padang pula, sebab Midun belum pernah kemari. Apakah sebabnya
ditinggalkan di rumah orang Sunda di Bogor? Di manakah Midun berkenalan dengan dia?"
Lama Midun berpikir akan menjawab pertanyaan orang Arab itu. Akan dikatakannya bukan istrinya, memang gadis itu bakal istrinya juga.
"Ah, lebih baik dikatakan istri saya saja," kata Midun dalam hatinya. Maka katanya, "Istri saya itu orang sini, dan kawin dengan saya waktu di Padang dahulu. Tempatnya menumpang di Empang itu, rumah orang tuanya sendiri. Jadi sementara saya mencari pekerjaan, saya suruh ia tinggal bersama orang tuanya dahulu."
"Oooo, begitu!"
Setelah sampai di stasiun Betawi, Midun pergilah bersama Syekli Abdullah al-Hadramut, ke rumahnya di Kampung Pekojan. Maka tinggallah Midun bersama-sama, dengan dia di rumahnya. Ada sebulan lamanya Midun berjalan hilir mudik saja menurutkan Arab itu berniaga. Dengan hal demikian, ia telah mengetahui jalan-jalan di kota Betawi. Bahasa negeri itu pun sudah mahir pula kepadanya. Begitu pula tentang hal berniaga, ia sudah agak paham. Maka Midu n pun mulailah berniaga. Uang yang f 50,- yang diberikan Halimah diambilnya akan jadi pokok. Syekh Abdullah al-Hadramut memberikan kain seharga f 100,-kepadanya. Maka ia pun berkata kepada Midun, katanya, "Harga kain ini f 100,-. Jadi kita berpokok f 50,- seorang. Kalau beruntung, kita bagi tiga. Sepertiga untuk saya dan dua per tiga keuntungan bagimu. Sukakah engkau dengan aturan begitu?"
Karena Midun sangat percaya kepada orang Arab, ia pun menganggukkan kepala saja. Dan menurut aturan berniaga, memang sudah sepatutnya. Tetapi dalam pada itu Syekh Abdullah sudah mengambil keuntungan lebih dulu daripada harga kain itu. Penipuan itu sekali-kali Midun tidak mengetahui. Bahkan akan menyelidiki benar tidaknya harga kain sekian tidak pula terpikir di hatinya, karena kepercayaannya penuh kepada orang Arab itu.
Enam bulan Midun berjaja, pada suatu malam ia berkata kepada Syekh Abdullah, katanya, "Tuan, rupanya agak kurang cepat menjual kain di kota ini. Dalam sehari hanya laku lima-enam helai saja. Tidak baikkah kalau saya pergi ke negeri yang dekat-dekat di sini, misalnya ke Tangerang, Kebayoran, dan lain-lain?"
"Kalau begitu Midun belum pandai berniaga," ujar Syekh
Abdullah. "Mari saya tunjuki jalannya, supaya lekastebal. Memang jika dijual tunai, susah melakukannya di sini. Sebab itu lebih baik Midun perutangkan di kampung-kampung. Bayarannya pungut tiap-tiap hari Sabtu, sebab kebanyakan orang sini gajian satu kali seminggu. Jika diutangkan, taruh harga kain itu lebih mahal, menurut beberapa ia berani mengangsur tiap-tiapminggu, Misalnya kalau harga 13,20,-. Jadi tiap-tiap minggu ia harus membayar f 0,40,-. Bukankah dengan jalan itu kita beruntung besar? Kesusahannya tidak ada, sebab Midun berjalan juga tiap-tiap hari."
Perkataan itu tidak sesuai sedikit jua dengan pikiran Midun. Pada pikirannya perbuatan itu jahat, sebab terlampau memakan benak orang. Meskipun dia yang sudah-sudah menurut saja apayang dikatakan induk semangnya, tetapi sekali ini pengajaran itu tidak sedikit jua sesuai dengan kemauannya.
Midun termenung saja mendengar perkataan Syekh Abdullah yang demikian itu. Akan diteruskannya jua menjajakan kain ke kampung, pasti tidak akan laku. Tiba-tiba timbul pikiran lain dalam hati Midun, lalu ia berkata katanya,"Sekarang lebih baik saya jangan menjajakan kain lagi, Tuan! Saya ingin hendak berkedai di pasar, di tepi-tepi jalan. Biarlah saya beli saja di toko. Tetapi pokok saya sekarang, tentu tidak mencukupi. Sudikah Tuan meminjami saya uang barang f 100,-? Jika Tuan pinjami lagi saya uang f 100,- jumlah uang Tuan pada saya dengan yang dahulu f 150,-. Sekarang baiklah kita hitung laba rugi selama saya menjajakan kain."
"Itu lebih baik lagi," ujar Syekh Abdullah, "supaya Midun dapat belajar sendiri mengemudikan perniagaan. Saya pun lebih suka, kalau saya tidak campur. Dan saya suka memberi uang pinjaman, tetapi Midun tahu sendiri, tentu saya mengambil untung sedikit."
"Tentu saja, Tuan!" ujar Midun. "Dalam hal itu saya ada timbangan bagaimana yang patut, karena uang Tuan saya pakai."
Setelah selesai mereka itu membagi keuntungan penjualan kain yang sudah, maka Syekh Abdullah al-Hadramut menulis sepucuk surat utang. Surat utang itu disuruhnya tanda tangani oleh Midun. Dengan tidak berpikir lagi, ia menandatangani surat itu dengan tulisan Arab, lalu uang itu diambilnya. Ia berjanji, bahwa uang itu dalam 8 bulan akan dikembalikannya. Dengan senang hati Midun pergi, karena ia tidak lagi berjalan
kian kemari di seluruh kota Betawi. Ia memuji-muji kebaikan Syekh Abdullah al-Hadramut, karena mempercayai dia meminjamkan uang f 150,- itu. Dalam hatinya ia berjanji, manakala beruntung, akan dibelikannya barang sesuatu untuk istri Syekh Abdullah. Maka Midun berjalan mencari rumah tempat membayar makan. Ia mencari rumah yang agak dekat Pasar Senen, sebab ia bermaksud di sana akan membuka kedai. Setelah didapatnya rumnh tempat tinggal di Kampung Kwitang, lalu Midun pergi membeli barang. Pada keesokan harinya, ia pun mulai berkedai di Pasar Senen. Setelah sudah berkedai segala kain itu dibawa oleh seorang kuli pulang ke rumahnya. Demikianlah pekerjaan Midun tiap-tiap hari.
Adapun akan Syekh Abdullah al-Hadramut, sekali seminggu datang juga ke kedai Midun. Belum cukup sebulan Midun berkedai. pada suatu hari ia disuruh datang oleh induk semangnya ke Pekojan. Pada malam yang dijanjikan itu, Midun datanglah ke rumah induk semangnya. Setelah sudah makan minum, maka Syekh Abdullah berkata, "Adakah baik jalannya selama engkau berkedai, Midun?"
"Baik juga, Tuan!" ujar Midun. "Sekurang-kurangnya dalam sehari terjual seharga f 50,-. Kadang-kadang dicapainya sampai f 75,-."
"Baik benar kalau begitu. Tidak lama lagi hari akan puasa. Tidak perlukah Midun menambah pokok lagi?"
"Jika Tuan percaya dan sudi meminjami saya, terima kasih banyak, Tuan! Memang dengan pokoksebanyak sekarang tak dapat saya mencukupi kehendak orang. Ada yang meminta kain ini, kain itu, tetapi tidak ada saya taruh. Sedangkan sekarang demikian keadaannya, apalagi kalau sedikit hari lagi."
"Baiklah, ini saya tambah f 100,- lagi untuk pokok. Tetapi supaya terang berapa uang saya kepada Midun, tentu engkau harus menekan surat utang pula."
"Tentu saja, Tuan! Jika tidak demikian, tidak terang, berapa uang Tuan pada saya."
Midun menekan surat utang pula sehelai lagi. Uangditerimanya f 100,-. Jadi jumlah utang Midun sudah f 250,-dengan yang f 150,dahulu itu.
Maka berniagalah Midun dengan sungguh-sungguh hati. Karena ia tidak banyak mengambil untung tiap-tiap helai kain, amat banyak orang membeli kain kepadanya. Pada pikiran Midun, biar sedikit untung, tetapi banyak laku. Dengan hal
demikian, ada kira-kira empat bulan Midun berniaga.
Pada suatu malam, Midun menghitung berapa keuntungannya selama berkedai kain. Dengan tidak disangka-sangkanya, dengan pokok lebih kurang f 300,-, ia mendapat keuntungan bersih hampir f 200,-. Midun lalu berkata dalam hatinya,"Lain daripada barang, uang kontan sekarang ada pada saya f 350,-. Supaya saya jangan bersangkut paut juga pada induk semang saya, lebih baik besok saya bayar uangnya sama sekali. Setelah itu saya berikan uang untuk istrinya f 50,-, atau saya belikan barang yang harga sekianitu. Sudah itu saya berniaga dengan pokok saya sendiri. Insya Allah, jika Tuhan menurunkan rahmatnya sebagai yang sudah-sudah jua, barangkali dalam 2 atau 3 bulan lagi sampai apa yang saya citacitakan dengan Halimah. Ah, alangkah senangnya kami berniaga berdua! Aduhai..."
Pada keesokan harinya Midun tidak berkedai. Ia pergi ke rumah induk semangnya ke Pekojan. Dari jauh Midun sudah tersenyum, ketika Syekh Abdullah melihatnya dari beranda muka rumahnya.Setelah sampai, Midun dan induk semangnya bercakap-cakaplah tentang perkara perniagaan. Sesudah minum kopi, Midun berkata, "Jika tidak ada Tuan, tidaklah saya jadi begini. Tuanlah yang mengajar saya berniaga. Meskipun saya belum pandai benar berniaga, tetapi memadailah ajaran Tuan selama ini untuk berniaga-niaga kecil. Buktinya, dalam empat bulan saja saya jalankan, sudah beruntung lebih kurang f,200,-. Oleh sebab itu, saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Tuan, karena Tuan telah membukakan mata saya dari pada yang gelap kepada yang terang.
Jika ada izin Tuan, saya bermaksud_ hendak tegaksendiri. Artinya, iztang saya yang f 250,- kepada Tuan itu akan saya bayar sekarang. Dan saya mulai berniaga pula dengan pokok saya sendiri. Menurut aturan, sebab uang Tuan sudah sekian lama saya pakai, tentu tidak akan saya lupakan. Maka demikian, akan selamanya saya Tuan tolong,tentu tidak mungkin. Bila masanya lagi saya akan berdiri sendiri. Sebab itu Tuan izinkanlah kiranya saya, biarlah saya cobacoba pula berniaga sendiri. Sungguhpun begitu, saya harap Tuan ulang-ulangi juga saya ke kedai saya. Siapa tahu, jika ada hal apaapa yang menimpa diri saya, sebab malang dan mujur tidak bercerai, hanya Tuanlah yang saya harap akan menolong saya di Betawi ini. Tak ada yang lain harapan saya, melainkan Tuan."
"Jika Midun mau berniaga dengan pokok sendiri, bagi saya tidak ada alangan," ujar Syekh Abdullah."Itu lebih bagus lagi, dan saya pun mau menolong Midun bilamana perlu. Sekarang kalau Midun hendak membayar utang Midun kepada saya, bayarlah!"
Dengan segera Midun mengeluarkan uang dari saku bajunya sebelah dalam, lalu dihitungnya f 250,-, sebanyak yang diberikan Syekh Abdullah kepadanya. Pada pikirannya, setelah uang itu diterima induk semangnya, ia akan pergi ke belakang, kepada istri Syekh Abdullah memberikan uang f 50,- lagi atau dibelikannya barang menurut kehendak istri induk semangnya itu.
Setelah uang itu dihitung Syekh Abdullah al-Hadramut, ia pun berkata, "Mana lagi, Midun? Ini belum cukup."
"Yang lain maksud saya akan saya belikan barang untuk istri Tuan!" ujar Midun.
"Ah, itu tidak perlu. Biarlah saya sendiri membelikan dia. Kemarikanlah uang itu! Berapa?"
"Kalau begitu, baiklah!" ujar Midun dengan heran, sebab pada pikirannya, kalau uang diberikan, samalah halnya dengan bunga uang. Hal itu terlarang menurut agama. Maka Midun mengeluarkan uang pula f 50,- lalu berkata pula,"Hanya sebeginilah maksud saya hendak memberikan kepada istri Tuan, sebab uang Tuan telah sekian lama saya pakai. Uang ini akan saya berikan kepada beliau, melainkan sebagai hadiah saya, karena saya sudah beruntung berniaga. Tetapi Tuan meminta uang ini. Jika Tuan terima uang ini, tidaklah sebagai bunga uang namanya? Bukankah hal itu terlarang dalam agama kita? Lupakah Tuan akan itu?"
"Apa? Bunga uang?" ujar Syekh Abdullah al-Hadramut. "Ini bukan perkara bunga. Uang yangf 250,- ini belum cukup. Midun mesti bayar sebanyak yang ditulis dalam kedua surat utang Midun; jumlahnya semua f 500,-."
Terperanjat sungguh Midun mendengar perkataanSyekh Abdullah itu. la tahu uang yang dipinjamnya, cuma f 250,- tiba-tiba sekarang jadi f 500,-. Maka ia pun berkata dengan cemasnya, katanya,"Berapa, Tuan? f 500,-? Mengapa jadi f 500,-, padahal saya terima uang dari Tuan cuma f 250,-?"
"Ya, f 500,-!" ujar Syekh Abdullah pula. "Midun mesti bayar f 500,- sekarang, sebab sekian ditulis dalam surat utang."
Muka Midun jadi merah menahan marah, karena iamaklum,
bahwa ia sudah tertipu. Amat sakit hatinya kepadaorang Arab itu. Ia tidak dapat lagi menahan hati, karena sangat panas hatinya. Ketakutannya hilang, kehormatannya kepada orang Arab lenyap sama sekali. Maka ia pun berkata, katanya,"Selama ini saya takut dan hormat betul kepada Tuan. Pada pikiran saya Tuan seorang yang suci, sebab berasal dari tanah Arab. Apalagi Tuan sudah syekh, saya percaya sungguh. Rupanya persangkaan saya itu salah. Kalau begitu, Tuan seorang penipu besar, sama halnya dengan lintah darat yang dikutuki Tuhan. Rupanya saya sudah Tuan jerat. Apakah maksud Tuan dengan uang yang f 250,- lagi itu? Akan jadi bunganyakah?
Tidakkah Tuan tahu, bahwa menurut agama Islam terlarang memperbungakan uang? Bukankah memakan riba dengan cara demikian itu? Sungguh tidak saya sangka hal ini terjadi pada orang Arab."
"Diam, engkau jangan berkata begitu sekali lagi," kata Syekh Abdullah dengan marah. "Jangan terlalu kurang ajar kepada saya.
Saya amat baik kepadamu, tetapi dengan ini engkau balas. Jika engkau berani berkata sekali lagi, nanti saya adukan. Engkau boleh saya bawa perkara, supaya engkau tahu bahwa saya seorang baik."
"Macam Tuan ini, orang pemakan riba, seorang baik?" ujar Midun dengan sengit. "Orang gila agaknya orang yang menyangka demikian itu. Tuanhendak membawa saya perkara? Ke langit Tuan adukan, saya tidak takut perkara dengan orang macam ini. Saya berdiri atas kebenaran, ke mana pun jua saya mau perkara."
Midun segera mengambil uangnya yang f 300,- itu kembali, lalu dimasukkannya ke dalam saku bajunya. Sambil berjalan keluar rumah itu, ia pun berkata pula, katanya, "Tak ada gunanya kita berbalah jua, adukanlah ke mana Tuan suka! Saya tidak hendak membayar utang saya, sebelum perkara."
Sepanjang jalan pikiran Midun berkacau saja. Hatinya amat panas, karena tertipu pula. Midun tidak mengerti apa sebabnya Arab itu berbuat demikian kepadanya. Lagi pula ia amat heran, sebab seorang Arab seberani itu menipu orang. Maka kata Midun dalam hatinya, "Sungguh ajaib, sepuluh kali ajaib, karena hal ini terjadi pada seorang Arab dan syekh pula. Siapa yang akan menyangka, orang yang demikian itu suka memakan
riba. Benar ajaib dunia ini, jika kurang awas, binasa diri. Pada pikiran saya, orang Arab ini baik belaka, apalagi yang sudah syekh. Kiranya ada pula yang lebih jahat dan lebih busuk lagi tabiatnya. Bahkan tidak bermalu pula; senang sajaia mengatakan uang f 250,- jadi f 500,- bermuka-muka. (Ia tidak tahu bahwa dalam surat yang kedua f 300,-. Itulah kemalangannya tidak tahu di mata surat.) Lain daripada saya, tentu banyak lagi agaknya orang yang sudah terjerat macam saya ini. Amat panas hatiku mengenangkanpenipuan yang sangat halus dan menyakitkan hati itu. Biarlah, saya tidak akan membayar utang itu. Hendak diapakannya saya. Meskipun ia mengadu, saya tidakkan takut."
Demikianlah pikiran Midun, sebentar begini, sebentar begitu. Dengan tidak disangka-sangkanya, ia telah sampai di rumah tempatnya membayar makan. Sampai di rumahnya, segala barang-barangnya yang masih tinggal dibawanya ke Pasar Senen, lalu dijualnya semua kepada kawan-kawannya yang sama berniaga dengan dia. Uang itu, yang jumlahnya semua lebih f 500,- disimpannya dalam saku bajunya, sedikit pun tak bercerai dengan dia. Ia tidak berkedai lagi, melainkan bersenang-senangkan diri saja. Jika ditanyakan orang, apa sebab Midun tidak berkedai lagi, jawabnya, hendak bersenang-senangkan diri dulu barang satu atau dua bulan.(Bersambung Dari Bagian 13)
Jalut Sugra

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz