Jumat, 07 Desember 2012

Cerita Sengsara Membawa Nikmat (BAGIAN 6)

'' Lanjutan Dari Bagian 5''.
6. Pasar Malam
MATAHARI telah turun menjelang tirai peraduan di balik bumi, meninggalkan cahaya yang merah kuning laksana emas baru disepuh dipinggir langit di pihak barat. Burung-burung beterbangan pulang ke sarangnya. Dengan tergesa-gesa sambil berkotek memanggil anak, inasuklah ayam ke dalam kandang, karena hari telah samar muka. Cengkerik mulai berbunyi bersahut-sahutan, menyatakan bahwa hari sudah senjakala. Ketika itu sunyi senyap, seorang pun tak ada kelihatan orang di jalan. Di jembatan pada sebuah kampung, kelihatan tiga orang duduk berjuntai. Mereka duduk seakan-akan ada suatu rahasia yang dimufakatkannya, yang tidak boleh sedikit juga didengar orang lain. Sambil melihat ke sana kemari, kalau-kalau ,ida orang lalu lintas, mereka itu mulai bercakap-cakap.
"Sebulan lagi ada pacuan kuda dan pasar malam diBukittinggi," kata seorang di antara mereka itu yang tidak lain dari Kacak memulai percakapannya. "Saat itulah yang sebaik-baiknya bagi kita akan membalaskan dendamku selama ini kepada Midun. Tak dapat tiada tentu Midun pergi pula melihat keramaian itu. Orang kampung telah tahu semua, bahwa saya bermusuh dengan dia. Jadi kalau dia saya binasakan di sini, malu awak kepada orang. Tentu orang kampung syak wasangka kepada saya saja, kalau ada apa-apa kejadian atas diri Midun. Lagi pula ia tak pernah keluar, hingga sukar akan rnengenalnya. Oleh sebab itu telah bulat pikiran saya, bahwa hanya di Bukittinggilah dapat membinasakannya. Bagaimanakah pikiran Lenggang? Sukakah Lenggang menolong saya dalam hal ini? Budi dan cerih Lenggang itu, insya Allah takkan saya lupakan. Bila yang dimaksud sampai, saya berjanji akan memberi sesuatu yang menyenangkan hati Lenggang."
"Cita-cita Engku Muda itu mudah-mudahan sampai," jawab Lenggang, sambil melihat keliling, takut kalau-kalau ada orang mendengar. "Kami berdua berjanji menolong Engku Muda sedapat-dapatnya. Jika tak sampai yang dimaksud, tidaklah kami kembali pulang. Tidak lalu dendang didarat kami layer-kan, tak dapat dengan yang lahir, dengan batin kami per-dayakan. Sebab itu apa yang kami kerjakan di Bukittinggi, sekali-kali jangan Engku Muda campuri, supaya Engku jangan
terbawa-bawa. Biarkanlah kami berdua, dan dengar saja oleh Engku Muda bagaimana kejadiannya. Ada dua jalan yang harus kami kerjakan. Tetapi... maklumlah, Engku Muda, tentu dengan biaya. Lain daripada itu ingatlah, Engku-Muda, rahasia ini hanya kita bertiga saja hendaknya yang tahu. Pandai-pandai Engku Muda menyimpan, sebab hal ini tidak dapat dipermudah, karena perkara jiwa."
"Seharusnya saya yang akan berkata begitu," ujar Kacak sambil mengeluarkan uang kertas Rp 25,- dari koceknya, lalu diberikannya kepada Lenggang. "Bukankah Tuan-tuan membela saya, masakan saya bukakan rahasia ini. Biar apa pun akan terjadi atas diri Lenggang kedua, jangan sekali-kali nama saya disebut-sebut. Saya ucapkan, moga-moga yang dimaksud sampai, karena bukan main sakit hatiku kepada Midun, anak si peladang jahanam itu. Jika dia sudah luput dari dunia ini, barulah senang hati saya. Sekarang baik kita bercerai-cerai dulu, karena kalau terlalu lama bercakap-cakap, jangan-jangan dilihat orang."
Setelah ketiganya berteguh-teguhan janji bahwa rahasia itu akan dibawa mati, maka mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Lenggang dengan temannya sangat bersuka hati mendapat uang itu. Gelak mereka terbahak-bahak, lenggangnya makin jadi, tak ubah sebagai namanya pula. Bahaya apa yang akan menimpa mereka kelak, sedikit pun tidak dipedulikan Lenggang. Memang Lenggang sudah biasa menerima upah semacam itu. Pekerjaan itu sudah biasa dilakukannya. Sudah banyak ia menganiaya orang, satu pun tak ada orang yang tahu. Pandai benar ia menyimpan rahasia dan melakukan penganiayaan itu. Jika ada yang menaruh dendam kepada seseorang, dengan uang seringgit atau lima rupiah saja, telah dapat Lenggang disuruh akan membinasakan orang itu. Pekerjaan itu dipandangnya mudah saja, karena sudah biasa. Akan membinasakan Midun itu, tidak usah ia berpikir panjang, karena hal itu gampang saja pada pikirannya. Hanya yang dipikirkan Lenggang, tentu ia mendapat upah amat banyak dari Kacak, jika yang dimaksudnya sampai. Kacak seorang kaya, sedangkan bagi permintaan yang pertama diberinya Rp 25,-padahal belum apa-apa lagi. Akan mengambil jiwa Midun, seorang yang boleh dikatakan masih kanak-kanak, tak usah dihiraukannya.
Dua pekan lagi akan diadakan pacuan kuda di Bukittinggi.
Tetapi sekali ini pacuan kuda itu akan diramaikan dengan pasar malam lebih dahulu. Kabar pasar malam di Bukittinggi itu sudah tersiar ke mana-mana di tanah Minangkabau. Hal itu sudah menjadi buah tutur orang. Di mana-mana orang mempercakap-kannya, karena pasar malam baru sekali itu akan diadakan di Bukittinggi. Demikian pula Midun, yang pada masa itu sedang duduk-duduk di surau menanti waktu asar bersama Maun, pasar malam itulah yang selalu diperbincangkan.
"Ah, alangkah ramainya keramaian di kota sekali ini, Maun," kata Midun memulai percakapan itu."Kabarnya 'alat'* (Maksudnya pacuan kuda) sekali ini akan sangat ramai sekali, sebab disertai dengan pasar malam. Di dalam pasar malam itu, orang mempertunjukkan berbagai-bagai kerajinan, ternak, hasil tanah, dan lain-lain sebagainya. Segala pertunjukan itu, mana yang bagus diberi hadiah. Permainan-permainan tentu tidak pula kurang. Tak inginkah Maun pergi ke Bukittinggi? Saya berhajat benar hendak melihat keramaian sekali ini. Kepada ayah saya sudah minta izin. Tetapi hati beliau agak berat melepas saya, berhubung dengan Kacak yang selalu mengintai hendak menerkam mangsanya. Sungguhpun demikian, beliau izinkan juga, asal saya ingat-ingat menjaga diri."
"Memang saya ingin pergi ke Bukittinggi," ujar Maun, "Sejak kecil belum pernah saya melihat pasar malam. Bagi saya tak ada alangan apa-apa. Perkara Kacak yang engkau katakan itu,saya juga merasa khawatir. Ia selalu mengintai-intai, Midun! Kepada saya sendiri, kalau bertemu agak lain pandangnya, tetapi tidak saya pedulikan.Kemarin, waktu kita pergi sembahyang Jumat, adakita berjumpa dengan seorang yang belum pernahbertemu, apalagi dikenal. Orang itu saya lihat memandang kepada kita dengan tajam. Sudah kenalkah engKau kepada orang itu? Bukankah engkau ada ditegurnya?"
"Tidak, sekali-kali tidak, saya heran karena saya ditegurnya dengan sopan benar, padahal ia belum saya kenali. Saya rasa tentu ia tidak orang jahat, sebab ada juga sembahyang. Tetapi waktu kita bertemu dengan dia kemarin, darah saya berdebar. Entah apa sebabnya tidaklah saya tahu.Malam tadi tak senang sedikit juga hati saya. Ada saya tanyakan kepada Bapak Pendekar akan orang itu. Bapak Pendekar menerangkan, bahwa orang itu bukanlah orang kampung sini. Tetapi beliau kenal namanya dipanggilkan orang Lenggang. Dahulu memang dia seorang jahat, pemaling dan pencuri. Kedatangannya kemari
tidak beliau ketahui. Beliau katakan pula, bahwa Lenggang itu acap kali kelihatan pergi ke rumah famili Tuanku Laras. Karena itu, menurut tilikan beliau, Lenggang tentu sudah. baik sekarang, apalagi telah sembahyang. Kalau tidak, tentu ia tidak berani menampakkan diri ke rumah Tuanku Laras. Sungguhpun demikian, beliau suruh saya hati-hati juga menjaga diri, jangan lengah sedikit juga. Musuh dalam selimut, kata beliau."
"Perasaan saya pun begitu, Midun. Lain perasaan saya waktu melihat orang itu kemarin. Untung beliau telah maklum. Saya sudah berniat juga hendak mengatakannya kepadamu. Sudah jauh kita diamat-amatinya juga ngeri saya melihat rupanya, bengis dan menakutkan sungguh. Ingat-ingat, Midun! Kita harus hati-hati, supaya jangan binasa."
"Yang sejengkal itu tak mau jadi sedepa, kawan! Tak usah kita hawatirkan benar hal itu. Syak wasangka dan cemburu yang berlebih-lebihan merusakkan pikiran dan membinasakan diri. Jika nasib kita akan dapat malapetaka, apa boleh buat.Bukankah tiap-tiap sesuatu dengan takdir Tuhan."
"Jadi rupanya Midun menanti takdir saja, dan bila takdir itu datang, sudahlah."
"Sebenarnya, kawan! Tetapi engkau jangan pula salah pengertian. Bukan maksud saya berserah diri saja sebab takdir, sekalikili tidak. Kita dijadikan Tuhan dan diberi pikiran secukupnya. Dengan pikiran itulah kita menimbang mana yang baik untuk keselamatan diri kita. Bukankah segala dua dijadikan Allah? Pilihlah dengan pikiran itu mana yang akan dikerjakan. Kita wajib mengusahakan diri agar terhindar dari bencana dunia ini. Bilamana ikhtiar sudah dijalankan, dan kita dapat malapetaka juga, itulah yang dnamakannasib. Dan kalau kita sekarang sekonyong-konyong kena tombak misalnya, padahal tidak disengaja, itulah yang dikatakan orang takdir. Mengertikah engkau, Maun? Jadi tentu saja kita harus horhati-hati. Jika dapat dihindarkan, baik kita hindarkan, supaya jangan dapat bahaya. Tetapi bila tersesak padang ke rimba, terhentak ruas ke buku, apa boleh buat, wajib kita membela diri."
"Sekarang mengerti saya maksudmu itu. Nah, bilakah kita berangkat? Tak perlukah kita membawa apa-apa untuk dijual di kota akan belanja selama di sana?"
"Tiga hari pasar malam akan dimulai, kita berangkat dari sini."
"Uang simpananku ada Rp 25,-. Kamu adakah menyimpan
uang?"
"Ada, saya rasa hanya sebanyak uang simpananmu pula agaknya."
"Mari kita perniagakan uang itu! Saya dengar kabar, lada dan telur amat mahal sekarang di Bukittinggi. Untungnya itulah untuk belanja. Lain daripada itu kita tolong pula menjualkan lada ibu."
Pada tepi jalan di pasar kampung itu kelihatan lada, ayam, dan lain-lain sebagainya. Dua orang muda memuat barang-barang itu ke dalam pedati.Setelah selesai, Midun dan Maun pun bersalam dengan ayah-bunda masing-masing, yang ketika itu ada pula di sana menolong memuat barang itu ke dalam pedati. Mereka kedua minta izin, lalu bersiap akan berangkat. Ketika Midun bersalam minta maaf kepada ibunya, lama benar tangannya maka dilepaskan ibunya. Amat berat hati ibu itu melepas anaknya ke Bukittinggi. Sungguhpun Bukittinggi tidak berapa jauh dari kampungnya, tetapi tak ubah hal ibu Midun sebagai seorang yang hendak melepas anaknya berjalan jauh. Amatlain perasaannya, takut kalau-kalau anaknya dapat bahaya. Rasa-rasa tampak kepada ibu itu bahaya yang akan menimpa anaknya, karena Midun dimusuhi orang. Tetapi ia terpaksa harus melepas Midun, anak yang sangat dikasihinya itu.
Maka berangkatlah Midun dan Maun menumpang pedati yang membawa barang-barangnya itu. Dari kampungnya ke Bukittinggi adalah semalam perjalanan dengan pedati. Ia berangkat pada petang hari Jumat. Pagi-pagi hari Sabtu, sebelum matahari terbit, sudah sampai di Bukittinggi. Di dalam perjalanan keduanya adalah selamat saja. '
Belum tinggi matahari terbit, barang-barang yang dibawanya diborong oleh orang Cina dengan harga Rp 160,-. Setelah itu keduanya pergi makanke sebuah lepau nasi dan menghitung laba masing-masing. Barang yang berpokok Rp 50,- dijual Rp 100,- dan beruntung Rp 50,-. Penjualan lain kepunyaan ibunya Rp 60,- ' disimpan mereka uangnya. Setelah dipotong biaya, lalu dibaginya dua keuntungan itu, yaitu Rp 20,-, seorang. Sesudah makan, Midun berkata, "Sungguh bukan sedikit untung kita, Maun! Patutlah Datuk Palindih lekas benar kayanya. Belum lama ia jadi saudagar,sudah banyak ia membeli sawah. Uang yang diperniagakannya pun tidak sedikit, karena berpuluh pedati ia membawa barang-barang yang telah dibelinya.
Maukah Maun berniaga pula nanti?"
"Baik, saya pun amat suka berniaga," jawab Maun."Jika pandai menjalankan perniagaan, memang lekas benar naiknya. Tapi jatuhnya mudah pula. Lihatlah Baginda Sutan itu! Dari sekaya-kayanya, jatuh jadi semiskin-miskinnya. Sekarang pikirannya tidak sempurna lagi."
"Benar katamu itu. Karena Baginda Sutan sangat tamak akan uang dan sangat kikir pula, ia dihukum Tuhan. Boleh jadi ia berniaga terlampau banyak mengambil untung, lalu dimurkai Allah. Kekikirannya jangan dikata lagi. Bajunya baju hitam yang sudah berkilat lehernya, karena tidak bercuci. Baunya pun tidak terperikan busuknya. Uang seduit dibalik-baliknya dulu baru dibelanjakan."
Maka mereka pun menanyakan kepada orang lepau itu, agar mereka kedua diizinkan bermalam di sana selama ada keramaian. Bagi orang lepau itu, karena dilihatnya Midun dan Maun orang baik-baik, tiadalah menjadi halangan mereka kedua menumpang di lepau itu. Setelah itu Midun dan Maun berjalan akan melihat-lihat keramaian"pasar malam". Pada kiri kanan jalan dekat lepau itu sampai ke pintu gerbang dihiasi dengan pelbagai sulur-suluran dan hunga-bungaan. Bergelung-gelung amat indah-indah rupanya. Pada tiap-tiap rumah sepanjang jalan, berkibaranbendera si tiga warna. Dari jauh sudah kelihatan pintu gerbang pasar malam itu. Tinggi di atas puncaknya terpancang bendera Belanda yang amat besar, berombak-ombak ditiup angin. Tonggak pintu gerbang itu dililit dengan kain yang berwarna-warna. Pelbagai bunga-bungaan bersusun amat beraturan, menyedapkan pemandangan.
Midun dan Maun sampai di pintu gerbang itu. Dengan heran inereka melihat keindahannya. Agakke sebelah dalam sedikit ada sebuah rumah yang amat kukuh, bangun rumah itu tak ubah dengan balairung sari buatan orang Minangkabau zaman dahulu.
Sungguh tertarik hati melihat bangun rumah itu. Atapnya dari ijuk, berdinding papan berukir. Di tengah-tengah balai itu ada sebuah pintu masuk yang amat besar. Jika orang hendak melihat pasar malam, harus melalui pintu balai itu. Di atas pintu agak sebelah atas, ada kepala kerbau yang bertanduk. Kepala kerbau itu ialah menjadi suatu tanda kebesaran orang Minangkabau.
Konon kabarnya, menurut cerita orang: pada zaman dahulu
kala orang Jawa datang ke Minangkabau akan menyerang negeri itu. Melihat kedatangan orang Jawa yang sangat banyak itu, orang Minangkabaukhawatir, takut akan kalah perang. Oleh sebab itu,dicarinya akal akan menghindarkan bahaya itu. Maka dikirimnya seorang utusan oleh raja Minangkabau kepada panglima perang orang Jawa itu membawa kabar, mengatakan: bahwa jika berperang tentu akan mengorbankan jiwa manusia saja. Oleh karena itu, dimintanya berperang itu dihabisi dengan jalan mengadu kerbau saja. Manakala kerbau orang Minangkabau kalah, negeri itu akan diserahkan kepada orang Jawa. Tetapi kalau menang, segala kapal-kapal dengan muatannya harus diserahkan kepada orang Minangkabau. Permintaan itu dikabulkan oleh orang Jawa dengan segala suka hati. Maka dicarinya seekor kerbau yang amat besar. Tetapi orang Minangkabau mencari seekoranak kerbau yang sudah tiga hari tidak diberinya menyusu. Pada moncong anak kerbau itu diberinyaberminang yang amat tajam. Setelah datang hari yang ditentukan hadirlah rakyat kedua kerajaan itu. Ketika orang Jawa melihat anak kerbau orang Minangkabau, mereka tertawa dengan riangnya. Pasti kepada mereka itu, bahwa ia akan menang. Tetapi setelah kedua kerbau itu dilepaskan ke tengah gelanggang, anak kerbau itu pun berlari-lari kepada kerbau besar orang Jawa itu, hendak menyusu... sehingga perut kerbau itu tembus oleh minang yang lekat di moncongnya. Kerbau orang Jawa itu mati, maka menanglah kerbau orang Minangkabau itu. Demikianlah ceritanya. Benar tidaknya cerita itu, wallahu alam.
Balai itu dihiasi dengan amat bagus dan indahnya. Di atas balai itu kelihatan beberapa orang engku-engku berdiri.
Ketika Midun tercengang-cengang memperhatikan pintu gerbang itu, tampak olehnya huruf yang dibuat dengan air mas.
Huruf itu terletak pada tengah-tengah gaba-gaba. Sedang Midun melihat-lihat, datang seorang dekat padanya. Midun menyangka tentu anak itu murid sekolah, lalu bertanya, "Buyung, apakah bunyi bacaan yang tertulis pada gaba-gaba itu?"
Anak itu pun berkata, katanya, "Pasar Malam."
Midun meminta terima kasih kepada anak itu, kemudian berkata kepada Maun. "Jika orang hendak masuk ke dalam rupanya membayar. Mari kita beli pula yang seperti dibawa orang itu, kita masuk ke dalam!"
Sesudah membeli karcis, lalu keduanya masuk. Belum lagi sampai ke tengah, mereka amat heran melihat kebagusan pasar malam itu. Pondok-pondok berdiri dengan amat teratur. Los-los pasar dihiasi dengan bermacam-macam bunga. Midun pergi melihat-lihat keadaan di pasar itu. Mula-mula dilihatnya pada sebuah pondok seorang perempuan menenun kain. Midun sangat heran melihat bagaimana cekatannya perempuan itu bertenun. Setelah lama diperhatikan, ia pun meneruskan perjalanannya pula melihat yang lain-lain, misalnya, cara menanam tumbuh-tumbuhan yang subur, pemeliharaan ternak yang baik dan lain-lain sebagainya. Segala yang dilihat Midun di dalam pasar malam itu, diperhatikannya sungguhsungguh. Setelah petang hari, baru mereka pulang ke lepau nasi. Ketika ia melalui sebuah los dekat pintu keluar, kedengaran olehnya orang berseru-seru, katanya, "Lihatlah peruntungan, Saudara-saudara! Baik atau tidaknya nasib kelak, dapat dinyatakan dengan mengangkat batu ini!"
Midun dan Maun tertarik benar hatinya hendak melihat, lalu mereka pergi ke tempat itu. Midun melihat sebuah batu yang besar bertepikan suasa.Batu itu telah tua benar rupanya. Agaknya sudah berabad-abad umurnya. Tidak jauh daripada itu ada pula terletak sebuah pedupaan (perasapan). Bertimbun kemenyan yang ditaruhkan orang di sana. Maka bertanyalah Midun kepada orang yang berseru itu, katanya, "Batu apa ini, Mamak? Bagaimanakah, maka kita dapat menentukan nasibkelak dengan batu ini?"
"Batu ini ialah batu keramat, pusaka dari Raja Pagaruyung yang telah berabad-abad lamanya," jawab orang itu. "Jika orang muda dapat mengangkat batu ini sampai ke atas kepala, tandanya orang muda akan berbahagia kelak. Tetapi bila tidak dapat, boleh saya pastikan, bahwa nasib orang muda tidak baik akhir kelaknya. Dan barang siapa yang tidak percaya akan perkataan saya, tentu ia dikutuki batu keramat ini."
Midun dan Maun amat takjub mendengar perkataan orang itu. Karena ia seorang alim pula, bersalahan sungguh pendapat orang ini dengan ilmu pengetahuannya. Pikirnya, "Ini tentu suatu tipu untuk pengisi kantung saja. Mengapakah hal yang semacam ini kalau dibiarkan saja oleh pemerintah? Bukankah hal ini bersalahan dengan ilmu pengetahuan dan agama? Orang ini barangkali tidak beragama, karena batu disangkanya dapat menentukan buruk baik untung orang."
Berkacau-balau pikiran Midun tentang batu yang dikatakan keramat itu. Tetapi ia tidak berani mengeluarkan perasaannya, karena takut kepada orang banyak yang mengelilinginya. Tiba-tiba datang seorang, lalu membakar kemenyan sebesar ibu jari pada pedupaan. Ketika ia membakar kemenyan, lalu memohonkan rahmat kepada hatu itu, moga-moga baik nasibnya kelak. Kemudian ia memasukkan uang sebenggol ke dalam tabung yang sudah tersedia. Sambil memperbaiki sikap dan membaca bismillah, maka diangkatnyalah batu itu perlahan-lahan, sebab takut akan ketulahan. Telah mengalir peluh di badan orang itu, jangankan terangkat bergerak pun tidak batu itu. Dengan bersedih hati dan muka yang suram, berjalanlah ia, tidak menoleh-noleh ke belakang.
Midun berbisik kepada Maun, "Bersedih hati benarrupanya orang itu, karena batu ini tidak terangkat olehnya. Kepercayaannya penuh, bahwa batu keramat. Tentu saja tidak terangkat olehnya batu sebesar ini, karena ia sudah tua. Sungguh kasihan dan boleh jadi ia menyesali hidupnya dan sesalan itu boleh menimbulkan pikiran, hendak membinasakan diri, karena sangkanya, daripada hidup sengsara kelak, lebih baik mati sekarang. Berbahaya benar, tidak patut hal ini dibiarkan."
Maun menarik napas, lalu berkata perlahan-lahan, "Sungguh, amat banyak orang sesat, karena kebodohan dan kepercayaan yang bukan-bukan. Janganlah kita bicarakan juga hal ini. Jika terdengar oleh yang punya dan oleh orang-orang yang mempercayainya keramat batu ini, boleh jadikita binasa."
"Baiklah, maukah Maun mengangkat batu ini? Sayaingin hendak mengangkat berapa beratnya, sebabsudah tiga orang tak ada yang kuat. Sungguhpun tidak percaya, kita pura-pura saja seperti orang itu."
Maka Midun membakar kemenyan, kemudian memasukkan uang lima sen ke tabung. Setelah itu diangkatnya batu yang dikatakan keramat itu. Oleh Midun, seorang muda yang sehat dan kuat, dengan mudah saja batu itu diangkatnya. Segala orang yang melihat amat heran, lalu berkata,"Anak muda yang berbahagia."
Benci benar Midun mendengar perkataan itu, hampir-hampir tak dapat ia menahan hati. Tiba-tiba telanjur juga, lalu berkata, "Tuhan yang dapat menentukan berbahagia atau tidaknya untung nasib seseorang, tetapi batu ini ...."
Midun dan Maun segera berjalan pulang ke lepau nasi,
karena ketika hendak berkata lagi, dilihatnya muka yang punya batu berubah sekonyong-konyong. Sepanjang jalan mereka sepatah pun tidak bercakap, karena memikirkan batu yang bertepikan suasa itu. Sudah makan, baru mereka mempercakapkan penglihatannya sehari itu. Tetapi yang menarik hati mereka benar, ialah memperkatakan batu yang keramat itu saja.
Pada malam hari Midun dan Maun pergi pula ke pasar malam. Sesampai di pintu masuk, takjub sungguh Midun melihat pintu gerbang pasar malam itu. Gaba-gaba diterangi dengan berpuluhpuluh lampu, melukiskan ukuran yang amat indah-indah. Balai dihiasi dengan lampu yangberwarna-warna. Huruf-huruf pada gaba-gaba dan di gonjong balai, seakan-akan terbuat daripada lampu laiknya. Dengan segera Midun membeli karcis, lalu masuk ke dalam. Midun dan Maun berjalan tidak seperti siang tadi, melainkan diperhatikannya isi tiap-tiap pondok di pasar itu. Banyak penglihatan Midun yang berfaedah untuk penghidupannya kelak. Misalnya pekerjaan tangan, cara memelihara ternak, keadaan bibit tanaman yang bagus, contoh-contoh barang perniagaan, dan lain-lain.
Demikianlah pekerjaan mereka itu dua hari lamanya. Pada hari yang kelima, pagi-pagi, Midun dan Maun pergi ke pasar. Mereka herbelanja membeli ini dan itu, karena hendak terus pulang setelah melihat pacuan kuda lusanya. Tengah hari kembalilah mereka ke lopau. Segala barang-barang yang dibeli, dipertaruhkannya kepada orang lepau itu. Setelah itu Midun duduk hendak makan, tetapi Maun masih di luar membeli rokok. Baru saja Midun duduk, Maun berseru dari luar katanya, "Midun! Midun! Lihatlah, apa ini?"
Midun melompat lari ke luar, hendak melihat yang diseur-kan kawannya itu. Di jalan kelihatan beberapa engku-engku dan tuan-tuan diarak dengan musik militer. Tiba-tiba Midun terkejut, karena di dalam orang banyak itu kelihatan olehnya Kacak. Dengan segera ditariknya tangan Maun, lalu dibawanya masuk ke dalam lepau.
Dengan perlahan-lahan Midun berkata, "Maun! Adakah engkau melihat Kacak di antara orang banyak itu?"
"Tidak," jawab Maun dengan cemasnya. "Adakah engkau melihat dia?"
"Ada, rupanya ia ada pula datang kemari. Ketika saya melihatnya tadi, ia memandang ke sana kemari, seakan-akan ada
yang dicarinya di antara orang banyak itu. Entah siapa yang dicarinya dengan matanya itu tidaklah saya ketahui. Saya amat heran karena ketika saya menampaknya tadi, darah saya berdebar. Yang biasa tidaklah demikian benar hal saya bilamana melihat Kacak. Boleh jadi kita di sini diintip orang, Maun! Siapa tahu dengan tidak disangka-sangka kita dapat bahaya kelak. Sebab itu haruslah kita ingat-ingat selama di sini."
"Tidak kelihatankah engkau kepadanya tadi? Tetapi saya rasa takkan berani Kacak berbuat apa-apa kepada kita di dalam peralatan besar ini.Nyata kepada saya ketakutannya bertentangan dengan engkau, waktu perkelahian di tepi sungai dahulu. Sedangkan di kampung demikian keadaannya, apalagi di sini. Siapa yang akan dipanggakkannya di sini? Karena itu tidak boleh jadi ia akan menyerang kita. Sungguhpun demikian, kita harus berhati-hati juga."
"Saya tidak kelihatan olehnya. Tetapi jika tak ada yang dicarinya, masakan seliar itu benar matanya.Saya pun maklum, bahwa dia tida k akan berani menyerang kita di sini. Tetapi karena dia orang kaya, tentu bermacam-macam jalan dapat dilakukannya akan membinasa. kan kita. Biarlah, asal kita ingat-ingat saja."
Sesudah makan mereka pun berjalan-jalan ke pasar, melihat perarakan anak-anak sekolah dan lain-lain: Malam hari Midun tidak keluar, melainkan tinggal di lepau nasi saja. Lain benar perasaannya sejak melihat Kacak hari itu. Besoknya ketika pacuan kuda dimulai, mereka itu tidak pergi melihat, melainkan tinggal di lepau saja. Hanya pada hari yang kedua saja mereka hendak pergi sebentar. Sudah itu maksudnya hendak terus pulang ke kampung.(Bersambung Ke Bagian 7)

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz