Sabtu, 06 April 2013

Akankah Pulau Sumatra Merdeka?

Oleh Adirao

Sepuluh tahun lebih saya berkawan
dengan para sahabat dari beberapa
wilayah. Dari pembicaraan mereka
jelas nampak sekali ketidak puasan
mereka terhadap management dan
kepemimpinan Jakarta tidak dapat
disembunyikan.
Saya memprediksikan kalau
seandainya berlaku perang antara
Malaysia dengan Indonesia, maka
yang sangat rugi itu adalah
Indonesia. Sejumlah wilayah
Indonesia yang memiliki dendam
lama dengan pemerintah pusat
karena pelanggaran HAM, ketidak
adilan, ketidak profesionalismean
dan sebagainya akan memanfaatkan
situasi ini untuk memerdekakan diri
serta keluar dari NKRI atau
setidaknya menggabungkan diri atau
membuat perjanjian kerjasama
ekonomi dan militer dengan negara
Singapura atau Malaysia. Biarlah
kita dikatakan berafiliasi dengan
Inggris, karena memang terbukti
bahwa Inggris memang ingin semua
manusia jadi makmur dan bahagia.
Negara-negara yang terbentuk
setelah kemerdekaan saat ini
seperti Indonesia, Malaysia, dan
Singapura tidak menunjukkan
teritori dan kekuasaan raja-raja
melayu Islam silam. Kerajaan Aceh
Darussalam (1607-1936) dengan
rajanya yang terkenal Iskandar
Muda wilayah kekuasaannya
meliputi Aceh, Deli, Johor, Bintan,
Selangor, Kedah, Pahang sampai ke
Semenanjung Malaka. Sebuah
kerajaan Melayu Riau Lingga (Abad
ke 19) wilayah kekuasaannya
meliputi Deli, Johor, dan Pahang.
Setelah merdeka bangsa Melayu
dipisahkan menjadi warga negara
Brunei, Indonesia, Malaysia,
Singapura dan Selatan Thailand. Apa
yang pasti, dalam istilah ilmu tidak
mengenal adanya bangsa Brunei,
Indonesia, Malaysia, Singapura dan
Selatan Thailand. Karena bangsa
bermaksud race. Istilah bangsa
Brunei, Thailand, Malaysia dan
sebagainya adalah istilah politik
saja, yang benar adalah
warganegara atau rakyat.
Parameswara raja Malaka yang
pertama adalah berasal dari
Palembang. Kerajaan Aceh Darus
Salam memiliki hubungan yang
sangat erat dengan Kerajaan
pahang, Malaka dan Johor. Keluarga
Diraja Negeri Sembilan yaitu Yang
Dipertuan Agung Malaysia yang
pertama, yang sampai sekarang
menjadi lambang mata uang
Malaysia berasal dari Minangkabau.
Kerajaan Johor Memiliki hubungan
kekeluargaan yang rapat dengan
Kerajaan Riau Lingga. Para Menteri
dan pejabat tinggi lainnnya di
Malaysia banyak yang memiliki
darah Rao, Aceh, Riau,
Minangkabau, Palembang, Jambi,
kerinci.
Kalau beberapa wilayah ini bersatu
menghancurkan istana negara,
gedung dpr/mpr, markaz besar TNI/
Polri di Jakarta, maka secara
otomatis negara Indonesia akan
bubar dengan sendirinya. Ide-ide
lama membentuk Sumatera
Merdeka (Andalas), Kalimantan
Merdeka, Sulawesi merdeka dll.
akan memanfaatkan situasi ini
untuk merealisasikan impian
mereka. Para prajurit yang berasal
dari daerah ini tidak mungkin akan
menghancurkan kampung mereka
sendiri.
Membiarkan Jawa menjadi sebuah
negara merdeka dengan Surabaya
sebagai ibu kota negaranya dan sby
sebagai Presiden seumur hidup atau
menjadi sebuah kerajaan dengan
Sultan Jogja menjadi pemerintahan
yang tersendiri, terserahlah pada
mereka
Dari sini akan terlihat nantinya,
kepemimpinan dari suku manakah
yang paling berhasil memajukan
negaranya masing-masing tersebut.
Isu sejumlah wilayah mau keluar
dari Indonesia sebenarnya bukan
cerita baru dalam sejarah
Indonesia. Gerakan Riau merdeka,
Gerakan Aceh Merdeka dan
sebagainya masih tersimpan dalam
catatan sejarah yang soheh.
Menurut Anhar Gonggong dan Arbi
Sanit, hampir separo daerah di
Indonesia menuntut kemerdekaan
saat ini.
Ada beberapa alasan mengapa
sejumlah wilayah mau merdeka;
1. Kekayaan Alam, Mereka memiliki
kekayaan yang melimpah, tetapi
kekayaan itu tidak dirasakan sama
sekali oleh rakyatnya. Kemiskinan,
buta huruf, pengangguran,
bertambah, sementara
pembangunan infrastruktur hampir
tidak terlihat. Mereka hanya
mendapatkan resiko saja seperti
kerusakan alam, global warming,
bencana alam dan sebagainya. Ini
terutama berlaku di Aceh, Riau,
Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera
secara keseluruhan.
2. Dendam lama, Peristiwa APRA,
Andi Aziz, Darul Islam, PRRI,
Permesta di orde lama. Beberapa
bekas daerah operasi militer
(DOM), kezaliman dan penindasan
hak-hak asasi mereka dibidang
sosial, politik, ekonomi, budaya dan
pembangunan di zaman orde baru.
Pembantaian di Psantren Tengku
Bantaqiyah, peristiwa KKA, DOM,
Pemberhentian Jedah Kemanusiaan
& kekerasan di Aceh, peristiwa
Ummi Makasar, peristiwa
Balukumba di Sulawesi di era
reformasi dan sebagainya.
3. Muak, dengan berbagai macam
skandal perampokan uang rakyat
yang semakin hari semakin
menjadi-jadi dan tidak menemukan
jalan penyelesaian. Seperti
lingkaran setan yang tidak diketahui
kapan bermula dan bila akan
berakhir segala penyalahgunaan
kuasa di negara ini. Skandal BLBI,
Century, Rekening Gendut Polisi,
Brunei Gate, Bulog Gate, Mafia
pajak dan berbagai penyalahgunaan
kuasa lainnya.
4. Bosan, dengan tidak
dirasakannya fungsi pemerintah
oleh rakyat, sehingga keberadaan
dengan ketiadaan pemerintah sama
saja atau malah memperburuk
keadaan saja. Ketidak pastian
hukum dinegara ini seperti kasus
Ibu Prita, Antasari, Susno Duadji,
Sri Mulyani, kasus koruptor dan
sebagainya.
5. Capek, selalu menderita akibat
ulah dan perangai pejabat negara
yang bertindak seperti keparat yang
menjajah, seperti preman yang
menindas, seperti gangstar yang
menggelisahkan. Public service yang
tidak mesra pengunjung, fungsi
keberadaan instansi pemerintah
yang tidak terasa bahkan menindas
rakyat, pembangunan infrastruktur
yang lambat melempem dll.
Tentu saja saya tidak mengharapkan
semua ini berlaku karena
ongkosnya terlalu mahal, apalagi
kalau proses kemerdekaan itu
memakan masa yang lama. Yang
rugi adalah umat Islam juga
tentunya. Keadaan akan kacau
balau, pendidikan anak-anak akan
terganggu, keamanan akan
tergugat, kuasa besar akan
memanfaatkan keadaan.
Tetapi mungkin juga cita-cita untuk
mendapatkan pemerintah yang
baik, bersih, profesional, merakyat,
kemakmuran, kebahagian,
kesenangan hanya akan tercapai
melalui jalan ini saja…
Logika sederhana
Bergabung dengan Malaysia atau
Singapura, rakyat mereka bisa
menikmati layanan kesehatan dari
dokter yang ahli dengan peralatan
rumah sakit yang canggih, anak-
anak mereka akan bisa sekolah
dengan kualitas pendidikan yang
baik, murah, rakyatnya bisa
menikmati terangnya lampu listrik
yang tidak sering mati seperti PLN,
dapat minum air bersih PAM, bisa
membeli kenderaan.
Bisa makan daging setiap hari,
makanan lima sempurna mudah
dan murah didapati. Transportasi
yang lancar dan berkualitas, publik
servis yang ramah, pegawai negara
yang merakyat, mesra. ramah dan
tidak korupsi, kebersihan yang
selalu dijaga, kemakmuran,
keamanan dan ketentraman yang
selalu ada, kekayaan negara yang
dimiliki dan dinikmati secara
bersama.
Disaat itu anda akan merasa lucu
dan ketawa mendengar lagu Iwan
Fals & Ebid G Ade tentang seorang
anak yang mengais sampah untuk
mencari sisa makanan yang
dibuang, tentang orang tua yang
terbakar melecur sekujur tubuhnya
tetapi tidak dilayani rumah sakit
karena tidak memiliki uang, tentang
Umar Bakri guru SD yang memakai
sepeda tua, tentang jadwal kereta
api yang selalu terlambat, tentang
pengemis tua dan pencopet muda
mati berpelukan karena kelaparan,
tentang bantuan keselamatan
negara (SAR, Polisi, Pemadam
kebakaran) yang datang lambat
setelah semua korban meninggal
dunia, tentang orang tua yang tidak
mampu membeli susu untuk
pertumbuhan anaknya menjadi
sehat dan pintar, tentang bocah
tukang semir dan penjaja koran
yang berpacu dengan waktu antara
sekolah dengan mencari sesuap
nasi, tentang orang tua yang
menggendong mayat anaknya ke
kampung karena tidak mampu
membayar ongkos kenderaan,
tentang wakil rakyat yang tidak
merakyat, tentang tikus-tikus
kantor yang selalu menggerogoti
uang rakyat, tentang polisi yang
memperkaya diri dengan tawar
menawar harga pas tancap gas.
Waktu itu anda mungkin tak akan
pernah mendengar lagi tentang
rakyatmu yang mati bunuh diri
karena kemiskinan, tentang orang
miskin yang sanggup menunggu
berjam-jam sampai ada yang mati
rebutan pembagian zakat Rp
35.000/keluarga, tentang rakyat
yang hanya makan nasi dengan
garam atau sayur tempe setiap hari,
tentang rakyat yang hanya makan
daging setahun sekali waktu hari
raya haji saja. Karena dana bantuan
sosial yang cukup untuk membeli
rumah dan kenderaan sudah
dimasukkan kedalam rekening
mereka setiap bulannya.
Waktu itu anda akan terbiasa
mendengar berita tentang aparat
negara yang dipenjara dan
diberhentikan kerja karena hanya
meminta uang sogokan Rp. 1 Juta
saja. Tentang PNS yang dipecat
karena selalu terlambat masuk
kantor. Tentang polisi yang dipecat
karena hanya meminta uang damai
ditengah jalan. Tentang camat yang
dipecat karena tidak pernah tahu
keadaan rakyat. Tentang tentara
yang dipecat dan menjadi hansip
dan satpam karena melanggar
undang-undang. Tentang Direktur,
menteri, kepala bagian, rektor,
manager yang diganti karena gagal
memajukan institusinya.
Kala itu jika anda mau mengenang
masa lalu atau ingin mensyukuri
nikmat Allah SWT. Ajaklah
keluargamu berjalan-jalan ke Jawa
sebagai seorang turist. Untuk
melihat para pengemis dan
pengamen di dalam angkutan
umum yang padat dan tidak
nyaman. Untuk melihat para
penjual barangan yang terkesan
memaksakan kehendaknya. Untuk
melihat anak-anak jalanan dan
gelandangan yang berkeliaran
ditengah jalan dan tidur diemperan
toko. Untuk melihat penempatan
kumuh yang tidak layak huni untuk
standart manusia yang berakal.
Untuk melihat preman-preman di
pasar, terminal, bandara,
pelabuhan yang menunggu mangsa.
Untuk melihat jalan-jalan berlubang
dan berliku yang membuat pening
kepala. Untuk membuat sebuah
negara koboi yang berlaku hukum
rimba, dimana siapa yang kuat,
berharta dan bertahta dialah
sebagai raja. Untuk melihat negara
preman dimana kebenaran diukur
dengan keuangan, kekuasaan dan
kekuatan.
Bersama Indonesia selamanya kita
akan menderita, karena di negara
ini kepentingan politik partai
mengalahkan segalanya. Sementara
bersama negara lain masa depan
anak cucu kita akan menemui
cahaya terang dan akan lebih
baik.

Di olah seperlunya.
Sumber: tempo.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz