Kamis, 04 April 2013

Jerarld F Dirks : Ketua Dewan Gereja Metodis Menjadi Muallaf

Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Semoga Kisah mullaf berikut bermanfaat bagi anda, selamat membaca dan semoga anda mendapatkan jawaban dari apa- apa yang anda cari.
Jerarld F Dirks mantan
pendeta, Temui
Kenikmatan dan
Disiplin dalam Islam
watch From
Jesus to
Muhammad: A
History of
Early
Christianity
Image
Jerald F Dirks
Image ,
sebelumnya ialah
seorang pendeta
yang dinobatkan
sebagai Ketua
Dewan Gereja
Metodis Kini
peraih gelar
Bachelor of Arts
(BA) dan Master of
Divinity (M Div)
dari Universitas
Harvard, serta
pemegang gelar Master of Arts
(MA) dan Doctor of Psychology
(Psy D) dari Universtas Denver,
Amerika Serikat,
Dibesarkan di tengah lingkungan
masyarakat penganut kepercayaan
Kristen Metodis, membuat Jerald
kecil terbiasa dengan suara
dentingan lonceng yang kerap
mengalun dari sebuah bangunan
tua Gereja Kristen Metodis yang
berjarak hanya dua blok dari
rumahnya. Bunyi lonceng yang
bergema setiap Minggu pagi ini
menjadi tanda bagi seluruh
anggota keluarganya agar segera
menghadiri kebaktian yang
diadakan di gereja. Image
Tidak hanya dalam urusan
kebaktian saja, tetapi juga dalam
setiap kegiatan yang
diselenggarakan oleh pihak Gereja
Kristen Metodis, seluruh anggota
keluarga ini turut terlibat secara
aktif. Karenanya tak
mengherankan jika sejak usia
kanak-kanak Jerald sudah
diikutsertakan dalam kegiatan
yang diadakan oleh pihak gereja.
Salah satunya adalah mengikuti
sekolah khusus selama dua pekan
yang diadakan oleh pihak gereja
setiap bulan Juni. Selama
mengikuti sekolah khusus ini,
para peserta mendapat
pengajaran mengenai Bibel.
''Secara rutin saya mengikuti
sekolah khusus ini hingga
memasuki tahun kedelapan, selain
kebaktian Minggu pagi dan
sekolah Minggu yang diadakan
setiap akhir pekan,'' ungkap
muallaf kelahiran Kansas tahun
1950 ini. Diantara para peserta
sekolah khusus ini, Jerald
termasuk yang paling menonjol.
Tidak pernah sekalipun ia absen
dari kelas. Dan dalam hal
menghafal ayat-ayat dalam Bibel,
ia kerap mendapatkan
penghargaan.
Keikutsertaan Jerald dalam setiap
kegiatan yang diselenggarakan
oleh komunitas Gereja Metodis
terus berlanjut hingga ia
memasuki jenjang Sekolah
Menengah Pertama (SMP).
Diantaranya ia terlibat secara
aktif dalam organisasi
kepemudaan Kristen Metodis. Dia
juga kerap mengisi khotbah dalam
acara kebaktian Minggu yang
khusus diadakan bagi kalangan
anak muda seusianya.
Dalam perjalanannya, khotbah
yang ia sampaikan ternyata
menarik minat komunitas Kristen
Metodis di tempat lain. Ia pun
kemudian diminta untuk
memberikan khotbah di gereja
lain, panti jompo, dan dihadapan
organisasi-organisasi kepemudaan
yang berafiliasi dengan Gereja
Metodis. Sejak saat itu Jerald
bercita-cita ingin menjadi seorang
pendeta kelak.
Ketika diterima di Universitas
Harvard, Jerald tidak mensia-
siakan kesempatan demi
mewujudkan cita-citanya itu. Ia
mendaftar pada kelas
perbandingan agama yang diajar
oleh Wilfred Cantwell Smith untuk
dua semester. Di kelas
perbandingan agama ini Jerald
mengambil bidang keahlian
khusus agama Islam.
Namun, selama mengikuti kelas
ini Jerald justru lebih tertarik
untuk mempelajari agama Budha
dan Hindu. Dibandingkan dengan
Islam, menurut dia, kedua ajaran
agama ini tidak ada kemiripan
sama sekali dengan keyakinan
yang ia anut selama ini.
Akan tetapi untuk memenuhi
tuntutan standar kelulusan
akademik, Jerald diharuskan untuk
membuat makalah mengenai
konsep wahyu dalam Alquran. Ia
mulai membaca berbagai literatur
buku mengenai Islam, yang
sebagian besar justru ditulis oleh
para penulis non-muslim. Ia juga
membaca dua Alquran terjemahan
bahasa Inggris dalam versi yang
berbeda.
Diluar dugaannya buku-buku
tersebutlah yang di kemudian hari
justru membimbingnya ke kondisi
seperti saat ini. Makalah tersebut
membuat pihak Harvard
memberikan penghargaan Hollis
Scholar kepada Jerald. Sebuah
penghargaan tertinggi bagi para
mahasiswa jurusan Teologi
Universitas Harvard yang dinilai
berprestasi.
Untuk mewujudkan cita-citanya,
bahkan Jerald rela mengisi liburan
musim panasnya dengan bekerja
sebagai seorang pendeta cilik di
sebuah Gereja Metodis terbesar di
negeri Paman Sam tersebut. Pada
musim panas itu pula ia
mendapatkan sertifikat untuk
menjadi seorang pengkhotbah
dari pihak Gereja Metodis
Amerika.
Setelah lulus dari Harvard College
di tahun 1971, Jerald langsung
mendaftar di Harvard Divinity
School atau sejenis sekolah tinggi
teologi atas beasiswa dari Gereja
Metodis Amerika. Selama
menempuh pendidikan di bidang
teologi, Jerald juga mengikuti
program magang sebagai di
Rumah Sakit Peter Bent Brigham
di Boston.
Ia lulus dari sekolah tinggi ini
tahun 1974 dan mendapatkan
gelar Master di bidang teologi.
Selepas meraih gelar master
teologi, ia sempat menghabiskan
liburan musim panasnya dengan
menjadi pendeta pada dua Gereja
Metodis Amerika yang berada di
pinggiran Kansas.
Aktivitasnya sebagai seorang
pendeta tidak hanya terbatas di
lingkungan gereja saja. Ia mulai
merambah ke cakupan yang lebih
luas, mulai dari lingkungan
sekolah, perkantoran, hingga
pesan-pesan ajaran Kristen
Metodis ia juga gencar sampaikan
kepada para pasien yang datang
ke tempat praktiknya sebagai
seorang dokter ahli kejiwaan.
Meninggalkan aktivitas gereja
Namun, berbagai upaya dakwah
ini dinilainya tidak memberikan
dampak positif terhadap
kehidupan masyarakat di sekitar
ia tinggal. Ia justru menyaksikan
terjadinya penurunan moralitas di
tengah-tengah kehidupann
beragama masyarakat Amerika.
Bahkan kondisi serupa juga
terjadi di lingkungan gereja.
''Dua dari tiga pasangan di
Amerika selalu berakhir dengan
perceraian, aksi kekerasan
meningkat di lingkungan sekolah
dan di jalanan, tidak ada lagi rasa
tanggung jawab dan disiplin di
kalangan anak muda. Bahkan yang
lebih mencengangkan diantara
para pemuka Kristen ada yang
terlibat dalam skandal seks dan
keuangan. Masyarakat Amerika
seakan-akan sedang menuju
kepada kehancuran moral,''
paparnya.
Melihat kenyataan seperti ini,
Jerald mengambil keputusan
untuk menyendiri dan tidak lagi
menjalani aktivitasnya
memberikan pelayanan dan
khotbah kepada para jemaat.
Sebagai gantinya ia memutuskan
untuk ikut terlibat aktif dalam
kegiatan penelitian yang dilakukan
oleh sang istri. Penelitian
mengenai sejarah kuda Arab ini
membuat ia dan istrinya
melakukan banyak kontak dengan
warga Amerika keturunan Muslim
Arab . Salah satunya adalah
dengan Jamal.
Babak pergaulan dengan Arab
Muslim
Pertemuan Jerald dengan pria
Arab-Amerika ini pertama kali
terjadi pada musim panas tahun
1991. Dari awalnya sekedar
berhubungan melalui sambungan
telepon, kemudian berlanjut pada
saat Jamal berkunjung ke rumah
Jerald. Pada kunjungan kali
pertama ini, Jamal menawarkan
jasa untuk menterjemahkan
berbagai literatur dari bahasa
Arab ke Inggris yang disambut
baik oleh Jerald dan istrinya.
Ketika waktu shalat ashar tiba,
sang tamu kemudian meminta izin
agar diperbolehkan menggunakan
kamar mandi dan meminjam
selembar koran untuk digunakan
sebagai alas shalat. Apa yang
diminta oleh tamunya itu
diambilkan oleh Jerald, kendati
dalam hati kecilnya ia berharap
bisa meminjamkan sesuatu yang
lebih baik dari sekedar lembaran
surat kabar sebagai alas shalat.
Untuk kali pertama ia melihat
gerakan shalat dalam agama
Islam.
Aktivitas shalat ashar itu terus ia
lihat manakala Jamal dan istrinya
berkunjung ke rumah mereka
seminggu sekali. Dan, hal itu
membuat Jerald terkesima.
''Selama berada di rumah kami,
tidak pernah sekalipun ia
memberikan komentar mengenai
agama yang kami anut. Begitu
juga ia tidak pernah
menyampaikan ajaran agama yang
diyakininya kepada kami. Yang dia
lakukan hanya memberikan
contoh nyata yang amat
sederhana, seperti berbicara
dengan suara serendah mungkin
jika ada diantara kami yang
bertanya mengenai agamanya. Ini
yang membuat kami kagum,''
ungkapnya.
Dari perkenalannya dengan Jamal
dan keluarganya, justru Jerald
mendapat banyak pelajaran yang
tidak pernah ia dapatkan
sebelumnya. Sang tamu telah
menunjukkan kepadanya sebuah
pelajaran disiplin melalui shalat
yang dilaksanakannya. Selain
pelajaran moral dan etika yang
diperlihatkan Jamal dalam urusan
bisnis dan sosialnya serta cara
Jamal berkomunikasi dengan
kedua anaknya. ''Begitu juga yang
dilakukan oleh istrinya menjadi
contoh bagi istriku.''
Tidak hanya itu, dari kunjungan
tersebut Jerald juga mendapatkan
pengetahuan seputar dunia Arab
dan Islam. Dari Jamal, ia bisa
mengetahui tentang sejarah Arab
dan peradaban Islam, sosok Nabi
Muhammad, serta ayat-ayat
Alquran berikut makna yang
terkandung di dalamnya.
Setidaknya Jerald meminta waktu
kurang lebih 30 menit kepada
tamunya untuk berbicara
mengenai segala aspek seputar
Islam. Dari situ, diakui Jerald,
dirinya mulai mengenal apa dan
bagaimana itu Islam.
Kemudian oleh Jamal, Jerald
sekeluarga diperkenalkan kepada
keluarga Arab lainnya di
masyarakat Muslim setempat.
Diantaranya keluarga Wa el dan
keluarga Khalid. Dan secara
kontinyu, ia melakukan interaksi
sehari-hari dengan komunitas
keluarga Arab Amerika ini. Dari
interaksi tersebut, Jerald
mendapatkan sesuatu ajaran
dalam Islam yang selama ini tidak
ia temui manakalan berinteraksi
dengan komunitas masyarakat
Kristen, yakni rasa persaudaraan
dan toleransi.
Baru di awal Desember 1992,
sebuah pertanyaan mengganjal
timbul dalam pikirannya, ''Dirinya
adalah seorang pemeluk Kristen
Metodis, tapi kenapa dalam
keseharian justru bergaul dan
berinteraksi dengan komunitas
masyarakat Muslim Arab?.''
Sebuah komunitas masyarakat
yang menurutnya menjunjung
tinggi nilai-nilai moral dan etika,
serta mengedepankan sikap saling
menghargai baik terhadap
pasangan masing-masing, anggota
keluarga maupun sesama. Sebuah
kondisi yang pada masa sekarang
hampir tidak ia temukan dalam
masyarakat Amerika.
Serangkaian Kejadian Tak
Terduga
Untuk menjawab keraguannya itu,
Jerald memutuskan untuk
mempelajari lebih dalam ajaran
Islam melalui kitab suci Alquran.
Dalam perjalanannya mempelajari
Aquran, sang pendeta ini justru
menemukan nilai-nilai yang sesuai
dengan hati kecilnya yang selama
ini tidak ia temukan dalam
doktrin ajaran Kristen yang
dianutnya.
Kendati demikian, hal tersebut
tidak lantas membuatnya
memutuskan untuk masuk Islam.
Ia merasa belum siap untuk
melepaskan identitas yang
dikenakan selama hampir 43
tahun lamanya dan berganti
identitas baru sebagai seorang
muslim.
Begitu pun ketika ia bersama sang
istri memutuskan untuk
mengunjungi kawasan Timur
Tengah di awal tahun 1993. Ketika
itu, ia seorang diri makan di
sebuah restoran yang hanya
menyajikan makanan Arab
setempat. Sang pemilik restoran,
Mahmoud, kala itu memergoki
dirinya tengah membaca sebuah
Alquran terjemahan bahasa
Inggris. Tanpa berkata sepatah
kata pun, Mahmoud melontarkan
senyum ke arah Jerald.
Kejadian tak terduga lagi-lagi
menghampirinya. Istri Mahmoud,
Iman, yang merupakan seorang
Muslim Amerika, mendatangi
mejanya sambil membawakan
menu yang ia pesan. Kepadanya
Iman berkomentar bahwa buku
yang ia baca adalah sebuah
Alquran. Tidak hanya itu, Iman
juga bertanya apakah Jerald
seorang muslim sama seperti
dirinya. Pertanyaan tersebut
lantas ia jawab dengan satu kata:
Tidak.
Namun ketika Imam menghampiri
mejanya untuk menyerahkan
bukti tagihan, tanpa disadari
Jerald melontarkan kalimat
permintaan maaf atas sikapnya,
seraya berkata: ''Saya takut untuk
menjawab pertanyaan Anda tadi.
Namun jika Anda bertanya kepada
saya apakah saya percaya bahwa
Tuhan itu hanya satu, maka
jawaban saya adalah ya. Jika Anda
bertanya apakah saya percaya
bahwa Muhammad adalah salah
satu utusan Tuhan, maka jawaban
saya akan sama, iya.'' Mendengar
jawaban tersebut, Iman hanya
berkata: ''Tidak masalah, mungkin
bagi sebagian orang butuh waktu
lama dibandingkan yang lain.''
Ikut berpuasa dan shalat
Ketika memasuki minggu kelima
masa liburannya di Timur Tengah
atau bertepatan dengan masuknya
bulan Ramadhan yang jatuh pada
bulan Maret tahun 1993, untuk
kali pertama Jerald dan istrinya
menikmati suasana lain dari
ibadah orang Muslim. Demi
menghormati masyarakat sekitar,
ia dan istri ikut serta berpuasa.
Bahkan pada saat itu, Jerald juga
mulai ikut-ikutan melaksanakan
shalat lima waktu bersama-sama
para temannya yang Muslim dan
kenalan barunya yang berasal dari
Timur Tengah.
Bersamaan dengan akan
berakhirnya masa liburannya
menjelajah kawasan Timur
Tengah, hidayah tersebut akhirnya
datang. Peristiwa penting dalam
hidup Jerald ini terjadi manakala
ia diajak seorang teman untuk
mengunjungi Amman, ibukota
Yordania.
Pada saat ia melintas di sebuah
jalan di pusat ibukota, tiba-tiba
seseorag lelaki tua datang
menghampirinya seraya
mengucapkan, Salam Alaikum dan
mengulurkan tangan kanannya
untuk bersalaman, serta
melontarkan pertanyaan apakah
iaseorang Muslim?. Sapaan salam
dalam ajaran Islam itu
membuatnya kaget. Di sisi lain,
karena kendala bahasa, ia bingung
harus menjelaskan dengan cara
apa ke orang tua tersebut bahwa
ia bukan seorang Muslim. Terlebih
lagi teman yang bersamanya juga
tidak mengerti bahasa Arab.
Mengikrarkan Keislaman
Saat itu Jerald merasa dirinya
tengah terjebak dalam situasi
yang sulit diungkapkan. Pilihan
yang ada dihadapannya saat itu
hanya dua, yakni berkata N'am
yang artinya iya atau berkata La
yang berarti tidak. Hanya ia yang
bisa menentukan pilihan tersebut,
sekarang atau tidak sama sekali.
Setelah berpikir agak lama dan
memohon petunjuk dari Allah,
Jerald pun menjawabnya dengan
perkataan N'am. Sejak peristiwa
tersebut, ia resmi menyatakan diri
masuk Islam. Beruntung hidayah
tersebut juga datang lepada
istrinya di saat bersamaan. Sang
istri yang kala itu berusia 33
tahun juga menyatakan diri
sebagai seorang Muslimah.
Bahkan tidak lama berselang
setelah kepulangannya ke
Amerika, salah seorang
tetangganya yang juga merupakan
seorang pendeta mendatangi
kediamannya dan menyatakan
ketertarikannya tehadap ajaran
Islam. Dihadapannya, tetangganya
yang telah berhenti menjadi
pendeta Metodis ini pun berikrar
masuk Islam.
Kini hari-hari Jerald dihabiskan
untuk kegiatan menulis dan
memberikan ceramah tentang
Islam dan hubungan antara Islam
dan Kristen. Bahkan ia juga kerap
diundang sebagai bintang tamu
dalam program Islam di televisi di
banyak negara.
Salah satu hasil karyanya yang
menjadi best seller adalah "The
Cross and the Crescent: An
Interfaith Dialogue between
Christianity and Islam". Selain itu
ia juga menulis lebih dari 60
artikel tentang ilmu perilaku, dan
lebih dari 150 artikel tentang
kuda Arab dan sejarahnya. (dia/
RIOL/berbagai sumber)
http://www.youtube.com/
view_play_list?
p=93B38AE4C3E2F56B
From Jesus to Muhammad: A
History of Early Christianity
Is Jesus God?
Did Jesus ever claim to be God?
What kind of nature did Jesus
have?
Was Jesus Christ really crucified ?
Who is God and Jesus in the
Bible?
Dr. Dirks is a former minister
(deacon) of the United Methodist
Church and revert to Islam.
He holds a Master's degree in
Divinity from Harvard University
and a Doctorate in Psychology
from the University of Denver.
Author of "The Cross and the
Crescent: An Interfaith Dialogue
between Christianity and
Islam" (2001), and "Abraham: The
Friend of God" (2002).
He has published over 60 articles
in the field of clinical psychology,
and over 150 articles on Arabian
horses.
The Topic: From Jesus to
Muhammad: A History of Early
Christianity
A talk by Dr Jerald Dirks

sumber :
swaramuslim.net
beritaislam.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz