Rabu, 17 April 2013

Ada Ulama Yang Seperti Hewan Peliharaan....!

Salamu'alikum Wr.Wb.
Renungan bagi kita bersama khususnya para ulama yang seperti judul di atas.
Berbuat kerusakan di muka bumi
kebanyakan bermula dari
keinginan seseorang untuk
berkuasa dan memerintah, suka
menyombongkan diri dan senang
menonjol. Kesemuanya bermula
dari tingkatan yang paling rendah
sampai kepada tingkatan yang
paling tinggi. Dimana di sana akan
terbentuk ikatan dosa, sumber
kejahatan dan kubangan fitnah.
Ibnu Mas’ud atau Hudzhaifah Ra
mengatakan :
“Sesungguhnya pada pintu istana
para sultan (penguasa) terdapat
fitnah seperti tempat
menderumnya unta.”
Mereka, yakni orang orang salaf,
memperingatkan umat supaya
jangan mendatangi penguasa jika
di dalam hati mereka tidak ada
maksud menasehati atau
mencegah dari penyimpangannya,
jika di dalam hati mereka tidak ada
niat menjauhi harta kekayaannya.
Jika engkau bermaksud untuk
memasuki pintu istana Negara dan
mendatangi mereka, maka ada dua
hal yang harus engkau hindari dan
jauhi : harta kekayaan mereka dan
pemberian mereka. Sebab
perkataanmu akan jatuh tak
bernilai dalam sekejab begitu dinar
dari tangan sultan jatuh ke
tanganmu.
Sebagaimana perkataan syaikh Said
Al Halbi Rahimahullah , ketika
Ibrahim Pasya datang ke negeri
Syam, ketika itu Syaikh Sa’id
dikelililingi oleh para muridnya,
sedang memberikan pelajaran
kepada mereka. Ibrahim Pasha
masuk masjid di tempat pengajian
tersebut, namun Syaikh Sa’id tidak
mengacuhkannya , dia tetap
mengajarkan dan menjulurkan
kakinya. Melihat sikap yang
ditunjukkan Syaikh Sa’id itu, maka
Ibrahim Pasya pun keluar.
Darahnya mendidih dan
kemarahannya berkobar. Lalu ia
mengambil sekantung uang dan
memberikan kepada pelayannya
serta berkata,”Letakkan ini di
pangkuan Syaikh itu !” (Kantung
uang inilah yang membuat banyak
leher menekuk dan menunduk,
kantung inilah yang membuat
mulut tersumbat sehingga agama
Allah dipetikemaskan). Maka
pelayan tadi datang dan
meletakkan kantung uang tersebut
di pangkuan Syaikh Sa’id. Namun
oleh Syaikh Sa’id , kantung tadi
diangkat dan diberikan lagi
kepadanya seraya mengatakan,”
Katakan kepada tuanmu, bahwa
orang yang menjulurkan kakinya
tidak akan menjulurkan
tangannya !”
Mereka, para penguasa melihat
orang orang yang mengambil harta
mereka dengan pandangan sinis
dan melecehkan, dengan nafsu
mereka, dengan kegeraman hati
mereka. Mereka berusaha untuk
memuaskan hati para ulama
dengan cara memberi hadiah
kepada mereka sehingga para
ulama mendiamkan kebatilan
mereka dan membiarkan
kezhaliman mereka. Para penguasa
tadi melihat mereka tak ubahnya
seperti binatang ternak yang
berkumpul manakala diiming
imingi seikat rumput dan lari
bercerai berai manakala digertak
oleh pengawal mereka.
Pernah suatu ketika Khalifah Al
Manshur mengunjungi Sufyan Ats
Tsauri. Lalu dia mengatakan
kepadanya, “ Hai Sufyan, apa yang
menjadi hajatmu?”
“Engkau dapat memberikannya
padaku? Jawab Sufyan.
“Ya” Jawan Al Manshur.
Lalu Sufyan berkata,”Janganlah kau
datang kepadaku sampai aku
mengirim utusan kepadamu, dan
janganlah mengirim seorang
utusan padaku sampai aku sendiri
yang minta.”
Maka Al Manshur berkata seraya
membalikkan badan dan kembali
pulang,” Semua burung dapat kami
jinakkan dan saya tangkap kecuali
Sufyan”.
Penguasa menganggap ulama
adalah burung ?! . Penguasa
memandang manusia bahkan para
ulama adalah hewan, bagai ayam
ayam kampung yang kemudian
mereka bisa pelihara dengan
makanan mereka dan kemudian
mereka menyembelihnya kapan
saja mereka mau. Orang orang
saleh mengetahui ini semua.
Mereka benar benar mengetahui
dan memahaminya dari dasar hati
mereka. – " Syaikh Abdullah Azzam "

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz