Minggu, 28 Juli 2013

Paus vs Martin Luther


Sumber : Archa (forumSwaramuslim)

Kita berimajinasi tentang apa yang
terjadi pada sejarah gereja :
Pada mulanya adalah Petrus yang
dikasih wewenang untuk memegang
kunci surga oleh Yesus Kristus :
Mat 16:18-19 Dan Akupun
berkata kepadamu: Engkau
adalah Petrus dan di atas batu
karang ini Aku akan mendirikan
jemaat-Ku dan alam maut tidak
akan menguasainya. Kepadamu
akan Kuberikan kunci Kerajaan
Sorga. Apa yang kauikat di dunia
ini akan terikat di sorga dan apa
yang kaulepaskan di dunia ini
akan terlepas di sorga.”
Merasa memegang amanah suci,
Petrus meneruskan ‘hak waris’
pemegang kunci surga ini kepada
penerusnya, maka muncul-lah
dinasti Paus di Katolik Roma yang
mewarisi hak pemegang kunci
surga. Masalahnya : ternyata Paus-
Paus tersebut adalah manusia biasa
yang tidak terlepas dari dosa, dan
ironisnya sebagai pemegang kunci
surga juga punya hak untuk
menghapus dosa, seperti tercantum
dalam kitab suci :
Yoh. 20:23 Jikalau kamu
mengampuni dosa orang,
dosanya diampuni, dan jikalau
kamu menyatakan dosa orang
tetap ada, dosanya tetap ada.”
Bayangkan, para Paus ini bisa
menentukan seseorang masuk surga
atau tidak, dia bilang anda selamat
maka anda akan selamat, dia bilang
anda tetap berdosa maka anda
akan tetap berdosa, tidak ada jalan
lain untuk menghapus dosa anda.
Namun Paus tentu tidak sendirian,
karena gereja adalah suatu lembaga
yang di isi oleh banyak perangkat
dan orang, tidak mungkin Paus bisa
menjalankan ‘roda administrasi’
memegang kunci surga sendirian,
maka Paus dibantu oleh para
Uskup, Kardinal, Pastor yang
dilimpahkan ‘cipratan’ wewenang
untuk menghapus dosa. Celakanya
semua perangkat gereja tersebut
manusia biasa juga yang tidak luput
dari dosa.
Lalu Paus yang berdosa bilang
sama Uskup :”Sekarang saya yang
pegang kunci surga dan dikasih
kuasa untuk menghapus dosa, mau
nggak dosa anda saya hapus..??”,
tentu saja si Uskup mau, lalu Paus
bilang :”Tapi nanti kunci surganya
saya delegasikan ke kamu yaa..??
supaya kamu juga menghapus dosa
saya…”, nah…win-win solution
namanya, dua-duanya happy.. Lalu
Paus kongkalingkong sama Uskup :”
Kita bikin proyek penghapusan
dosa yuk…, umat khan banyak yang
butuh, lhaa..namanya mereka
manusia biasa pasti banyak dosa
dan ingin supaya dosanya dihapus
juga..”, ada demand ada bisnis,
maka gereja katolik mengarang-
ngarang ritual untuk menghapus
dosa, karena namanya proyek tentu
harus ada dukungan dana, si
jemaat yang memang butuh supaya
dosanya dihapus nggak bakalan
mikir untuk mengeluarkan biaya
berapapun agar dosanya terhapus
dan melenggang masuk surga.
Semua happy, Paus dan Uskup
kenyang, gereja bisa berjalan, si
jemaat juga puas.
Lalu datang Matin Luther, sebagai
orang yang cerdas dia melihat ini
sudah menyimpang dari kebenaran,
surga sudah dikangkangi oleh
gereja dan oknum-oknumnya,
ternyata wewenang pemegang kunci
surga yang diberikan Yesus Kristus
mengakibatkan, bukan malah
menghasilkan kebaikan dan
keselamatan bagi semua orang,
sebaliknya justru dijadikan alat
untuk membuat dosa-dosa baru,
yang kemudian bisa dihapus oleh
gereja. Setali tiga uang dengan
kelakuan gereja sendiri, merasa
sebagai pemegang kunci surga,
perbuatan dosa makin menjadi-
jadi, toh..bisa saling menghapus
dosa. Maka Martin Luther
mengeluarkan ajaran : semua orang
berhak untuk menghapus dosanya
sendiri, tidak ada itu wewenang
gereja untuk menentukan kita
berdosa atau tidak, yang
menentukan adalah Tuhan sendiri,
keselamatan adalah semata-mata
merupakan anugerah Tuhan, dan
itu didapat karena adanya iman
dalam dada. Kelakuan gereja
Katolik sami mawon dengan
kelakuan Yahudi dalam menentukan
keselamatan mereka, Luther juga
punya dasar alkitabiyah :
Gal. 3:12 Tetapi dasar hukum
Taurat bukanlah iman,
melainkan siapa yang
melakukannya, akan hidup
karenanya.
Rm. 3:28 Karena kami yakin,
bahwa manusia dibenarkan karena
iman, dan bukan karena ia
melakukan hukum Taurat.
Ef. 2:8 Sebab karena kasih karunia
kamu diselamatkan oleh iman; itu
bukan hasil usahamu, tetapi
pemberian Allah,
Tidak masuk akal para manusia
berdosa seperti Paus dan Uskup
bisa memegang kunci surga. Apa
bedanya gereja Katolik dengan
Yahudi kalau begitu..?? apa bedanya
para Paus dan Uskup dengan Imam
Yahudi, dua-duanya sama-sama
memonopoli keselamatan melalui
ritual yang harus dijalankan. Lalu
bagaimana caranya..?? Sayang
sekali Martin Luther waktu itu tidak
melirik kepada ajaran Islam yang
mengajarkan keseimbangan antara
iman dan amal baik sebagai syarat
masuk surga, bahwa keselamatan
diperoleh karena adanya ‘interaksi’
antara anugerah Tuhan dan usaha
manusia.
Luther bereaksi terhadap
kebobrokan gereja Katolik,
bergerak dari satu titik ekstrim ke
titik ekstrim lain. Hasil pikiran ini
menghasilkan ajang bisnis baru di
dunia Kekristenan : Proyek Iman.
Kalau memang surga didapat hanya
karena iman, lalu bagaimana
menentukan bahwa kita saat ini
benar-benar sudah beriman..??
ketika seseorang telah menyatakan
dirinya sudah beriman maka
dikatakan orang tersebut sudah
‘terlahir baru’, berubah dari
manusia berdosa menjadi orang
yang selalu dibawah naungan
Tuhan. Cuma masalahnya : sebagai
manusia tetap saja edan-eling,
kadang sadar, dilain waktu ngawur
lagi, emang sih…kuantitas dan
kualitas perbuatan dosa sudah jauh
berkurang dibandingkan ‘masa
jahiliyah’ dulu, tapi hati tetap
bertanya : saya ini sudah selamat
apa belum yaa..?? Pengikut Martin
Luther butuh kepastian, maka : ada
demand tentu ada bisnis. Muncul-
lah orang-orang yang mengaku
sudah terlahir baru dan
menyatakan bisa mengukuhkan dan
memastikan seseorang sudah
beriman atau belum. Karena ini
menyangkut objek yang abstrak dan
tidak bisa diuji secara eksak, maka
sulit untuk menentukan ‘standard
keselamatan’. Orang-orang ini bikin
gereja sendiri, sewa ruko atau
rukan, yang punya modal cukup,
bisa bikin bangunan megah dan
menyewa stasiun televisi untuk
menyebarkan kemampuannya
mengukuhkan iman. Ini semua
memerlukan dana yang tidak
sedikit untuk sewa atau beli
bangunan, bayar sound system dan
sewa jam tayang ditelevisi,
termasuk tentunya buat gaji si
pengelola untuk nafkah hidup dia
dan keluarganya. Maka teknik-
teknik berkhotbah dipelajari dan
didalami supaya bisa meraup
banyak pengikut, kalau perlu sedikit
demonstrasi mukjizat, boleh pakai
sulap atau trik-trik lainnya semisal
orang lumpuh tiba-tiba bisa jalan.
Tentu saja hal ini ditangkap oleh
pengikut Kristen yang memang
membutuhkan kepastian
keselamatannya. Uang bukan
masalah untuk membeli
keselamatan, terjadi lagi win-win
solution, si pendeta happy, jemaat
juga senang. Nasib umat Kristen
Ibarat : “Keluar dari mulut
harimau, masuk mulut buaya”.
Umat Islam sebenarnya prihatin
melihat nasib yang dialami saudara-
saudara mereka ini, terlihat adanya
kebingungan dan kesesatan, bahkan
sekalipun dilihat dari sisi akal
sehat, namun saudara-saudara
Kristen mereka ini banyak yang
tidak menyadarinya, atau ada juga
sebagian sebenarnya punya
kesadaran telah tersesat, namun
gengsi untuk mengakui, lalu
bersikap ‘pura-pura tidak tersesat’.
Ini juga sikap yang menimbulkan
keprihatinan karena yang
dipertaruhkan adalah nasibnya
kelak di akherat, dan yang akan
mengalaminya tentu si Kristen itu
sendiri.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz