Minggu, 25 September 2011

15 Kebaikan Wanita

By Unknown | At 03.33.00 | Label : , | 0 Comments

Mahkota Cahaya : 15 Kebaikan Wanita


Bismillahir Rahmanir Rahiim
Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kebanyakan penduduk neraka adalah wanita :

“Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)
Padahal pintu-pintu kebaikan dan pintu-pintu surga sangat terbuka buat wanita, dan Allah telah memudahkan wanita untuk masuk ke dalam surga, dan wanita telah mendapatkan KELEBIHAN dan KEISTIMEWAAN:
  1. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 70 orang pria yang sholeh.
  2. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah S.A.W.) di dalam syurga.
  3. Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya adalah syurga.
  4. Daripada Aisyah r.a. “Barang siapa yang diuji dengan se Suatu daripada anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.”
  5. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.
  6. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
  7. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya dan direkannya (serta menjaga sembahyang dan puasanya).
  8. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dia kehendaki.
  9. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah S.W.T. memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (dengan jarak 10,000 tahun perjalanan).
  10. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah S.W.T. menatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.
  11. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah S.W.T. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah S.W.T.
  12. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia daripada dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.
  13. Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.
  14. Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah S.W.T. memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah S.W.T.
  15. Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 orang wali.

Kamis, 22 September 2011

kisah seorang pria yang bosan hidup

By Unknown | At 07.44.00 | Label : | 0 Comments

assalamu'alaikum,,''Seorang pria setengah baya mendatangi seorang guru ngaji, “Ustad, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati.”
Sang Ustad pun tersenyum, “Oh, kamu sakit.”
“Tidak Ustad, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Ustad meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.”
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga,bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.
“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.” demikian ujar sang Ustad.
“Tidak Ustad, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup.” pria itu menolak tawaran sang Ustad.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?”
“Ya, memang saya sudah bosan hidup.”
“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.”
Giliran dia menjadi bingung. Setiap Ustad yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Ustad edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran masakan Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget! Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu.” Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali, “Mas, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, mas.”
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?”
Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Mas, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu stres karena perilaku kami semua.”
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?
” Ya Allah, apakah maut akan datang kepadaku. Tundalah kematian itu ya Allah. Aku takut sekali jika aku harus meninggalkan dunia ini ”.
Ia pun buru-buru mendatangi sang Ustad yang telah memberi racun kepadanya. Sesampainya dirumah ustad tersebut, pria itu langsung mengatakan bahwa ia akan membatalkan kematiannya. Karena ia takut sekali jika ia harus kembali kehilangan semua hal yang telah membuat dia menjadi hidup kembali.
Melihat wajah pria itu, rupanya sang Ustad langsung mengetahui apa yang telah terjadi, sang ustad pun berkata “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan.”
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Ustad, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Ah, indahnya dunia ini……[mhon m'f salah dan khilaf]

Rabu, 21 September 2011

PENGASIHAN, RAMALAN, SIHIR dari KACAMATA ISLAM

By Unknown | At 08.57.00 | Label : | 0 Comments




1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salamu'alaikum wr wb,,'' Dewasa ini sering kali kita melihat baik di televisi-televisi, koran-koran, majalah-majalah, buku-buku tentang pengobatan alternatif. Belum lagi iklan-iklan untuk memudahkan jodoh (pengasihan), memperlancar rejeki, melihat masa depan,dll.
Sekilas iklan-iklan tersebut tampak menarik dan menggiurkan. Orang yang sulit rejeki bisa lancar rejekinya, orang yang sulit jodohnya bisa mendapatkan jodoh yang diidam-idamkan, seseorang bisa mengetahui apa yang akan menimpanya.
Cara-cara yang ditawarkan pun bermacam-macam ada yang menggunakan metode isian, menggunakan susuk, ada yang menggunakan amalan, ada yang menggunakan puasa, bersemedi ke tempat-tempat keramat, atau dengan memakan atau meminum sesuatu yang sudah diberikan energi.
Sebagai seorang manusia tentu timbul keingintahuan dari diri kita tentang hal-hal tersebut, namun sebagai seorang muslim ada kekhawatiran hal-hal tersebut akan membawa kita kearah syirik. Sedangkan syirik itu adalah dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT.
Memang untuk hal-hal yang jelas-jelas seperti susuk, jimat tentu kita mengetahui hal itu termasuk syirik dan dilarang. Namun ada beberapa yang mengatakan bahwa mereka menggunakan cara-cara yang islami seperti zikir, puasa, dsb. Pertanyaan kita adalah benarkah hal-hal tersebut tetap diperbolehkan?
1.2 Permasalahan
Permasalahan yang kita hadapi adalah fenomena-fenomena mistik/gaib tersebut benar-benar ada. Kadang kala sebagai manusia kita membutuhkan pemecahan untuk permasalahan kita. Misalnya masalah kesehatan, ada kalanya bidang kedokteran sudah tidak dapat membantu kita, dan cara alternatif lah yang menjadi pilihan selanjutnya.
Sebagai seorang muslim kita dihadapkan pada keharusan menjaga aqidah dan syariat kita tetap murni dan lurus. Berbagai pertanyaan timbul dalam benak kita, dimana pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi permasalahan yang membutuhkan jawaban.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain:
• Apakah segala sesuatu yang bersifat jampi dan sejenisnya itu dilarang dalam islam?
• Adakah yang boleh, yang bagaimana?
• Bagaimana dengan sihir, bolehkan mempelajarinya?
• Bagaimana dengan jin, bolehkan bermuamalah dengannya?
• Jika tidak boleh mengapa Allah menciptakan sihir didunia?
• Apa yang bisa menjadi pegangan kita terhadap permasalahan-permasalan tersebut?
2 PEMBAHASAN
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, tentu saja harus didasarkan pada dalil yang kuat baik itu bersumber dari Al-qur’an maupun Al-hadits. Untuk itu penulis tidak akan menjawabnya berdasarkan pendapat atau fikiran penulis sendiri namun menyimpulkan dari dalil-dalil yang penulis berhasil kumpulkan.
2.1 Menggunakan Jimat dan Jampi-Jampi (mantra)

Banyak orang ketika ditimpa suatu kesulitan atau menginginkan suatu harapan yang sulit dicapai, mereka pergi mengunjung paranormal atau dukun. Kadangkala mereka diberikan jimat untuk dijadikan pegangan, dengan harapan maksudnya akan tercapai.
Sebagai orang islam tentu kita takut untuk terjerembab dalam lubang kemusyrikan, namun kita kadangkala tidak memiliki tempat bertanya atau rujukan yang benar tentang hukumnya.
Untuk mengetahui hukumnya kita kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul saw. Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa yang menggantungkan jimat, maka semoga tidak disampaikan maksudnya oleh Allah, dan barangsiapa yang mengalungkan wada’ (benda yang diambil dari laut, yang dipergunakan untuk menangkal penyakit ‘ain) maka semoga tidak dipelihara oleh Allah.” (HR. Ahmad: 4/154)
“Barang siapa yang menggantungkan jimat, maka sesungguhnya ia telah menyekutukan (Allah).” (HR. Ahmad:4/156)
“Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, maka sesungguhnya ia telah menyekutukan (Allah).”(HR. Ahmad:4/156)
Yang dimaksud dengan “ruqyah” (jampi) dan “tamimah” (jimat) dalam hadits diatas yang berupa lafal-lafal atau kata-kata yang mengandung unsur kesyirikan.
Akan tetapi, apabila jimat-jimat atau jampi-jampi itu berasal dari Al-Qur’an atau berupa doa-doa yang diajarkan Rasulullah saw, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat para ulama.
2.2 Menggunakan Ilmu Pengasihan (Pelet)
Pasangan hidup atau jodoh telah ditentukan Allah sebelum manusia dilahirkan. Kadangkala manusia karena dorongan nafsunya menyukai lawan jenis, dan ketika ia tidak mendapat yang ia inginkan, jalan pintas pun diambil yaitu pergi ke paranormal. Tujuan mereka pergi ke paranormal tak lain adalah agar memperoleh ilmu pengasihan. Dimana dengan ilmu itu ia bisa memikat lawan jenis yang ia tuju agar menyukainya, atau memikat semua lawan jenis agar tunduk padanya.
Banyak bentuk pengasihan yang kemungkinan diberikan paranormal. Bentuk-bentuk itu bisa berupa jimat, isian, susuk, minyak, amalan,dsb. Namun pada dasarnya semua itu termasuk dalam kategori pengasihan, karena bertujuan agar dikasihi oleh orang lain.
Lantas bagaimanakah hukum pengasihan ini menurut islam. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat dan ‘Tiwalah’ adalah kesyirikan.” (HR. Ibnu Majah:2/1166. Nomor 3530)
“Tiwalah” (pengasihan) adalah sesuatu yang mereka buat-buat dengan sangkaan bahwa ia dapat menyebabkan seorang wanita dicintai suaminya atau sebaliknya. Dari dalil diatas penggunaakn tiwalah dapat membawa manusia kepada kesyrikan.
2.3 Mendatangi dan Mempercayai Juru Ramal
Bagaimana dengan juru ramal? Apakah ramalan itu benar-benar ada? Apakah benar kita bisa mengetahui masa depan kita sebelum hal tersebut terjadi? Kalau ada apakah islam membolehkan kita mempercayai juru ramal.
Mungkin beberapa hal diatas menjadi pertanyaan kita selama ini. Secara fakta ada istilah dalam metafisika yang disebut dengan clairvoyance, clairaudiance. Clairvoyance artinya kemampuan untuk melihat secara ghaib hal-hal yang belum terjadi, dan clairaudiance artinya kemampuan untuk mendengar hal-hal secara ghaib hal-hal yang belum terjadi.
Memang faktanya dibelahan dunia ini ada orang-orang yang mampu melakukan hal itu, dan kemampuan merekapun pernah diuji secara ilmiah. Lantas bagaimana kita menyikapi hal tersebut. Jika mempelajari hal tersebut tidak boleh, kenapa Allah menciptakan manusia dengan potensi tersebut, jika bukan untuk dimanfaatkan? Kadangkala itu adalah alasan yang digunakan orang-orang untuk menjustifikasi hal tersebut.
Sebagai orang muslim dan mu’min kita percaya bahwa Allah maha mengetahui, ia melarang sesuatu karena tentu ada kemudharatan didalamnya yang mungkin belum kita ketahui. Untuk itu sepatutnyalah sebagai muslim untuk menjauhi apa-apa yang dilarangnya meskipun kita belum menemukan jawaban atau alasannya.
Allah swt berfirman:
“Barang siapa yang mendatangi juru ramal, menanyakan sesuatu lalu membenarkannya, maka shalatnya selama empat-puluh hari tidak diterima (Allah)” (HR. Muslim:4/1751. Nomor :2230)
“Barang siapa yang mendatangi dukun lantas membenarkan apa yang diucapkannya, maka ia telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad saw.” (At-Tirmidzi:1/242. Nomor : 135)
Pertanyaannya berikutnya adalah apakah mereka yang memiliki ilmu tersebut benar-benar mengetahui hal yang ghaib. Jawabannya tidak. Karena sesungguhnya Allah telah berfirman:
“Katakanlah:’ Tidak ada seorangpun dilangit dan dibumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah.” (QS. An-Naml,27:65)
“Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan.” (QS. Al A’raf,7:188)
Lantas bagaimana dengan ramalan mereka yang secara fakta benar-benar terjadi, atau dengan kata lain tebakan mereka benar. Memang kadangkala dengan bantuan mahluk ghaib (jin) mereka bisa menebak sesuatu yang belum terjadi. Kadangkala jin berusaha mencuri informasi dari langit, sedikit dari mereka berhasil mencurinya namun banyak dari mereka yang hangus terkena sambaran kilat dari malaikat. Berita inilah yang disampaikan kepada manusia, sedikit kebenaran. Namun kebenaran yang sedikit itu kadangkala ditambahkan dengan lebih banyak berita bohong, karena sifat jin adalah suka berbohong.
2.4 Mempelajari Sihir
Sihir atau magic itulah fenomena yang sering kita dengar. Kadangkala hal-hal menarik banyak kita dengar tentang sihir. Misalnya bagaimana seseorang bisa menghentikan hujan, mendatangkan hujan, melakukan santet, guna-guna, merusak rumah tangga seseorang, mendapatkan harta kekayaan mendadak, anti peluru, tidak dapat dibunuh, dsb.
Untuk mempelajari sihir kadangkala seseorang harus berususan dengan jin dan sejenisnya. Bertapa digunung-gunung atau pantai dan membuat ikatan dengan penghuni mahluk ghaib disana.
Lantas benarkah sihir itu ada, lantas kenapa jika Allah menciptakannya kita tidak boleh mempelajarinya. Sihir merupakan fakta yang benar-benar ada, karena hal tersebut disebutkan dalam banyak ayat Al-Qur’an. Namun tidak berarti sihir itu diciptakan boleh kita pelajari. Ibaratnya hewan babi, meskipun Allah menciptakannya tidak berarti kita boleh memakannya.
Dalil tentang hal ini terdapat dalam firman Allah swt.

Dan mereka mengikuti apa-apa (kitab-kitab sihir) yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman-dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir, padahal Sulaiman tidak kafir,tidak mengerjakan sihir, hanya setan-setan itulah yang kafir mengerjakan sihir. Mengerjakan sihir pada manusia dan apa-apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak akan mengajarkan sesuatu kepada seorangpun sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami cobaan bagimu,sebab itu janganlah kamu kafir.” Kemudian mereka mempelajari dari kedua kalimat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang suami dengan isterinya. Sedangkan mereka (ahli sihir) itu tidak akan mampu memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka hanyalah mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepada diri mereka sendiri dan tidaknya memberi manfaat. Sedangkan mereka sungguh telah meyakini bahwa barangsiapa menukarnya(Kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan diakhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka dalam menjual diri mereka dengan sihir, sekiranya mereka mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 102)
Dari ayat tersebut disebutkan dengan jelas bahwa sihir itu diciptakan sebagai cobaan bagi manusia, dan disebutkan pula agar kita jangan menjadi kafir karena mempelajari sihir itu. Jadi manusia diberi pilihan apakah mengikuti kitab Allah (Al-Qur’an) atau menukarnya dengan mempelajari sihir. Sungguh jika kita memilih sihir berarti kita telah aniaya terhadap diri kita sendiri karena telah menjual diri kita dengan syetan.
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pemurah (Al-Qur’an), Kami adakan baginya setan, maka setan itulah yang menjadi teman yang menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Sehingga apabila orang telah berpaling itu datang kepada Kami (di hari Kiamat) dia berkata, “Aduhai, alangkah baiknya sekiranya jarak antaraku dengan kamu seperti jarak antara timur dengan barat,”maka setan itu adalah sejahat-jahat teman yang menyertai manusia. Harapanmu itu sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepada kamu di hari itu karena kamu telah menganiaya dirimu sendiri. Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu. (QS. Az-Zukhruf:36-39)
Untuk itu janganlah kita menukar Al-Qur’an dengan sihir, karena bila kita berpaling dari Al-Qur’an, Allah akan menyertakan bagi kita syetan yang selalu menyesatkan kita. Dimana kita menjadi semakin tersesat sementara kita sendiri merasa mendapatkan petunjuk. Nauzubika min zalik.
2.5 Bersahabat dengan Jin
Manusia yang menjalin persahabatan dengan jin mempunyai berbagai macam tujuan, seperti untuk mengetahui beberapa masalah, mengetahui rahasia sebagian orang, atau sebagai jalan untuk mendapatkan harta orang lain, ringkasnya semua tujuan itu berada dalam lingkaran dusta dan penipuan. Sedangkan jin akan mudah menentang manusia dalam hal-hal remeh dan tidak penting dimana ketika mereka dihadapkan pada permasalahan yang mengundang emosi dan tidak disukai setan. Ciri khas sikap setan adalah suka berbuat tipu daya dan penghianatan, sebenarnya ia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri, nah bagaimana mungkin ia dapat menolong manusia, dia hanya akan menjerumuskan manusia, akan tetapi sebagian orang yang lemah iman minta tolong kepada setan, bukannya kepada Allah SWT.
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia yang meminta perlindungan kepada laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. Al-Jin :6)
2.6 Perkawinan dengan Jin
Sebagian laki-laki dan wanita ada yang mengaku telah menikah dengan jin. Misalnya seorang laki-laki mengaku bahwa ia telah menikah dengan jin perempuan dan telah mempunyai anak darinya.
Menyikapi kenyataan seperti ini, ada beberapa hal yang perlu dijelaskan. Hubungan yang terjadi antara manusia dengan jin seperti diatas sebenarnya bukanlah hubungan perkawinan, melainkan hubungan kencan dan suka melakukan perbuatan dosa dan maksiat. Sebenarnya tidak pernah ada perkawinan antara manusia dengan jin secara resmi, walaupun sebagian orang mengakuinya, namun mereka tidak dapat menunjukkan bukti-bukti terhadap hal demikian. Dalam arti tidak terdapat akad nikah yang sah sebagaimana yang terjadi pada sesama manusia, seperti sebuah akad nikah yang disaksikan oleh dua saksi, dihadiri oelh wali. Juga tidak terdapat dalil dari Al-Qur’an atau Sunnah yang menunjukkan terjadi dan boleh terjadinya akad nikah antara manusia dan jin.
2.7 Benarkah Sihir Bisa Memberikan Kemudharatan
Benarkah sihir yang dilakukan orang bisa memberikan kemudharatan kepada orang lain? Mungkin pertanyaan ini menjadi salah satu hal yang kita pertanyakan. Sebagai seorang muslim dan mukmin kita wajib percaya dengan janji dan firman Allah.Yang dapat memberikan bahaya maupun manfaat hanyalah Allah swt. Karena itu, siapa yang meyakini bahwa sesuatu selain Allah dapat memberikan bahaya atau manfaat, maka akidahnya telah tercemar.
Allah swt berfirman:
“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan padamu, maka tidak ada yang dapat menolak kurnia-Nya”
Allah swt mencela orang-orang kafir dengan firman-Nya:
“Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula jntuk mengambil kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan” (QS. Al Furqan, 25:3)
Dari firman Allah diatas sebagai orang mukmin kita mesti yakin bahwa sihir tidak dapat memberikan kemudharatan melainkan dengan ijin Allah swt.
2.8 Ruqyah (jampi ) yang dibolehkan
Sekarang pertanyaan kita adalah apakah semua jampi/ruqyah dan pengobatan tidak boleh dilakukan.Untuk menjawab hal tersebut marilah kita merujuk pada sunnah nabi saw.
Akhir-akhir ini banyak muncul perdebatan tentang keberadaan penyembuhan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Terdapat dua pendapat dalam masalah ini, ada orang yang menguatkan dan adapula yang menentang, dalam ungkapan lain antara pendukung dan pengingkar. Pada bahasan ini kita akan mendudukkan masalah secara ilmiah disertai dengan realita yang dengan penuh hati-hati akan menggiring kita pada sebuah hakikat kebenaran sehingga akal, pikiran, iman dan hati kita mendapatkan sebuah jawaban yang memuaskan, insya Allah.
Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang menunjukkan bahwa diantara Mukjizat Al-Qur’an adalah bahwa ia berfungsi sebagai penyembuh (syifa’). Akan tetapi adapula orang yang menafsirkan ayat-ayat tersebut dalam pengertian lain, yaitu bahwa syifa atau kesembuhan tersebut maksudnya adalah kesembuhan yang bersifat ma’nawi (interpretatif), bukan hakikat lahiriyah, mereka berusaha memalingkan makna hakiki kepada makna majazi tanpa ada keperluah yang bersifat balaghah.
Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi kesembuhan [obat penawar] dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-Isra : 82)
Hai Manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus : 57)
Dan jikalau kamu jadikan Al-Qur’an itu suatu bacaan selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan, “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? Apakah patut Al-Qur’an itu dalam bahasa asing sedangkan Rasul adalah orang Arab?” Katakanlah, “ Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Fusshilat :44)
Abu Sa’id al-Khudri ra berkata bahwa seorang laki-laki telah datang kepada Rasulullah saw, lalu berkata, “ Wahai Rasulullah, saya merasa sakit didada saya”, Rasulullah saw menjawab, “ Bacalah Al-Qur’an.” (HR. Ibnu Mirdawaih)
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, telah bersabda Rasulullah saw, “Hendaklah kamu memakai dua alat penyembuh, yaitu madu dan Al-Qur’an ”
Rasulullah saw berkata kepada seseorang yang merasakan suatu kesakitan dibadannya, “Letakkanlah tanganmu diatas yang sakit dari jasadmu, lalu bacalah basmallah tiga kali, dan bacalah tujuh kali, ‘Aku berlindung kepada Allah dan Kekuasaan-Nya dari kejahatan yang saya temui dan yang saya takuti.”(HR. Muslim).
Al Khatabi berkata:
“Rasulullah saw meruqyah dan diruqyah, serta memerintahkan dan membolehkan ruqyah. Karenanya, bila ruqyah dengan Al-Qur’an dan dengan nama-nama Allah, maka diperbolehkan atau diperintahkan.”(Lihat Fathul Majid, hal 126,127)

Dalam hal ini mari kita lihat pula bagaimana pendapat para ulama tentang penggunaan ruqyah ini.
As-suyuti berkata:
Para ulama sepakat bolehnya ruqyah bila memenuhi tiga syarat yaitu:
• Dengan kalamullah atau dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya
• Dengan bahasa Arab atau dengan bahasa yang dimengerti maknanya
• Diyakini bahwa ruqyah tidak berpengaruh (pada kesembuhan), tetapi itu dengan takdir Allah
Sedangkan dengan jimat-jimat
Sebagian ulama salaf memberikan rukhsah untuknya dan sebagian yang lain tidak memberikan rukhsah (Lihat Fathul Majid, hal 126,127)
Perbedaan pendapat dalam masalah ini telah terjadi dimasa dahulu dan telah masyhur dikalangan para ulama salaf. Maka siapa yang hatinya mantap pada larangan, maka hendaknya tidak melakukan. Sedangkan yang hatinya mantap pada pembolehan (mubah) maka ia boleh melakukannya tanpa memaksakan hal tersebut kepada orang lain, namun tidak dilarang saling memberi nasihat dan bermusyawarah.
3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan:
• Penggunaan “ruqyah” (jampi) dan “tamimah” (jimat) yang berupa lafal-lafal atau kata-kata yang mengandung unsur kesyirikan adalah haram Akan tetapi, apabila jimat-jimat atau jampi-jampi itu berasal dari Al-Qur’an atau berupa doa-doa yang diajarkan Rasulullah saw, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat para ulama. Ada yang memubahkan ada yang tetap mengharamkan.
• “Tiwalah” (pengasihan) adalah sesuatu yang mereka buat-buat dengan sangkaan bahwa ia dapat menyebabkan seorang wanita dicintai suaminya atau sebaliknya. Dari dalil pada pembahasan diatas penggunaakn tiwalah dapat membawa manusia kepada kesyrikan. Oleh karena itu tiwalah tentu dilarang dalam islam
• Mendatangi kemudian mempercayai juru ramal adalah perbuatan syirik dan tentu saja syirik merupakan dosa terbesar dalam islam.
• Islam tidak membolehkan manusia bersahabat dengan jin,meminta bantuannya apalagi mengawininya karena jin akan membawa manusia kepada dosa dan kesalahan.
• Islam melarang kita mempelajari sihir, karena sihir adalah cobaan bagi manusia dan membawa manusia kepada kekafiran.
• Para ulama sepakat bolehnya ruqyah bila memenuhi tiga syarat yaitu:
• Dengan kalamullah atau dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya
• Dengan bahasa Arab atau dengan bahasa yang dimengerti maknanya
• Diyakini bahwa ruqyah tidak berpengaruh (pada kesembuhan), tetapi itu dengan takdir Allah
• Sedangkan dengan jimat-jimat
Sebagian ulama salaf memberikan rukhsah untuknya dan sebagian yang lain tidak memberikan rukhsah (Lihat Fathul Majid, hal 126,127)
• Perbedaan pendapat dalam masalah ini telah terjadi dimasa dahulu dan telah masyhur dikalangan para ulama salaf. Maka siapa yang hatinya mantap pada larangan, maka hendaknya tidak melakukan. Sedangkan yang hatinya mantap pada pembolehan (mubah) maka ia boleh melakukannya tanpa memaksakan hal tersebut kepada orang lain, namun tidak dilarang saling memberi nasihant dan bermusyawarah.
3.2 Saran-Saran
• Marilah kita luruskan dan murnikan aqidah kita dari berbagai pencemaran yang mungkin kita tidak sadari karena ketidak tahuan kita tentang hal-hal yang khurafat.
• Hal khurafat jika kita tidak hati-hati bisa menjerembabkan kita pada jurang kemusyrikan. Sedangkan kemusyrikan adalah sebesar-besarnya dosa yang tidak mungkin diampuni oleh Allah swt.
• Agar kita tidak terjerembab kita membutuhkan pengetahuan, karena ilmu adalah mata yang akan membantu kita dalam mengetahui mana yang benar dan salah.
• Untuk itu marilah kita tingkatkan terus ilmu pengetahuan kita agar kita selamat dalam meniti dien-Nya dengan selurus-lurusnya.
• Marilah kita amalkan ilmu yang kita pelajari untuk keselamatan diri kita pribadi dan orang-orang sekitar kita.
4 DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an al-Karim.
Ash-Shayim, Muhammad, Dialog dengan Jin Kafir-Pengalaman Praktis Mengatasi Pelanggaran Jin, Jakarta: Cendekia Sentra Muslim, 2001.
Abdullah Al Khatib, Muhammad, et al, Konsep Pemikiran Gerakan Ikhwan, Jakarta: Asy Syamil, 2001.

Sabtu, 17 September 2011

Berantas Perdukunan!

By Unknown | At 23.07.00 | Label : | 0 Comments

Salamu'alaikum wr wb,,'' Di zaman yang (katanya) kian maju ini, banyak orang yang justru kian mudah dibodohi. Laris manisnya praktik perdukunan, adalah contoh nyata yang terpapar di depan kita. Karir sukses, gampang jodoh, lancar usaha, harmonis dalam rumah tangga, kaya mendadak hingga popularitas adalah segelintir jualan dukun yang mampu membenamkan akal sehat masyarakat.
Kasus penipuan yang melibatkan para dukun baik berupa “penggandaan” uang, pencabulan berkedok ritual pengobatan, pembunuhan pasien melalui “ramuan” mematikan, dan lain sebagainya, senyatanya tak membuat masyarakat jera. Dukun berikut produk-produknya masih demikian diminati masyarakat hingga kini.
Bahkan, demam perdukunan tak hanya menimpa masyarakat kelas bawah. Namun juga diderita masyarakat strata atas yang konon katanya mengenyam pendidikan tinggi. Tak sedikit dari selebritas, elite politik, para pesohor dan kalangan atas lainnya, yang lekat dengan praktik serta produk perdukunan. Yang masih hangat, budaya klenik pun turut meramaikan bursa pencalegan.
Demi meraup ambisinya, para elite ini biasanya siap melakoni apapun titah sang dukun. Berendam di pemandian “wingit”, laku tirakat pada malam tertentu, bahkan jika perlu mengorbankan anggota keluarganya sebagai tumbal. Tak heran jika “ilmu” dan produk supranatural seperti “ilmu” hikmah, terawangan, asmak, pengasih, pesugihan, perisai ghaib, tanaga dalam, keris bertuah, dan jimat lainnya, yang dijual para dukun dengan mahar (baca: harga) ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah laris-manis diserbu orang-orang yang telah kehilangan akal sehatnya ini.
Ironisnya, berjejal pembenaran terhadap praktik tersebut tak henti diembuskan ke tengah masyarakat. Dari yang klasik, “bahwa ini adalah ikhtiar”, hingga mengaburkan makna dukun dan kesyirikan, kuat diresap oleh masyarakat yang memang akidahnya masih perlu diluruskan. Masih banyak masyarakat yang tertipu dengan “kostum” yang dipakai para dukun. Juga silau dengan julukan kyai, ustadz, gus, habib, bahkan syaikh sekalipun. Demikian juga istilah paranormal, supranaturalis, ahli metafisika, spiritualis, pakar bioenergi, penghusada, atau yang semacamnya.
Agar kian samar dan tidak terkesan primitif, upaya pembodohan yang dilakukan para dukun ini pun menggunakan peranti teknologi. Hanya dengan mengetik SMS, orang bisa minta diramal. Hanya dengan telepon, orang bisa melakukan “pengobatan” jarak jauh. Juga apa yang mereka istilahkan “ilmu metafisika modern” seperti hipnotis, telepati, astral, quantum, dan lain sebagainya. Serta beragam istilah yang terlihat ilmiah seperti aura, ion-ion tubuh, daya medan magnetis, energi supranatural, bioenergi, kosmik, prana, dan sebagainya.
Padahal diakui atau tidak, “ilmu” supranatural yang mereka peroleh didapatkan dengan cara memuja bahkan bersekutu dengan jin atau setan, suatu hal yang telah jelas larangannya dalam syariat Islam. Si dukun sendiri, biasanya akan membantah keras kalau metodenya disebut klenik apalagi syirik. Untuk menipu masyarakat, mereka umumnya mengaku sebagai supranaturalis agamis bukan supranaturalis magis, menggunakan jin putih bukan jin hitam, jalan kanan bukan jalan kiri, membawa-bawa nama Allah l, dan berbagai kibulan lainnya.
Kuatnya budaya klenik atau perdukunan ini tentu menjadi tantangan para dai dan pemimpin umat untuk menguburnya. Keberhasilan praktik pemurtadan berkedok pengobatan dari “tuhan” oleh para penginjil Nasrani tentu tak lepas dari budaya ini.
Maka, perdukunan yang merambah kalangan elite sepatutnya dijadikan cermin bagaimana gambaran sesungguhnya akidah masyarakat hingga di tingkat akar rumput. Nyata, bahwa akidah umat ini masih harus diluruskan. Nyata, bahwa perbaikan akidah umat menjadi suatu hal yang tak bisa diulur dan ditawar. Jangan sibukkan umat dengan contreng-menyontreng, jangan pula sibukkan umat dengan mimpi khilafah jika fondasi umat masih demikian rapuh. Tak ada kata lain, kibarkan dakwah tauhid, mari berantas perdukunan di tengah umat!

ISLAM ITU INDAH

By Unknown | At 23.02.00 | Label : | 0 Comments







Sesungguhnya Islam tidaklah sesempit yang digambarkan banyak orang di mana Islam hanya dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah-ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, zakat, atau haji. Islam adalah sebuah sistem hidup yang sebenarnya mengajarkan banyak hal kepada pemeluknya. Jika mau menggali kandungan Islam, kita akan menjumpai bertaburnya ajaran yang (salah satunya) menyinggung tentang adab, seperti adab terhadap orangtua, anak, saudara, tetangga, masyarakat, hingga pemerintah. Demikian juga adab bertamu, berbeda pendapat, makan maupun minum, dan sebagainya. Saking lengkapnya, Islam pun mengajarkan tentang adab bersin, menguap, hingga buang hajat.
Demikian lengkap dan sempurna, hanya sayangnya kebanyakan kaum muslimin justru mengabaikannya. Di samping dikarenakan awam, sebagian kita merasa cukup jika ia telah menunaikan shalat, berpuasa Ramadhan, zakat, atau (jika mampu) berhaji. Padahal semestinya jika ibadah-ibadah tersebut dikerjakan dengan baik, ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah n, dapat membuahkan akhlak yang baik bagi pelakunya. Maka lebih-lebih jika kandungan Islam lainnya dipraktikkan dengan dilandasi akidah yang benar, niscaya kemaslahatan dalam berkeluarga dan bermasyarakat akan terwujud.
Tidak akan kita jumpai tetangga yang saling mengganggu baik dengan lisan maupun tindakannya. Tidak ada anak yang membangkang terhadap orangtuanya. Tidak perlu pula ada pertumpahan darah hanya karena berebut warisan. Intinya, tidak akan kita jumpai kezaliman antar sesama anak manusia karena segalanya diliputi kesejukan dan kedamaian.
Sudah semestinya, jika kita dikaruniai hidayah bisa mengenal Islam secara benar dengan dalil-dalilnya, berupaya memelopori sekaligus mendakwahkan penerapan adab-adab Islam di tengah masyarakat. Meski perlu dicatat, kita dihadapkan pada masyarakat awam yang heterogen yang tentu saja pemahamannya masih karut marut. Ada yang fanatik ormas, fanatik mazhab, fanatik partai, kultus serta taklid buta dengan individu tertentu, dsb. Ada yang menganggap kesyirikan sebagai wasilah (sarana) mendekatkan diri kepada Allah l. Ada pula yang tidak paham sunnah bahkan sampai pada taraf mencelanya, dan sebagainya.
Oleh karena itu mendakwahi masyarakat umum jelas dibutuhkan sikap bijak. Bergelutnya mereka dengan syirik, bid’ah, maupun maksiat, tidak lantas disikapi secara sama rata. Mengenalkan al-haq (sesuai kemampuan) kepada mereka menjadi tahapan yang harus dikedepankan. Bukan belum-belum sudah menjaga jarak serta dengan mudahnya memvonis orang lain sebagai “ahlul maksiat” sehingga itu dijadikan dalil untuk menjauhi bahkan memusuhi mereka. Padahal bisa jadi orang yang dimaksud tak pernah mengerti halal-haram, sekadar ikut-ikutan dengan tradisi yang telah berkembang di masyarakat, bahkan ada yang sangat asing dengan ajaran-ajaran Islam.
Semestinya kita menyuburkan sikap empati dengan sejenak menengok ke belakang saat kita belum mengenal dakwah, belum mengenal mana tauhid dan mana syirik, mana halal mana haram, serta mana sunnah dan mana bid’ah. Masa-masa itulah yang tengah dihadapi masyarakat umumnya. Lebih-lebih kita sadar bahwa pada dasarnya syariat itu berat dibandingkan hawa nafsu. Sehingga itu menjadi pelecut semangat kita untuk tidak surut dalam mendakwahi masyarakat awam, tentunya dengan tetap menaati rambu-rambu syariat. Jangan sampai sikap yang tidak pada tempatnya justru membuat masyarakat lari. Kita tanamkan di benak kaum muslimin, Islam tidaklah seram, tidak kaku, ….karena Islam itu indah!
◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz