Rabu, 11 Mei 2011

Muslim Spanyol Buktikan Islam Bukan Penghalang Integerasi

MADRID (Berita SuaraMedia) – Beradaptasi dengan baik dengan gaya hidup masyarakat Spanyol, mayoritas Muslim Spanyol merasa berada di rumah, menekankan bahwa Islam bukanlah penghalang untuk menjadi warga negara Spayol. "Saya telah tinggal di sini selama bertahun-tahun lamnya," Ibrahim Ndiaye, seorang pemilik restoran, mengatakan kepada kantor berita Deutsche Welle pada Jum'at waktu setempat.
"Para tetangga Spanyol saya mengenal saya, mereka mengetahui bagaimana saya hidup."
Sama halnya dengan rekan-rekannya, Ndiaye telah bermigrasi dari Moroko ke Spanyol dalam mencari kondisi kehidupan yang lebih baik.
Walaupun ia memulai sebagai seorang tukang pukul kelab malam, ia berhasil untuk menikmati kesuksesan finansial, sekarang menjalankan sebuah butik dan sebuah restoran.
Walaupun terkadang ia menghadapi banyak masalah karena beberapa tindakan-tindakan kekerasan, Ndiaye, yang menikahi seorang istri berkebangsaan Spanyol dan memiliki dua orang anak, merasa seperti di rumah berada di Spanyol.
"Benar bahwa terorisme telah menciptakan beberapa masalah. Ketika Anda berusaha untuk melakukan perjalanan  atau pergi ke sebuah tempat publik, orang-orang benar-benar melihat Anda sekarang. Namun saya belum pernah menerima akibat-akibat tersebut dalam lingkungan saya."
Hampir mendekati 1,3 juta Muslim di Spanyol, menyusun 3 persen dari 45 juta jumlah penduduk negara tersebut.
Sebuah survei baru-baru ini menemukan bahwa 70 persen dari umat Muslim Spanyol merasa berada di rumah sendiri di negara Eropa.
Poling tersebut juga menunjukkan bahwa 80 persen dari umat Muslim merasa mereka telah beradaptasi dengan baik pada gaya hidup masyarakat Spanyol.
Banyak yang merasa bahwa umat Muslim terintegrasi dengan baik ke dalam masyarakat Spanyol.
"Orang yang datang beradaptasi, walaupun mereka menjaga perangkap budaya mereka terutama generasi yang lebih tua," Berbabe Lopez, seorang pakar ternama pada komunitas Muslim,  mengatakan pada kantor berita Deutsche Welle.
"Orang-orang tidak tinggal di distrik-distrik minoritas; mereka tersebar di seluruh negara tersebut, di seluruh daerah sekitar."
Ia memberi penghormatan kepada warga Spanyol yang lain, yang ia katakan, terbuka untuk menerima para imigran ke dalam masyarakat.
"Dan saya berpikir bahwa penduduk Spanyol – yang kemungkinan Anda telah berharap bahwa kebanyakan lebih rasis – telah benar-benar meresapi para imigran dengan baik. Dalam hampir 15 tahun – telah ada 12 persen imigrasi. Hal ini berlum pernah terjadi dalam kecepatan yang sehebat itu di negara lainnya di Eropa."
Perdebatan telah memanas di seluruh Eropa tentang imigrasi ke dalam benua tersebut.
Di Jerman, sebuah perdebatan nasional telah dimulai setelah seorang bankir pusat mengklaim bahwa imigran Muslim merusak masyarakat Jerman.
Perdebatan serupa berkobar-kobar di Belanda dan Italia di tengah-tengah seruan untuk membatasi imigrasi umat Muslim.
Pemerintah Spanyol telah mendapatkan pujian untuk upaya-upaya agar para imigran terintegrasi dengan baik ke dalam masyarakat.
Mengikuti seranganteroris di Madrid pada tahun 2004, pemerintah menghindari reaksi yang gegabah. Malahan, negara tersebut meluncurkan "Aliansi Peradaban" (Alliance of Civilization) dengan Turki  dalam sebuah upaya untuk memajukan hubungan antara Timur dan Barat.
Pemerintah juga telah meluncurkan program kohesi sosial untuk membantu para imigran berintegrasi ke dalam masyarakat.
Terdapat juga amnesti regular untuk para pekerja pendatang yang telah menggerakkan perkembangan konstruksi Spanyol.
Dalam sepuluh tahun terakhir, lebih dari satu juta orang yang dapat membuktikan bahwa mereka bekerja di sana, mereka diberikan status legal.
Sementara semua warga – walaupun mereka yang tanpa dokumen-dokumen – memiliki akses untuk kesehatan dan pendidikan.
Masih saja terdapat beberapa masalah.
"Mengingat kembali bahwa kami para imigran telah selalu memiliki kualifikasi terendah dalam pekerjaan," kata Kamal Rahmouni dari asosiasi imigran Moroko ATIME.
"Kami melakukan pekerjaan yang orang lain tidak inginkan. Kami memiliki kontrak yang sangat sederhana, dengan syarat yang sangat buruk – Anda dapat dipecat kapan saja dan semua kesulitan tersebut adalah proses dari integrasi."
Bagaimanapun juga, Rahmouni masih merasa bahwa "jalan yang kompleks, dan panjang menuju integrasi" umunya tertuju pada arah yang yang benar.
Ibrahima, pemilik restoran, setuju.
"Saya pikir bahwa kesempatan-kesempatan bergantung pada studi-studi Anda dan kemampuan dari seseorang," ia mengatakan.
"Pada masa sekarang, hal ini tidak bergantung pada warna kulit seseorang." (ppt/oi) www.suaramedia.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz