Tampilkan postingan dengan label Sejarah Batak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Batak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Mei 2011

Guru Rakyat Kecil, Raja Dima Siregar

By Unknown | At 08.36.00 | Label : | 0 Comments

Raja Dima, seorang petani terpaksa menjadi guru karena tak tega melihat anak-anak di kampungnya putus sekolah. Tak ada lagi guru yang mau mengajar di SD Sigoring-goring, di desa terpencil dan tak pernah memperoleh aliran listrik ini. Alhasil, sejak tahun 2004, ia harus mengajar kelas I sampai kelas VI sendirian. Dan sebagai imbalannya, ia mendapat 9 cangkir beras dari setiap orang tua per bulan.
Kisah tentang sang pahlawan sejati ini dikutip dari harian umum Kompas edisi Senin 16 Mei 2005
Bayaran Guru Desa 80 Kaleng Beras...
Oleh Ahmad Arif

Sudah enam bulan ini Raja Dima Siregar (37) mengajar lima kelas di SD Dusun Sigoring-goring tanpa gaji. Lelaki itu hanya dijanjikan akan mendapat bayaran beras sebanyak 80 kaleng (satu kaleng sekitar 16 kg) atau setara dengan 1.280 kg per tahun oleh para orangtua murid pada akhir tahun ajaran nanti.
Meskipun demikian, satu-satunya guru di SD Dusun Sigoring-goring, Desa Pangirkiran Dolok, Kecamatan Binanga, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, itu tak mengeluh dengan apa yang ia dapatkan. Yang ia gelisahkan justru nasib anak-anak didiknya yang belajar dengan buku pelajaran kedaluwarsa.
Hingga kini murid-murid SD Dusun Sigoring-goring harus belajar dengan menggunakan buku-buku pelajaran kejar paket A, B, dan C terbitan tahun 1997, yang sebenarnya ditujukan untuk ujian persamaan.
Fasilitas SD satu-satunya di dusun itu sangat minim. SD tersebut hanya memiliki satu ruang kelas sehingga seluruh siswa mulai dari kelas I hingga kelas VI, bercampur dan gurunya hanya seorang.
Menurut Raja Dima, sekolah itu dibangun secara swadaya oleh masyarakat pada tahun 1982. Sejak dibangun, belum ada bantuan sedikit pun dari pemerintah.
Tahun ini SD yang berada di tepi hutan eukaliptus milik Toba Pulp Lestari itu hanya memiliki 27 siswa, yaitu kelas I sebanyak sembilan siswa, kelas II delapan siswa, kelas III tujuh siswa, kelas IV satu siswa, dan kelas VI dua siswa. Kelas V tidak ada siswanya. "Semakin tinggi kelasnya, siswanya makin sedikit karena banyak yang putus di tengah jalan. Anak-anak membantu orangtuanya bekerja sehingga jika dirasa sudah cukup bisa membaca, menulis, dan berhitung, mereka tidak pergi ke sekolah lagi," katanya.
Dusun Sigoring-goring berada jauh di pedalaman Sumatra Utara, diapit hutan register 40 Tapanuli Selatan dan hutan tanaman produksi milik PT Toba Pulp Lestari (TPL). Dusun itu dihuni 40 keluarga atau 285 jiwa, terpencil dari dusun lain, dan tak terjangkau listrik, apalagi telekomunikasi.
Untuk mencapai kota Kecamatan Binanga sedikitnya perlu 14 jam perjalanan darat dari Medan atau sekitar empat jam dari ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan, Padang Sidempuan. Dari Binanga ke desa itu, perjalanan menembus belantara sejauh 22 kilometer. Hanya mobil-mobil gardan ganda pengangkut kayu yang sanggup melintasi jalan lumpur menuju dusun tersebut.
Minggu siang siswa SD Sigoring-goring tetap masuk sekolah. Mereka libur pada hari Kamis bersamaan dengan pekan di kota Binanga. Saat hari pekan, orangtua termasuk Raja Dima bisanya pergi ke kota untuk menjual hasil pertanian dan membeli barang kebutuhan selama seminggu.
Siang itu para siswa yang berseragam coklat bercampur dengan yang berseragam merah putih dan sebagian lainnya yang tidak berseragam. Hampir semua anak tidak memakai alas kaki, sedangkan Raja Dima hanya mengenakan sandal jepit.
Tak seorang siswa pun yang memiliki buku-buku pelajaran. Mereka hanya mengandalkan keterangan dari guru yang menggunakan materi pelajaran dari buku-buku yang sudah kedaluwarsa tersebut. Kendati demikian, anak-anak itu mencatat pelajaran di buku tulis mereka dengan semangat.
Bocah-bocah dusun tersebut belajar di dalam bangunan tunggal sekolah dari papan yang dibagi menjadi dua ruangan dan dibatasi sekat papan semiterbuka. Terdapat dua papan tulis yang dipakai secara bersama-sama oleh lima kelas.
Setelah menuliskan pelajaran untuk kelas I, Raja Dima kemudian menghapusnya dan ganti menuliskan bahan pelajaran untuk kelas II, demikian seterusnya. Raja Dima juga harus hilir mudik menerangkan pelajaran yang ditulisnya di dua papan tulis tersebut.
"Sekarang pertanyaan untuk kelas III, orang yang pekerjaannya mencari ikan di laut apa?" kata Raja Dima.
Suasana hening. Tak seorang siswa pun menjawab. Pertanyaan yang mungkin akan dijawab dengan mudah oleh anak-anak SD kelas I di kota itu terasa sulit bagi anak-anak dusun.
Raja Dima harus menjawab sendiri pertanyaannya. Dengan sabar ia menerangkan, ada dunia di luar sana yang digeluti oleh nelayan. "Nelayan ini harus bekerja keras untuk hidup, seperti bapak-bapak kalian yang menjadi petani. Bedanya, kalau petani bekerja di ladang dengan parang dan cangkul, nelayan bekerja di laut dengan jala dan pancing," katanya.
Raja Dima menjadi guru di sekolah tersebut sejak bulan Desember 2004. Guru sebelumnya mengundurkan diri pada bulan Oktober 2004 sehingga selama tiga bulan kegiatan belajar-mengajar di SD tersebut sempat terhenti. "Karena tidak ada yang mau mengajar, saya kasihan kepada anak-anak. Apalagi banyak orangtua murid berharap saya bisa mengajar anak-anak itu. Akhirnya saya jadi guru mereka," kata lelaki lulusan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Gunung Tua, Tapanuli Selatan.
"Di sini guru dibayar dengan beras sebanyak 80 kaleng setahun. Jelas bayaran tersebut tidak memadai sehingga kebanyakan tidak tahan. Tetapi, saya tidak bisa menuntut bayaran lebih karena memang masyarakat di sini juga tidak mampu. Toh dua anak saya juga ikut sekolah di sini,"kata lelaki yang juga alumni SD Sigoring-goring itu.
Untuk menutupi kebutuhan hidupnya, Raja Dima lebih mengandalkan kerja kerasnya sebagai petani. Lelaki muda berputra tiga ini menggarap sawah sekitar 2.500 meter persegi yang menghasilkan beras sebanyak 100 kaleng. Beras sejumlah itu biasanya cukup untuk makan sehari-hari dan sisanya dijual untuk biaya hidup. Semenjak dia menjadi guru, pengelolaan sawah lebih banyak dilakukan istrinya.
Untuk kebutuhan sehari-hari, Raja Dima dan warga desa yang lain mengandalkan hasil tanaman karet yang ditanam di tanah adat Desa Pangirkiran. Rata-rata per orang memiliki dua hektar yang ditanami 200 pohon.
Namun, sejak enam bulan lalu ladang karet warga Desa Pangirkiran, termasuk milik warga Sigoring-goring, musnah dibakar bersamaan dengan pembakaran oleh perusahaan perkebunan nasional yang hendak membuka kebun sawit di kawasan tersebut. Dalam pembakaran itu, 17 rumah warga Sibenggol serta satu sekolah dan mushala ikut dibakar. Kini warga Sibenggol mengungsi ke dusun-dusun lain di Desa Pangirkiran, termasuk di Dusun Sigoring-goring.
Raja Dima dan warga desa lain yang terdiri atas enam dusun sempat melawan perusahaan tersebut. Namun, mereka kalah. Saat ini Dusun Sibenggol dan bekas ladang mereka telah dikelilingi parit oleh perusahaan tersebut. Tak seorang warga dusun pun yang berani ke sana karena tanah tersebut dijaga para centeng yang bersenjata.
"Kami miskin. Dan orang miskin dalam cerita negeri ini selalu kalah,"kata Raja Dima. Ia mengaku sempat memimpin perlawanan dengan melakukan demonstrasi ke kabupaten. Bukti perlawanan itu, yaitu berupa bait-bait puisi Darah Juang karya Wiji Thukul, masih ditempel di dinding kelasnya.
"Di sini negeri kami, tempat padi terhampar, samuderanya kaya raya, tanah kami subur, Tuhan. Di negeri kami ini berjuta anak rakyat tertindas duka, anak tani tak sekolah, pemuda tak bekerja... Puisi-puisi ini sepertinya mewakili suara kami. Saya mendapatkannya dari teman-teman dari Bina Keterampilan Desa yang mendampingi warga di sini. Biarlah puisi ini tertempel di kelas ini agar terus dibaca anak-anak kami sebagai bukti perlawanan orangtua mereka,"kata Raja Dima.
Kini harapan Raja Dima memang kian pupus. Bayang-bayang kekalahan tak terelakkan. Masa depan suram anak-anak didiknya, termasuk anak-anaknya, menggelisahkannya tiap hari. "Entah mau jadi apa anak-anak nantinya? Tanah-tanah terus direbut bahkan rumah dan kebun dibakar habis. Tetapi, siapa juga yang peduli?" kata Raja Dima, seolah-olah bicara pada dirinya sendiri.

Dikutip dari www.margasiregar.com

Mandailing, Batak atau Bukan?

By Unknown | At 08.27.00 | Label : | 0 Comments

GERAKAN KRISTIAN MELABEL MANDAILING SEBAGAI BATAK
Sejak 1821 lagi kerajaan Belanda cuba mengkristiankan orang-orang Mandailing yang pada masa itu baru sahaja memeluk agama Islam di hujung pedang pada 1816. Namun perjuangan Jihad Padri telah menghalang orang-orang Mandailing daripada terus terdedah kepada kegiatan kumpulan-kumpulan pendakwah Kristian yang didokong oleh kerajaan Belanda.
Percubaan demi percubaan yang dilakukan oleh penjajah Belanda untuk mengkristiankan orang-orang Mandailing telah mengalami kegagalan. Pihak Belanda yang didalangi oleh badan-badan pendakwah agama Kristian jugagagal memaksa orang-orang Mandailing memeluk agama Kristian secara fizikal seperti yang pernah dilakukan oleh angkatan Jihad Padri semasa menyebarkan ajaran Islam pada 1816. 

Kegagalan pihak Belanda ini telah memaksa badan-badan pendakwah agama Kristian untuk menggunakan strategi baru dalam menyebarkan agama Kristian. Lantaran itu pada awal kurun ke 20 badan-badan pendakwah agama Kristian di Belanda telah melancarkan 2 strategi untuk menarik orang-orang Mandailing kepada agama Kristian;
a.      memesongkan sejarah antropologi orang-orang Mandailing supaya mereka merasa tidak asing dari sejarah dan kebudayaan Batak yang menjadi tulang belakang gerakan Kristian di Tanah Besar Sumatera khususnya di dalam Konspirasi Batak Mananggoring
b.      menjadikan orang-orang Islam khasnya orang-orang Mandailing lemah dari segi penguasaan ekonomi supaya badan-badan pendakwah Kristian masuk daun dengan memberikan bantuan secara sistematik dan sekaligus menarik perhatian mereka terhadap kebaikan badan-badan pendakwah Kristian ini dengan menggunakan konsep yang sama dengan Polisi Pecah dan Perintah oleh Inggeris di Tanah Melayu (Divide and Rule Policy)

Pada kurun ke 19 yang lalu, apabila kebanyakan dari orang-orang Batak memeluk agama Kristian dari Belanda, peranan orang Batak di Nusantara Melayu diangkat semula oleh penjajah Belanda selepas Perang Jihad Padri bagi membatasi peranan orang-orang Minangkabau dan orang-orang Mandailing yang telah berusaha menegakkan agama Islam di Tanah Besar Sumatera. Kedatangan pendakwah-pendakwah Kristian ke Tanah Batak telah mengubah keadaan hidup masyarakat Batak yang tidak mempunyai kepercayaan teguh kepada mana-mana agama besar di dunia pada masa itu. Ramailah di antara mereka memeluk agama Kristian.

‘Before the arrival of the Europeans, cannibalism was quite common among the Bataks.’ (74) – Schnitger 1939.

Apabila mereka memeluk agama Kristian, pihak Belanda telah membawa orang-orang Batak ke alam pendidikan, penulisan, pengiraan dan pembacaan. Ini ialah kerana pihak Belanda memerlukan tenaga kerja sebagai perantaraan antara Belanda dan masyarakat peribumi Indonesia. Lalu orang-orang Batak yang beragama Kristian telah diberi kedudukan istimewa dalam pentadbiran kerajaan Belanda di Indonesia.

Walaupun mereka memeluk agama Kristian, orang-orang Batak tetap berpegang teguh kepada adat-resam dan budaya mereka. Oleh kerana itulah adat-resam, budaya hidup, kesenian, tulisan dan bahasa Batak masih dapat bertahan dan ditonjolkan hingga ke hari ini.

Lama-kelamaan ramai di antara mereka menguasai sebahagian besar teraju pimpinan negara lalu menjadikan bangsa Batak itu terkenal. Atas dasar inilah bangsa Batak menjadi satu bangsa yang kukuh dan dominan di Tanah Besar Sumatera dan menenggelamkan bangsa Mandailing yang pada satu ketika merupakan bangsa yang sangat maju dan bertamadun tinggi di Nusantara Melayu.

Orang-orang Mandailing yang memeluk Islam sewaktu gerakan Jihad Padri telah menjadi golongan fanatik agama yang menentang setiap pembaharuan yang dibawa oleh Belanda. Tambahan pula pada masa yang sama kerajaan Belanda sememangnya mahu melenyapkan pengaruh Islam dan keagungan bangsa Mandailing. Ini disebabkan dendam kesumat yang tidak berkesudahan ke atas angkatan perang Jihad Padri yang majoritinya dianggotai oleh orang-orang Mandailing, Rawa dan Minangkabau. Selepas Perang Padri, orang-orang Mandailing telah banyak membuang adat-istiadat dan adat resam yang tidak sesuai dengan agama Islam. Lama-kelamaan orang-orang Mandailing mulai kehilangan identiti bangsa, adat-resam, budaya, tulisan dan pertuturan mereka.

Akibatnya kumpulan-kumpulan pendakwah Kristian dan kerajaan Belanda pada masa itu mengambil kesempatan untuk memperkenalkan Batak sebagai nenek-moyang orang-orang Mandailing ke seluruh dunia dan orang-orang Mandailing pula diistiharkan sebagai Batak Mandailing yang berasal dari bangsa Batak. Ini dilakukan dengan harapan generasi akan datang orang-orang Mandailing akan merasa tidak asing dengan sejarah dan kebudayaan orang-orang Batak dan terpaksa merujuk kepada orang-orang Batak semasa mencari identiti mereka dan sekaligus ini akan merangsang generasi muda orang-orang Mandailing itu untuk mengkaji agama Kristian sebagai agama pilihan asal nenek-moyang mereka. Cara yang digunakan Belanda ini adalah sama dengan Polisi Pecah dan Perintah yang dilakukan oleh British di Tanah Melayu. Justeru itu adalah menjadi tanggungjawab setiap generasi Mandailing untuk bangkit dan menafikan Gerakan Batak Mananggoring ini.

Permasalahan di antara Mandailing dan Batak telah lama wujud sejak tahun 1920an lagi sehingga hampir mencetuskan ketegangan etnik kerana wujudnya satu operasi dan usaha yang sistematik untuk membatakkan Mandailing. Semuanya bermula apabila orang-orang Batak dengan kerjasama pendakwh-pendakwah Kristian melancarkan Gerakan Batak Mananggoring.

 GERAKAN BATAK MANANGGORING 1922

Pada 16 Ogos 1922 di Kampung Kayu Laut di Padang Lawas, Tanah Besar Sumatera, seorang Batak yang mendakwa dirinya sebagai Batak Mandailing (Batak yang telah lama tinggal dan menetap di Tanah Mandailing dan berasimilasi dengan orang-orang Mandailing) yang bernama Todung Gunung Mulia yang menjadi kepala Sekolah H.I.S di Kota Nopan telah bersepakat dengan seorang kolonel tentera Belanda dari Sibolga mengatur rancangan rapi untuk membatakkan Mandailing itu dan sekaligus membuka peluang kepada kumpulan-kumpulan pendakwah Kristian dan kerajaan Belanda untuk melenyapkan identiti bangsa, jati diri bangsa, adat-resam, budaya hidup, tulisan dan pertuturan orang-orang Mandailing.

Gerakan ini telah dinamakan sebagai Gerakan Batak Mananggoring dan ianya didalangi oleh badan-badan pendakwah Kristian pada masa itu yang dikehendaki untuk menghantar satu laporan mengenai perkembangan agama Kristian di kalangan masyarakat Mandailing ke Vatican City di Itali. Dengan memasukkan orang-orang Mandailing di kalangan orang-orang Batak, maka tidak timbul isu peratusan penganut agama Kristian yang rendah di kalangan orang-orang Mandailing.

Ini sekaligus memaksa generasi orang-orang Mandailing yang akan datang merasa tidak asing dengan sejarah dan kebudayaan orang-orang Batak serta merujuk kepada orang-orang Batak semasa dalam usaha mencari identiti dan jati diri mereka dan sekaligus ini akan merangsang generasi baru orang-orang Mandailing itu untuk mengkaji agama Kristian sebagai agama pilihan asal nenek-moyang mereka. (118-120) – Mhd.Arbain Lubis.

Atas usaha Todung Gunung Mulia dan kolonel tentera Belanda ini, 14 Kepala-Kepala Kuria Mandailing yang merupakan keturunan-keturunan raja-raja Mandailing telah didesak dan dipaksa untuk menandatangani pengistiharan di Kayu Laut bahawa Mandailing itu adalah salah satu ‘luhak’ atau daerah kecil dari wilayah bangsa Batak.

Oleh kerana Kepala-Kepala Kuria tersebut merupakan pemerintah yang dilantik atas ehsan Belanda, maka mereka terpaksa akur bagi menjaga kepentingan masing-masing walaupun ia merupakan fitnah dan penipuan terbesar di dalam sejarah antropologi dunia.

‘In Sumatra the smallest administrative unit above the village was the kuria, often composed of a mother-child village complex. The head of the kuria was an indigenous raja who had dual role of head under customary lawa and officer of the Dutch administration.’ (149) – Donald Tugby.

Jika benar Mandailing itu Batak, mengapakan perlu Todung Gunung Mulia dan kolonel tentera Belanda ini memaksa 14 orang Kepala-Kepala Kuria Mandailing yang merupakan keturunan dari raja-raja Mandailing untuk menandatangani pengistiharan di Kayu Laut bahawa Mandailing itu adalah salah satu ‘luhak’ atau daerah kecil dari wilayah bangsa Batak?

Ini ialah kerana Todung Gunung Mulia dan kolonel tentera Belanda itu sendiri tahu bahawa Mandailing itu bukan Batak dan untuk menjadikan Mandailing itu Batak, mereka perlu memaksa 14 orang Kepala-Kepala Kuria Mandailing untuk menandatangani pengistiharan di Kayu Laut itu.

Jelas strategi Gerakan Batak Mananggoring ialah mencuba melakukan fitnah besar dan penipuan licik yang memesongkan sejarah sebenar antropologi dunia.

‘If you lie to the people often enough, and if the lies were big enough, the people would eventually believe the lies.’ - Adolf Hitler.

Syukur ke hadrat Allah s.w.t. yang mewujudkan pembela-pembela agamaNya di kalangan masyarakat Mandailing. Peristiwa Batak Mananggoring di Kampung Kayu Laut itu telah menimbulkan perasaan marah dan sakit hati masyarakat Mandailing terhadap fitnah dan penipuan paling besar di dalam sejarah antropologi dunia.

Orang-orang Mandailing telah bersepakat di bawah satu panji iaitu persatuan Syarikat Mandailing yang ditubuhkan pada 31 Dis 1921 telah mengemukakan bantahan secara besar-besaran kepada Governor General of Batavia di Jakarta (Batavia).

Oleh kerana pengistiharan Batak Mananggoring itu telah ditandatangan dan disahkan oleh Governor General of Batavia sebelum ini, maka Governor General of Batavia mengambil keputusan untuk membawa perkara itu untuk diadili secara adil dan saksama di Mahkamah Tertinggi Folks Road Batavia. Sebarang kesilapan dalam membuat keputusan tersebut boleh mencetuskan rusuhan kaum.

Kerajaan Belanda pada masa itu merasa begitu serba salah. Jika mereka berkeras atas fakta palsu dengan membela Batak, maka satu rusuhan kaum akan berlaku. Jika mereka berkata benar dan memihak kepada orang-orang Mandailing, orang-orang Batak mungkin tidak akan menerima agama Kristian sebagai agama utama mereka dan kembali kepada agama animisme. Manakala pendakwah-pendakwah Kristian telah pun melobi habis-habisan agar susah-payah usaha kegiatan dakwah mereka kepada orang-orang Batak tidak menjadi sia-sia.

Lantaran itu berlakulah pertarungan di antara Mandailing dan Batak di muka pengadilan Mahkamah Tertinggi Folks Road Batavia pada tahun 1922. Bagi tujuan perbicaraan tersebut, kerajaan Belanda terpaksa memanggil seorang pakar antropologi yang mengetahui sejarah semua suku bangsa di Indonesia yang bernama H. Van Wageningen.

H. Van Wageningen menyatakan dengan jelas dan tegas bahawa Mandailing itu sama sekali tidak sama serta bukan sebahagian dari Batak. Mandailing mempunyai wilayah bangsanya yang sangat luas dan bukan dari ‘luhak’ atau daerah kecil serta mempunyai identitinya tersendiri.

H. Van Wageningen dan Majlis Sidang 14 Kepala-Kepala menjelaskan bahawa Mandailing itu hanyalah terdiri daripada 9 buah marga sahaja dan tidak lebih dari itu;
a.Nasution
b.Lubis
c.Pulungan
d.Batu Bara (bukan Batu Bahara Lima Luhak dari Sumatera Timur)
e.Rangkuti
f.  Dauley
g.Parinduri
h.Dalimunti
i. Matondang

Akhirnya selepas 4 tahun anak-anak Mandailing bertarung sengit berjuang demi maruah bangsa dan masa depan agamanya, maka pada tahun 1926 Mahkamah Tertinggi Folks Road Batavia memutuskan bahawa maka Mandailing menang dalam perbicaraan itu dan Mandailing itu bukan sebahagian daripada Batak ataupun wilayahnya. Mandailing tetap Mandailing. Batak tetap Batak.

Justeru itu mana-mana golongan Mandailing di Nusantara Melayu yang memberikan nama marganya yang berbeza dari 9 marga asal di atas, maka mereka bukanlah kaum Mandailing. Kesemua 9 marga tulin di atas telah diperakui dan disahkan oleh keputusan Mahkamah Tertinggi Folks Road Batavia pada tahun 1926 serta dinyatakan dengan jelas di dalam surat penyataan oleh Majlis Sidang 14 Kepala Kuria yang merupakan keturunan dari raja-raja Panusunan di Mandailing Godang di Tanah Besar Sumatera. Keputusan ini kemudiannya diperakui, disahkan, diaktakan serta diwartakan oleh kerajaan Indonesia.

Mana-mana pihak yang cuba menafikan kesahihan 9 marga Mandailing di atas, maka ia bererti mereka akan menghadapi dan menentang keputusan Mahkamah Tertinggi Folks Road Batavia pada tahun 1926 dan surat penyataan oleh Majlis Sidang 14 Kepala Kuria yang merupakan keturunan dari raja-raja Panusunan di Mandailing Godang di Tanah Besar Sumatera.

Artikel ini dicopy dari Opung Google.

Buku Kontroversi Tentang Marga Siregar

By Unknown | At 08.26.00 | Label : | 0 Comments

Judul Buku:
Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao
Teror Agama Islam Mazhab Hambali Di Tanah Batak
Penulis: Mangaradja Onggang Parlindungan (MOP) Siregar
Editor: Ahmad Fikri A.F.
Penerbit: LKiS, Jogjakarta
Cetakan I, Juni 2007
Isi buku: iv + 691 halaman-Hardcover
Pada awalnya buku ini diterbitkan oleh Penerbit Tanjung Pengharapan, Jakarta pada tahun 1964 dan sempat ditarik dari peredaran.Buku yang mengungkap sisi gelap Gerakan Paderi ini kembali diterbitkan oleh Penerbit LKis pada Juni 2007. Buku ini memang kontroversial sampai-sampai Buya Hamka menulis dalam bukunya "Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao" (Penerbit Bulan Bintang, 1974) menuding 80 % bohong isi buku MOP dan sisanya
diragukan kebenarannya.Pasalnya, setiap kali Buya Hamka menanyakan data dan fakta buku itu, MOP selalu menjawab, "Sudah dibakar".
Buku Greget Tuanku Rao (Jakarta, September 2007) tulisan Basyral Hamidy Harahap pun menambah polemik Tuanku Rao.
Menurut pengakuan MOP pada halaman 358 buku ini; Tuanku Lelo (Idris Nasution) adalah kakek buyutnya. MOP memperoleh warisan dari ayahnya, Sutan Martua Raja Siregar, seorang guru sejarah, sejumlah catatan tangan yang merupakan hasil penelitian dari Willem Iskandar, Sutan Martua Raja dan Residen Poortman.
Buku Tuanku Rao karya MOP terkait dengan Perang Paderi. Melalui buku ini, penulis MOP mengajak kita kembali ke masa lalu Tanah Batak secara gamblang dengan berupaya memahami proses-proses yang terjadi di balik teror kekerasan penyebaran agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak pada 1816-1833.
Penulis MOP meninggal pada tahun 1975.
Anda penasaran dengan buku kontroversial ini ..?
Berikut cuplikannya:

Ketika bermukim di daerah Muara, di Danau Toba, marga Siregar sering melakukan tindakan yang tidak disenangi oleh marga-marga lain, sehingga konflik bersenjatapun tidak dapat dihindari. Raja Oloan Sorba Dibanua, kakek moyang dari Dinasti Singamangaraja, memimpin penyerbuan terhadap pemukiman marga Siregar di Muara. Setelah melihat kekuatan penyerbu yang jauh lebih besar, untuk menyelamatkan anak buah dan keluarganya, pemimpin marga Siregar, Raja Porhas Siregar meminta Raja Oloan Sorba Dibanua untuk melakukan perang tanding satu lawan satu sesuai dengan tradisi Batak. Menurut tradisi perang tanding Batak, rakyat yang pemimpinnya mati dalam pertarungan satu lawan satu tersebut, harus diperlakukan dengan hormat dan tidak dirampas harta bendanya serta dikawal menuju tempat yang mereka inginkan.
Dalam perang tanding itu, Raja Porhas Siregar kalah dan tewas di tangan Raja Oloan Sorba Dibanua. Anak buah Raja Porhas ternyata tidak diperlakukan seperti tradisi perang tanding, melainkan diburu oleh anak buah Raja Oloan sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke tebing-tebing yang tinggi di belakang Muara, meningggalkan keluarga dan harta benda. Mereka kemudian bermukim di dataran tinggi Humbang. Pemimpin marga Siregar yang baru, Togar Natigor Siregar mengucapkan sumpah, yang diikuti oleh seluruh marga Siregar yang mengikat untuk semua keturunan mereka, yaitu:
"kembali ke Muara untuk membunuh Raja Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya"
Dendam ini baru terbalas setelah 26 generasi, tepatnya tahun 1819, ketika Jatengger Siregar yang datang bersama pasukan Paderi, di bawah pimpinan Pongkinangolngolan (Tuanku Rao), memenggal kepala Singamangaraja X, keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, dalam penyerbuan ke Bakkara, ibukota Dinasti Singamangaraja
Ibu dari Pongkinangolngolan adalah Gana Sinambela, putri dari Singamangaraja IX sedangkan ayahnya adalah Pangeran Gindoporang Sinambela adik dari Singamangaraja IX. Gindoporang dan Singamangaraja IX adalah putra-putra Singamangaraja VIII. Dengan demikian, Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Putri Gana Sinambela dengan pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela.
Gana Sinambela sendiri adalah kakak dari Singamangaraja X. Walaupun terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat mengasihi dan memanjakan keponakannya. Untuk memberikan nama marga, tidak mungkin diberikan marga Sinambela, karena ibunya bermarga Sinambela. Namun nama marga sangat penting bagi orang Batak, sehingga Singamangaraja X mencari jalan keluar untuk masalah ini. Singamangaraja X mempunyai adik perempuan lain, Putri Sere Sinambela, yang menikah dengan Jongga Simorangkir, seorang hulubalang. Dalam suatu upacara adat, secara pro forma Pongkinangolngolan dijual kepada Jongga Simorangkir, dan Pongkinangolngolan kini bermarga Simorangkir.
Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh 3 orang datu (tokoh spiritual) yang dipimpin oleh Datu Amantagor Manurung. Mereka meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh pamannya, Singamangaraja X. Oleh karena itu, Pongkinangolngolan harus dibunuh. Sesuai dengan hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman mati atas keponakan yang disayanginya. Namun dia memutuskan, bahwa Pongkinangolngolan tidak dipancung kepalanya, melainkan akan ditenggelamkan di Danau Toba. Dia diikat pada sebatang kayu dan badannya dibebani dengan batu-batu supaya tenggelam.
Di tepi Danau Toba, Singamangaraja X pura-pura melakukan pemeriksaan terakhir. Namun, dengan menggunakan keris pusaka Gajah Dompak ia melonggarkan tali yang mengikat Pongkinangolngolan, sambil menyelipkan satu kantong kulit berisi mata uang perak ke balik pakaian Pongkinangolngolan. Perbuatan ini tidak diketahui oleh para datu, karena selain tertutup tubuhnya, juga tertutup tubuh Putri Gana Sinambela yang memeluk dan menangisi putra kesayangannya.
Tubuh Pongkonangolngolan yang terikat kayu dibawa dengan rakit ke tengah danau dan kemudian dibuang ke air. Setelah berhasil melepaskan batu-batu dari tubuhnya, dengan berpegangan pada kayu Pongkinangolngolan berhasil mencapai Sungai Asahan, di mana kemudian di dekat Narumonda, ia ditolong oleh seorang nelayan, Lintong Marpaung.
Setelah bertahun-tahun berada di daerah Angkola dan Sipirok, Pongkinangolngolan memutuskan untuk pergi ke Minangkabau, karena selalu khawatir suatu hari akan dikenali sebagai orang yang telah dijatuhi hukuman mati oleh Raja Batak.
Di Minangkabau ia mula-mula bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo sebagai perawat kuda. Pada waktu itu, tiga orang tokoh Islam Mazhab Hambali, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik baru kembali dari Mekkah dan sedang melakukan penyebaran Mazhab Hambali di Minangkabau, yang menganut aliran Syiah. Haji Piobang dan Haji Sumanik pernah menjadi pewira di pasukan kavaleri Janitsar Turki. Gerakan mereka mendapat dukungan dari Tuanku Nan Renceh, yang mempersiapkan tentara untuk melaksanakan gerakan Mazhab Hambali, termasuk rencana untuk mengislamkan Mandailing.
Tuanku Nan Renceh yang adalah seorang teman Datuk Bandaharo Ganggo, mendengar mengenai nasib dan silsilah dari Pongkinangolngolan. Ia memperhitungkan, bahwa Pongkinangolngolan yang adalah keponakan Singamangaraja X dan sebagai cucu di dalam garis laki-laki dari Singamangaraja VIII, tentu sangat baik untuk digunakan dalam rencana merebut dan mengislamkan Tanah Batak. Oleh karena itu, ia meminta kawannya, Datuk Bandaharo agar menyerahkan Pongkinangolngolan kepadanya untuk dididik olehnya.
Pada 9 Rabiul awal 1219 H (tahun 1804 M), dengan syarat-syarat khitanan dan syahadat, Pongkinangolngolan diislamkan dan diberi nama Umar Katab oleh Tuanku Nan Renceh. Nama tersebut diambil dari nama seorang Panglima Tentara Islam, Umar Khattab. Namun terselip juga asal usul Umar Katab, karena bila dibaca dari belakang, maka akan terbaca: Batak :))
Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan keluarga Kerajaan Pagarruyung di Suroaso, yang menolak aliran baru tersebut. Hampir seluruh keluarga Raja Pagarruyung dipenggal kepalanya oleh pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Lelo, yang nama asalnya adalah Idris Nasution. Hanya beberapa orang saja yang dapat menyelamatkan diri, di antaranya adalah Yang Dipertuan Arifin Muning Alamsyah yang melarikan diri ke Kuantan dan kemudian meminta bantuan Belanda. Juga putrinya, Puan Gadis dapat menyelamatkan diri, dan pada tahun 1871 menceriterakan kisahnya kepada Willem Iskandar.
Umar Katab alias Pongkinangolngolan Sinambela kembali dari Mekkah dan Syria tahun 1815, di mana ia sempat mengikuti pendidikan kemiliteran pada pasukan kavaleri janitsar Turki. Oleh Tuanku Nan Renceh ia diangkat menjadi perwira tentara Paderi dan diberi gelar Tuanku Rao. Ternyata Tuanku Nan Renceh menjalankan politik divide et impera seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang Tanah Batak.
Penyerbuan ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadhan 1231 H (tahun 1816 M), dengan penyerbuan terhadap Benteng Muarasipongi yang dipertahankan oleh marga Lubis. 5.000 orang dari pasukan berkuda ditambah 6.000 infanteri meluluhlantakkan Benteng Muarasipongi, dan seluruh penduduknya dibantai tanpa menyisakan seorangpun. Kekejaman ini sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk menebarkan teror dan rasa takut agar memudahkan penaklukkan. Setelah itu, satu persatu wilayah Mandailing ditaklukkan oleh pasukan Paderi, yang dipimpin oleh Tuanku Rao dan Tuanku Lelo, yang adalah putra-putra Batak sendiri. Selain kedua nama ini, ada sejumlah orang Batak yang telah masuk Islam, ikut pasukan Paderi menyerang Tanak Batak, yaitu Tuanku Tambusai (Harahap), Tuanku Sorik Marapin (Nasution), Tuanku Mandailing (Lubis), Tuanku Asahan (Mansur Marpaung), Tuanku Kotapinang (Alamsyah Dasopang), Tuanku Daulat (Harahap), Tuanku Patuan Soripada (Siregar), Tuanku Saman (Hutagalung), Tuanku Ali Sakti (Jatengger Siregar), Tuanku Junjungan (Tahir Daulae) dan Tuanku Marajo (Harahap)
Penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara, dilaksanakan tahun 1819. Orang-orang Siregar Salak dari Sipirok dipimpin oleh Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang, guna memenuhi sumpah Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, yaitu Singamangaraja X. Jatengger Siregar menantang Singamangaraja untuk melakukan perang tanding. Walaupun sudah berusia lanjut, namun Singamangaraja tak gentar dan menerima tantangan Jatengger Siregar yang masih muda. Duel dilakukan dengan menggunakan pedang di atas kuda.
Duel yang tak seimbang berlangsung tak lama. Singamangaraja kalah dan kepalanya dipenggal oleh pedang Jatengger Siregar. Terpenuhi sudah dendam yang tersimpan selama 26 generasi. Kepala Singamangaraja X ditusukkan ke ujung satu tombak dan ditancapkan ke tanah. Orang-orang marga Siregar masih belum puas dan menantang putra-putra Singamangaraja X untuk perang tanding. Sebelas putra-putra Singamangaraja memenuhi tantangan ini, dan hasilnya adalah 7—4 untuk kemenangan putra-putra Singamangaraja. Namun, setelah itu, penyerbuan terhadap Benteng Bakkara terus dilanjutkan, dan sebagaimana di tempat-tempat lain, tak tersisa seorangpun dari penduduk Bakkara, termasuk semua perempuan yang juga tewas dalam pertempuran.
Penyerbuan pasukan Paderi terhenti tahun 1820, karena berjangkitnya penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang tentara Paderi yang memasuki Tanah Batak tahun 1818, hanya tersisa sekitar 30.000 orang dua tahun kemudian. Sebagian terbesar bukan tewas di medan petempuran, melainkan mati karena berbagai penyakit.
Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, tahun 1820 Tuanku Rao bermaksud menarik mundur seluruh pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga rencana pengIslaman seluruh Tanah Batak tak dapat diteruskan. Namun Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama pasukannya tetap di Tanah Batak, untuk menghadang masuknya tentara Belanda. Ketika keadaan bertambah parah, akhirnya Tuanku Rao melakukan pembangkangan terhadap perintah Tuanku Imam Bonjol, dan memerintahkan sisa pasukannya keluar dari Tanah Batak Utara dan kembali ke Selatan. Enam dari panglima pasukan Paderi asal Batak, yaitu Tuanku Mandailing, Tuanku Asahan, Tuanku Kotapinang, Tuanku Daulat, Tuanku Ali Sakti dan Tuanku Junjungan, tahun 1820 memberontak terhadap penindasan asing dari Bonjol/Minangkabau dan menanggalkan gelar Tuanku yang dipandang sebagai gelar Minangkabau. Bahkan Jatengger Siregar hanya menyandang gelar tersebut selama tiga hari. Mereka sangat marah atas perilaku pasukan Paderi yang merampok dan menguras Tanah Batak yang telah ditaklukkan. Hanya karena ingin balas dendam kepada Singamangaraja, Jatengger Siregar menahan diri sampai terlaksananya sumpah Togar Natigor Siregar dan ia behasil membunuh Singamangaraja X
Mansur Marpaung (Tuanku Asahan) dan Alamsyah Dasopang (Tuanku Kotapinang) dengan tegas menyatakan tidak mau tunduk lagi kepada Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Nan Renceh, dan kemudian mendirikan kesultanan/kerajaan sendiri. Marpaung mendirikan Kesultanan Asahan dan mengangkat dirinya menjadi sultan, sedangkan Dasopang mendirikan Kerajaan Kotapinang, dan ia menjadi raja. Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air Bangis pada 5 September 1821, sedangkan Tuanku Lelo (Idris Nasution) tewas dipenggal kepalanya dan kemudian tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti, salah satu tawanan yang dijadikan selirnya.:'' sumber(lintas berita)

Si Singamangaradja XII, Pemimpin Perang Batak dan Muslim yang Taat

By Unknown | At 08.07.00 | Label : | 5 Comments

Perang Batak dipimpin oleh Si Singamangaradja XII pada, 1289- 1325 H/ 1872- 1907 M. Dalam sejarah Indonesia ditulis Si Singamangaradja XII sebagai penganut agama perpegu. Dalam realitas sejarahnya, Si Singamangaradja XII seorang Muslim yang sangat taat kepada ajaran Rasulullah Saw.
Dapat dibaca pada stempelnya. Tidak hanya menyebutkan dirinya sebagai Raja di Bakara. Namun juga, menuliskan Tahun Hijriah Nabi pada 1304. Pada umumnya, pada penulisan Tahun Hijriah, cukup dengan angka tahun diikuti tahun hijriahnya dengan disingkat dengan Huruf H saja. Tanpa Nabi.

Tidaklah demikian halnya dengan Si Singamangaradja XII. Dituliskan dengan lengkap penyebutan Hijriah Nabi. Benderanya Merah Putih. Didalamnya terdapat gambar pedang Rasulullah Saw yang bercabang dua. Di kanan dan kirinya terdapat pula lambang bulan dan matahari.
Bulannya merupakan bulan sabit seperti pada umunya lambang Islam. Namun disertakan pula garis lengkung didepannya sehingga membentuk bulan purnama.Mataharinya pun bukan seperti lambang Muhammadiyah dan Persatuan Islam, melainkan matahari dengan sinar delapan yang berarti melambangkan cahaya kejayaan kearah delapan penjuru angin. Dapat juga diartikan sebagai lambang empat sahabat Rasulullah Saw atau Khulafaur Rasyidin dan empat mahzab Fikih.
Dampak dari upaya Deislamisasi dalam penulisan sejarah Si Singamangaradja XII, meragukan bahwa Si Singamangaradja XII memeluk agama islam. Namun, kalau kita ikuti karya Sukatulis yang terbit 1907, menyatakan:
Volgens berichten van de bevolking moet de tegen, woordige titlaris een 5 tak jaren geleden tot Islam zijn bekeerd, doch hij werd geen fanatiek Islamiet en oefende druk op zijn ongeving uit om zich te bekeeren - Menurut kabar dari penduduk, raja yang sekarang ( maksud titularis adalah Si Singamangaradja XII ), sejak lima tahun yang lalu telah memeluk agama Islam yang fanatik. Namun dia ( Raja Si Singamangradja XII) tidak memaksa supaya orang- orang disekitarnya menukar agamanya, menjadi Islam.

Perang batak, pada 1289- 1325 H/ 1872- 1907 M berlangsung bersamaan dengan Perang Atjeh, pada 1290- 1332 H/ 1873- 1914 M. kedua perang ini tidak dapat dilepaskan hubungan dengan provokasi imperialis Keradjaan Protestan Belanda. Provokasi ini sangat dipengaruhi oelh perolehan keuntungan Tanam Paksa yang sangat besar. Melalui kedekatan kedua wilayah tersebut, tidak mungkin salah satu diantara keduanya, dalam tinjauan teori pelumpuhan sumber kekuatan lawan tanpa diserangnya.
Ambisi penyerangan Imperialis Keradjaan protestan  Belanda didorong pula oleh situasi semakin menguatnya kedudukan kerajaan- kerajaan imperialis protestan di Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat. Kondisi lain yang mendorong dipercepatnya penguasaan pulau sumatera, akibat dari semakin melemahnya kekuasaan kesultanan Turki di Mesir dan Afrika Utara. Kontak niaganya dengan Nusantara Indonesia dan India diputuskan oleh Imperialis belanda dan Inggris. Selain tu, acaman imperialis Amerika Serikat mulai merambah wilayah pasifik dan Asia tenggara.
Perang dimulai dengan serbuan Zending, terutama yang dipimpin oleh Rijinsche Zending, berhasil memasuki wilayah subur danau toba. Wilaya ini sebagai salah satu sumber potensi dari Si Singamangaradja XII. Invasi menjadi Si Singamangaradja XII mengadakan kontak dengan Aceh dan Sumatera Barat. Dalam melancarkan perlawanan bersenjata, Si Singamangaradja XII didampingi oleh dua panglima yaitu Panglima Nali dari Sumatera Barat dan Pangliam Teoekoe Mohammad dari Aceh. Mungkinkah Si Singamangaradja XII mau menerima tawaran untuk menyerah dalam perundingan, bila ayahnya, Si Singamangaradja XII mau menerima tawaran untuk menyerah dalam perundingan, bila ayahnya, Si Singamangaradja XI, dibunuh Belanda.
Perang terjadi selama 35 tahun, pada 1289- 1325 H/ 1872- 1907 M. Selama itu, Si Singamangaradja XII mempertahankan negerinya dari penjajahan kerajaan Protestan Belanda. Tiga puluh liam tahun bukanlah waktu yang pendek. Invasi serdadu Belanda, sebenarnya tidak cukup untuk menguasai wilayah Sumatera Utara seluas 3.69 persen dari luas wilayah nusantara atau 71.680 km2. Tambahan lagi, bersamaan waktunya dengan Perang Atjeh yang terjadi di wilayah 55.390 km2 atau 2.8 luas Indonesia.
Hanya dengan melancarkan Ruthless Operation (tanpa belas kasih) yang dipimpin oleh perwiranya callousness ( tanpa berperasaan), serta bantuan missionaris Nommensen dan Simoniet, memungkinkan perlawanan Si Singamangaradja XII dapat diperlemah. Apalagi , setelah Tjoet Nja Dhien tertangkap, pada 1322 H/ 1904 M dan dibuang ke Sumedang. Jawa Barat, menyusul Si Singamangaradja XII dan putrinya ,gugur sebagai syuhada, pada 1325 H Nabi/ 1907 M.
Keradjaan Protestan Belanda sangat berhutang budi kepada Nommensen dan Simoniet, besar jasanya membantu tegaknya imperialis Belanda di Sumatera Utara. Dan melumpuhkan perlawanan pejuang Islam, Si Singamangaradja XII dan putrinya, bersama para syuhada lainnya. Oleh karena itu, pada 1911 M Kerajaan protestan Belanda menganugerahkan kepada pembantu setia penjajah, Nommensen, dan Simoniet berupa Bintang Officer van oranye Nassau.:'' sumber (lintas berita com)

Asal Usul Orang Batak

By Unknown | At 08.04.00 | Label : | 0 Comments

Jauh beratus tahun dahulu sekitar abad keenam orang-orang India Selatan dan India Tengah telah diusir keluar oleh penakluk berbangsa Aryan yang gagah perkasa. Mereka berhijrah melintasi Gunung Himalaya ke Burma dan kemudiannya turun ke Semenanjung Tanah Melayu dan akhirnya setelah melintasi Selat Melaka mereka mendirikan penempatan di sekitar Batang Pane, Daerah Labuhan Batu. Kerajaan mereka dinamakan Munda Holing iaitu Kerajaan Keling dari Munda. Kerajaan ini berkembang dengan jayanya sehingga dapat meluaskan tanah jajahannya ke seluruh tepian pantai Selat Melaka hingga ke Singgora/ Patani.Mereka telah mendirikan sebuah candi yang sangat indah dan besar yang kini dinamakan Candi Portibi. Kerajaan ini juga dikenali sebagai Kerajaan Portibi.

Di abad kesembilan, kerajaan yang telah masyur ini mendapat perhatian Kerajaan India Selatan. Perluasan empayarnya telah membimbangkan Maharaja Rajenderasola dari India Selatan. Akhirnya Maharaja Rajenderasola telah menyerang Kerajaan Portibi pada awal abad kesembilan. 

Alkisah, mengikut ceritanya sewaktu Maharaja Rajenderasola menyerang Kerajaan Portibi itu Baginda telah ditentang oleh seorang putera Munda Holing bernama Raja Odap-Odap. Peperangan yang berlarutan itu memakan masa lebih kurang tujuh tahun sehinggalah Maharaja Rajenderasola beroleh kemenangan. Raja Odap-Odap yang tewas telah berkelana di Padang Lawas tanpa tentu arah tujuannya.

Hatta, kisah kerajaan Portibi pula semasa berlaku peperangan dengan Maharaja Rajenderasola, tunang kepada Raja Odap-Odap bernama Boru Deakparujar telah mendapat alamat supaya segera meninggalkan Kerajaan Portibi lantaran Dewata Raya sudah tidak lagi menyebelahi mereka. Lalu Puteri Deakparujar itu pun mengumpulkan pengikutnya serta menggenggam tanah Portibi dan berangkatlah menuju matahari naik. Mereka terpaksa mendaki sebuah gunung yang tinggi yang dinamakan oleh mereka Dolok Malea sempena nama Himalaya yang telah dilintasi oleh nenek moyang mereka di abad yang keenam. 

Akhirnya setelah menuruni Dolok Malea mereka telah sampai di satu kawasan yang pamah tetapi dikelilingi oleh bukit bukau. Mereka telah mendirikan penempatan yang baru untuk orang-orang Munda Holing tersebut. Penempatan tersebut dipanggil Pidoli yang kini terbahagi kepada Pidoli Dolok dan Pidoli Lombang. Puteri Deakparujar diangkat memerintah Kerajaan Mandala Holing iaitu kawasan orang-orang Keling. 

Kerajaan ini telah tegak dengan jayanya dan sekali lagi berkembang maju. Segala dagang senteri mula singgah dan berniaga di negeri tersebut hingga ianya termasyur ke mana mana.

Tersebut pula akan kisah tunangan Boru Deakparujar yang telah berkelana di Padang Lawas, akhirnya Raja Odap-Odap pun sampailah di Pidoli yang diperintah oleh Boru Deakparujar. Dalam keadaannya cumpang camping itu tidak seorang pun anak negeri yang kenal akan raja mereka tersebut. Lagipun tempoh perpisahan yang begitu lama selama tujuh belas tahun tentulah masing-masing sudah berubah. Raja Odap-Odap pun dibawa masuk mengadap Puteri Deakparujar untuk mendapatkan pekerjaan bagi menampung hidupnya. Adat dahulu kala apabila rakyat mengadap raja, ianya hendaklah merangkak kehadapan singgahsana lalu sujud di kaki raja tersebut. Keadaannya yang cumpang camping dengan pakaian kulit binatang yang masih belum dibuang ekornya itu mmberikan gambaran yang Raja Odap-Odap itu keadaannya seperti cicak yang merangkak. Maka itu hingga ke hari ini di setiap rumah adat orang-orang Batak akan kelihatan gambar cicak sebagai simbol pertemuan Raja Odap-Odap dengan tunangannya Boru Deakparujar di Pidoli.

Raja Odap-Odap diambil bekerja di kandang kuda Puteri Deakparujar kerana kecekapannya memelihara kuda. Pada suatu hari Puteri Deakparujar telah dihadiahkan seekor kuda jantan yang sangat garang hingga tiada sesiapapun yang dapat menjinakkannya sedangkan Puteri tersebut kepingin untuk menunggangnya.Setelah banyak gembala kuda mencuba untuk menjinakkannya tetapi semuanya gagal  juga. Maka pada suatu hari Raja Odap-Odap pun diminta oleh Tuan Puteri supaya menjinakkan kuda tersebut.

Bagitu Raja Odap-Odap menghampiri kuda tersebut ianya menundukkan kepalanya setelah diusap-usap kepalanya. Raja Odap-Odap pun menunggang kuda tersebut dengan baiknya. Semua yang hadir kehairanan dan tercengang-cengang.

Memandangkan Raja Odap-Odap telah berjaya menjinakkan kuda liar tersebut Puteri Deakparujar pun sangat gembira lalu dipersalinkannya Raja Odap-Odap dengan pakaian yang baik-baik setelah selesai disintuk, berlangir dan mandai. Begitu siap dipersalinkan maka dibawalah mengadap Tuan Puteri. Alangkah terkejutnya Tuan Puteri apabila melihat wajah Raja Odap-Odap yang mirip wajah tunangannya. Hampir sahaja Tuan Puteri pengsan jika tidak cepat disambut oleh dayang-dayangnya. 

Mengikut adat hamba tidak dibenarkan menatap wajah raja maka keadaan tersebut tidak diketahui oleh Raja Odap-Odap, hinggalah Tuan Puteri memintanya mengangkat mukanya menatap wajah Baginda. Kedua-duanya amat terperanjat dan terpinga-pinga kerana tidak disangka mereka akan bertemu dalam keadaan sedemikian rupa. Apabila kedua-duanya telah kenal antara satu sama lain lalu bertangisanlah mereka. Gemparlah seluruh istana di Pidoli menyatakan bahawa gembala kuda raja itu sebenarnya adalah putera Munda Holing yang hilang sekian lama.

Keaadaan sedih menjadi gembira, lalu kedua anak raja itu pun dikahwinkan dengan acara yang paling meriah selama empat puluh hari empat puluh malam. Kedua-duanya pun memeintahlah Kerajaan Mandala Holing di Pidoli tersebut. Namun begitu barang yang telah ditetapkan oleh Puteri Deakparujar tidak pernah dihalang oleh Raja Odap-Odap, begitulah hormatnya baginda akan tuan puteri yang merupakan tuan rumahnya.

ASAL BATAK

Keturunan keenam dari Boru Deakparujar dan Raja Odap-Odap, salah satu darinya bernama Datu Dandana Debata. Dia adalah seorang yang banyak saktinya dan menjadi Datu/Pawang di istana raja pada masa itu. Anaknya adalah keturunan ketujuh dari Boru Deakparujar bernama RAJA BATAK. Beliau juga seperti ayahnya sangat handal dan tinggi ilmu batinnya.

Oleh kerana masyarakat Mandala Holing berasal dari India yang mengamalkan sistem kasta maka itu keturunan raja adalah dilarang bercampur darahnya dengan darah hamba. Pantangan ini sangat keras pada masa itu.

Ditakdirkan oleh Dewata Raya, ketua bagi segala hatoban iaitu Datu Ompung Dolom yang duduk di Sopo Godang tetapi tidak boleh bersuara kecuali menerima kerja, mempunyai seorang puteri yang sangat jelita.

Walaupun telah ditegah tetapi Raja Batak tetap dengan pendiriannya untuk menggauli anak Datu Ompung Dolom tersebut, hinggakan mengandung. Apabila berita tersebut diketahui oleh Raja maka perintah menangkap Raja Batak pun dikeluarkan. Namaun begitu tidak ada seorang pun yang dapat menangkap Raja Batak yang sakti itu, malah ramailah panglima yang terkorban di dalam usaha mereka untuk menangkap Raja Batak tersebut.

Setelah habislah ikhtiar untuk menangkap Raja Batak maka Datu Dandana Debata pun dipanggil raja untuk mencuci arang di muka. Apabila raja bersungguh-sungguh meminta supaya Raja Batak dibuang maka sembah Datu Dandana Debata kepada Baginda:

"Ampun tuanku beribu-ribu ampun, sembah patik mohon diampun, akan Raja Batak itu tidak akan ada sesiapapun yang boleh membunuhnya. Telah patik turunkan segala ilmu dan muslihat peperangan kepadanya. Lagipun tidak boleh kita menitiskan darah raja di tano handur, tano malambut, tano lulambu jati, tano padang bakkil Mandailing, tano si ogung-ogung. Sian i ma dalan tu ginjang, partuatan ni omputa, Debata na tolu suhut, na tolu sulu, na opat harajaon, tu banua tonga on......"

Raja pun terdiam, lalu berjanji tidak akan membunuh Raja Batak atau menitiskan darahnya. Setelah menerima pengakuan bahawa anaknya tidak akan dibunuh atau dicederakan maka Datu Dandana Debata pun menyuruh orang membuat jala tiga warna iaitu warna putih, merah dan hitam yang menjadi warna adat dan keramat sehingga hari ini. Apabila jala tiga warna itu siap Datu Dandana Debata pun naik ke atas bumbung rumah anaknya lalu diminta orang memanggil Raja Batak keluar bermain senjata di halaman rumah. Begitu Raja Batak keluar ke halaman rumah ayahnya pun menebarkan jala tiga warna lalu terperangkaplah Raja Batak dan gugurlah segala kesaktiannya.

Sejak itulah maka semua Bagas Godang/ Istana Raja di Mandailing dilentik naik hujung atap rumahnya, agar tidak ada orang yang boleh menebarkan jala dari atas bumbungnya.

SUMPAHAN KE ATAS RAJA BATAK

Apabila Raja Batak dihadapkan di dalam sidang adat maka ia telah dihukum buang daerah bersama seluruh keturunan Datu Ompung Dolom. Pada hari tersebut lalu disebutlah:

"Hee....kamu Siraja Batak  nyah/ pergilah kamu dari Tanah Mandailing ini sebagai orang yang hina, orang yang tidak tahu adat, orang yang degil/bendal dan orang yang kasar serta rendah martabatnya.....Kamu diusir ke sebuah pulau yang terletak di atas gunung yang dikelilingi oleh air di tanah gersang yang tiada tumbuh-tumbuhan yang subur yang terpencil dari penglihatan manusia dan binatang....Barang ada keturunanmu hendaklah ia memulakan namanya dengan panggilan Si.....sebagai orang yang hina dari martabat yang rendah.....Tidak boleh di antara kamu memakai perhiasan dari logam kecuali daripada manik tandanya kamu dari keturunan orang yang terbuang....Tidak boleh kamu meninggalkan pulau tersebut selama tujuh keturunan kamu, jika ada yang kemudiannya mendirikan kampung di tanah besar nanti, hendaklah dikelilingi oleh rumpun bambu supaya jelas bahawa kamu adalah dari keturunan yang hina...."

Begitulah kira-kiranya sumpahan ke atas Siraja Batak dan keturunannya selama tujuh generasi. Mereka telah dipisahkan dari pandangan manusia dan binatang, selama tujuh keturunan kerana kesalahan menentang adat dan raja.

Oleh kerana Siraja Batak dibuang bersama seluruh anggota keluarga Datu Ompung Dolom yang merupakan ketua segala hamba maka itu kita dapati dari segi fizikal terdapat perbedaan yang sangat ketara antara Mandailing dan Batak.

Orang-orang Batak biasanya pendek-pendek, rambut kerinting dan kepalanya benjol ke belakang.

Orang Mandailing asli agak tinggi dan tegap, rambutnya ikal mayang, kulit putih kemerah-merahan atau putih kuning.

Walaupun asal usul orang Batak itu dari Tanah Mandailing tapi kedudukan mereka sebenarnya adalah keturunan Datu Ompung Dolom yang merupakan kasta rendah yang menjadi hamba di Mandala Holing iaitu Pidoli kecuali Siraja Batak itu sahajalah elemen Mandailing yang asli.

Oleh yang demikian jelaslah Mandailing itu bukanlah BATAK walaupun BATAK itu asalnya dari Tanah Mandailing.

Siraja Batak itu keturunan ketujuh kepada Boru Deakparujar lalu dibuang dan disumpah untuk tujuh keturunan maka itu orang Batak sentiasa berpegang kepada angka tujuh sebagai angka sakti dan keramat sedangkan orang Mandailing menganggap angka sembilan sebagai angka raja.

SEKITAR BATAK DAN MANDAILING

Banyak telah diperkatakan oleh berbagai orang mengenai Batak dan Mandailing. Umpamanya Batak Mandailing. Batak itu terbahagi kepada lima kumpulan iaitu Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Mandailing dan Batak Pakpak.

Andaian seperti ini telah mengelirukan ramai orang. Ada pula mengatakan bahawa Mandailing itu asalnya dari Toba turun ke Mandailing.

Logiknya semua tamadun tidak pernah wujud dari gunung lalu turun ke lembah. Biasanya tamadun itu bermula dari kuala sungai dan naik ke lembah lalu ke gunung. Kawasan lembah adalah sumber bagi segala kehidupan sama ada di darat, di sungai ataupun dilaut.

Perhubungan juga adalah melalui muara sungai ke laut. Mereka yang mendiami dataran tinggi atau gunung adalah terdiri daripada orang yang kalah perang ataupun orang yang diusir dari masyarakat adat yang bertamadun.

Di abad ketigabelas hikayak Jawa ada mencatitkan mengenai serangan tentera Majapahit ke atas Lamuri dan Mandailing tetapi nama Batak tidak tercatit samasekali. Jelaslah bahawa Mandailing itu sudah jauh bertapak dan diketahui pada masa itu.

Tonggo-tonggo Siboru Deakparujar masih dibacakan di dalam setiap upacara kecil atau besar orang-orang Batak. Di sana ia menyatakan bahawa jalan ke kayangan dan tempat temasya nenek moyang orang Batak adalah di Mandailing. Bukankah ertinya mereka mengakui bahawa asal usul mereka orang Batak datang dari Tanah Mandailing? Maka itu Mandailing itu lebih awal dan lebih dahulu ada sebelum adanya orang Batak. Bagaimana pula akhir ini Mandailing pula menjadi Batak?

Peranan orang Batak mulai tampil kehadapan apabila mereka memeluki agama Kristian di zaman penjajahan Belanda di Indonesia. Oleh kerana mereka beragama Kristian sedangkan orang Mandailing majoritinya beragama Islam maka orang-orang Batak telah diberikan tempat istimewa dalam pentadbiran kerajaan Belanda di Indonesia. Lama kelamaan mereka menguasai sebahagian besar teraju pentadbiran lalu menjadi terkenal. Atas dasar tersebutlah maka kedudukan orang Batak menjadi kukuh dan dominan lalu suku kaum Mandailing yang satu ketika merupakan bangsa yang tamadun dan tinggi martabatnya tenggelam begitu sahaja.

Pengaruh Islam yang kuat di kalangan orang Mandailing juga telah melenyapkan sebahagian besar identiti budaya dan tulisan orang Mandailing. Akhirnya semua itu tidak lagi merupakan warisan yang penting kepada orang Mandailing, sedangkan di Toba semuanya dipertahankan.

Salasilah atau torombo Raja-Raja Mandailing sama ada dari Marga Nasution atau Lubis tidak satu pun menunjukkan bahawa mereka berasal dari Toba atau Karo sebaliknya mereka adalah masing-masing berasal dari Minangkabau dan Bugis.

Penggunaan perkataan SIRAJA BATAK, apabila pangkalnya ditambah dengan perkataan 'SI' ianya menunjukkan kedudukan dan martabat orang yang rendah. Dalam istilah purbakala jika seseorang itu dari keturunan bangsawan ianya menggunakan panggilan pangkalnya 'SANG' umpamanya Sang Sapurba, Sang Adika, Sang Nila Utama dan sebagainya.

Binatang-binatang yang gagah juga dipanggil Sang Harimau, Sang Buaya, Sang Purba/ Gajah tetapi kepada binatang yang kecil dan lemah dipanggil Sikatak, Sicicak, Sikera dan sebagainya.

Begitu juga keadaannya dengan manusia yang lemah dan tidak mempunyai darjat lalu dipanggil Siluncai, Siawang, Sikodok, Sibuyung dan sebagainya.

Perbedaan ini jelas sekali apabila marga-marga di Tanah Batak menggunakan pangkal perkataannya dengan istilah 'SI' iaitu Sinambela, Simanjuntak, Sinaga, Siotang, Siregar dan sebagainya.

Marga-marga di Tanah Mandailing tidak satu pun menggunakan istilah pangkalnya dengan perkataan 'SI' contohnya Nasution, Lubis, Rangkuty, Batubara, Parinduri dan sebagainya.

Walaupun berbagai tafsiran dapat kita kemukakan, namun satu perkara yang tidak dapat dinafikan ialah kawasan Toba adalah tanah gersang. Tidak akan ada manusia primitif yang sengaja ingin ke sana untuk membuka penempatan. Manusia lazimnya mencari tanah yang subur untuk bercucuk tanam kerana itulah sumber kehidupan masyarakat dahulu kala.

Sifat dan sikap orang Batak adalah kasar, tidak teratur dan tidak dapat mengawal perasaannya. Ciri-ciri perwatakan mereka ini menunjukkan bahawa mereka memanglah terdiri dari manusia yang kurang sopan. Maka itu di Mandailing apabila anak mereka jahat atau bandel secara spontan mereka akan mengeluarkan istilah "Bataknya kau ini"

Istilah tersebut telah digunakan berkurun-kurun lamanya hinggakan masyarakat Mandailing telah lupa sejarah istilah tersebut merujuk kepada Siraja Batak yang derhaka kepada raja dan tidak mahu mengikut peraturan adat pada zaman dahulu kala.

Dari nama Siraja Batak itulah seluruh keturunannya dan juga keturunan Datu Ompung Dolom yang merupakan ketua segala hamba ataupun hatoban dipanggil "BATAK" iaitu orang-orang Batak.

Perlu ditegaskan bahawa perkataan "BATAK" bukanlah bermaksud ianya satu bangsa, tetapi sebaliknya ia adalah satu istilah yang digunakan oleh oang Mandailing untuk menunjukkan sikap seseorang yang tidak tahu adat dan peraturan, orang kasar dan tidak terkawal sikapnya. Ini juga menunjukkan tentang status dan kedudukan orang yang dimaksudkan itu rendah martabatnya. Namun pada masa sekarang, lantaran pengaruh Belanda di zaman penjajah begitu kuat maka istilah Batak/ orang Batak yang kebanyakannya Kristian telah diangkat mendiami Sumatera Utara iaitu di Tapanuli.

KEBANGKITAN BATAK

Di abad ke tigabelas tentera Majapahit telah menyerang Mandailing iaitu Kerajaan Mandala Holing yang berpusat di Pidoli. Dengan itu hancurlah kerajaan Mandala Holing dan pengaruh agama Hindu di Tapanuli Selatan.

Saki baki orang-orang Munda telah lari bertempiaran ke dalam hutan untuk menyelamatkan diri masing-masing. Mereka yang tertawan telah dibawa sebagai hamba abdi.

Di akhir abad ke tigabelas saki baki tentera Mandala Holing telah dapat berkumpul dan bergaul dengan masyarakat peribumi di sekitar Aek Batang Gadis lalu mereka telah mewujudkan marga Poeloengan yang kemudiannya berjaya mendirikan tiga bagas godang mereka di atas tiga puncak gunung. Namun begitu kerajaan tersebut hanya merupakan kerajaan kampung sahaja.

Orang-orang Batak yang terbuang di Pulau Simosir telah dapat membangunkan semula adat kepercayaan mereka yang bergaul antara kepercayaan Hindu dan aninisme serta penyembahan roh-roh nenek moyang mereka. Pusat mereka ialah di Busut Puhit.

Kedatangan misi Kristian ke Tanah Batak telah mengubah keadaan hidup masyarakat orang Batak yang tidak mempunyai kepercayaan teguh kepada mana-mana agama. Kebanyakan mereka telah memeluk agama Kristian.

Setelah mereka menganut agama Kristian pihak penjajah Belanda  membawa mereka ke alam pembelajaran, penulisan dan pembacaan. Oleh kerana pihak Belanda memerlukan tenaga kerja sebagai perantaraan penjajah dengan masyarakat peribumi maka orang-orang Batak yang telah diKristiankan ini menjadi pilihan utama untuk menjalankan dasar pecah dan perintah tersebut.

Orang Batak secara tidak langsung telah mendapat tempat di dalam setiap bidang pentadbiran Belanda. Kedudukan ekonomi dan status  sosial mereka mulai meningkat.

Orang-orang Mandailing yang telah memeluk agama Islam sewaktu gerakan tenteri paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol dan pengikutnya menjadi golongan fanatik agama. Mereka menentang apa sahaja pembaharuan yang dibawa oleh Belanda.

Memandangkan adat istiadat nenek moyang mereka banyak yang bertentangan dengan agama Islam maka orang-orang Mandailing telah membuang adat resam mereka yang telah diamalkan sejak dahulu. Lama kelamaan dari segi adat budaya, tulisan dan pertuturan orang Mandailing mulai kehilangan keutuhannya.

Berbeda dengan orang Batak walaupun mereka telah memeluk agama Kristian mereka tetap berpegang teguh kepada adat resam dan budaya mereka. Sehingga sekarang orang Batak masih dapat bertahan dan terus mempertahankan adat budaya dan tulisan mereka.

Kekuatan dan ketahanan adat resam, budaya hidup, kesenian, tulisan dan bahasa Batak ini telah ditonjolkan oleh mereka dari zaman ke zaman sehinggalah mereka bangkit sebagai satu suku bangsa yang kuat dan utuh.
Seperkara lagi orang-orang Batak telah berjaya menghidupkan kegemilangan warisan sejarah mereka dari semua sudut, sama ada sejarah anthropologi, arkiologi atau sejarah patriotismenya.Sisingamangaraja telah ditonjolkan sebagai salah seorang pahlawan kebangsaan dari keturunan Batak. Malangnya orang-orang Mandailing telah gagal berbuat sedemikian hingga kesan mereka ke atas masyarakat Indonesia langsung tidak mempunyai signifikan.

Satu lagi contoh yang nyata ialah Batak Toba mempunyai contoh rumah adat mereka yang lengkap dan teratur. Begitu juga dengan Batak Karo dan Batak Simalingun semuanya mempunyai rumah adat yang terpelihara keasliannya. Rumah orang Mandailing tidak mempunyai rumah adat yang boleh ditonjolkan sebagai senibina yang mempunyai ciri-ciri tersendiri.

Tulisan-tulisan Batak atau askara Batak masih lagi ditampilkan kepada umum bahkan dijadikan bahan antik dan unik kepada para pelancong. Dengan cara begini orang Batak telah mengekalkan ciri-ciri budaya mereka. Danau Toba pula telah meletakkan orang-orang Batak di peta dunia kerana pelancong dari seluruh pelusuk dunia terus menerus berjunjung ke sana. Malangnya sumber semula jadi di Tanah Mandailing tidak pernah digunakan bagi memperkukuhkan warisan budaya masyarakat Mandailing.

Ulos Batak pada masa kini menjadi buah tangan kepada pelancong yang melawat ke tempat-tempat mereka. Anehnya kain Tenunan Patani yang merupakan pakaian orang Mandailing itu sendiri sudah tidak ada. Jika ada pun ianya dalam simpanan orang-orang tua yang kini keadaannya terlalu usang dan reput. Rombongan kesenian ataupun kumpulan muzik orang-orang Batak kelihatan menjelajahi ke seluruh dunia sama ada di Asia Tenggara, Eropah ataupun Amerika. Suara mereka dan petikan gitar mereka telah memikat jutaan penonton dan pendengarnya. Mereka menjadi duta tidak rasmi dalam memperkenalkan suku kaum Batak ke seluruh dunia.

Buku-buku mengenai sejarah orang-orang Batak tidak putus-putus dicetak dalam berbagai-bagai bahasa dengan memperbesar-besarkan asal usul mereka. Ada yang mencatitkan bahawa suku Batak ini sudah wujud tiga ribu tahun yang lalu dan sebagainya. Sejarah asal usul orang Mandailing belum pernah dibukukan secara ilmiah dan tidak pernah diterjemahkan kepada bahasa-bahasa lain. Justeru itu siapakah yang akan tahu tentang orang Mandailing?

Kebangkitan orang Batak selepas penjajahan Belanda sangat ketara dan teratur. Misi Kristian telah menonjolkan kedudukan mereka di dalam masyarakat Indonesia dan mayarakat antarabangsa sehinggakan nama Mandailing tenggelam dan menjadi serpihan kepada suku kaum Batak. Hari ini mereka memperkenalkan orang Mandailing sebagai BATAK MANDAILING pada hal pada suatu ketika dahulu oang Mandailing adalah satu bangsa berasal dari Munda. 

Bukankah sebenarnya Batak itu asalnya dari Tanah Mandailing yang menjadi serpihan dibuang ke tanah gersang terpencil di pergunungan. Agak aneh nama mereka yang didahulukan dan nama Mandailing telah dtenggelamkan. 

Sekiranya kita melawat ke Simosir, kita dapati orang-orang Batak begitu bersungguh-sungguh cuba menghidupkan semula nilai budaya dan kesenian mereka. Jelas kelihatan rumah-rumah mereka dihiasi dengan 3 warna: putih, merah dan hitam sebagai  lambang warna adat yang keramat.

Warna-warna tersebut adalah mewakili tiga benua yang menjadi kepercayaan orang Batak. Banua Ginjang, Banua Tonga dan Banua Toru. Ketiga-tiga benua ini pula dijaga oleh tiga dewa yang dikenali sebagai Manggala Bulan menjaga Banua Ginjang yang dilambangkan dengan warna putih. Dewa Soripoda mengawal Banua Tonga yang dilambangkan dengan warna merah. Betara Guru yang mengawal Banua Toru dilambangkan pula dengan warna hitam.

Dari segi ilmu perdatuan pula ketiga-tiga warna tersebut melambangkan darah putih, darah merah dan darah hitam yang terdapat di dalam tubuh badan kita.

Warna-warna putih, merah dan hitam kini menjadi warna adat dan keramat kepada orang Batak. Mereka juga percaya bahawa dunia ini dicipta oleh Mulajadi Na Bolon sebagai Dewata Raya yang maha berkuasa.

Dari sudut alat muzik orang Mandailing menggunakan Gordang Sembilan di dalam setiap upacara adat mereka. Orang-orang Batak pula menggunakan gendang tujuh atau gendang lima yang bersaiz kecil sahaja.

Bagi orang Batak angka tujuh dianggap sebagai angka sakti atau keramat yang mempunyai kuasa mistik. Segala sumpahan atau perdatuan, mereka menggunakan angka tujuh.

Orang Mandailing pula menganggap bahawa angka sembilan itu sebagai angka raja, angka terbesar dan yang hidup terus menerus. Angka tiga pula dianggap sebagai angka adat berdasarkan Dalian Na Tolu iaitu Mora, Kahanggi dan Anak Boru.

Orang Batak juga berpegang kepada adat budaya Dalian Na Tolu sepertimana orang Mandailing cuma tafsiran mereka sahaja yang berlainan mengenai erti Dalian Na Tolu tersebut. Bagi orang Batak Dalian Na Tolu itu ertinya tiga batu tungku yang digunakan untuk menanak nasi yang mana ianya saling bergantung antara satu sama lain. Pada dasarnya konsep Dalian NaTolu sama sahaja. Mereka mengasakan kepada Huta-Huta, Dongon Sabutuha dan Anak Boru.

Sama ada Mandailing atau Batak asas budaya Dalian Na Tolu itu adalah berpegang kepada peranan Mertua, Anak saudara dan Menantu. Ketiga-tiga elemen ini memerlukan antara satu sama lain bagi mewujudkan kesepakatan dan pergantungan sesuatu keluarga. Mereka percaya bahawa asas kebahagian dan kejayaan sesuatu keluarga tersebut adalah bergantung kuat atas kerjasama ketiga-tiga pihak tersebut.

Keluarga memainkan peranan utama di dalam pola kehidupan masyarakat Tapanuli sama ada Mandailing ataupun Batak. Mereka sangat membanggakan keluarga dan hidup berkeluargaan. Dalam hal nikah kahwin pula, biasanya dilakukan di antara sepupu mereka.

PENUTUP

Kesimpulannya asal usul orang-orang Batak adalah dari Tanah Mandailing berketurunan hamba dari Munda Holing. Hanya Siraja Batak sahaja dari keturunan bangsawan. Selainnya adalah dari keturunan Datu Ompung Dolom, Ketua segala hatoban.

Walaupun suku Batak ini dari Mandailing tetapi mereka adalah dari kasta yang rendah. Bentuk tubuh badannya agak kecil dan kepalanya kelihatan bebenjol di belakang berbeda dengan orang Mandailing yang lebih tinggi dan tegap, rambutnya ikal tidak kerinting halus seperti orang Batak asli.

Sifat orang Batak adalah kasar, tidak terkawal perasaannya.Suara mereka agak kuat. Dalam perbualan atau percakapan biasa pun nampak seolah-olah mereka sedang bertengkar.

Pembawaan mereka agak liar dan sentiasa suka bertengkar dan bergaduh mahupun sesama sendiri. Sikap seperti ini sangat jelas kelihatan di mana-mana juga mereka berada. Kelakuannya sembrono dan jarang sekali menghormati hak-hak orang lain.

Seperkara lagi orang Batak agak pengotor dan kurang berkemas kecuali mereka yang telah merantau ataupun telah maju di dalam kehidupannya.

Apa yang jelas ialah sifat dan sikap orang Batak itu tidak ada pada orang Mandailing. Kemungkinan besar ianya tertanam sejak dari nenek moyang mereka Datu Ompung Dolom ataupun disebabkan keadaan hidup yang tidak mengizinkan mereka berkelakuan lebih baik.

Walau bagaimanapun keadaan kini sudah banyak berubah. Mungkin alam sekelilingnya mempengaruhi perubahan itu atau kemajuan masyarakat setempat telah membawa perubahan tersebut. Namun begitu pada dasarnya sifat semula jadi ini masih juga dapat dikesan pada sesuatu masa tertentu.

Keaadaan masyarakat selepas merdeka telah banyak membawa pembaharuan Kehidupan dahulukala yang dibelenggu oleh adat mulai terhakis. Kahwin campur juga telah membawa banyak perubahan hidup dan cara hidup selain dari perpindahan penduduk dari satu tempat ke satu tempat lain serta pengaruh alam sekeliling. Pergaulan bebas di kota telah membawa pengertian hidup yang lebih luas bagi semua suku bangsa. Selain itu pelajaran telah dan pendidikan memainkan peranan penting mengubah sikap sesuatu suku bangsa itu.

Pada masa ini agak sukar untuk membedakan keaslian keturunan seseorang itu akibat percampuran hidup yang bebas di dalam negara merdeka ini.

Dicopy dari Google
Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz