Tampilkan postingan dengan label Muslim Dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslim Dunia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juni 2011

Saatnya memahami Islam dan Muslim Amerika

By Unknown | At 10.12.00 | Label : , | 0 Comments


oleh: John L. Esposito dan Sheila B. Lalwani

MUSLIM Amerika perlu mendapat sebuah kesempatan. Ada sebanyak enam hingga delapan juta Muslim yang tinggal di Amerika Serikat dan mengabdi kepada negara ini sebagai dokter, insinyur, seniman, aktor dan profesional, tapi selama satu dasawarsa banyak yang merasa diri mereka dan agama mereka secara keliru dipersamakan dengan tindakan-tindakan teroris seperti Osama bin Laden. Banyak yang telah menjadi korban ketakutan, kecurigaan dan prasangka, aksi hajar Muslim, pengawasan tidak berdasar hukum, serta pencarian, penangkapan dan pemenjaraan ilegal.

Upaya-upaya untuk membangun pusat kajian Islam dan masjid di New York, Wisconsin, Kentucky dan Tennessee telah dipersamakan dengan pembangunan monumen-monumen terorisme. Para tokoh dan politisi terkenal – termasuk Bill O’Reilly, Sarah Palin, anggota Kongres Peter King dan Newt Gingrich – secara terbuka menyudutkan Muslim dan mendorong kecurigaan sosial tidak berdasar terhadap mereka. Hasilnya adalah meningkatnya sikap anti-Islam dan anti-Muslim, yang bisa disaksikan dalam histeria yang memunculkan sebuah gerakan di sekitar 20 negara bagian Amerika untuk melarang syariat Islam.

  Berbagai perubahan bersejarah akhir-akhir ini, kematian Usamah bin Ladin dan “Musim Semi Arab”, memberi sebuah peluang untuk membenahi bias anti-Islam dan anti-Muslim (Islamofobia) dan untuk menegaskan kembali bahwa orang-orang Amerika Muslim, sama seperti orang Amerika lainnya, menginginkan Amerika yang aman dan demokratis. Di samping fakta bahwa orang Amerika Muslim telah selama bertahun-tahun harus menjelaskan kalau mereka – ataupun agama mereka – mendukung terorisme.

Berbagai jajak pendapat utama telah secara konsisten menunjukkan bahwa opini masyarakat Amerika tentang Islam tengah turun drastis. Kehebohan seputar rencana pembangunan pusat keislaman (Park 51) di New York City mempertebal kebencian terhadap Islam dan Muslim.
Menurut Pew Forum on Religion & Public Life, minoritas-besar mengatakan mereka tidak tahu apa pun yang positif tentang Islam. Dalam sebuah penelitian, 38 persen orang Amerika punya pandangan buruk tentang Islam, dibandingkan 30 persen yang punya pandangan positif. Penelitian lain yang dilakukan oleh The Washington Post menemukan bahwa citra buruk tentang Islam merambat naik hingga 49 persen di kalangan orang Amerika.

Ketakutan dan kebencian ini telah dikukuhkan oleh ketidaktahuan mendasar publik Amerika dan kesalahpahaman tentang Islam: survei Pew Forum pada September 2010 tentang literasi agama mendapati bahwa hanya sekitar separo orang Amerika tahu kalau al-Qur’an adalah kitab suci Islam.
Ditemukan pula bahwa kurang dari sepertiga orang Amerika tahu kalau sebagian besar orang Indonesia – negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia – adalah Muslim. Yang banyak orang tahu dan takuti adalah stereotipe berdasarkan informasi yang keliru.

Muslim Amerika arus utama telah terlampau sering dipersamakan secara keliru dengan para teroris dan orang-orang yang menolak demokrasi. Muslim Amerika sangat mengharapkan kebebasan-kebebasan yang dijamin oleh Konstitusi AS sama seperti warga lainnya, dan sebagaimana dilaporkan Jajak Pendapat Dunia Gallup di 35 negara Muslim, seperti semua orang Amerika, mayoritas Muslim di dunia menginginkan demokrasi dan kebebasan serta mengkhawatirkan dan menolak ekstremisme agama dan terorisme.

Kegagalan untuk mengenali dan mengapresiasi fakta-fakta ini terus memupuk Islamofobia di Amerika yang mengancam keselamatan, keamanan dan kemerdekaan sipil banyak Muslim Amerika meskipun faktanya, seperti ditunjukkan oleh jajak pendapat Gallup maupun Pew, mereka terintegrasi secara pendidikan, ekonomi dan politik sama seperti orang Amerika lainnya.

Saatnya untuk mengingat dan menindaklanjuti kata-kata Presiden George W. Bush yang menyeru semua orang Amerika agar membedakan antara agama Islam dan perbuatan sekelompok Muslim yang melakukan aksi terorisme.

Saatnya untuk menutup telinga dari para penceramah dan politisi yang mengobarkan kebencian, dan lebih memahami orang-orang Amerika yang Muslim.

###

John L. Esposito, penulis The Future of Islam, ialah Direktur Pendiri Center for Muslim-Christian Understanding di Georgetown University. Sheila B. Lalwani ialah seorang peneliti di pusat kajian tersebut. Artikel diambil dari Kantor Berita Common Ground (CGNews).  

Rabu, 11 Mei 2011

Muslim Parlemen Australia Pertama Rayakan Perbedaan

By Unknown | At 09.32.00 | Label : | 0 Comments

 

SYDNEY, AUSTRALIA (Berita SuaraMedia) – Anggota Parlemen federal Muslim pertama Australia telah membicarakan tentang pentingnya tidak hanya untuk mentoleransi, namun juga pentingnya untuk tetap terbuka kepada mereka yang berasal dari latar belakang atau agama yang berbeda. Hal itulah apa yang membantu Ed Husic menjadi anggota baru untuk kursi bagian barat Sydney, Chifley.
Mantan bos persatuan dan anak dari pendatang tersebut memberikan pidato pertamanya di depan para kolega dari partai Buruh, ketika ia membicarakan tentang pentingnya memeluk multikulturalisme.
"Pandangan fundamental dunia saya terletak pada inti gagasan keseimbangan," ia mengatakan.
"Saya tidak hanya mentoleransi pandangan-pandangan alternatif, saya masih tetap terbuka terhadap mereka, saya belajar dan tumbuh dari mereka.
"Kita seharusnya merayakan pandangan-pandangan berbeda dan ide-ide yang berbeda.
"Multikulturalisme adalah mengapa negara kita menjadi negara yang hebat."
Husic diserang selama masa kampanye pemilihannya oleh mantan kandidat Liberal David Baker, yang pada akhirnya didepak karena mengatakan tidak seharusnya ada seorang Muslim di dalam parlemen.
Terlihat di dalam galeri oleh pendahulunya Roger Price, yang memegang Chifley selama 26 tahun, Husic mengatakan bahwa parlemen harus mengkapitalisasi tentang bakat dari semua orang.
"Ketika kita memanfaatkan semua keinginan baik dan bakat di seluruh sudut tanah ini, dari pemilik pertama kita sampai yang baru-baru ini tiba, kita membangun salah satu dari negara yang paling besar di atas planet ini.
"Saya terus-terusan melanjutkan menarik inspirasi dari sebuah negara yang keberhasilannya datang dari belakang yang kebanyakan – tanpa memandang latar belakang mereka."
Bulan lalu, Husic membuat sejarah ketika ia disumpah masuk ke dalam parlemen, Anggota Parlemen pertama yang melakukan sumpah tersebut dengan tangannya di atas sebuah kitab suci Al-Qur'an.
"Kedatangan saya di sini pada akhirnya membawa bersama-sama para anak-anak Ibrahim … umat Kristen, Yahudi dan Muslim," ia mengatakan.
"Bekerja bersama dengan nilai-nilai lain orang-orang untuk kebaikan nasional, bersatu di bawah satu atap ini."
Sebuah produk yang bangga dari sistem pendidikan umum, Husic yang berbasis di Blacktown mengatakan bahwa pendidikan dan perawatan awal masa kanak-kanak akan menjadi beberapa kunci fokusnya.
Perubahan iklim dan menajemen ekonomi yang kuat juga ada di dalam agendanya. (ppt/smh) www.suaramedia.com

Muslim Spanyol Buktikan Islam Bukan Penghalang Integerasi

By Unknown | At 09.29.00 | Label : | 0 Comments
MADRID (Berita SuaraMedia) – Beradaptasi dengan baik dengan gaya hidup masyarakat Spanyol, mayoritas Muslim Spanyol merasa berada di rumah, menekankan bahwa Islam bukanlah penghalang untuk menjadi warga negara Spayol. "Saya telah tinggal di sini selama bertahun-tahun lamnya," Ibrahim Ndiaye, seorang pemilik restoran, mengatakan kepada kantor berita Deutsche Welle pada Jum'at waktu setempat.
"Para tetangga Spanyol saya mengenal saya, mereka mengetahui bagaimana saya hidup."
Sama halnya dengan rekan-rekannya, Ndiaye telah bermigrasi dari Moroko ke Spanyol dalam mencari kondisi kehidupan yang lebih baik.
Walaupun ia memulai sebagai seorang tukang pukul kelab malam, ia berhasil untuk menikmati kesuksesan finansial, sekarang menjalankan sebuah butik dan sebuah restoran.
Walaupun terkadang ia menghadapi banyak masalah karena beberapa tindakan-tindakan kekerasan, Ndiaye, yang menikahi seorang istri berkebangsaan Spanyol dan memiliki dua orang anak, merasa seperti di rumah berada di Spanyol.
"Benar bahwa terorisme telah menciptakan beberapa masalah. Ketika Anda berusaha untuk melakukan perjalanan  atau pergi ke sebuah tempat publik, orang-orang benar-benar melihat Anda sekarang. Namun saya belum pernah menerima akibat-akibat tersebut dalam lingkungan saya."
Hampir mendekati 1,3 juta Muslim di Spanyol, menyusun 3 persen dari 45 juta jumlah penduduk negara tersebut.
Sebuah survei baru-baru ini menemukan bahwa 70 persen dari umat Muslim Spanyol merasa berada di rumah sendiri di negara Eropa.
Poling tersebut juga menunjukkan bahwa 80 persen dari umat Muslim merasa mereka telah beradaptasi dengan baik pada gaya hidup masyarakat Spanyol.
Banyak yang merasa bahwa umat Muslim terintegrasi dengan baik ke dalam masyarakat Spanyol.
"Orang yang datang beradaptasi, walaupun mereka menjaga perangkap budaya mereka terutama generasi yang lebih tua," Berbabe Lopez, seorang pakar ternama pada komunitas Muslim,  mengatakan pada kantor berita Deutsche Welle.
"Orang-orang tidak tinggal di distrik-distrik minoritas; mereka tersebar di seluruh negara tersebut, di seluruh daerah sekitar."
Ia memberi penghormatan kepada warga Spanyol yang lain, yang ia katakan, terbuka untuk menerima para imigran ke dalam masyarakat.
"Dan saya berpikir bahwa penduduk Spanyol – yang kemungkinan Anda telah berharap bahwa kebanyakan lebih rasis – telah benar-benar meresapi para imigran dengan baik. Dalam hampir 15 tahun – telah ada 12 persen imigrasi. Hal ini berlum pernah terjadi dalam kecepatan yang sehebat itu di negara lainnya di Eropa."
Perdebatan telah memanas di seluruh Eropa tentang imigrasi ke dalam benua tersebut.
Di Jerman, sebuah perdebatan nasional telah dimulai setelah seorang bankir pusat mengklaim bahwa imigran Muslim merusak masyarakat Jerman.
Perdebatan serupa berkobar-kobar di Belanda dan Italia di tengah-tengah seruan untuk membatasi imigrasi umat Muslim.
Pemerintah Spanyol telah mendapatkan pujian untuk upaya-upaya agar para imigran terintegrasi dengan baik ke dalam masyarakat.
Mengikuti seranganteroris di Madrid pada tahun 2004, pemerintah menghindari reaksi yang gegabah. Malahan, negara tersebut meluncurkan "Aliansi Peradaban" (Alliance of Civilization) dengan Turki  dalam sebuah upaya untuk memajukan hubungan antara Timur dan Barat.
Pemerintah juga telah meluncurkan program kohesi sosial untuk membantu para imigran berintegrasi ke dalam masyarakat.
Terdapat juga amnesti regular untuk para pekerja pendatang yang telah menggerakkan perkembangan konstruksi Spanyol.
Dalam sepuluh tahun terakhir, lebih dari satu juta orang yang dapat membuktikan bahwa mereka bekerja di sana, mereka diberikan status legal.
Sementara semua warga – walaupun mereka yang tanpa dokumen-dokumen – memiliki akses untuk kesehatan dan pendidikan.
Masih saja terdapat beberapa masalah.
"Mengingat kembali bahwa kami para imigran telah selalu memiliki kualifikasi terendah dalam pekerjaan," kata Kamal Rahmouni dari asosiasi imigran Moroko ATIME.
"Kami melakukan pekerjaan yang orang lain tidak inginkan. Kami memiliki kontrak yang sangat sederhana, dengan syarat yang sangat buruk – Anda dapat dipecat kapan saja dan semua kesulitan tersebut adalah proses dari integrasi."
Bagaimanapun juga, Rahmouni masih merasa bahwa "jalan yang kompleks, dan panjang menuju integrasi" umunya tertuju pada arah yang yang benar.
Ibrahima, pemilik restoran, setuju.
"Saya pikir bahwa kesempatan-kesempatan bergantung pada studi-studi Anda dan kemampuan dari seseorang," ia mengatakan.
"Pada masa sekarang, hal ini tidak bergantung pada warna kulit seseorang." (ppt/oi) www.suaramedia.com
Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz