Senin, 14 November 2011

Wanita Shalihah (Bag 5)


Shalihah Tauladan Wanita Islam
Tipe Wanita diantara Dua Masa.
2. Wanita Ansor
Para wanita dimasa Baginda Rasulullah SAW senantiasa berdatangan dan bertanya masalah agama kepada Baginda Rasulullah SAW, bakan masalah-masalah yang sensitif sekalipun, mereka tidak segan-segan bertanya kepada Baginda Rasulullah SAW, baik urusan rumah tangga maupun lainnya. Sayyidah` Aisyah ra pernah berkata: “Semoga Allah SWT merahmati wanita-wanita Ansor, mereka tidak malu bertanya untuk memperdalam ilmu agama”.  Mereka betul-betul konsekwensi dalam menjalankan agama, senantiasa mengkuti apa-apa yang diperintakan oleh Allah SWT.

Maka tak heran, ketika turun ayat yang berbunyi:

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (Q.S. An-Nur: 31)
Wanita-wanita Ansor ketika turun ayat ini, dengan spontanitas mereka mencari kain untuk dijadikan kerudung dan ketika mereka berjamaah, mereka telah berkerudung.
Wanita dimasa lampau adalah sebaik-bak isteri yang ikut membantu suaminya, ketika suaminya akan berangkat kemedan perang, dengan iman yang kokoh, mereka memberkan semangat suminya untuk berjihad fi sabilillah. Apabila diantara mereka ditanya , “Bagaimana nasib kalian kalau suami kalian gugur dimedan perang? Siapa yang akan menghidupi kebutuhan kalian?, dengan iman yang kokoh mereka menjawab, “Saya hanya mengetahui bahwa suamiku pemberi makan (nafkah), bukan pemberi rizqi, apabila lenyap pemberi makan, maka ketahuilah bahwa yang member rizqi masih ada yaitu Allah SWT”. Mereka selalu mengatakan kepada suami mereka ketika akan keluar mencari nafkah: “Wahai suamiku, janganlah mencari barang haram, kami masih dapat menahan lapar dan kesusahan, tapi kami tidak mampu menahan dari api Neraka dan murka Allah SWT”. Kalimt yang mengandung mutiara, andaikata diucapkan kepada suami yang kebetulan imannya lemah, maka kalimat itu akan membuatnya sadar dan akan berusaha menjaga dirinya untuk tidak mencari harta yang haram.
Berbeda halnya dimasa sekarang, wanita hanya menginginkan perhiasan dan pakaian-pakaian yang mewah, agar ia Nampak lebih cantik dari yang lainnya, bahkan mereka tidak segan-segan merongrong suaminya agar dapat mencarikan harta yang banyak, sekalipun dengan jalan haram yang tidak diridhai oleh Allah SWT.
Itulah sekelumit gambaran wanita-wanita dimasa lalu, maka kitapun menginginkan tipae wanita-wanita di masa sekarang dan yang akan datang, bisa sama seperti mereka, bahkan mungkin lebih dari itu.
Baginda Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada keuntungan orang mukmin setelah taqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang lebih baik baginya dibanding mempunyai isteri yang shalihah.
Apabila dia  menyuruhnya maka ditaati.
Apabila dia melihatnya, maka isteri itu menggembirakannya.
Apabila ia memberi bagian padanya maka dia menerimanya dengan baik.
Dan apabila ia tidak ada di rumah maka isteri yang shalihah itu tetap memurnikan cintanya untuk sang suami dalam menjaga dirinya sendiri dan harta suaminya.”
(Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Abi Umamah).
Beruntunglah bagi setiap lelaki yang memiliki istri shalehah, sebab ia bisa membantu memelihara akidah dan ibadah suaminya. Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa diberi istri yang shalehah, sesungguhnya ia telah diberi pertolongan (untuk) meraih separuh agamanya. Kemudian hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara separuh lainnya.” (HR Thabrani dan Hakim).
Di dalam al-Qur’an sangat jelas diungkapkan beberapa kriteria wanita shalihah menurut kacamata Islam:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. 30:21)

Wallahu A`lam…

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz