Tampilkan postingan dengan label Sejarah Banjar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Banjar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Mei 2011

Asal Usul Suku Banjar

By Unknown | At 10.07.00 | Label : | 0 Comments
Suku bangsa Banjar diduga berintikan penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di kawasan ini sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya,-setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasa dinamakan sebagai suku Dayak, dan dengan imigran-imigran yang berdatangan belakangan-terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu, dan Banjar (Kuala).

Orang Pahuluan pada asasnya ialah penduduk daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke pegunungan Meratus, orang Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara, sedangkan orang Banjar (Kuala) mendiami sekitar Banjarmasin (dan Martapura).

Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya adalah bahasa Melayu-sama halnya ketika berada di daerah asalnya di Sumatera atau sekitarnya-, yang di dalamnya terdapat banyak kosa kata asal Dayak dan asal Jawa.

Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu-sebelum dihapuskan pada tahun 1860-, adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman, terakhir di Martapura, nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.

Banjar Pahuluan

Sangat mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengislaman secara massal diduga terjadi setelah raja, Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja. Perilaku raja ini diikuti elit ibukota, masing-masing tentu menjumpai penduduk yang lebih asli, yaitu suku Dayak Bukit, yang dahulu diperkirakan mendiami lembah-lembah sungai yang sama. Dengan memperhatikan bahasa yang dikembangkannya, suku Dayak Bukit adalah satu asal usul dengan cikal bakal suku Banjar, yaitu sama-sama berasal dari Sumatera atau sekitarnya, tetapi mereka lebih dahulu menetap. Kedua kelompok masyarakat Melayu ini memang hidup bertetangga tetapi, setidak-tidaknya pada masa permulaan, pada asasnya tidak berbaur.

Jadi meskipun kelompok suku Banjar (Pahuluan) membangun pemukiman di suatu tempat, yang mungkin tidak terlalu jauh letaknya dari balai suku Dayak Bukit, namun masing-masing merupakan kelompok yang berdiri sendiri. Untuk kepentingan keamanan, dan atau karena memang ada ikatan kekerabatan, cikal bakal suku Banjar membentuk komplek pemukiman tersendiri.

Komplek pemukiman cikal bakal suku Banjar (Pahuluan) yang pertama ini merupakan komplek pemukiman bubuhan, yang pada mulanya terdiri dari seorang tokoh yang berwibawa sebagai kepalanya, dan warga kerabatnya, dan mungkin ditambah dengan keluarga-keluarga lain yang bergabung dengannya.

Model yang sama atau hampir sama juga terdapat pada masyarakat balai di kalangan masyarakat Dayak Bukit, yang pada asasnya masih berlaku sampai sekarang. Daerah lembah sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus ini nampaknya wilayah pemukiman pertama masyarakat Banjar, dan di daerah inilah konsentrasi penduduk yang banyak sejak jaman kuno, dan daerah inilah yang dinamakan Pahuluan. Apa yang dikemukakan di atas menggambarkan terbentuknya masyarakat (Banjar) Pahuluan, yang tentu saja dengan kemungkinan adanya unsur Dayak Bukit ikut membentuknya

Banjar Batang Banyu

Masyarakat (Banjar) Batang Banyu terbetuk diduga erat sekali berkaitan dengan terbentuknya pusat kekuasaan yang meliputi seluruh wilayah Banjar, yang barangkali terbentuk mula pertama di hulu sungai Negara atau cabangnya yaitu sungai Tabalong. Selaku warga yang berdiam di ibukota tentu merupakan kebanggaan tersendiri, sehingga menjadi kelompok penduduk yang terpisah.

Daerah tepi sungai Tabalong adalah merupakan tempat tinggal tradisional dari suku Dayak Maanyan (dan Lawangan), sehingga diduga banyak yang ikut serta membentuk subsuku Batang Banyu, di samping tentu saja orang-orang asal Pahuluan yang pindah ke sana dan para pendatang yang datang dari luar.

Bila di Pahuluan umumnya orang hidup dari bertani (subsistens), maka banyak di antara penduduk Batang Banyu yang bermata pencarian sebagai pedagang dan pengrajin.

Banjar Kuala

Ketika pusat kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin (terbentuknya Kesultanan Banjarmasin), sebagian warga Batang Banyu (dibawa) pindah ke pusat kekuasaan yang baru ini dan, bersama-sama dengan penduduk sekitar keraton yang sudah ada sebelumnya, membentuk subsuku Banjar.

Di kawasan ini mereka berjumpa dengan suku Dayak Ngaju , yang seperti halnya dengan dengan masyarakat Dayak Bukit dan masyarakat Dayak Maanyan atau Lawangan , banyak di antara mereka yang akhirnya melebur ke dalam masyarakat Banjar, setelah mereka memeluk agama Islam.

Mereka yang bertempat tinggal di sekitar ibukota kesultanan inilah sebenarnya yang dinamakan atau menamakan dirinya orang Banjar, sedangkan masyarakat Pahuluan dan masyarakat Batang Banyu biasa menyebut dirinya sebagai orang (asal dari) kota-kota kuno yang terkemuka dahulu. Tetapi bila berada di luar Tanah Banjar, mereka itu tanpa kecuali mengaku sebagai orang Banjar.

(Alfani Daud, Islam dan Asal Usul Masyarakat Banjar)


Inti Suku Banjar

Menurut Alfani Daud (Islam dan Masyarakat Banjar, 1997), inti suku Banjar adalah para pendatang Melayu dari Sumatera dan sekitarnya, sedangkan menurut Idwar Saleh justru penduduk asli suku Dayak (yang kemudian bercampur membentuk kesatuan politik sebagaimana Bangsa Indonesia dilengkapi dengan bahasa Indonesia-nya).

Menurut Idwar Saleh (Sekilas Mengenai Daerah Banjar dan Kebudayaan Sungainya Sampai Akhir Abad ke-19, 1986): " Demikian kita dapatkan keraton keempat adalah lanjutan dari kerajaan Daha dalam bentuk kerajaan Banjar Islam dan berpadunya suku Ngaju, Maanyan dan Bukit sebagai inti. Inilah penduduk Banjarmasih ketika tahun 1526 didirikan. Dalam amalgamasi (campuran) baru ini telah bercampur unsur Melayu, Jawa, Ngaju, Maanyan, Bukit dan suku kecil lainnya diikat oleh agama Islam, berbahasa Banjar dan adat istiadat Banjar oleh difusi kebudayaan yang ada dalam keraton....Di sini kita dapatkan bukan suku Banjar, karena kesatuan etnik itu tidak ada, yang ada adalah group atau kelompok besar yaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu dan Banjar Pahuluan. Yang pertama tinggal di daerah Banjar Kuala sampai dengan daerah Martapura. Yang kedua tinggal di sepanjang sungai Tabalong dari muaranya di sungai Barito sampai dengan Kelua. Yang ketiga tinggal di kaki pegunungan Meratus dari Tanjung sampai Pelaihari. Kelompok Banjar Kuala berasal dari kesatuan-etnik Ngaju, kelompok Banjar Batang Banyu berasal dari kesatuan-etnik Maanyan, kelompok Banjar Pahuluan berasal dari kesatuan-etnik Bukit. Ketiga ini adalah intinya. Mereka menganggap lebih beradab dan menjadi kriteria dengan yang bukan Banjar, yaitu golongan Kaharingan, dengan ejekan orang Dusun, orang Biaju, Bukit dan sebagainya".

Selanjutnya menurut Idwar Saleh (makalah Perang Banjar 1859-1865, 1991): "Ketika Pangeran Samudera mendirikan kerajaan Banjar ia dibantu oleh orang Ngaju, dibantu patih-patihnya seperti patih Balandean, Patih Belitung, Patih Kuwin dan sebagainya serta orang Bakumpai yang dikalahkan. Demikian pula penduduk Daha yang dikalahkan sebagian besar orang Bukit dan Manyan. Kelompok ini diberi agama baru yaitu agama Islam, kemudian mengangkat sumpah setia kepada raja, dan sebagai tanda setia memakai bahasa ibu baru dan meninggalkan bahasa ibu lama. Jadi orang Banjar itu bukan kesatuan etnis tetapi kesatuan politik, seperti bangsa Indonesia.
  • Penyebaran Suku Bangsa Banjar
  • Ulama Banjar
  • Populasi Suku Bangsa Banjar
  • Bubuhan
  • Persaudaraan Suku Banjar dengan Suku Dayak
  • Seni Tradisional Banjar
  • Kerajaan Banjar
  • Organisasi suku Banjar
Penyebaran Suku Bangsa Banjar

Keadaan geomorfologis Nusantara tempo dulu sangat berbeda, dimana telah terjadi pendangkalan lautan menjadi daratan. Hal tersebut mempengaruhi penyebaran suku-suku bangsa di Kalimantan. Pada jaman purba pulau Kalimantan bagian selatan dan tengah merupakan sebuah teluk raksasa. Kalimantan Selatan merupakan sebuah tanjung, sehingga disebut pulau Hujung Tanah dalam Hikayat Banjar dan disebut Tanjung Negara dalam kitab Negarakertagama. Seperti dalam gambaran Kitab Negarakertagama, sungai Barito dan sungai Tabalong pada jaman itu masih merupakan dua sungai yang terpisah yang bermuara ke teluk tersebut. Ketika orang Melayu generasi pertama yang menjadi nenek moyang suku bangsa Banjar bermigrasi ke daerah ini mereka mendarat di sebelah timur teluk tersebut, diduga di sekitar kota Tanjung, di Tabalong yang di masa tersebut terletak di tepi pantai, mereka bertetangga dengan suku Dayak Maanyan.

Suku Dayak Maanyan bermigrasi datang dari arah timur Kalimantan Tengah dekat pegunungan Meratus dan karena tempat tinggalnya dekat laut, suku Maanyan telah melakukan pelayaran hingga ke Madagaskar. Setelah berabad-abad sekarang wilayah suku Maanyan di Barito Timur sangat jauh dari laut karena adanya pendangkalan.

Sementara suku Dayak Ngaju yang bermigrasi dari datang arah barat Kalimantan Tengah, merupakan keturunan dari suku Dayak Ot Danum yang tinggal dari sebelah hulu sungai-sungai besar di wilayah tersebut. Sedangkan suku Dayak Bakumpai di wilayah Barito merupakan keturunan cabang dari suku Dayak Ngaju yang akhirnya memeluk agama Islam dan merupakan komunitas suku bangsa tersendiri.

Suku Banjar yang bertempat tinggal di daerah atas di kaki pegunungan Meratus dari kota Tanjung sampai Pelaihari merupakan kelompok Pahuluan. Kelompok Pahuluan bermigrasi ke arah hilir menuju dataran rendah berawa-rawa di tepi sungai Negara (Batang Banyu) yang telah mengalami pendangkalan. Di wilayah tersebut terbentuk kerajaan-kerajaan yang dipengaruhi agama Hindu dan Majapahit dibuktikan dengan adanya peninggalan bekas-bekas candi di Amuntai dan Margasari.

Dari wilayah Batang Banyu yaitu daerah tepian sungai Negara dari Kelua hingga muaranya di sungai Barito, suku Banjar bergerak ke hilir membentuk pusat kerajaan baru dekat muara sungai Barito yaitu kesultanan Banjarmasin, sehingga terbentuklah kelompok Banjar Kuala yang merupakan amalgamasi dari unsur-unsur Melayu, Jawa, Bukit, Maanyan, Ngaju dan suku-suku kecil lainnya. Dari wilayah Kalimantan Selatan, suku Banjar bermigrasi ke wilayah lainnya di Kalimantan.

Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565 yaitu orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas ( Pasir Balengkong) di daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur.

Sedangkan migrasi suku Banjar (Banjar Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Mustainbillah (1650-1672), yang telah mengijinkan berdirinya Kerajaan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama Pangeran Adipati Antakusuma.

Sedangkan migrasi suku Banjar ke wilayah Barito, Kalimantan Tengah terutama pada masa perjuangan Pangeran Antasari melawan Belanda sekitar tahun 1860-an. Suku-suku Dayak di wilayah Barito mengangkat Pangeran Antasari (Gusti Inu Kartapati) sebagai raja dengan gelar Panembahan Amiruddin berkedudukan di Puruk Cahu (Murung Raya), setelah mangkat beliau dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Sultan Muhammad Seman.

Suku Banjar terbagi 3 kelompok berdasarkan teritorialnya dan unsur pembentuk suku :
  • Banjar Pahuluan adalah campuran Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok)
  • Banjar Batangbanyu adalah campuran Melayu, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Maanyan sebagai ciri kelompok)
  • Banjar Kuala adalah campuran Melayu, Ngaju, Barangas, Bakumpai, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai ciri kelompok)
Dengan mengambil pendapat Idwar Saleh tentang inti suku Banjar, maka percampuran suku Banjar dengan suku Dayak Ngaju/suku serumpunnya yang berada di sebelah barat Banjarmasin (Kalimantan Tengah) dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Kuala juga. Di sebelah utara Kalimantan Selatan terjadi percampuran suku Banjar dengan suku Maanyan/suku serumpunnya seperti Dusun, Lawangan dan suku Pasir di Kalimantan Timur yang juga berbahasa Lawangan, dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Batang Banyu. Percampuran suku Banjar di tenggara Kalimantan yang banyak terdapat suku Bukit kita asumsikan sebagai Banjar Pahuluan.

Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Indragiri sebelum raja yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat) yang berasal dari Martapura yang menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri.

Dalam masa-masa tersebut, suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain ke negeri Kedah, Perak( Kerian, Sungai Manik, Bagan Datoh), Selangor(Sabak Bernam, Tanjung Karang), Johor(Batu Pahat) dan juga negeri Sabah(Sandakan, Tenom, Keningau, Tawau) yang disebut Banjar Melau. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar dari Malaysia yang terkenal saat ini adalah Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan Negeri Perak. Daerah (setingkat kabupaten) yang paling banyak terdapat etnis Banjar di Malaysia adalah Daerah Kerian di Negeri Perak Darul Ridzuan


Populasi Suku Bangsa Banjar

Populasi suku Banjar diperkirakan sebagai berikut :
  • 2.271.586 di Propinsi Kalimantan Selatan (BPS - sensus th. 2000)
  • 500.000 di Propinsi Kalimantan Timur
  • 500.000 di Propinsi Kalimantan Tengah
  • 50.000 di Propinsi Kalimantan Barat
  • 300.000 di pulau Sumatera
  • 519.000 di negara Malaysia (situs Joshua Project)
Menurut situs "Joshua Project" jumlah suku Banjar adalah
  • 3.040.000 di Indonesia
  • 519.000 di Malaysia
Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), populasi suku Banjar di Kalimantan Selatan berjumlah 2.271.586 jiwa, yang terdistribusi pada beberapa kabupaten dan kota, yaitu :
  • 142.731 jiwa di kabupaten Tanah Laut
  • 154.399 jiwa di kabupaten Kota Baru (termasuk kab. Tanah Bumbu)
  • 361.692 jiwa di kabupaten Banjar
  • 184.180 jiwa di kabupaten Barito Kuala
  • 417.309 jiwa di kota Banjarmasin
  • 75.537 jiwa di kota Banjarbaru
Orang Banjar Hulu Sungai yang bertutur Bahasa Banjar Hulu terdapat pada 6 kabupaten (Banua Enam) yaitu :
  • 114.265 jiwa di kabupaten Tapin
  • 188.672 jiwa di kabupaten Hulu Sungai Selatan
  • 213.725 jiwa di kabupaten Hulu Sungai Tengah
  • 277.729 jiwa di kabupaten Hulu Sungai Utara (termasuk kab. Balangan)
  • 141.347 jiwa di kabupaten Tabalong
Suku Banjar di Kalimantan Timur

Suku Banjar (Banjar Samarinda) di Kalimantan Timur sering disebut juga suku Melayu, merupakan 20 % dari populasi penduduk. Suku Banjar terdapat seluruh kabupaten dan kota di Kaltim. Beberapa kecamatan yang terdapat banyak suku Banjarnya misalnya Kecamatan Kenohan dan Jempang di Kutai Kartanegara; Kecamatan Samarinda Ulu dan Samarinda Ilir di kota Samarinda.

Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565 yaitu orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas ( Pasir Balengkong) di daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur.

Suku Banjar di Kalimantan Tengah

Suku Banjar di Kalimantan Tengah sering pula disebut Banjar Melayu Pantai atau Banjar Dayak maksudnya suku Banjar yang terdapat di daerah Dayak Besar yaitu nama lama Kalimantan Tengah. Suku Banjar merupakan 25 % dari populasi penduduk dan sebagai suku terbanyak di Kalteng dibanding suku Dayak Ngaju, suku Dayak Bakumpai, Dayak Sampit dan lain-lain. Sedangkan migrasi suku Banjar (Banjar Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Mustainbillah (1650-1672), yang telah mengijinkan berdirinya Kerajaan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama Pangeran Adipati Antakusuma.

Suku Banjar di Sumatera dan Malaysia

Suku Banjar yang tinggal di Sumatera dan Malaysia merupakan anak, cucu, intah, piat dari para imigran etnis Banjar yang datang dalam tiga gelombang migrasi besar. Pertama, pada tahun 1780 terjadi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi emigran ketika itu adalah para pendukung Pangeran Amir yang menderita kekalahan dalam perang saudara antara sesama bangsawan Kerajaan Banjar, yakni Pangeran Tahmidullah. Mereka harus melarikan diri dari wilayah Kerajaan Banjar karena sebagai musuh politik mereka sudah dijatuhi hukuman mati. Kedua, pada tahun 1862 terjadi lagi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi imigrannya kali adalah para pendukung Pangeran Antasari dalam kemelut Perang Banjar. Mereka harus melarikan diri dari pusat pemerintahan Kerajaan Banjar di kota Martapura karena posisi mereka terdesak sedemikian rupa. Pasukan Residen Belanda yang menjadi musuh mereka dalam Perang Banjar yang sudah menguasai kota-kota besar di wilayah Kerajaan Banjar. Ketiga, pada tahun 1905 etnis Banjar kembali melakukan migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Kali ini mereka terpaksa melakukannya karena Sultan Muhammad Seman yang menjadi Raja di Kerajaan Banjar ketika itu mati syahid di tangan Belanda.


Bubuhan

Bubuhan adalah unit kesatuan famili atau kekerabatan biasanya sampai derajat sepupu dua atau tiga kali, bersama-sama para suami atau kadang-kadang dengan para isteri mereka. Anggota bubuhan tinggal di rumah masing-masing, (dahulu) dalam suatu lingkungan yang nyata batas-batasnya. Diantara anggota bubuhan ini terdapat seseorang yang menonjol sehingga dianggap sebagai pemimpin bubuhan yang disebut tatuha bubuhan. Pemukiman terbentuk dari satu atau beberapa bubuhan.

Pengislaman bubuhan

Suku bangsa Melayu yang menjadi inti masyarakat Banjar memasuki daerah ini ketika dataran dan rawa-rawa yang luas  yang kini membentuk bagian besar Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah masih merupakan teluk raksasa yang jauh menjorok ke pedalaman.

Suku bangsa Melayu ini, dengan melalui laut Jawa-memasuki teluk raksasa tersebut, lalu memudiki sungai-sungai yang bermuara ke sana, belakangan menjadi cabang-cabang sungai Negara, yang semuanya berhulu di kaki Pegunungan Meratus. Mereka disertai kelompok bubuhan-nya, dan oleh elit daerah, juga diikuti warga bubuhannya, dan demikianlah seterusnya sampai bubuhan rakyat jelata di tingkat bawah.

Dengan masuk Islam-nya para bubuhan, kelompok demi kelompok, maka dalam waktu relatif singkat Islam akhirnya telah menjadi identitas orang Banjar dan merupakan cirinya yang pokok, meskipun pada mulanya ketaatan menjalankan ajaran Islam tidak merata.

Dapat dikatakan bahwa pada tahapan permulaan berkembangnya Islam tersebut, kebudayaan Banjar telah memberi bingkai dan Islam telah terintegrasikan ke dalamnya; dengan masuk Islamnya bubuhan secara berkelompok, kepercayaan Islam diterima sebagai bagian dari kepercayaan bubuhan.

Menurut Alfani Daud (1997 : 50),pada dasarnya masyarakat Banjar merupakan penganut Islam yang taat, walaupun terdapat pengaruh kepercayaan lama. Corak keislaman orang Banjar mencakup konsepsi-konsepsi dari imigran-imigran Melayu yang menjadi nenek moyang orang Banjar, dari sisa-sisa kepercayaan Hindu, dan sisa-sisa kepercayaan Dayak yang ikut membentuk suku bangsa Banjar.

Pemerintahan bubuhan tempo dulu

Kenyataan bahwa bubuhan memeluk Islam secara berkelompok telah memberikan warna pada keislaman masyarakat kawasan ini, yaitu pada asasnya diintegrasikannya kepercayaan Islam ke dalam kepercayaan bubuhan, yaitu kepercayaan yang dianut oleh warga bubuhan yang sama terjadi pada masyarakat Dayak Bukit sampai setidak-tidaknya belum lama berselang.

Kelompok bubuhan dipimpin oleh warganya yang berwibawa. Sama halnya dengan masyarakat balai saat ini, kepala bubuhan yang pada masa kesultanan sering disebut sebagai asli, berfungsi sebagai tokoh yang berwibawa, sebagai tabib, sebagai kepala pemerintahan dan mewakili bubuhan bila berhubungan dengan pihak luar, sama halnya seperti kepala balai yang biasanya seorang balian, bagi masyarakat Dayak Bukit sampai belum lama ini.

Ketika terbentuk pusat kekuasaan, kelompok masyarakat bubuhan diintegrasikan ke dalam ke dalamnya; kewibawaan kepala bubuhan terhadap warganya diakui. Biasanya sebuah kelompok bubuhan membentuk sebuah anak kampung, gabungan beberapa masyarakat bubuhan membentuk sebuah kampung, dan salah satu kepala bubuhan yang paling berwibawa diakui sebagai kepala kampung itu.

Untuk mengkoordinasikan beberapa buah kampung ditetapkan seorang lurah, suatu jabatan Kesultanan di daerah yang dahulu disebut banua, yaitu biasanya seorang kepala bubuhan yang berwibawa pula.

Beberapa lurah dikoordinasikan oleh seorang lalawangan, suatu jabatan yang mungkin dapat disamakan dengan jabatan bupati di Jawa pada kurun yang sama. Dengan sendirinya seorang yang menduduki jabatan yang formal sebagai mantri atau penghulu merupakan tokoh pula dalam lingkungan bubuhannya.

Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa sistem pemerintahan pada masa kesultanan, dan mungkin regim-regim sebelumnya, diatur secara hirarkis sebagai pemerintahan bubuhan. Di tingkat pusat yang berkuasa ialah bubuhan raja-raja, yang terdiri dari sultan dan kerabatnya ditambah pembesar-pembesarkerajaan (baca:mantri-mantri).

Pada tingkat daerah memerintah tokoh-tokoh bubuhan, mulai dari lurah-lurah, yang dikoordinasikan oleh seorang lalawangan; berikutnya ialah kepala-kepala kampung, yang adalah seorang tokoh bubuhan, semuanya yang paling berwibawa di dalam lingkungannya, dan membawahi beberapa kelompok rakyat jelata pada tingkat paling bawah. Peranan bubuhan ini sangat dominan pada zaman sultan-sultan. dan masih sangat kuat pada permulaan pemerintahan Hindia Belanda. Belakangan memang dilakukan perombakan-perombakan; jabatan kepala pemerintahan di desa (kampung) tidak lagi melalui keturunan, melainkan melalui pendidikan.


Persaudaraan Suku Banjar dengan Suku Dayak

Hubungan Persaudaraan Suku Banjar dan Suku-suku DayakSejak jaman dahulu telah terjadi hubungan persaudaraan dan ikatan kekeluargaan serta toleransi yang tinggi antara suku Banjar dan suku-suku Dayak.

Perkawinan Sultan Banjar dengan Puteri-puteri Dayak

Dari tradisi lisan suku Dayak Ngaju dapat diketahui, isteri Raja Banjar pertama yang bernama Biang Lawai beretnis Dayak Ngaju. Sedangkan isteri kedua Raja Banjar pertama yang bernama Noorhayati, menurut tradisi lisan Suku Dayak Maanyan, berasal dari etnis mereka. Jadi perempuan Dayaklah yang menurunkan raja-raja Banjar yang pernah ada. Dalam Hikayat Banjar menyebutkan salah satu isteri Raja Banjar ketiga Sultan Hidayatullah juga puteri Dayak, yaitu puteri Khatib Banun, seorang tokoh Dayak Ngaju. Dari rahim putri ini lahir Marhum Panembahan yang kemudian naik tahta dengan gelar Sultan Mustainbillah. Putri Dayak berikutnya adalah isteri Raja Banjar kelima Sultan Inayatullah, yang melahirkan Raja Banjar ketujuh Sultan Agung. Dan Sultan Tamjidillah (putera Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam) juga lahir dari seorang putri Dayak berdarah campuran Cina yaitu Nyai Dawang.

Sultan Muhammad Seman

Salah satu sayap militer Pangeran Antasari yang terkenal tangguh dan setia, adalah kelompok Suku Dayak Siang Murung dengan kepala sukunya Tumenggung Surapati. Hubungan kekerabatan sang pangeran melalui perkawinannya dengan Nyai Fatimah yang tak lain adalah saudara perempuan kepala suku mereka, Surapati. Dari puteri Dayak ini lahir Sultan Muhammad Seman yang kelak meneruskan perjuangan ayahnya sampai gugur oleh peluru Belanda tahun 1905. Dalam masa perjuangan tersebut, Muhammad Seman juga mengawini dua puteri Dayak dari Suku Dayak Ot Danum. Puteranya, Gusti Berakit, ketika tahun 1906 juga mengawini putri kepala suku Dayak yang tinggal di tepi sungai Tabalong. Sebagai wujud toleransi yang tinggi, ketika mertuanya meninggal, Sultan Muhammad Seman memprakarsai diselenggarakannya tiwah, yaitu upacara pemakaman secara adat Dayak (Kaharingan).

Puteri Mayang Sari

Putri Mayang Sari yang berkuasa di Jaar-Singarasi, kabupaten Barito Timur adalah puteri dari Raja Banjar Islam yang pertama (Sultan Suriansyah) dari isteri keduanya Norhayati yang berdarah Dayak, cucu Labai Lamiah tokoh Islam Dayak Maanyan. Walau Mayang Sari beragama Islam, dalam memimpin sangat kental dengan adat Dayak, senang turun lapangan mengunjungi perkampungan Dayak dan sangat memperhatikan keadilmakmuran masyarakat Dayak di masanya. Itu sebabnya ia sangat dihormati dan makamnya diabadikan dalam Rumah Adat Banjar di Jaar, kabupaten Barito Timur.(Marko Mahin, 2005)

Perang Banjar

Eratnya persahabatan Banjar-Dayak, juga karena kedua suku ini terlibat persekutuan erat melawan Belanda dalam Perang Banjar. Setelah terdesak di Banjarmasin dan Martapura, Pangeran Antasari beserta pengikut dan keturunannya mengalihkan perlawanan ke daerah Hulu Sungai dan sepanjang sungai Barito sampai ke hulu Barito, dimana terdapat beragam etnis Dayak terlibat di dalamnya. Perang antara koalisi etnis Banjar bersama etnis Dayak di satu pihak versus Belanda dan antek-anteknya di pihak lain, sebagaimana watak peperangan pada umumnya, jauh lebih banyak duka daripada sukanya. Kedua suku serumpun ini sudah merasa bersaudara senasib sepenanggungan, dimana harta benda, jiwa raga, darah dan airmata sama-sama tumpah di tengah api perjuangan mengusir penjajah. Beberapa pahlawan perang Banjar dan perang Barito dari etnis Dayak :
  • Tumenggung Surapati, meninggal 1904 dimakamkan di Puruk Cahu, Murung Raya
  • Panglima Batur, dari suku Dayak Siang Murung dimakamkan di Komplek Makam Pangeran Antasari, Banjarmasin
  • Panglima Unggis, dimakamkan di desa Ketapang, Kecamatan Gunung Timang, Barito Utara
  • Panglima Sogo, yang turut menenggelamkan kapal Onrust milik Belanda 26 Desember 1859 di Lewu Lutung Tuwur, makamnya di desa Malawaken, Kecamatan Teweh Tengah, Barito Utara.
  • Panglima Batu Balot (Tumenggung Marha Lahew), panglima wanita yang pernah menyerang Fort Muara Teweh tahun 1864-1865, makamnya di desa Malawaken (Teluk Mayang), Kecamatan Teweh Tengah, Barito Utara.
  • Panglima Wangkang, dari suku Dayak Bakumpai di Marabahan, putera dari Damang Kendet dan ibunya wanita Banjar dari Amuntai
  • Perang Montallat tahun 1861 juga menyebabkan gugurnya dua putera Ratu Zaleha yang dimakamkan di desa Majangkan, kec. Gunung Timang.
Dammung Sayu

Dammung Sayu merupakan seorang pemimpin masyarakat suku Dayak Maanyan Paju Sapuluh yang telah berjasa dalam membantu salah seorang kerabat raja Banjar yang bersembunyi di wilayahnya dari pengejaran pihak Belanda. Karena itu akhirnya Belanda membumihanguskan perkampungan suku ini yang terletak di Desa Magantis, Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur. Pihak kerajaan Banjar yang berjuang melawan penjajah Belanda mengangkat Dammung Sayu sebagai panglima dengan gelar Tumenggung dan memberikan seperangkat payung kuning dan perlengkapan kerajaan.

Sangiang

Toleransi antara suku Banjar dan Dayak, juga dapat dilihat dari sastera suci suku Dayak Ngaju, Panaturan. Digambarkan disana, Raja Banjar (Raja Maruhum) beserta Putri Dayak yang menjadi isterinya Nyai Siti Diang Lawai adalah bagian leluhur orang Dayak Ngaju. Bahkan mereka juga diproyeksikan sebagai sangiang (manusia illahi) yang tinggal di Lewu Tambak Raja, salah satu tempat di Lewu Sangiang (Perkampungan para Dewa). Karena Sang Raja beragama Islam maka disana disebutkan juga ada masjid.(Marko Mahin, Urang Banjar, 2005)

Balai Hakey

Secara sosiologis-antropologis antara etnis Banjar dan Dayak diibaratkan sebagai dangsanak tuha dan dangsanak anum (saudara tua dan muda). Urang Banjar yang lebih dahulu menjadi muslim disusul sebagian etnis Dayak yang bahakey (berislam), saling merasa dan menyebut yang lain sebagai saudara. Mereka tetap memelihara toleransi hingga kini. Tiap ada upacara ijambe, tewah dan sejenisnya, komunitas Dayak selalu menyediakan Balai Hakey, tempat orang muslim dipersilakan menyembelih dan memasak makanannya sendiri yang dihalalkan menurut keyakinan Islam.

Intingan dan Dayuhan

Toleransi antara suku Banjar dengan suku Dayak Bukit di pegunungan Meratus di daerah Tapin di Kalimantan Selatan, juga dapat dilihat pada mitologi suku bangsa tersebut. Dalam pandangan mereka, Urang Banjar adalah keturunan dari Intingan, yaitu dangsanak anum (adik) dari leluhur mereka yang bernama Dayuhan. Meskipun kokoh dengan kepercayaan leluhur, suku Dayak Bukit selalu menziarahi Masjid Banua Halat yang menurut mitologi mereka dibangun oleh Intingan, ketika saudara leluhur mereka tersebut memeluk agama Islam.


Kerajaan Banjar

Kerajaan Banjar adalah kerajaan yang terdapat di Kalimantan Selatan.

Raja-raja Banjarmasin

Raja I adalah Sultan Suriansyah, dimakamkan di Komplek Makam Sultan Suriansyah
Raja II adalah Sultan Rahmatullah, dimakamkan di Komplek Makam Sultan Suriansyah
Raja III adalah Sultan Hidayatullah, dimakamkan di Komplek Makam Sultan Suriansyah
Raja IV adalah Sultan Mustainbillah, dimakamkan di Martapura
dan lain-lain

Komplek Makam Sultan Suriansyah

Makam Sultan Suriansyah.

Komplek Makam Sultan Suriansyah adalah sebuah kompleks pemakaman yang terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Sultan Suriansyah

Sultan Suriansyah merupakan raja Kerajaan Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Sewaktu kecil namanya adalah Raden Samudera, setelah diangkat menjadi raja namanya menjadi Pangeran Samudera dan setelah memeluk Islam namanya menjadi Sultan Suriansyah. Gelar lainnya adalah Panembahan atau Susuhunan Batu Habang.

Sejarah pemugaran Komplek Makam Sultan Suriansyah

Studi kelayakan dalam rangka pemugaran dilakukan oleh sebuah tim yang dipimpin Drs. Machi Suhadi dengan biaya dari Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kalimantan Selatan 1982/1983.

Kegiatan Pemugaran

Pemugaran situs dimulai tahun 1984/1985. Sasaran pokonya ialah memugar makam-makam kuno dan pentrasiran pondasi batu bata,

Pemugaran makam kuno terurai atas kegiatan: memperkuat pagar bagian bawah dengan slof beton, membersihkan dan membetulkan letak nisan makam, memperkuat dan merapikan letak marmer makam, memperbaiki ukira-ukiran yang rusak dan mengembalikan cat makam seperti warna semula. Kegiatan pentrasiran menampakan adanya dua kelompok susunan batu bata/tanggul dengan warna yang berbeda. Kelompok tanggul dengan batu bata merah merupakan pengaman bagi kestabilan makam Sultan Suriansyah dan Ratu, makam Khatib Dayan, makam Patih Masih, makam Patih Kuin, Makam hulubaklang raja dan lain-lain. Kelompok tanggul ini terdapat pada bagian barat dengan ukuran 17 x 17 meter.

Kelompok tanggul dengan batu bata putih merupakan pengaman bagi kestabilan makam Sultan Rahmatullah dan Makam Sultan Hidayatullah. Kelompok tanggul ini terdapat di bagian timur dengan ukuran 17 x 17 meter. Pada bagian timur sisi selatan ditemukan susunan tanggul batu bata putih yang diberi hiasan/ukiran.

Pemugaran situs tahun 1985/1986 diarahkan pada kegiatan penyusunan kembali batu bata tanggul dan membangun cungkup yang baru menggantikan cungkup lama yang didirikan pada tahun 1985.

Tokoh-tokoh yang dimakamkan

Sultan Suriansyah

Sultan Suriansyah berasal dari keturunan raja-raja Kerajaan Negara Daha. Beliau merupakan Raja Banjar pertama yang memeluk Islam, dan sejak beliaulah agama Islam berkembang resmi dan pesat di Kalimantan Selatan. Untuk pelaksanaan dan penyiaran agama Islam beliau membangun sebuah masjid yang dikenal sebagai Masjid Sultan Suriansyah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan SelatanJudul pranala. Menurut sarjana Belanda J.C. Noorlander bahwa berdasarkan nisan makam, maka umur kuburan dapat dihitung sejak lebih kurang tahun 1550, berarti Sultan Suriansyah meninggal pada tahun 1550, sehingga itu dianggap sebagai masa akhir pemerintahannya. Ia bergelar Susuhunan Batu Habang. Menurut M. Idwar Saleh bahwa masa pemerintahan Sultan Suriansyah berlangsung sekitar tahun 1526-1550. Sehubungan dengan hal ini juga dapat menetapkan bahwa hari jadi kota Banjarmasin jatuh pada tanggal 24 September 1526.

Ratu Intan Sari

Ratu Intan Sari atau Puteri Galuh adalah ibu kandung Sultan Suriansyah. Ketika itu Raden Samudera baru berumur 7 tahun dengan tiada diketahui ayahnya Raden Manteri Jaya menghilang, maka tinggallah Raden Samudera bersama ibunya. Pada masa itu Maharaja Sukarama, raja Negara Daha berwasiat agar Raden Samudera sebagai penggantinya ketika ia mangkat. Tatkala itu pula Raden Samudera menjadi terancam keselamatannya, berhubung kedua pamannya tidak mau menerima wasiat, yaitu Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung, karena kedua orang ini sebenarnya kemenakan Sukarama. Ratu Intan Sari khawatir, lalu Raden Samudera dilarikan ke Banjar Masih dan akhirnya dipelihara oleh Patih Masih dan Patih Kuin. Setelah sekitar 14 tahun kemudian mereka mengangkatnya menjadi raja (berdirinya kerajaan Banjar Masih/Banjarmasin). Ratu Intan Sari meninggal pada awal abad ke-16.

Sultan Rahmatullah

Sultan Rahmatullah putera Sultan Suriansyah, beliau raja Banjar ke-2 yang bergelar Susuhunan Batu Putih. Masa pemerintahannya tahun 1550-1570.

Makam Sultan Rahmatullah.Sultan Hidayatullah

Sultan Hidayatullah, raja Banjar ke-3, cucu Sultan Suriansyah. Beliau bergelar Susuhunan Batu Irang. Masa pemerintahannya tahun 1570-1595. Ia senang memperdalam syiar agama Islam. Pembangunan masjid dan langgar (surau) telah banyak didirikan dan berkembang pesat hingga ke pelosok perkampungan.

Khatib Dayan

Pada tahun 1521 datanglah seorang tokoh ulama besar dari Kerajaan Demak bernama Khatib Dayan ke Banjar Masih untuk mengislamkan Raden Samudera beserta sejumlah kerabat istana, sesuai dengan janji semasa pertentangan antara Kerajaan Negara Daha dengan Kerajaan Banjar Masih. Khatib Dayan merupakan keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon, Jawa Barat. Beliau menyampaikan syiar-syiar Islam dengan kitab pegangan Surat Layang Kalimah Sada di dalam bahasa Jawa. Beliau seorang ulama dan pahlawan yang telah mengembangkan dan menyebarkan agama Islam di Kerajaan Banjar sampai akhir hayatnya.

Patih Kuin

Patih Kuin adalah adik kandung Patih Masih. Ia memimpin di daerah Kuin. Ketika itu ia telah menemukan Raden Samudera dan memeliharanya sebagai anak angkat. Pada masa beliau keadaan negerinya aman dan makmur serta hubungan dengan Jawa sangat akrab dan baik. Beliau meninggal pada awal abad ke-16.

Patih Masih

Patih Masih adalah seorang pemimpin orang-orang Melayu yang sangat bijaksana, berani dan sakti. Beliau memimpin di daerah Banjar Masih secara turun temurun. Beliau keturunan Patih Simbar Laut yang menjabat Sang Panimba Segara, salah satu anggota Manteri Ampat. Beliau meninggal sekitar awal abad ke-16.

Senopati Antakusuma

Senopati Antakusuma adalah cucu Sultan Suriansyah. Beliau seorang panglima perang di Kerajaan Banjar dan sangat pemberani yang diberi gelar Hulubalang Kerajaan. Beliau meninggal pada awal abad ke-16.

Syekh Abdul Malik

Syekh Abdul Malik atau Haji Batu merupakan seorang ulama besar di Kerajaan Banjar pada masa pemerintahan Sultan Rahmatullah. Beliau meninggal pada tahun 1640.

Haji Sa'anah

Wan Sa'anah berasal dari keturunan Kerajaan Brunei Darussalam. Beliau menikah dengan Datu Buna cucu Kiai Marta Sura, seorang menteri di Kerajaan Banjar. Semasa hidupnya Wan Sa'anah senang mengaji Al-Qur'an dan mengajarkan tentang keislaman seperti ilmu tauhid dan sebagainya. Beliau meninggal pada tahun 1825.

Pangeran Ahmad

Pangeran Ahmad merupakan seorang senopati Kerajaan Banjar di masa Sultan Rahmatullah, yang diberi tugas sebagai punggawa atau pengatur hulubalang jaga. Beliau sangat disayangi raja dan dipercaya. Beliau meninggal pada tahun 1630.

Pangeran Muhammad

Pangeran Muhammad adlah adik kandung Pangeran Ahmad, juga sebagai senopati Kearton di masa Sultan Hidayatullah I. Beliau meninggal pada tahun 1645.

Sayyid Ahmad Iderus

Sayyid Ahmad Iderus adalah seorang ulama dari Mekkah yang datang ke Kerajaan Banjar bersama-sama Haji Batu (Syekh Abdul Malik). Beliau menyampaikan syiar-syiar agama Islam dan berdakwah di tiap-tiap masjid dan langgar (surau). Beliau meninggal pada tahun 1681.

Gusti Muhammad Arsyad

Gusti Muhammad Arsyad putera dari Pangeran Muhammad Said. Ia meneruskan perjuangan kakeknya Pangeran Pangeran Antasari melawan penjajah Belanda. Beliau kena tipu Belanda, hingga diasingkan ke Cianjur beserta anak buahnya, setelah meletus perang dunia, ia dipulangkan ke Banjarmasin. Beliau meninggal pada thaun 1938.

Kiai Datu Bukasim

Kiai Datu Bukasim merupakan seorang menteri di Kerajaan Banjar. Ia keturunan Kiai Marta Sura, yang menjabat Sang Panimba Segara (salah satu jabatan menteri). Beliau meninggal pada tahun 1681.

Anak Cina Muslim

Pada permulaan abad ke-18, seorang Cina datang berdagang ke Banjarmasin. Ia berdiam di Kuin Cerucuk dan masuk Islam sebagai muallaf. Tatkala itu anaknya bermain-main di tepi sungai, hingga jatuh terbawa arus sampai ke Ujung Panti. Atas mufakat tetua di daerah Kuin, mayat anak itu dimakamkan di dalam komplek makam Sultan Suriansyah.


Organisasi suku Banjar

Definisi

Organsisasi suku Banjar merupakan organisasi, badan (pertubuhan), perkumpulan, yayasan, ikatan keluarga, paguyuban, kerukunan (kerakatan) maupun wadah tempat berhimpun keturunan suku Banjar dan wadah mengembangkan kebudayaan suku Banjar.

Organisasi Banjar/Kalimantan di Jakarta
  • Kerukunan Keluarga Kalimantan (K3), DKI Jakarta
  • Yayasan Kerakatan Perantau Banjar (YKPB) Jakarta Raya.
  • Kerukunan Warga Kalimantan Selatan (KWKS) Jabodetabek.
  • Masjid Sabilal Muhtadin, Jakarta Timur
  • (Jl. Pisangan Baru II, Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur) Merupakan masjid yang dibangun warga asal Martapura di Jakarta tahun 1980, Imam masjid : K.H. Maulana Kamal Yusuf, Sekretaris : Gusti Kaspul Usman.
Organisasi Banjar/Kalimantan di Jawa Barat
  • K3
  • Asrama Mahasiswa Kalsel Lambung Mangkurat
  • alamat : Bogor Baru Blok A VIII/3-4 RT 007 RW 009 Kelurahan Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor 16114, telpon 0251 328861
  • Persatuan Mahasiswa Kalimantan Selatan (PMKS) konsulat Bogor dengan alamat Asrama Mahasiswa Kalsel Lambung Mangkurat
Organisasi Banjar/Kalimantan di Jawa Tengah
  • Ikatan Keluarga Banjar (IKB), Semarang, Prov. Jawa Tengah.
  • Ikatan Keluarga Kalimantan (IKK), Semarang, Prov. Jawa Tengah
  • Yayasan Darussalam, Solo, Jawa Tengah (wadah organisasi keturunan suku Banjar di Solo, Surakarta)
  • Persatuan Mahasiswa Kalimantan Selatan (PMKS) Konsulat Semarang
  • Asrama Mahasiswa Kalsel Brigjen H. Hasan Basry
Organisasi Banjar/Kalimantan di Yogyakarta
  • Kerukunan Keluarga Kalimantan (K3)
  • Persatuan Mahasiswa Kalimantan Selatan (PMKS) Konsulat Yogyakarta
  • Asrama Mahasiswa Kalsel Lambung Mangkurat
  • Himpunan Mahasiswa Sa-ijaan Kabupaten Kota Baru (HMSKK) Yogyakarta
Organisasi Banjar/Kalimantan di Jawa Timur
  • Kerukunan Keluarga Kalimantan (K3), Surabaya, Jawa Timur.
Organisasi Banjar/Kalimantan di Kalimantan Selatan
  • Lembaga Budaya Banjar, Banjarmasin
Organisasi Banjar/Kalimantan di Kalimantan Timur
  • Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB), Samarinda, Kalimantan Timur
  • Gerakan Pemuda Asli Kalimantan (GEPAK), Balikpapan
Organisasi Banjar/Kalimantan di Kalimantan Tengah
  • Nanang Galuh Banjar (Naga Banjar), Palangkaraya, Kalimantan Tengah
  • Persatuan Keluarga Banjar (Perkaban) Kapuas, Kalimantan Tengah
Organisasi Banjar/Kalimantan di Kalimantan Barat
  • Kerukunan Keluarga Banjar (KKB)
Organisasi Banjar/Kalimantan di Riau
  • Kerukunan Keluarga Banjar (KKB),Indragiri Hilir,Riau
Organisasi Banjar di Malaysia
  • Pertubuhan Banjar Malaysia (PBM)

Suku Banjar di Kalimantan Timur

Suku Banjar (Banjar Samarinda) di Kalimantan Timur sering disebut juga suku Melayu, merupakan 20 % dari populasi penduduk. Suku Banjar terdapat seluruh kabupaten dan kota di Kaltim. Beberapa kecamatan yang terdapat banyak suku Banjarnya misalnya Kecamatan Kenohan dan Jempang di Kutai Kartanegara; Kecamatan Samarinda Ulu dan Samarinda Ilir di kota Samarinda.

Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565 yaitu orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas ( Pasir Balengkong) di daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur.

Suku Banjar di Kalimantan Tengah

Suku Banjar di Kalimantan Tengah sering pula disebut Banjar Melayu Pantai atau Banjar Dayak maksudnya suku Banjar yang terdapat di daerah Dayak Besar yaitu nama lama Kalimantan Tengah. Suku Banjar merupakan 25 % dari populasi penduduk dan sebagai suku terbanyak di Kalteng dibanding suku Dayak Ngaju, suku Dayak Bakumpai, Dayak Sampit dan lain-lain. Sedangkan migrasi suku Banjar (Banjar Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Mustainbillah (1650-1672), yang telah mengijinkan berdirinya Kerajaan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama Pangeran Adipati Antakusuma.

Suku Banjar di Sumatera dan Malaysia

Suku Banjar yang tinggal di Sumatera dan Malaysia merupakan anak, cucu, intah, piat dari para imigran etnis Banjar yang datang dalam tiga gelombang migrasi besar. Pertama, pada tahun 1780 terjadi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi emigran ketika itu adalah para pendukung Pangeran Amir yang menderita kekalahan dalam perang saudara antara sesama bangsawan Kerajaan Banjar, yakni Pangeran Tahmidullah. Mereka harus melarikan diri dari wilayah Kerajaan Banjar karena sebagai musuh politik mereka sudah dijatuhi hukuman mati. Kedua, pada tahun 1862 terjadi lagi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi imigrannya kali adalah para pendukung Pangeran Antasari dalam kemelut Perang Banjar. Mereka harus melarikan diri dari pusat pemerintahan Kerajaan Banjar di kota Martapura karena posisi mereka terdesak sedemikian rupa. Pasukan Residen Belanda yang menjadi musuh mereka dalam Perang Banjar yang sudah menguasai kota-kota besar di wilayah Kerajaan Banjar. Ketiga, pada tahun 1905 etnis Banjar kembali melakukan migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Kali ini mereka terpaksa melakukannya karena Sultan Muhammad Seman yang menjadi Raja di Kerajaan Banjar ketika itu mati syahid di tangan Belanda.


*Sumber: Wikipidea Indonesia

Orang Banjar dan Dayak di Kalimantan Selatan: Asal Usul dan Perhubungan Mereka

By Unknown | At 10.04.00 | Label : | 0 Comments
Orang Banjar dan Dayak di Kalimantan Selatan:
Asal  Usul dan Perhubungan Mereka


Dr.Mohamed Salleh Lamry**
(slamry@yahoo.com)

Abstrak

Makalah ini bertujuan untuk meninjau asal usul orang Banjar dan orang Dayak di Kalimantan Selatan dan hubungan antara dua suku itu pada masa yang lalu dan masa  kini. Adalah dipercayai bahawa orang Banjar terbentuk dari proses percampuran antara suku Dayak dengan suku-suku pendatang ke Kalimantan Selatan pada masa yang lalu. Namun, orang Banjar dan orang Dayak akhirnya wujud sebagai dua kelompok etnik yang mempunyai identiti yang tersendiri apabila orang Banjar umumnya memeluk agama Islam, manakala orang Dayak tidak beragama Islam. Perbezaan identiti berasaskan agama ini ditegaskan lagi apabila orang Dayak memilih tinggal di pedalaman, sementara orang Banjar di kampung dan di kota. Sejak zaman kesultanan dan zaman penjajahan, orang Dayak secara berterusan menjadi subordinat kepada orang Banjar yang mempunyai kedudukan yang lebih dominan. Kini, dengan terintegrasinya orang-orang Dayak ke dalam sistem nasional dan dengan kemunculan orang Banjar sebagai golongan pemerintah dan golongan pedagang yang dominan, orang Dayak yang majoritinya masih tinggal di pedalaman telah menjadi golongan yang terpinggir dan tertinggal dalam arus pembangunan. Dengan itu, satu-satunya jalan bagi orang Dayak untuk keluar dari keadaan  terpinggir itu hanyalah melalui pendidikan.

Pendahuluan

Makalah ini bertujuan untuk membincangkan asal usul orang Banjar dan Dayak di Kalimantan Selatan dan hubungan antara dua kumpulan etnik itu pada masa yang  lalu dan masa kini. Adalah dipercayai orang Dayak telah menjadi subordinat kepada orang Banjar apabila orang Banjar membentuk kerajaan  Islam Banjar dan menjadi kelas pemerintah pada abad yang ke-16. Kedudukan orang Dayak sebagai subordinat ini tidak berubah sepanjang zaman kesultanan, zaman  kolonial dan zaman selepas kemerdekaan. Dalam konteks Kalimantan Selatan masa  kini jelas orang Banjar masih merupakan golongan penguasa dan golongan pedagang yang dominan, sementara orang Dayak menjadi kelompok yang terpinggir dan tertinggal dalam arus pembangunan. Dalam masa mutakhir nampaknya ada dasar pembangunan yang dirumuskan oleh penguasa Banjar yang merugikan orang Dayak, tetapi terpaksa diterima oleh orang Dayak. Ini menyukarkan orang Dayak keluar dari keadaan mereka yang  mundur dan terpinggir. Dengan itu, orang Dayak mungkin memerlukan masa yang panjang sebelum mereka dapat keluar dari keadaan mereka yang mundur dan terpinggir, dan  satu-satunya jalan untuk mereka  keluar dari keadaan mundur dan terpinggir itu  hanyalah melalui pendidikan

Kalimantan Selatan Selayang  Pandang

Provinsi Kalimantan Selatan  kini ialah provinsi yang terkecil dari empat provinsi di Kalimantan. Bagaimanapun, tidak demikian pada masa yang lalu. Sehingga tahun 1957 Kalimantan Selatan ialah provinsi besar, yang merupakan gabungan dari

  ----------------
*    Kertas  kerja untuk Konferensi Antaruniversiti Se Borneo-Kalimantan Ke-3,  Banjarmasin,
             15-17 Jun  2007.
**  Mantan Prof.Madya dan Sarjana Tamu,  Program Antropologi dan Sosiologi, Universiti
             Kebangsaan Malaysia
Wilayah Kotawaringan, Dayak Besar, Daerah Banjar dan Federasi Kalimantan Tenggara.  Kalimantan Selatan pada masa itu mengandungi  provinsi yang kini dikenali sebagai Kalimantan Tengah.

        Walau bagaimanapun, setelah orang Dayak di Kalimantan Tengah meminta provinsi mereka sendiri dengan melancarkan perang gerila dan mendapat sokongan dari Jakarta, mereka telah memperoleh provinsi Kalimantan Tengah  pada tahun 1957. Wilayah Kotawaringin dan Dayak Besar dikeluarkan dari Kalimantan Selatan untuk membentuk provinsi Kalimantan Tengah. Sementara itu, Pasir (bahagian Federasi Kalimantan Tenggara) juga telah keluar dari Kalimantan Selatan dan bergabung dengan Kalimantan Timur. Dengan itu, Kalimantan Selatan kini hanya terdiri daripada Daerah Banjar dan sebahagian dari daerah Federasi Kalimantan Tenggara.

       Walaupun kini Kalimantan Selatan merupakan provinsi yang terkecil, tetapi  provinsi ini  ialah provinsi yang paling padat penduduknya. Mengikut sensus penduduk tahun 2000 Kalimantan Selatan mempunyai penduduk 2,975,440 orang, sementara luas wilayah yang mereka diami hanya 37,660 km atau 14,000 batu persegi  (Muller 1992).

        Mengikut sensus 2000 juga, ada lapan etnik terbanyak di Kalimantan Selatan, iaitu Suku Banjar (2,271,586 orang), suku Jawa (391,030 orang), Suku Bugis (73,037 orang), Suku Madura (36,334 orang) Suku Bukit (35,838 orang), Suku Mandar (29,322 orang), Suku Bakumpai (20,609 orang), dan Suku Sunda (18, 519 orang). Suku lain, yang tidak dinyatakan  namanya ialah 99,165 orang.

       Dari data di atas, pada masa ini Suku Banjar ialah majoriti penduduk Kalimantan Selatan, sementara  Suku Dayak (Bukit  dan Bakumpai)  kurang sepertiga dari jumlah Suku Banjar. Bagaimanapun, sebelum tahun 1957, ketika Kalimantan Tengah masih  merupakan sebahagian  daripada  Kalimantan Selatan,  jumlah Suku Dayak tentulah lebih ramai lagi.    

        Secara umum dapat dikatakan bahawa di Kalimantan (termasuk Kalimantan Selatan) suku Dayak menghuni kawasan pedalaman, sementara daerah pantai atau daerah hilir yang mengitari kawasan itu dihuni oleh suku Banjar, Jawa, Bugis  dan suku lainnya  (Masri Singarimbun 1996: 258).

Asal Usul Orang Banjar

Mengenai asal usul orang Banjar, pada masa ini sekurang-kurangnya ada dua pendekatan yang cuba menerangkan fenomena tersebut. Pertama, pendekatan primordialisme yang dikemukakan oleh Alfani Daud. Kedua, pendekatan konstruktifis atau situasionalis yang pada mulanya dikemukakan oleh Idwar Saleh (1986), kemudian dikembangkan oleh Marko Mahin (2004).

        Mengikut Alfani Daud (1997; 2004: 85) suku bangsa Banjar ialah penduduk asli sebahagian wilayah provinsi  Kalimantan Selatan,  iaitu selain kabupaten Kota Baru. Mereka itu diduga  berintikan penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya lebih dari seribu tahun yang lalu.  Setelah berlalu masa yang lama sekali, dan setelah  bercampur dengan penduduk yang lebih asli,  yang biasanya dinamakan  secara umum sebagai suku Dayak,  dan  dengan imigran yang  datang kemudian, akhirnya terbentuklah  setidak-tidaknya tiga subsuku, iaitu  Banjar Pahuluan, Banjar Batang Banyu dan  Banjar Kuala.

      Orang Pahuluan pada asasnya ialah penduduk daerah lembah sungai-sungai  (cabang sungai Negara) yang berhulu ke Pegunungan Meratus. Orang  Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara, sedangkan oang Banjar Kuala  mendiami daerah sekitar Banjarmasin dan Martapura.

      Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya  ialah bahasa Melayu – sama halnya seperti  ketika  mereka  berada di daerah asalnya di  Sumatera atau sekitarnya – yang di dalamnya terdapat banyak sekali kosa kata  yang berasal  dari kosa kata Dayak dan  Jawa.

     Nama Banjar diperoleh kerana mereka dahulu, sebelum dihapuskan pada tahun 1860, adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau dianggap sebagai Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada masa mula-mula didirikan. Ketika ibukota dipindahkan arah ke pedalaman, terakhir di Martapura, nama Banjar tersebut nampaknya sudah diterima umum  dan  tidak berubah lagi.

      Dari segi agama, boleh dikatakan semua orang  Banjar memeluk agama  Islam.  Dan mereka pada umumnya ialah orang yang taat menjalankan  perintah agamanya.

       Mengikut Idwar Saleh (1986: 12) pula, sebelum dan pada awal berdirinya Kesultanan Islam Banjar, baik etnik Banjar maupun etnik Dayak sama sekali tidak disebut. Hal itu bererti, Banjar, pada waktu itu belum menjadi identiti suku atau agama, dan hanya sebagai identiti diri yang  merujuk pada kawasan teritorial tertentu yang menjadi tempat tinggal mereka. Dengan itu, Idwar Saleh menyimpulkan:

        Demikian kita dapatkan keraton keempat adalah lanjutan dari kerajaan Daha dalam bentuk  kerajaan Banjar Islam dan berpadunya suku Ngaju, Maayan dan Bukit sebagai inti. Inilah penduduk Banjarmasih ketika tahun 1526 didirikan. Dalam amalgamasi (campuran) baru ini telah bercampur unsur Melayu, Jawa, Ngaju, Maayan, Bukit dan suku kecil lainnya diikat oleh agama Islam, berbahasa Banjar dan adat istiadat Banjar oleh difusi kebudayaan yang ada dalam keraton….Di sini kita dapatkan  bukan suku Banjar, kerana kesatuan etnik itu tidak ada,  yang ada adalah group atau kelompok besar iaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok  Banjar Batang Banyu dan  kelompok Banjar Pahuluan. Yang pertama tinggal di daerah Banjar Kuala sampai dengan daerah Martapura. Yang kedua tinggal di sepanjang Sungai Tabalong dari muaranya di Barito sampai dengan Kelua. Yang ketiga tinggal di kaki pegunungan Meratus dari Tanjung sampai Pelaihari. Kelompok Banjar Kuala  berasal dari kesatuan- etnik Ngaju, kelompok Banjar Batang Banyu berasal dari kesatuan- etnik Maayan, kelompok Banjar Pahuluan berasal dari kesatuan- etnik Bukit. Ketiga ini adalah intinya. Mereka menganggap lebih beradab dan  menjadi kriteria dengan yang bukan Banjar, iaitu golongan Kaharingan, dengan ejekan orang Dusun, orang Biaju, Bukit dan sebagainya.

       Selanjutnya menurut Idwar Saleh (1991):

        Ketika Pangeran Samudra mendirikan kerajaan Banjar ia dibantu oleh orang Ngaju, dibantu patih-patihnya seperti Patih Balandean, Patih Belitung, Patih Kuwin dan sebagainya serta orang Bakumpai yang dikalahkan. Demikian pula penduduk Daha yang dikalahkan sebagian besar orang Bukit dan Manyan. Kelompok  ini diberi agama baru iaitu agama Islam, kemudian mengangkat sumpah setia kepada raja, dan sebagai tanda setia memakai bahasa ibu baru dan meninggalkan bahasa ibu lama. Jadi orang Banjar itu bukan kesatuan etnis, tetapi kesatuan politik, seperti bangsa Indonesia.

       Maka, berdasarkan pendapat Idwar Saleh (1991) dapat diambil kesimpulan, bahawa suku Banjar terbahagi kepada 3 subetnis berdasarkan wilayah tempat tinggal mereka dan unsur pembentuk suku itu, yang menggambarkan masuknya penduduk pendatang ke wilayah penduduk asli Dayak:

1.    Banjar Pahuluan ialah campuran Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok).
2.    Banjar Batang Banyu ialah campuran Melayu, Maayan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Maanyan sebagai cirri kelompok)
3.    Banjar Kuala ialah campuran Melayu, Ngaju, Barangas, Bakumpai, Maayan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai ciri kelompok).

      Adalah diakui pendapat yang dikemukakan oleh Alfani Daud dan Idwar Saleh masing-masingnya mempunyai kekuatan yang tersendiri. Namun, tulisan-tulisan terakhir tentang asal usul orang Banjar saya dapati lebih banyak yang memihak kepada pendapat Idwar Saleh. Misalnya, tim penelitian dari Departmen Pendidikan dan Kebudayaan (1977-78: 17) merumuskan bahawa  Suku Banjar yang terdiri dari Banjar Kuala, Banjar Batang  Banyu dan Banjar Hulu adalah bentukan dari  Suku Dayak  Maayan, Dayak Lawangan, Dayak Bukit Meratus dan Dayak Ngaju. Melalui proses pembauran yang memakan waktu berabad-abad, kelompok Dayak yang menggunakan bahasa Banjar, beragama Islam dan bercampur dengan suku Melayu dan Jawa lambat laun dalam kerajaan Banjar menjadi Suku Banjar, sementara yang tidak memeluk  Islam dan tidak berbahasa Banjar, tetap menyebut diri mereka sebagai Dayak.

Asal  Usul Orang Dayak

Ada pelbagai pendapat tentang asal-usul orang Dayak, tetapi setakat ini belum ada yang betul-betul memuaskan. Namun, pendapat yang diterima umum menyatakan bahawa orang Dayak ialah salah satu kelompok asli terbesar dan tertua yang mendiami pulau Kalimantan (Tjilik Riwut 1993: 231). Gagasan tentang penduduk asli ini didasarkan pada teori migrasi penduduk ke Kalimantan. Bertolak dari pendapat itu adalah dipercayai bahawa nenek moyang orang Dayak berasal dari China Selatan, sebagaimana yang dinyatakan oleh  Mikhail Coomans (1987: 3):

…semua suku bangsa Daya termasuk pada kelompok  yang bermigrasi secara besar-besaran  dari daratan Asia. Suku bangsa Daya merupakan keturunan daripada  imigran yang  berasal dari  wilayah yang kini  disebut Yunnan di Cina Selatan. Dari tempat itulah kelompok kecil mengembara melalui Indo China ke jazirah Malaysia yang menjadi loncatan untuk memasuki pulau-pulau di Indonesia, selain itu, mungkin ada kelompok yang memilih batu loncatan lain, yakni melalui Hainan, Taiwan dan Filipina. Perpindahan itu tidak begitu sulit, kerana pada zaman glazial (zaman es) permukaan laut sangat turun (surut), sehingga dengan perahu-perahu kecil sekalipun mereka dapat menyeberangi perairan yang memisahkan pulau-pulau itu.    

        Adalah dipercayai bahawa penduduk Yunnan pada masa itu melakukan perpindahan untuk mencari tempat yang dianggap paling dapat memberikan kebebasan bergerak utnuk mencari nafkah, khususnya untuk berladang dan berburu.   Rupanya perpindahan itu tidak hanya sekali terjadi, tetapi berlangsung secara bertahap, seperti dikatakan Coomans (1987:3):

        Kelompok-kelompok pertama yang masuk wilayah Kalimantan ialah kelompok Negrid dan Weeddid, yang sekarang sudah tidak ada lagi. Kemudian disusul oleh kelompok yang lebih besar, yang disebut  Proto Melayu. Perpindahan ini berlangsung lagi selama 1000 tahun, antara 3000-1500 sebelum Masehi.

        Lebih lanjut disebutkan bahawa, “Sekitar lima ratus tahun sebelum Masehi berlangsung lagi suatu perpindahan besar dari daratan Asia ke pulau-pulau Indonesia. Kelompok-kelompok ini disebut  Deutro-Melayu” (Coomans 1987: 4).

       Mengikut Tjilik Riwut (1993: 231) Orang Proto Melayu (Melayu Tua) pada mulanya  mendiami kawasan pantai.  Akan tetapi, dengan kedatangan  orang Melayu Muda, orang Melayu  Proto terdesak ke pedalaman, sama ada kerana kalah perang atau kerana  kebudayaan Melayu Tua lebih rendah jika dibandingkan dengan  Melayu Muda. Kelompok Melayu Muda khasnya, sudah hidup menetap dalam satu komuniti, (seperti rumah panjang), dan mengenal teknik pertanian lahan kering, iaitu berladang.

      Seorang penulis lain, Ch.F.H.Dumont (dipetik dari Tjilik Riwut 1993: 191) merujuk khusus kepada perpindahan orang Dayak ke pedalaman, seperti berikut:

      Orang-orang Dayak ialah penduduk pulau Kalimantan yang sejati, dahulu mereka ini mendiami pulau Kalimantan, baikpun pantai-pantai baikpun sebelah ke darat. Akan tetapi tatkala orang Melayu dari Sumatera dan Tanah Semenanjung Melaka datang ke situ terdesaklah orang Dayak itu lalu mundur, bertambah lama, bertambah  jauh ke sebelah darat pulau Kalimantan.

       Teori tentang migrasi ini sekaligus boleh menjawab persoalan: mengapa suku bangsa  Dayak kini  mempunyai begitu banyak sifat yang berbeza, sama  ada dalam bahasa  mahu pun dalam ciri-ciri budaya  mereka.

      Dewasa ini suku bangsa Dayak terbagi dalam enam rumpun besar, iaitu Kenyah-Kayan-Bahau, Ot Danum, Iban, Murut, Klemantan dan Punan.  Keenam rumpun ini terbagi lagi  kepada lebih kurang 405 sub suku.  Meskipun terbagi kepada ratusan sub suku, kelompok suku  Dayak memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas. Ciri-ciri tersebut menjadi faktor penentu salah suatu sub suku di Kalimantan dapat  dimasukkan ke dalam kelompok Dayak. Ciri-ciri tersebut ialah rumah panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit beliong (kapak Dayak) pandangan terhadap alam, mata pencarian (sistem perladangan) dan seni tari.

Perhubungan Orang Banjar dan  Dayak  Masa Lalu

Sejak munculnya  kerajaan Islam  Banjar pada tahun  1526,  hubungan antara orang Banjar dengan orang Dayak  mungkin tidaklah begitu berbeza  dengan  hubungan kerajaan Islam yang lain dengan orang Dayak di Kalimantan pada keseluruhannya.  Meminjam kata-kata seorang ahli antropologi  kolonial van Linden   (Djuweng 1996: 3 dalam Yeti Maunati 2004:311) nasib orang Dayak adalah dijajah, bukan memerintah. Selama berabad-abad, orang Dayak sudah menjadi bawahan politik  kepada  kekuasaan lokal, nasional dan kolonial.

        Secara lebih khusus, hubungan antara Kesultanan Banjar dengan orang Dayak  mungkin ada persamaannya dengan hubungan antara Kesultanan Kutai dengan orang Dayak di Kalimantan Timur. Mengikut Magenda 1991: 2) sebelum masa penjajahan Belanda, wilayah kekuasaan Kesultanan Kutai meliputi orang Dayak di pedalaman, malah pada akhir abad ke-15, kesultanan itu sesungguhnya sudah menjadi persekutuan yang longgar yang terdiri daripada komuniti Dayak dengan seorang raja Melayu dipuncak kekuasaannya. Namun, Kesultanan Kutai yang baru pada awal abad ke-16 adalah kesultanan Melayu par excellence, serupa dengan kesultanan Melayu lainnya didaerah Pesisir Sumatra dan Kalimantan.

        Baik Magenda (1991) mahupun Rousseau (1990) menyatakan bahawa orang Kutai berusaha menguasai orang Dayak, tetapi mereka tidak dapat melakukan sepenuhnya kerana orang Dayak boleh berpindah lebih jauh ke pedalaman. Keadaan demikian diperkirakan berlaku juga di Kalimantan Selatan dalam perhubugan  antara orang Banjar dengan orang Dayak

      Malah, di Kalimantan Selatan  pernah berlaku pemberontakan oleh suku Dayak terhadap Sultan Banjamasin, Sultan Sulaiman pada tahun 1824-1825.  Pemberontakan itu dilakukan oleh orang Dayak Bakumpai, di bawah pimpinan Pembakal (Kepala) Kendet, ketua mereka.  Walaupun isterinya  adalah keluarga Sultan,  tetapi sejak 1816 lagi hubungannya dengan Sultan tidak begitu baik. Sultan tidak berupaya menundukkannya, dan ia hanya dapat dikalahkan dengan bantuan Belanda pada tahun 1825. Ia dijatuhkan hukuman bunuh pada 7 Mac tahun tersebut (Helius Sjamsudddin 2001: 50).

      Walau bagaimanapun, dalam sejarah Kalimantan Selatan  hubungan  antara orang Banjar dengan orang Dayak  juga dicirikan oleh hubungan persaudaraan dan ikatan kekeluargaan, kerana adanya  perkahwinan yang  kerap antara  Raja Banjar dengan puteri Dayak. Misalnya, dari tradisi lisan  suku Dayak Ngaju diketahui bahawa   isteri Raja Banjar pertama yang bernama Biang Lawang adalah etnik Dayak Ngaju.  Isteri kedua Raja Banjar pertama yang bernama Noorhayati, menurut tradisi lisan suku Dayak. Maayan, berasal dari etnik mereka. Dalam Hikayat  Banjar pula ada disebut bahawa   salah seorang isteri Raja Banjar  ketiga, Sultan Hidayatullah juga puteri Dayak, iaitu puteri Khatib Banun, seorang tokoh Dayak Ngaju. Dari rahim puteri ini lahir Marhum Panembahan yang kemudian naik takhta dengan gelaran Sultan Mustainbillah. Puteri Dayak berikutnya ialah isteri Raja Banjar kelima, Sultan Inayatullah, yang melahirkan Raja Banjar ketujuh, Sultan Agung. Dan Sultan Tamjidillah (putera Sultan Abdulrahman bin Sultan Adam) juga lahir dari seorang puteri Dayak berdarah campuran Cina, iaitu Nyai Dawang.

      Sementara itu, dari perkahwinan Pangeran Antasari dengan Nyai Fatimah,  saudara perempuan Tumenggung Surapati kepala suku Dayak Siang Murung, lahir Sultan Muhamad Seman, yang kemudian meneruskan perjuangan ayahnya menentang Belanda, sehingga gugur oleh peluru Belada pada tahun 1905. Dalam masa perjuangan itu, Muhammad Seman telah mengahwini dua puteri Dayak dari suku Dayak Ot.Danum. Anak Sultan Muhamad Seman, Gusti Berakit juga mengahwini puteri kepala suku Dayak yang tinggal di tepi sungai Tabalong pada tahun 1906.

      Hubungan persahabatan yang erat antara orang Banjar dengan Dayak jelas kelihatan apabila kedua-dua suku itu berjuang bersama-sama melawan Belanda dalam Perang Banjar (1858-1905). Meskipun ketika berlakunya peperangan itu tidak dinafikan ada ketua suku Dayak yang berpihak di sebelah Belanda, tetapi penyertaan dan sokongan suku Dayak dalam Perang Banjar itu nampaknya sangat terserlah. Dalam peperangan yang memakan masa yang agak panjang itu, ramai pahlawan perang itu terdiri daripada etnik Dayak, antaranya yang paling menonjol ialah Tumenggung Surapati, Panglima Batur (dari suku Dayak Siang Murung), panglima Unggis, Panglima Sogo, Panglima Batu Balot (seorang wanita), dan panglima Wangkang (dari suku Dayak Bakumpai).

      Pada zaman kolonial Belanda pula, hubungan persaudaraan dan ikatan keluargaan antara orang Banjar dengan orang Dayak masih berterusan. Namun, berbanding dengan orang Dayak, lebih ramai orang Banjar yang berpeluang memasuki birokrasi kolonial, sekurang-kruangnya sebagai pegawai rendah. Dengan itu, orang Dayak terus menjadi subordinat kepada orang Banjar yang menjadi pegawai kerajaan kolonial  itu seperti pada zaman Kesultanan juga.

Hubungan  Orang Banjar dan Dayak Masa Kini

Walaupun orang Banjar dan orang Dayak berasal dari masa silam yang sama, tetapi kini masa silam yang sama itu mungkin tidak penting lagi. Yang lebih  menonjol kini ialah identiti yang baru – orang  Banjar dan orang Dayak adalah dua kumpulan etnik yang berbeza  Dan  atas identiti baru itu, dua suku yang bertetangga – Banjar dan Dayak --  telah terlibat dengan persaingan dalam pelbagai bidang kehidupan.  Dengan itu, Hairus Salim (1996: 227) menganggap bahawa hubungan   orang Banjar dengan orang  Dayak kini  ialah  hubungan yang  “tak selalu mesra”.

       Hubungan orang Banjar dengan orang Dayak yang tidak selalu mesra itu telah diungkapkan oleh Anna Lowenhaupt Tsing (1993), seorang ahli antropologi dari Universiti California, dalam kajiannya tentang Dayak Meratus atau Dayak Bukit, yang banyak bermukim di sekitar pergunungan Meratus di  Kalimantan Selatan.

        Walaupun “hubungan kultural” antara  orang Banjar dan Dayak telah “terputus” apabila  “Banjar” ditegaskan sebagai identiti mereka yang beragama Islam, dan orang Dayak  pula ialah orang yang “bukan Islam”,  tetapi menurut Tsing (1993) hubungan ekonomi dan politik yang berasaskan kawasan antara kedua-dua suku tetap berlangsung terus. Hubungan ekonomi dan politik yang berasaskan kawasan itu pada masa kebelakangan ini diatur oleh  “pentadbiran negara”.

        Dari segi ekonomi, orang Banjar sebenarnya terlibat dengan hubungan perdagangan yang intensif dengan suku Dayak Meratus, malah merekalah yang menjadi perantara bagi perkembangan ekonomi wilayah (Hairus Salim 1996: 230). Orang Banjar mendominasi pasar minggu kecil dihujung jalur yang menuju pegunungan Meratus. Keperluan-keperluan suku Dayak seperti pakaian, garam, perkakas logam dan barang-barang mewah lainnya disalurkan oleh orang Banjar.  Sementara itu dengan berjalan kaki atau naik rakit, orang Dayak Meratus datang ke pasar tersebut untuk menjual rotan, getah, kacang, kayu ulin, kayu kemenyan dan hasil-hasil hutan yang lain  kepada  orang Banjar, yang kemudian menjualnya pula  ke bandar.

        Walau bagaimanapun, hubungan perdagangan antara orang Banjar dengan orang Dayak itu berlangsung dalam keadaan yang sangat tidak seimbang. Sebagai perantara, orang-orang suku Banjar mempunyai kedudukan tawar menawar yang lebih tinggi. Mereka boleh menetapkan harga mengikut kemahuan  mereka, yang menyebabkan  suku Dayak Meratus  selalu merasa dirugikan. Akan tetapi, orang Dayak tidak dapat berbuat apa-apa, kerana  mereka tidak mempunyai pilihan lain.

       Selain itu, orang-orang Dayak Meratus juga tidak berpuas hati kerana mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mendapatkan kredit daripada pedagang Banjar; jauh dari pemilik sarana pengangkutan, truk atau motorboat, gudang, dan tempat pengeringan getah, yang semuanya dimiliki oleh orang Banjar; tidak mempunyai jaringan untuk mendapatkan modal, kemudahan-kemudahan penyimpanan, dan tempat tinggal di bandar Banjarmasin; akses yang  sangat  terbatas untuk mengetahui keadaan pemasaran dan seterusnya (Tsing 1993: 55-56).

      Perhubungan perdagangan yang tidak seimbang itu, diperkuatkan pula oleh  hubungan orang Banjar yang rapat  dengan “negara”. Orang Banjar adalah penguasa politik pada peringkat wilayah. Bahkan kepentingan  negara di kalangan  suku Dayak diartikulasikan oleh kepentingan-kepentingan suku Banjar. Di daerah Meratus, ‘’kepentingan  negara” menjelma menjadi kepentingan orang Banjar.  Ini ialah kerana pegawai-pegawai pemerintah pada peringkat kabupaten dan  kecamatan, dan pegawai  tentera,  pertanian dan kesihatan yang melakukan  hubungan dengan orang Dayak ialah orang-orang suku Banjar. Dengan itu, negara dan  kepentingan nasional tampil  di kalangan Dayak Meratus dengan wajah Banjar.

        Wajah “negara” dalam artikulasi kepentingan suku Banjar itu diperlihatkan Tsing (1991) misalnya dalam dasar negara mengenai pembangunan masyarakat  terasing pada tahun 1970-an.  Dalam pentadbiran dasar itu, pada tahun 1971  suku Dayak Meratus dimasukkan sebagai salah satu dari masyarakat terasing. Maka   pegawai pemerintah yang kebanyakannya terdiri daripada orang Banjar telah membuka hutan untuk menjadi tempat tinggal baru bagi orang Dayak Meratus.   Bagaimanapun, dengan pembukaan hutan itu, orang Banjar juga mendapat kesempatan untuk berpindah ke kawasan baru tersebut, dengan jaminan mendapat perkhidmatan dan tanah. (Tsing 1991: 45).  Sebagai akibatnya, tidak lama selepas itu, pemukiman baru itu telah didominasi oleh orang Banjar, kerana  penguasaan mereka terhadap jalur  perdagangan dan politik wilayah. Sementara itu, orang Dayak Meratus sendiri terus tersingkir, bahkan kemudian banyak yang pulang ke tempat mereka yang asal.

        Tidak dinafikan masyarakat Dayak Meratus berpeluang mengenal kemajuan melalui pelbagai dasar negara yang diartikulasikan oleh  pegawai  pemerintah dari suku Banjar. Mereka mempelajari ekonomi global daripada pedagang Banjar. Orang  Meratus juga  mengenali birokasi negara di tingkat wilayah melalui orang Banjar. Akan tetapi, hubungan itu tetap bersifat artifisial, kerana dalam banyak hal justru membuat orang Dayak semakin jatuh dan  jauh terpinggir  dari yang mereka alami sejak zaman pra-kolonial dan kolonial (Hairus Salim 1996: 231).

        Perhubungan orang Banjar dengan orang Dayak masa kini memasuki tahap yang baru, apabila mulai  tahun 2000, suku Dayak Meratus  terlibat  dengan konflik yang agak serius  dengan  golongan penguasa Kalsel yang terdiri daripada orang Banjar. Hal ini berkaitan dengan dasar dan tindakan  Sjachriel Darham, Gubernor Kalsel masa itu  yang nampaknya tidak mengambil kira kepentingan orang Dayak. Sjachriel Darham telah  membenarkan sebahagian Hutan Lindung Pegunungan Meratus, tempat tinggal orang Dayak, seluas 46,270 hektar, diberikan kepada perusahaan perkebunan berskala besar, PT Kodeco Group, yang berasal dari Korea Selatan.

      Sebagaimana yang diketahui suku Dayak Meratus telah mendiami kawasan pegunungan Meratus itu sejak turun temurun. Hutan itu merupakan sumber kehidupan mereka, kerana memang di situlah tempat tinggal mereka sejak lama.   Oleh itu, sudah  tentu  suku Dayak Meratus  tidak menyetujui Hak Pengusahaan Hutan (HPT) kawasan hutan  itu diserahkan  kepada pengusaha besar. Apatah lagi pemberian konsesi kepada perusahaan dari Korea itu akan melibatkan alih fungsi sebahagian kawasan pergunungan Meratus dari hutan lindung kepada  hutan produksi.  

      Oleh itu, mendengar kawasan  hutan lindung itu akan dijadikan  kawasan  Hak Penguasaan Hutan (HPH) Kodeco, ratusan warga masyarakat  Dayak Meratus berkali-kali turun ke Banjarmasin untuk mengadakan tunjuk perasaan,  sama ada kepada  DPRP mahupun kepada Gabenor sendiri. Sejak tahun 1998 hingga awal 2000 dikatakan lebih 20 kali warga pedalaman itu mengadakan tunjuk perasaan ke Banjarmasin dengan tuntutan yang sama: menolak kawasan Meratus dijadikan kawasan HPH. Namun, tuntutan mereka tidak pernah diberi perhatian yang sewajarnya. (Kompas,1 Ogos 2001).

      Tuntutan warga Dayak Meratus itu akhirnya didengar oleh beberapa LSM.  Mereka memberi sokongan  dengan membentuk  Aliansi Meratus yang merupakan gabungan 33 LSM. Lembaga Mushawarah Masyarakat Dayak Kalsel (LMMD-KS) dan LSM Telapak Indonesia yang beribu pejabat di Bogor juga memberi sokongan moral kepada warga Dayak Meratus dengan  mengecam Pemda Kalsel.

      Para aktivis itu jugalah yang meneruskan tuntutan warga Dayak Meratus, sama ada kepada Gabenor Sjachriel mahupun kepada DPRD tempatan. Namun, pihak Pemda bertindak balas untuk melumpuhkan gerakan itu dengan mengadukan Koordinator Aliansi Meratus, Hairansyah kepada pihak polis dengan tuduhan menghasut rakyat untuk mengadakan tunjuk perasaan.

      Ketika isu yang berkaitan dengan pemberian sebahagian hutan lindung Pegunungan Meratus kepada perusahaan besar itu belum lagi selesai, timbul pula isu lain yang melibatkan  kawasan yang sama, iaitu pemberian  hak melombong kepada pengusaha perlombongan emas, PT Meratus Sumber Mas oleh pemerintah daerah.   Tindakan pemerintah daerah ini  mendapat tentangan daripada  kira-kira  750 orang perwakilan dari 300 balai (rumah besar pusat  kegiatan adat)  yang tersebar di seluruh Kalimantan Selatan, yang mengadakan kongres selama empat hari, berakhir pada 26 Jun 2003 di Samarinda (Kompas 1 Julai 2003). Namun, penentangan warga Dayak Meratus itu nampaknya tidaklah mendapat perhatian  yang sepatutnya daripada pemerintah daerah yang dikuasai oleh orang Banjar.

      Oleh yang demikian, sebuah  LSM terkenal yang prihatin tentang masalah alam sekitar, iaitu  WALHI, dalam siaran akhbarnya pada  2 Jun 2006 menyatakan:

Hutan Lindung Meratus, kawasan hutan asli yang masih tersisa di Propinsi Kalimatan Selatan, “rumah terakhir” masyararakat Dayak Meratus saat ini menjadi kawasan yang paling terancam. Saat ini pemerintah dan pengusaha tambang serta perkebunan skala besar melakukan berbagai cara, termasuk memecah masyarakat  Dayak Meratus melalui perubahan tapal batas antar kabupaten…Sayangnya kebutuhan masyarakat bertolak belakang dengan keinginan pemerintah daerah (Walhi 2006) .

      Apabila disebut pemertintah daerah tentulah merujuk kepada orang Banjar, kerana orang Banjarlah yang merupakan penguasa pada peringkat tersebut. Ini bermakna konflik antara orang Dayak dengan orang  Banjar  masih berterusan.

Kesimpulan

Meskipun orang Banjar berasal dari orang Dayak, ataupun  dari  percampuran orang Dayak dengan pelbagai suku yang lain, tetapi setelah orang Banjar memeluk agama Islam dan menubuhkan kerajaan Islam Banjar, “perpisahan” antara kedua suku itu nampaknya sudah merupakan sesuatu yang berkekalan. Mungkin sejak zaman dahulu lagi, orang Dayak yang tidak memeluk agama Islam memilih   tinggal di kampung yang berasingan dari kampung orang Banjar; di tempat yang umumnya terletak di pedalaman.

        Kemunculan kerajaan Islam Banjar pada abad ke-16, nampaknya menandakan bermulaanya kedudukan orang Dayak sebagai subordinat kepada orang Banjar, kerana orang Banjar adalah kelas pemerintah  yang wilayah pemerintahannya  meliputi juga kawasan yang didiami oleh orang Dayak. Kedudukan orang Dayak sebagai subordinat kepada orang Banjar ini boleh dikatakan tidak berubah pada zaman penjajahan dan lebih jelas lagi pada zaman selepas kemerdekaan, kerana pada  zaman   selepas kemerdekaan  memang  orang Banjarlah yang menduduki jawatan penting dalam pemerintahan daerah, di samping mereka juga yang menguasai perdagangan  yang melibatkan  orang Dayak.

       Jika kita lihat hubungan orang Banjar dengan  orang Dayak pada masa mutakhir,  hubungan mereka nampaknya bukan sahaja tidak mesra, malah sudah melibatkan konflik yang agak serius. Hubungan tidak mesra itu sudah kelihatan sejak lama, melibatkan golongan pedagang Banjar dan penguasa  Banjar, yang jelas lebih berkuasa ke atas orang Dayak  Kini timbul pula isu baru yang menimbulkan konflik, iaitu  tindakan pemerintah daerah yang diketuai oleh Gabenor dari etnik Banjar yang memberikan  kawasan hutan tempat tinggal orang Dayak Meratus kepada pengusaha  perkebunan  dan perlombongan besar.

       Tidaklah dinafikan  pemberian kawasan hutan untuk diusahakan oleh pengusaha besar itu ada juga  faedahnya kepada  orang Dayak, misalnya dari segi wujudnya peluang pekerjaan, dan mungkin terbinanya jalan yang akan menghubungkan  kawasan tempat tinggal orang Dayak dengan kawasan bandar. Namun, sebagaimana yang terbukti dari kajian di tempat lain, (lihat Syarif Ibrahim Alqadrie 1994, 244-260; Patingi Y.A.Aris 1994, 261-66),  kesan negatif dari  aktiviti pembukaan kawasan hutan dan perlombongan itu kepada kehidupan penduduk setempat jauh lebih banyak dari kesan  positifnya. Itulah sebabnya orang Dayak tidak menyetujui  kawasan hutan tempat tinggal mereka diberikan kepada  pengusaha besar.

      Walau bagaimanapun, kedudukan orang Dayak sebagai subordinat kepada orang  Banjar nampaknya tidak memungkinkan mereka menentang dasar pembangunan penguasa Banjar yang  merugikan mereka, dan dengan itu sangatlah sukar  mereka keluar dari kehidupan mereka yang mundur dan terpinggir. Barangkali orang Dayak hanya mungkin  keluar dari keadaan mundur dan terpinggir itu, setelah melalui satu masa yang agak lama, khasnya setelah mereka mencapai taraf pendidikan yang memadai dan dengan itu  dapat menduduki jawatan penting dalam pemerintah daerah, sama ada dalam  bidang birokrasi mahupun politik. Memang sebagaimana yang sering berlaku, orang Dayak hanya  mungkin  bermobiliti ke atas, walaupun agaknya secara beransur-ansur, melalui jalan pendidikan.

Rujukan
Agama  dan Etnisitas:  Kajian Tentang Asal Usul Pembentukan Etnis Banjar.
        Kandil. Edisi 6, Tahun 11, Agustus-Oktober
Alfani Daud. 1997.  Islam dan Masyarakat Banjar: Deskripsi dan Analisa
        Kebudayaan Banjar. Jakarta:  Rajawali Press.
Alfani Daud. 2004. Islam dan Asal-Usul Masyarakat Banjar. Kandil.
        Edisi 6, Tahun 11, Agustus-Oktober.
Coomans, M. 1987.Manusia Daya, Dahulu, Sekarang dan Masa Depan. Jakarta: PT
        Gramedia.
Hairus Salim HS. 1996. Islam Banjar, Relasi Antar Etnik, dan Pembangunan. Dalam
        Kisah dari Kampung Halaman .  Yogyakarta: Penerbit Dian/Interfidei
Hudson, A.D. & Judith M.Hudson.  1984. Telang: Sebuah Desa Ma’ayan di
        Kalimantan Tengah. Dalam Koentjaraningrat (pnyt.)  Masyarakat Desa di
        Indonesia  Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas  Ekonomi Universitas Indonesia.
Hudson, A.B. 1972. Padju Epat: The Ma’anyan of Indonesian Borneo. New York:
        Holt, Rinehart and Winston.
King.V.T. 1994.  The Ethnic Groups of Borneo. Kuala Lumpur: S. Abdul Majeed &
        Co.
King.V.T.  1985.  Kedudukan Sosial dan Perubahan Sosial di Kalangan Suku Maloh,
         Kalimantan Barat. Dalam Dove, M.R (pnyt.)  Peranan Kebudayaan Tradisional
         dalam  Modernisasi.  Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Kompas. 2001. Meratus Nasibmu Kini… Kompas, 1 Ogos,
        .http://www.kompas.com/kompas-cetak/0108/01/daerah/mera26.htm
Kompas. 2001. Masyarakat Dayak Meratus Diobok-obok.  Kompas, 1 Ogos.
         http://www. kompas.com/kompas-cetak/0108/01/daerah/masy26.htm
Kompas 2001. Hutan Lindung Meratus Bakal Tamat. Kompas, 1 Ogos.
         http://www. kompas.com/kompas-cetak/0108/01/daerah/huta25.htm
Kompas.2001. Dayak Meratus Tolak Pembukaan Hutan. Kompas, 15 Disember.
         http://www.kompas.com/kompak-cetak/0112/15/iptek/daya10.htm.
Marko Mahin. 2004.  Urang Banjar: Identitas  dan Etnisitas di Kalimantan Selatan.
         Kandil.  Edisi 6, Tahun 11, Agustus-Oktober.
Masri Singarimbun. 1996.  Penduduk dan Perubahan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Miles, D. 1976.  Cutlass and Crescent Moon: A Case Study of Social dan Political
        Change in Outer Indonesia. Sydney: Centre for Asian Studies University of
        Sydney.
Mubyarto dkk.  1991.  Kajian Sosial Ekonomi Desa-Desa Perbatasan di Kalimantan
        Timur.  Yogyakarta:  Aditya Media.
Muller, K.  1992. Dalam D.Pickell (editor) Indonesian Borneo Kalimantan.
        Singapore: Periplus Editions.
Patingi Y.A.Aris. Pengaruh HPH Terhadap Sumber Daya Alam dan Kehidupan
        Masyarakat di Kecamatan Simpang Hulu Kabupaten Ketapang. Dalam Paulus
        Florus dkk. (pnyt.)  Kebudayaan Dayak: Aktualisasi dan Transformasi. Jakarta:
        PT. Grasindo.
Sellato, B. 2002. Innermost Borneo: Studies in Dayak Cultures. Paris: Seven Orients,
        & Singapore: Singapore University Press.
Stepanus Djuweng. 1996.  Orang Dayak, Pembangunan dan Agama Resmi. Dalam
        Kisah dari Kampung Halaman.   Yogyakarta: Penerbit Dian/Interfidei
Syarif Ibrahim Alqadrie. 1994.  Dampak Perusahaan Pemegang HPH dan
        Perkebunan Terhadap Kehidupan Sosial, Ekonomi dan Budaya Penduduk
        Setempat di Daerah Pedalaman Kalimantan Barat. Dalam Paulus Florus dkk
        (pnyt.)  Kebudayaan Dayak. Jakarta: Penerbit PT.Grasindo.
Tjilik Riwut.1993.  Kalimantan Membangun: Alam dan Kebudayaan. Yogyakarta:
        PT.Tiara Wacana.
Tsing, A.L. 1998.  Di Bawah Bayang-Bayang Ratu Intan: Proses Marjinalisasi Pada
        Masyarakat  Terasing. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Walhi.2006.http://walhi.or.id/kampanye/hutan/shk/060602_dykmeratus_sp/?&printer_friendly=t…
Yekti Maunati. 2004. Identitas Dayak: Komodifikasi dan Politik Kebudayaan.
       Yogyakarta: LKiS
Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz