Inilah Kisah muallaf nya seorang nenek buruh laundry,
Hanya karena sering memperhatikan apa yang ia cuci dan siapa pemiliknya ia mendapat hidayah walau hanya karena hal Celana Dalam.
Mungkin kedengaran aneh dan
janggal. Hidayah memang bisa
datang kapan saja dan pada siapa
saja. Selama ini mungkin kita lebih
sering mendengar masuk islamnya
seorang non muslim kedalam islam
di sebabkan hal-hal luar biasa dan
penting. Seperti dokter Miller
seorang penginjil Kanada yang
masuk islam setelah menjumpai
I’jaz Qur’an dari berbagai segi.Tapi
yang ini benar-benar tidak biasa.
Ya, masuk islam gara-gara celana
dalam!
Fakta ini dikisahkan Doktor Sholeh
Pengajar di sebuah perguruan
Tinggi Islam di Saudi, saat
ditugaskan ke Inggris. Ada seorang
perempuan tua yang biasa
mencuci pakaian para mahasiswa
Inggris termasuk pakaian dalam
mereka.
Tidak ada sisi menarik pada wanita
ini, tua renta, pegawai rendahan
dan hidup sendirian. Setiap kali
bertemu dia selalu membawa
kantong plastik berukuran besar
yang terisi penuh dengan pakaian
kotor. Untuk pekerjaan kasar
seperti ini penghuni rumah jompo
ini terbilang cekatan di usianya
yang sudah terbilang uzur.Di
Inggris, masyarakat yang memiliki
anggota keluarga lansia biasanya
cenderung memasukkan mereka ke
panti jompo. Dan tentu saja
keadaan miris ini harus diterima
kebanyakan para orangtua dengan
besar hati agar tidak membebani
anak mereka. Namun di tengah
kondisi seperti itu sepertinya tidak
membuat kecil hati tokoh kita ini
yang justeru begitu getol mengisi
hari-harinya bergelut dengan
cucian kotor.
Wanita baya itu lebih suka
dipanggil auntie atau bibi. Dia
sudah bekerja sebagai petugas
laundry hampir separuh usianya.
Beruntung baginya masih ada
instansi yang bersedia
mempekerjakan para manula.
“Aku merasa dihargai meski sudah
tua. Lagipula, orang-orang seperti
aku ini sudah tidak ada yang
mengurus, kalau bukan diri
sendiri. Anak-anakku sudah
menikah dan tinggal bersama
keluarga mereka masing-masing.
Suamiku sudah meninggal.
Walaupun anak-anak suka
menjenguk, tapi aku tetap ingin
punya kegiatan sendiri untuk
mengisi masa tua,” ujarnya
“Bukan untuk kerja yang berat
memang, tapi setidaknya, selain
menambah penghasilan juga
mengisi hari tua. Mungkin itu
lebih baik daripada harus tinggal
diam di panti jompo.” Ujarnya lagi
dengan wajah sendu.
“Sedih juga kalau harus tinggal
sendirian. Seperti seorang
temanku. Dia juga dulu bekerja
sebagai petugas laundry
bersamaku. Sampai akhirnya, anak
perempuan satu-satunya menikah.
Namun setelah menikah, anak
perempuannya itu tidak pernah
menghubunginya,” bibi berkisah.
Bagi sang Bibi profesinya sebagai
petugas laundry justeru
membuatnya lebih dekat dengan
sepak terjang, liku-liku penghuni
asrama yang rata-rata adalah
mahasiswa dari luar Inggris. Sang
Bibi paham betul kebiasaan para
mahasiswa yang tinggal di asrama
ini selain belajar sehari-hari,
adalah pergi clubbing sekedar
“having fun”. Banyak asrama
memiliki bar, café, ruang duduk
untuk menonton televisi, ruang
musik dan fasilitas olahraga
sendiri.
Dan salah satu sisi negatif
pergaulan dengan orang Inggris
adalah bila mereka sudah dekat
botol miras, biasalah mereka
sampai benar-benar mabuk. Dan
dapat dibayangkan kekacauan yang
terjadi. Muntah merata di
sebarang tempat, kencing dalam
celana dan sebagainya. Inilah
perbuatan paling bodoh yang
pernah dilakukan oleh manusia
sejak terciptanya minuman
beralkohol. Bukan saja
menghilangkan akal sehat, tetapi
juga si pemabuk akan merasa
kelelahan dan sakit kepala yang
teramat sangat (hangover).
Saat para penghuni asrama masih
dibuai mimpi karena kelelahan
habis clubbing semalaman suntuk.
Tinggalah sang Bibi memunguti
pakaian kotor itu setiap hari. Dan
terkadang harus diangkut dari
kamar, jauh sebelum mereka
bangun dari tidur. Kemudian
disortir dengan teliti satu persatu
berdasarkan jenis bahan, ukuran,
warna dan yang lebih spesifik lagi
dipisahkankannya pakaian dalam
dari yang lain. Begitu pekerjaan
rutin itu dilakukan dengan penuh
dedikasi tinggi walau diujung
usianya yang semakin menua.
Waktu terus berjalan, sementara
sang Bibi tanpa putus asa terus
bergelut dengan ‘dunia kotor’nya.
Idealnya di penghujung usianya itu
seharusnya masa bagi seseorang
menuai hasil kerja payahnya di
masa muda. Namun situasilah
yang menyebabkan dia harus
menanggung berbagai persoalan
hidup, maka sungguh itu
merupakan masa tua yang tidak
membahagiakan. Di dalam kondisi
yang sudah tidak mampu banyak
berbuat, dia justru dituntut harus
banyak berbuat. Dalam kondisi
produktivitas menurun ia justru
dituntut untuk berproduksi tinggi.
Entah sampai kapan dia harus
melakoni pekerjaan itu. Maka
sampailah suatu saat asramanya
kedatangan penghuni baru yaitu
beberapa mahasiswa muslim dari
Timur Tengah yang mendapat
tugas belajar dari negaranya.
Mereka sudah terdaftar akan
menempati salah satu kamar di
asrama tempat sang Bibi bekerja.
Bagi kebanyakan pelajar timur
tengah sangat langka memilih
tinggal di asrama. Mereka biasanya
membeli rumah atau flat yang
sudah disesuaikan untuk
menampung kelompok kecil siswa,
pasangan atau keluarga. Ada juga
beberapa pemilik tempat
perorangan mengijinkan rumah-
rumah mereka dikelola dan
disewakan.
Tinggal di asrama merupakan cara
terbaik untuk bertemu orang-
orang baru dan menjalin
persahabatan yang langgeng. Inilah
salah satu pertimbangan mereka
memilih tinggal di asrama.
Kesadaran inilah yang menepis
kekhawatiran akan terjadinya
gegar budaya atau “cultural
shock“.
Hidup dalam komunitas non
muslimlah justeru kita dituntut
untuk membuktikan nilai-nilai
Islam yang tinggi ini sebagai
sebuah solusi bagi manusia.
Tentunya ini adalah pekerjaan
dakwah yang merupakan
tanggungjawab setiap muslim
dimana saja berada. Dengan tetap
menjaga keistimewaan kita sebagai
muslim yaitu kesalehan.
Hari-hari terus berlalu, tampaknya
si Bibi ini betul-betul perhatian
dengan apa yang dicucinya.
Sampai-sampai dia tahu ini
pakaian si A, ini si B dan
seterusya. Tidak terkecuali dengan
pakaian kotor milik mahasiswa
dari Timur Tengah tadi. Namun
saat dilakukan sortir pakaian
dalam, si Bibi merasa ada sesuatu
yang tidak biasa, karena dari
semua pakaian yang dicucinya,
hanya pakaian muslim arab saja
yang terlihat tidak kotor, tidak
berbau, tidak kumuh dan tidak
banyak noda dipakaiannya.
Kejadian langka ini semakin
mendorong rasa penasaran si Bibi.
Lagi-lagi pencuci pakaian di
asrama ini selalu merasa aneh saat
mencuci celana dalam mereka.
Berbeda dengan yang lain, kedua
pakaian dalam mereka selalu tak
berbau.
Maka masih dalam keadaan
penasaran, si Bibi memutuskan
bertanya langsung dengan ‘pemilik
celana dalam’ itu. Saat ditanya
kenapa. Dua orang ini menjawab,
”Kami selalu istinja setiap kali
kencing.” Pencuci baju ini
bertanya lagi, ”Apakah itu
diajarkan dalam agamamu?”
“Ya!” Jawab dua orang pelajar
muslim tadi.
Merasa belum yakin 100 persen
dengan jawaban itu, akhirnya si
Bibi datang menemui salah
seorang tokoh muslim yaitu
Doktor Sholeh– Pengajar di sebuah
perguruan Tinggi Islam di Saudi,
saat ditugaskan ke Inggris– Wanita
tua ini menceritakan
keheranannya selama bertugas
perihal adanya pakaian dalam yang
‘aneh’.
Ada beberapa pakaian dalam yang
tidak berbau seperti kebanyakan
mahasiswa umumnya, apa
sebabnya? Maka ustadz ini
menceritakan karena pemiliknya
adalah muslim, agama kami
mengajarkan bersuci setiap selesai
buang air kecil maupun buang air
besar, tidak seperti mereka yang
tidak perhatian dalam masalah
seperti ini.
Betapa terkesan ibu tua ini jika
untuk hal yang kecil saja Islam
memperhatikan apatah lagi untuk
hal yang besar, pikir pencuci baju
itu. Dan tidak lama kemudian ia
mengikrarkan syahadat, masuk
Islam dengan perantaraan pakaian
dalam!
Tidak disangka ternyata diam-diam
si tukang cuci masuk Islam,
gemparlah para mahasiswa yang
tinggal di asrama tersebut, yang
kebanyakan adalah non muslim.
Mereka berusaha ingin tahu sebab
musabab si Bibi masuk islam. Dia
menjawab dengan yakin bahwa
dirinya sangat kagum dengan
kawan muslim Arab ini, karena
dari semua pakaian yang
dicucinya, hanya pakaiannya
sajalah yang terlihat tidak macam-
macam. Dan dengan hidayah Allah
Swt, dirinya dapat membedakan
antara pakaian seorang muslim
dan non muslim.
Hidayah memang bisa datang
kapan saja dan pada siapa saja.
Selama ini mungkin kita lebih
sering mendengar masuk Islamnya
seorang non muslim ke dalam
Islam lebih disebabkan pada hal-
hal luar biasa dan penting. Tapi
yang ini benar-benar tidak biasa.
Mendapat hidayah di penghujung
usia gara-gara pakaian dalam!
Sungguh takdir Allah benar-benar
telah jatuh berketepatan dengan
kegigihannya selama ini mengisi
hari-hari di sisa hidupnya sebagai
petugas laundry. Disinilah letak
rahasia nikmat Allah yang agung
yang mempertemukan antara
takdirNya dan ikhtiar manusia.
Sungguh Allah tidak pernah
menyia-nyiakan amal seorang
hambaNya.
(Di kutip dari: Majalah Al-Qawwam
edisi 15, dzul qa’dah 1427 H
Badiah, Riyadh )
Sumber:eramuslim.com
Jumat, 05 April 2013
0
Inilah Perbedaan Muslim Dan Non Muslim Dilihat Dari Cara Berpakaian Hingga Celana Dalampun Tidak Luput Dari Tanda Tanda
Rambutmu Indah Mengapa Harus Di Tutupi?
Salamu'alaikum Wr.Wb.
Inilah Sebagian kecil kisah muallaf Seorang wanita berikut ini.
“Sebagai seorang remaja saya pikir
semua agama adalah
menyedihkan. Pandangan saya saat
itu adalah: apa gunanya
menempatkan pembatasan pada
diri sendiri? Anda hanya hidup
sekali di dunia ini,” kata Lindsay
Wheeler, peraih BSc bidang
psikologi pada De Montfort
University mengisahkan masa
mudanya.
Bagi wanita yang kini berusia 26
tahun, hidup sekali harus diisi
dengan “kebahagiaan”. Yang
dilakukannya untuk bahagia saat
itu adalah: mabuk-mabukkan,
berpenampilan mengikuti tren
terkini, dan melakukan apa saja
yang ingin dilakukan.
Namun ketika pola pikirnya makin
tertata saat memasuki bangku
universitas, ia mulai mencari
makna hidup. “Minum-minum,
clubbing, dan kebiasaan lama
lainnya makin menjadi aktivitas
yang membosankan. Apa gunanya
semua itu?” ia menyatakan
pikirannya saat itu.
Saat dalam kondisi penuh tanda
tanya, wanita yang kini tinggal di
Leichester, Inggris ini bertemu
Hussein. “Saya tahu dia seorang
Muslim, dan kami saling jatuh
cinta. Saya mencoba memasukkan
seluruh masalah agama ‘di bawah
karpet’, tapi tak bisa,” ujarnya.
Ia pun makin rajin melahap buku-
buku keislaman. “Saya ingat, saat
itu tangis saya meledak ketika saya
berpikir, ‘Ini bisa jadi arti seluruh
kehidupan’. Menjadi Muslim
artinya menjalani hidup secara
terarah,” ujarnya.
Ia mencoba masuk dalam
komunitas Muslim. Berada di
tengah mahasiswi berjilbab, ia
merasa tenteram. “Mereka benar-
benar mengubah pandangan saya.
Mereka berpendidikan, cerdas, dan
sukses. Saya menemukan jilbab
yang membebaskan,” ujarnya. Tak
perlu pikir panjang, tiga pekan
kemudian ia bersyahadat dan
resmi masuk Islam.
“Ketika saya bilang pada ibu saya
beberapa minggu kemudian, dia
menerima. tapi dia membuat
beberapa komentar seperti,
“Mengapa kau mengenakan
kerudung itu? Kau punya rambut
indah,” ujarnya.
“Teman saya yang terbaik di
universitas sepenuhnya dihidupkan
saya: dia tidak bisa mengerti
bagaimana satu minggu saya
keluar clubbing, dan berikutnya
aku diberi segalanya dan masuk
Islam. Dia terlalu dekat dengan
kehidupan lama saya, sehingga
saya tidak menyesal kehilangan dia
sebagai teman.
Begitu menjadi Muslimah, ia
memilih nama Aqeela untuk
dipasang di depan nama lamanya.
“Aqeela berarti ‘masuk akal dan
cerdas’ – dan itulah yang saya
cita-citakan ketika masuk Islam
enam tahun lalu. Saya menjadi
seseorang yang baru: semuanya
harus dilakukan Lindsay di masa
lalu, sudah terhapus dari ingatan
saya,” ujarnya.
Apa yang tersulit setelah menjadi
Muslim? Ia menggeleng. Semuanya
bisa disesuaikan, kecuali
mengubah cara berpakaian. “Saya
selalu sadar mode. Pertama kali
saya mencoba jilbab, saya ingat
duduk di depan cermin, berpikir,
“Apa yang aku harus meletakkan
sepotong kain di atas kepalaku?”
Tapi sekarang saya akan merasa
telanjang tanpa itu.”
Memakai jilbab, katanya,
mengingatkan dirinya bahwa
semua yang perlu dilakukannya
setiap saat adalah melayani Tuhan
dan rendah hati. Jilbab juga
mengingatkan bahwa ia adalah
duta Islam dimanapun dia berada.
Cobaan paling berat dialami
setelah bom meledak di London.
Saat itu, Muslim berada di titik
terendah dalam hubungan sosial di
Inggris. “Saat berjalan di luar
rumah, selalu saja ada teriakan,
atau bahkan ada yang menyebut
saya “bajingan kulit putih”. Saya
pernah merasa takut keluar rumah
karenanya,” ujarnya.
Kini, ia menjadi Nyonya Hussein
dengan satu putra berusia 1 tahun,
Zakir. Ia masih menyimpan cita-
cita sebagai psikolog, “Tapi saya
menunggu Zakir siap ditinggal di
rumah sementara saya bekerja,”
ujarnya.
Sumber: eramuslim.com
Kamis, 04 April 2013
Jerarld F Dirks : Ketua Dewan Gereja Metodis Menjadi Muallaf
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Semoga Kisah mullaf berikut bermanfaat bagi anda, selamat membaca dan semoga anda mendapatkan jawaban dari apa- apa yang anda cari.
Jerarld F Dirks mantan
pendeta, Temui
Kenikmatan dan
Disiplin dalam Islam
watch From
Jesus to
Muhammad: A
History of
Early
Christianity
Image
Jerald F Dirks
Image ,
sebelumnya ialah
seorang pendeta
yang dinobatkan
sebagai Ketua
Dewan Gereja
Metodis Kini
peraih gelar
Bachelor of Arts
(BA) dan Master of
Divinity (M Div)
dari Universitas
Harvard, serta
pemegang gelar Master of Arts
(MA) dan Doctor of Psychology
(Psy D) dari Universtas Denver,
Amerika Serikat,
Dibesarkan di tengah lingkungan
masyarakat penganut kepercayaan
Kristen Metodis, membuat Jerald
kecil terbiasa dengan suara
dentingan lonceng yang kerap
mengalun dari sebuah bangunan
tua Gereja Kristen Metodis yang
berjarak hanya dua blok dari
rumahnya. Bunyi lonceng yang
bergema setiap Minggu pagi ini
menjadi tanda bagi seluruh
anggota keluarganya agar segera
menghadiri kebaktian yang
diadakan di gereja. Image
Tidak hanya dalam urusan
kebaktian saja, tetapi juga dalam
setiap kegiatan yang
diselenggarakan oleh pihak Gereja
Kristen Metodis, seluruh anggota
keluarga ini turut terlibat secara
aktif. Karenanya tak
mengherankan jika sejak usia
kanak-kanak Jerald sudah
diikutsertakan dalam kegiatan
yang diadakan oleh pihak gereja.
Salah satunya adalah mengikuti
sekolah khusus selama dua pekan
yang diadakan oleh pihak gereja
setiap bulan Juni. Selama
mengikuti sekolah khusus ini,
para peserta mendapat
pengajaran mengenai Bibel.
''Secara rutin saya mengikuti
sekolah khusus ini hingga
memasuki tahun kedelapan, selain
kebaktian Minggu pagi dan
sekolah Minggu yang diadakan
setiap akhir pekan,'' ungkap
muallaf kelahiran Kansas tahun
1950 ini. Diantara para peserta
sekolah khusus ini, Jerald
termasuk yang paling menonjol.
Tidak pernah sekalipun ia absen
dari kelas. Dan dalam hal
menghafal ayat-ayat dalam Bibel,
ia kerap mendapatkan
penghargaan.
Keikutsertaan Jerald dalam setiap
kegiatan yang diselenggarakan
oleh komunitas Gereja Metodis
terus berlanjut hingga ia
memasuki jenjang Sekolah
Menengah Pertama (SMP).
Diantaranya ia terlibat secara
aktif dalam organisasi
kepemudaan Kristen Metodis. Dia
juga kerap mengisi khotbah dalam
acara kebaktian Minggu yang
khusus diadakan bagi kalangan
anak muda seusianya.
Dalam perjalanannya, khotbah
yang ia sampaikan ternyata
menarik minat komunitas Kristen
Metodis di tempat lain. Ia pun
kemudian diminta untuk
memberikan khotbah di gereja
lain, panti jompo, dan dihadapan
organisasi-organisasi kepemudaan
yang berafiliasi dengan Gereja
Metodis. Sejak saat itu Jerald
bercita-cita ingin menjadi seorang
pendeta kelak.
Ketika diterima di Universitas
Harvard, Jerald tidak mensia-
siakan kesempatan demi
mewujudkan cita-citanya itu. Ia
mendaftar pada kelas
perbandingan agama yang diajar
oleh Wilfred Cantwell Smith untuk
dua semester. Di kelas
perbandingan agama ini Jerald
mengambil bidang keahlian
khusus agama Islam.
Namun, selama mengikuti kelas
ini Jerald justru lebih tertarik
untuk mempelajari agama Budha
dan Hindu. Dibandingkan dengan
Islam, menurut dia, kedua ajaran
agama ini tidak ada kemiripan
sama sekali dengan keyakinan
yang ia anut selama ini.
Akan tetapi untuk memenuhi
tuntutan standar kelulusan
akademik, Jerald diharuskan untuk
membuat makalah mengenai
konsep wahyu dalam Alquran. Ia
mulai membaca berbagai literatur
buku mengenai Islam, yang
sebagian besar justru ditulis oleh
para penulis non-muslim. Ia juga
membaca dua Alquran terjemahan
bahasa Inggris dalam versi yang
berbeda.
Diluar dugaannya buku-buku
tersebutlah yang di kemudian hari
justru membimbingnya ke kondisi
seperti saat ini. Makalah tersebut
membuat pihak Harvard
memberikan penghargaan Hollis
Scholar kepada Jerald. Sebuah
penghargaan tertinggi bagi para
mahasiswa jurusan Teologi
Universitas Harvard yang dinilai
berprestasi.
Untuk mewujudkan cita-citanya,
bahkan Jerald rela mengisi liburan
musim panasnya dengan bekerja
sebagai seorang pendeta cilik di
sebuah Gereja Metodis terbesar di
negeri Paman Sam tersebut. Pada
musim panas itu pula ia
mendapatkan sertifikat untuk
menjadi seorang pengkhotbah
dari pihak Gereja Metodis
Amerika.
Setelah lulus dari Harvard College
di tahun 1971, Jerald langsung
mendaftar di Harvard Divinity
School atau sejenis sekolah tinggi
teologi atas beasiswa dari Gereja
Metodis Amerika. Selama
menempuh pendidikan di bidang
teologi, Jerald juga mengikuti
program magang sebagai di
Rumah Sakit Peter Bent Brigham
di Boston.
Ia lulus dari sekolah tinggi ini
tahun 1974 dan mendapatkan
gelar Master di bidang teologi.
Selepas meraih gelar master
teologi, ia sempat menghabiskan
liburan musim panasnya dengan
menjadi pendeta pada dua Gereja
Metodis Amerika yang berada di
pinggiran Kansas.
Aktivitasnya sebagai seorang
pendeta tidak hanya terbatas di
lingkungan gereja saja. Ia mulai
merambah ke cakupan yang lebih
luas, mulai dari lingkungan
sekolah, perkantoran, hingga
pesan-pesan ajaran Kristen
Metodis ia juga gencar sampaikan
kepada para pasien yang datang
ke tempat praktiknya sebagai
seorang dokter ahli kejiwaan.
Meninggalkan aktivitas gereja
Namun, berbagai upaya dakwah
ini dinilainya tidak memberikan
dampak positif terhadap
kehidupan masyarakat di sekitar
ia tinggal. Ia justru menyaksikan
terjadinya penurunan moralitas di
tengah-tengah kehidupann
beragama masyarakat Amerika.
Bahkan kondisi serupa juga
terjadi di lingkungan gereja.
''Dua dari tiga pasangan di
Amerika selalu berakhir dengan
perceraian, aksi kekerasan
meningkat di lingkungan sekolah
dan di jalanan, tidak ada lagi rasa
tanggung jawab dan disiplin di
kalangan anak muda. Bahkan yang
lebih mencengangkan diantara
para pemuka Kristen ada yang
terlibat dalam skandal seks dan
keuangan. Masyarakat Amerika
seakan-akan sedang menuju
kepada kehancuran moral,''
paparnya.
Melihat kenyataan seperti ini,
Jerald mengambil keputusan
untuk menyendiri dan tidak lagi
menjalani aktivitasnya
memberikan pelayanan dan
khotbah kepada para jemaat.
Sebagai gantinya ia memutuskan
untuk ikut terlibat aktif dalam
kegiatan penelitian yang dilakukan
oleh sang istri. Penelitian
mengenai sejarah kuda Arab ini
membuat ia dan istrinya
melakukan banyak kontak dengan
warga Amerika keturunan Muslim
Arab . Salah satunya adalah
dengan Jamal.
Babak pergaulan dengan Arab
Muslim
Pertemuan Jerald dengan pria
Arab-Amerika ini pertama kali
terjadi pada musim panas tahun
1991. Dari awalnya sekedar
berhubungan melalui sambungan
telepon, kemudian berlanjut pada
saat Jamal berkunjung ke rumah
Jerald. Pada kunjungan kali
pertama ini, Jamal menawarkan
jasa untuk menterjemahkan
berbagai literatur dari bahasa
Arab ke Inggris yang disambut
baik oleh Jerald dan istrinya.
Ketika waktu shalat ashar tiba,
sang tamu kemudian meminta izin
agar diperbolehkan menggunakan
kamar mandi dan meminjam
selembar koran untuk digunakan
sebagai alas shalat. Apa yang
diminta oleh tamunya itu
diambilkan oleh Jerald, kendati
dalam hati kecilnya ia berharap
bisa meminjamkan sesuatu yang
lebih baik dari sekedar lembaran
surat kabar sebagai alas shalat.
Untuk kali pertama ia melihat
gerakan shalat dalam agama
Islam.
Aktivitas shalat ashar itu terus ia
lihat manakala Jamal dan istrinya
berkunjung ke rumah mereka
seminggu sekali. Dan, hal itu
membuat Jerald terkesima.
''Selama berada di rumah kami,
tidak pernah sekalipun ia
memberikan komentar mengenai
agama yang kami anut. Begitu
juga ia tidak pernah
menyampaikan ajaran agama yang
diyakininya kepada kami. Yang dia
lakukan hanya memberikan
contoh nyata yang amat
sederhana, seperti berbicara
dengan suara serendah mungkin
jika ada diantara kami yang
bertanya mengenai agamanya. Ini
yang membuat kami kagum,''
ungkapnya.
Dari perkenalannya dengan Jamal
dan keluarganya, justru Jerald
mendapat banyak pelajaran yang
tidak pernah ia dapatkan
sebelumnya. Sang tamu telah
menunjukkan kepadanya sebuah
pelajaran disiplin melalui shalat
yang dilaksanakannya. Selain
pelajaran moral dan etika yang
diperlihatkan Jamal dalam urusan
bisnis dan sosialnya serta cara
Jamal berkomunikasi dengan
kedua anaknya. ''Begitu juga yang
dilakukan oleh istrinya menjadi
contoh bagi istriku.''
Tidak hanya itu, dari kunjungan
tersebut Jerald juga mendapatkan
pengetahuan seputar dunia Arab
dan Islam. Dari Jamal, ia bisa
mengetahui tentang sejarah Arab
dan peradaban Islam, sosok Nabi
Muhammad, serta ayat-ayat
Alquran berikut makna yang
terkandung di dalamnya.
Setidaknya Jerald meminta waktu
kurang lebih 30 menit kepada
tamunya untuk berbicara
mengenai segala aspek seputar
Islam. Dari situ, diakui Jerald,
dirinya mulai mengenal apa dan
bagaimana itu Islam.
Kemudian oleh Jamal, Jerald
sekeluarga diperkenalkan kepada
keluarga Arab lainnya di
masyarakat Muslim setempat.
Diantaranya keluarga Wa el dan
keluarga Khalid. Dan secara
kontinyu, ia melakukan interaksi
sehari-hari dengan komunitas
keluarga Arab Amerika ini. Dari
interaksi tersebut, Jerald
mendapatkan sesuatu ajaran
dalam Islam yang selama ini tidak
ia temui manakalan berinteraksi
dengan komunitas masyarakat
Kristen, yakni rasa persaudaraan
dan toleransi.
Baru di awal Desember 1992,
sebuah pertanyaan mengganjal
timbul dalam pikirannya, ''Dirinya
adalah seorang pemeluk Kristen
Metodis, tapi kenapa dalam
keseharian justru bergaul dan
berinteraksi dengan komunitas
masyarakat Muslim Arab?.''
Sebuah komunitas masyarakat
yang menurutnya menjunjung
tinggi nilai-nilai moral dan etika,
serta mengedepankan sikap saling
menghargai baik terhadap
pasangan masing-masing, anggota
keluarga maupun sesama. Sebuah
kondisi yang pada masa sekarang
hampir tidak ia temukan dalam
masyarakat Amerika.
Serangkaian Kejadian Tak
Terduga
Untuk menjawab keraguannya itu,
Jerald memutuskan untuk
mempelajari lebih dalam ajaran
Islam melalui kitab suci Alquran.
Dalam perjalanannya mempelajari
Aquran, sang pendeta ini justru
menemukan nilai-nilai yang sesuai
dengan hati kecilnya yang selama
ini tidak ia temukan dalam
doktrin ajaran Kristen yang
dianutnya.
Kendati demikian, hal tersebut
tidak lantas membuatnya
memutuskan untuk masuk Islam.
Ia merasa belum siap untuk
melepaskan identitas yang
dikenakan selama hampir 43
tahun lamanya dan berganti
identitas baru sebagai seorang
muslim.
Begitu pun ketika ia bersama sang
istri memutuskan untuk
mengunjungi kawasan Timur
Tengah di awal tahun 1993. Ketika
itu, ia seorang diri makan di
sebuah restoran yang hanya
menyajikan makanan Arab
setempat. Sang pemilik restoran,
Mahmoud, kala itu memergoki
dirinya tengah membaca sebuah
Alquran terjemahan bahasa
Inggris. Tanpa berkata sepatah
kata pun, Mahmoud melontarkan
senyum ke arah Jerald.
Kejadian tak terduga lagi-lagi
menghampirinya. Istri Mahmoud,
Iman, yang merupakan seorang
Muslim Amerika, mendatangi
mejanya sambil membawakan
menu yang ia pesan. Kepadanya
Iman berkomentar bahwa buku
yang ia baca adalah sebuah
Alquran. Tidak hanya itu, Iman
juga bertanya apakah Jerald
seorang muslim sama seperti
dirinya. Pertanyaan tersebut
lantas ia jawab dengan satu kata:
Tidak.
Namun ketika Imam menghampiri
mejanya untuk menyerahkan
bukti tagihan, tanpa disadari
Jerald melontarkan kalimat
permintaan maaf atas sikapnya,
seraya berkata: ''Saya takut untuk
menjawab pertanyaan Anda tadi.
Namun jika Anda bertanya kepada
saya apakah saya percaya bahwa
Tuhan itu hanya satu, maka
jawaban saya adalah ya. Jika Anda
bertanya apakah saya percaya
bahwa Muhammad adalah salah
satu utusan Tuhan, maka jawaban
saya akan sama, iya.'' Mendengar
jawaban tersebut, Iman hanya
berkata: ''Tidak masalah, mungkin
bagi sebagian orang butuh waktu
lama dibandingkan yang lain.''
Ikut berpuasa dan shalat
Ketika memasuki minggu kelima
masa liburannya di Timur Tengah
atau bertepatan dengan masuknya
bulan Ramadhan yang jatuh pada
bulan Maret tahun 1993, untuk
kali pertama Jerald dan istrinya
menikmati suasana lain dari
ibadah orang Muslim. Demi
menghormati masyarakat sekitar,
ia dan istri ikut serta berpuasa.
Bahkan pada saat itu, Jerald juga
mulai ikut-ikutan melaksanakan
shalat lima waktu bersama-sama
para temannya yang Muslim dan
kenalan barunya yang berasal dari
Timur Tengah.
Bersamaan dengan akan
berakhirnya masa liburannya
menjelajah kawasan Timur
Tengah, hidayah tersebut akhirnya
datang. Peristiwa penting dalam
hidup Jerald ini terjadi manakala
ia diajak seorang teman untuk
mengunjungi Amman, ibukota
Yordania.
Pada saat ia melintas di sebuah
jalan di pusat ibukota, tiba-tiba
seseorag lelaki tua datang
menghampirinya seraya
mengucapkan, Salam Alaikum dan
mengulurkan tangan kanannya
untuk bersalaman, serta
melontarkan pertanyaan apakah
iaseorang Muslim?. Sapaan salam
dalam ajaran Islam itu
membuatnya kaget. Di sisi lain,
karena kendala bahasa, ia bingung
harus menjelaskan dengan cara
apa ke orang tua tersebut bahwa
ia bukan seorang Muslim. Terlebih
lagi teman yang bersamanya juga
tidak mengerti bahasa Arab.
Mengikrarkan Keislaman
Saat itu Jerald merasa dirinya
tengah terjebak dalam situasi
yang sulit diungkapkan. Pilihan
yang ada dihadapannya saat itu
hanya dua, yakni berkata N'am
yang artinya iya atau berkata La
yang berarti tidak. Hanya ia yang
bisa menentukan pilihan tersebut,
sekarang atau tidak sama sekali.
Setelah berpikir agak lama dan
memohon petunjuk dari Allah,
Jerald pun menjawabnya dengan
perkataan N'am. Sejak peristiwa
tersebut, ia resmi menyatakan diri
masuk Islam. Beruntung hidayah
tersebut juga datang lepada
istrinya di saat bersamaan. Sang
istri yang kala itu berusia 33
tahun juga menyatakan diri
sebagai seorang Muslimah.
Bahkan tidak lama berselang
setelah kepulangannya ke
Amerika, salah seorang
tetangganya yang juga merupakan
seorang pendeta mendatangi
kediamannya dan menyatakan
ketertarikannya tehadap ajaran
Islam. Dihadapannya, tetangganya
yang telah berhenti menjadi
pendeta Metodis ini pun berikrar
masuk Islam.
Kini hari-hari Jerald dihabiskan
untuk kegiatan menulis dan
memberikan ceramah tentang
Islam dan hubungan antara Islam
dan Kristen. Bahkan ia juga kerap
diundang sebagai bintang tamu
dalam program Islam di televisi di
banyak negara.
Salah satu hasil karyanya yang
menjadi best seller adalah "The
Cross and the Crescent: An
Interfaith Dialogue between
Christianity and Islam". Selain itu
ia juga menulis lebih dari 60
artikel tentang ilmu perilaku, dan
lebih dari 150 artikel tentang
kuda Arab dan sejarahnya. (dia/
RIOL/berbagai sumber)
http://www.youtube.com/
view_play_list?
p=93B38AE4C3E2F56B
From Jesus to Muhammad: A
History of Early Christianity
Is Jesus God?
Did Jesus ever claim to be God?
What kind of nature did Jesus
have?
Was Jesus Christ really crucified ?
Who is God and Jesus in the
Bible?
Dr. Dirks is a former minister
(deacon) of the United Methodist
Church and revert to Islam.
He holds a Master's degree in
Divinity from Harvard University
and a Doctorate in Psychology
from the University of Denver.
Author of "The Cross and the
Crescent: An Interfaith Dialogue
between Christianity and
Islam" (2001), and "Abraham: The
Friend of God" (2002).
He has published over 60 articles
in the field of clinical psychology,
and over 150 articles on Arabian
horses.
The Topic: From Jesus to
Muhammad: A History of Early
Christianity
A talk by Dr Jerald Dirks
sumber :
swaramuslim.net
beritaislam.com
Jumat, 25 November 2011
20 Insinyur Cina Memeluk Islam di Makkah
Ada 6000 insinyur dan pekerja yang terlibat dalam pembangunan sistem transportasi. Sebuah masjid untuk beribadah juga telah didirikan pada proyek ini.
Mereka kini sedang mengikuti pelajaran yang diberikan untuk para Mualaf oleh Kantor Koperasi Mekah untuk Bimbingan Komunitas, dari Divisi Bimbingan Masyarakat Cina.
Divisi ini telah menyiapkan program khusus untuk 20 insinyur tersebut, termasuk penjelasan, memulai syahadat, belajar wudhu, dan belajar bahasa Arab yang akan diajarkan oleh ulama Muslim dari Cina.
Muhanna Al-Harbi, seorang pengawas di kantor Komunitas Masyarakat Tionghoa di Arafah mengatakan, ia dan rekan-rekannya memerlukan “sumber belajar, untuk mengajari kami hal-hal mengenai agama dan bahasa Arab”.
Al Harbi juga berharap bisa mendapatkan bantuan dana untuk proyek ini, serta memerlukan buku-buku Islam yang sudah diterjemahkan ke bahasa Cina.
Kantor Komunitas Masyarakat Tionghoa ini tiap hari juga menyediakan 400 makanan untuk berbuka bagi Muslim Cina, dan telah memberangkatkan 550 Mualaf Cina berhaji.
“Orang Cina cinta ketertiban dan kejujuran, dan mereka memiliki karakteristik pembawaan yang indah, sebagai akibat dari Islam yang telah menyebar di antara mereka,” kata Dr Setr al-Juaid, Direktur kantor tersebut, yang juga seorang profesor di universitas Ummul Qurra Makkah.
Kamis, 06 Oktober 2011
Chatting biasa digunakan banyak orang untuk keperluan tak bermanfaat. Tapi melalui Chatting, seorang remaja Yahudi justru memeluk Islam
| ||
Rabu, 15 Juni 2011
"Saya Memilih Islam, Meski Harus Melawan Budaya dan Keluarga"
Nama muslimnya Aysha. Muslimah ini berasal dari Hungaria Utara. Pertama kali mendengar tentang Islam ketika ia masih di sekolah menengah saat mata pelajaran sejarah. Sekedar informasi, Hungaria pernah berada dibawah pendudukan Turki selama 150 tahun.
Selanjutnya, Aysha kuliah di universitas jurusan biologi molekular, di mana ia bertemu dengan banyak mahasiswa Muslim dari negara lain. Sejak lama sebenarnya Aysha bertanya-tanya mengapa Muslim selalu bangga dengan kemuslimannya. Aysha sendiri, ketika itu penganut agama Kristen Katolik. Ia cukup taat dengan agamanya, tapi ia masih meragukan dan tidak setuju dengan beberapa bagian dari ajaran agamanya, misalnya; bagaimana bisa Tuhan memiliki anak laki-laki. Ia juga tidak bisa mempercayai konsep Trinitas dalam ajaran Katolik.
Aysha kemudian sering berdiskusi dengan teman-temannya. Suatu ketika ia dan teman-temannya sedang makan malam dan terdengar suara azan. Saalah seorang temannya meminta mereka diam sejenak, tapi Aysha menolak. Meski demikian, Aysha mengaku sangat terkesan temannya itu dan merasakan sesuatu telah menyentuh hatinya.
Pada suatu musim panas, Aysha mengunduh program Al-Quran dari internet. Ia tidak tahu mengapa dan untuk apa ia melakukan hal. Aysha lalu mendengarkan ayat-ayat suci Al-Quran dalam bahasa Arab dan membaca terjemahannya dalam bahasa Inggris. Sejak itu, Aysha banyak berpikir tentang agama Islam dan ia mulai banyak membaca banyak buku tentang Islam.
Setelah dua bulan terus memikirkan agama Islam, Aysha memutuskan untuk masuk Islam. Saya mengucapkan dua kalimat syahadat disaksikan oleh dua sahabat saya, "La ilaha illa Allah, Muhammad rasul Allah".
"Saya memilih Islam, meski harus melawan budaya dan keluarga, terutama ibu saya," kata Aysha.
Bulan Ramadan pun tiba. Aysha membulatkan tekadanya untuk memulai kehidupan barunya sebagai seorang Muslimah bersama bulan suci Ramadan. Dan ia bersyukur karena berhasil melalui bulan Ramadan dengan sukses. Hal yang paling sulit buat Aysha sebagai seorang mualaf adalah saat ia belajar salat, karena ia tinggal di lingkungan non-Muslim dan ia tidak bisa bertanya pada orang-orang di sekelilingnya.
"Saya belajar sendiri bagaimana cara salat dari Internet, karena tidak ada yang menunjukkan pada saya bagaimana melaksanakan salat , bagaimana cara berwudhu, atau apa doa yang diucapkan sebelum melakukan kegiatan itu serta bagaimana etika dan hukum Islam itu," tutur Aysha.
Aysha pernah punya seorang teman pria yang membuatnya patah semangat. Temannya itu mengatakan bahwa Aysha tidak akan pernah bisa memahami Islam, karena Aysha tidak dilahirkan sebagai seorang Muslim. Ketika Aysha mengatakan bahwa ia ingin berpuasa pada bulan Ramadan, temannya itu mengatakan bahwa puasa bulan Ramadan bukan hanya menahan lapar. Waktu itu Aysha baru satu bulan menjadi seorang muslim.
"Saat itu saya ketakutan, bagaimana jika saya tidak pernah belajar menunaikan salat dalam bahasa Arab? Bagaimana jika saya tidak melakukannya dengan cara yang benar? Dan saya tidak punya jilbab atau sajadah untuk salat. Tak yang membantu saya, sehingga saya begitu ketakutan," ungkap Aysha.
"Tapi ketika saya mulai salat, saya berpikir Allah pasti sedang tersenyum melihat saya sekarang. Karena saya menuliskan bacaan-bacaan salat di selembar kertas di atas kertas, beserta instruksinya. Saya memegang kertas itu di tangan kanan dan membacanya dengan keras. Kemudian sujud dan membacanya lagi dan begitu seterusnya. Saya yakin saya terlihat sangat lucu. Tapi kemudian saya berhasil menghafal bacaan-bacaan salat dalam bahasa Arab begitu," cerita Aysha.
Aysha lalu membuka akun di Facebook. Di situs jejaring sosial itu, Aysha mendapat banyak teman baru dan banyak saudara sesama muslimah. Dari sahabat-sahabatnya di internet, Aysha mendapatkan banyak perhatian dan dukungan. Seorang laki-laki muslim melamarnya, dari lelaki itu Aysha mendapatkan jilbab pertamanya, sajadah dan buku-buku Islam. Ia juga mendapatkan Al-Quran pertamanya dalam bahasa Arab yang dikirim dari Yordania karena ia sulit mendapatkan Al-Quran di Hungaria. Sekarang, sudah lebih dari setahun Aysha memakai jilbab.
Aysha mengalami periode yang sangat buruk dengan ibunya. Ibu Aysha selalu mengatakan bahwa Aysha akan menjadi teroris, bahwa Aysha akan meninggalkan ibunya seperti Aysha meninggalkan agama Katolik yang dianutnya dan bahwa Aysha juga akan meninggalkan Hungaria, negara kelahirannya.Ibu Aysha menaruh semua makanan yang mengandung daging babi di dalam lemari es dan tentu saja Aysha menolak untuk memakannya. Hal seperti itu kadang memicu pertengkaran besar antara Aysha dan ibunya.
"Ibu tidak senang melihat saya salat dan berjilbab. Saya selalu salat di dalam kamar agar ibu tidak melihat aku salat dan mengenakan jilbab. Ibu selalu berkata,'Aku melahirkan seorang anak Kristen, bukan seorang Muslim yang berjilbab'," kisah Aysha menirukan ucapan ibunya.
"Jadi, kami punya masalah serius, tapi saya tidak pernah kasar pada Ibu. Alhamdulilah, ibu sudah tenang sekarang dan tampaknya ia menerima keislaman saya. Saya benar-benar bersyukur kepada Allah untuk itu. Sekarang saya keluar rumah dengan berjilbab, dan ibu tidak mengatakan apa-apa," ungkap Aysha.
Hubungan Aysha dengan sang ayah, yang sejak lama dingin dan tidak saling bertegur sapa, juga membaik setelah Aysha memeluk Islam. Aysha mencoba membuka kembali komunikasi dengan ayahnya, dan kini ayah Aysha mulai mengunjunginya secara teratur.
"Ya, hidup saya adalah ujian besar tapi saya bersyukur pada Tuhan karena memiliki kesabaran dan harapan. Pada hari kiamat saya akan sangat bersyukur atas semua itu. Jadi aku berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik, dan belajar lebih banyak dan lebih banyak untuk memahami agama saya," ujar Aysha.
Ia melanjutkan, "Saya percaya semuanya sudah ditakdirkan, jadi apa pun yang Allah katakan akan terjadi kepada saya, tidak bisa berubah, tapi saya dapat memilih untuk menjalani hidup dengan baik."
"Saya sedang membantu sesama di Debrecen. Saya membuat proyek mengumpulkan pakaian bekas untuk kamp pengungsi.. Ada banyak Muslim di sana yang tidak punya rumah karena perang. Jadi kami mengumpulkan pakaian, kami pergi ke sana dan saya membuatkan roti Pakistan untuk anak-anak dan perempuan, mereka sangat bahagia dan sangat menyenangkan bisa bertemu mereka," papar Aysha.
Ia juga mencoba memberikan bimbingan pada para pengungsi yang ingin masuk Islam atau baru saja masuk Islam. Di kamp pengungsi Aysha bertemu dengan dua muslimah Hungaria yang baru masuk Islam. Pada mereka, Aysha memberikan buku-buku, sajadah dan Al-Quran. "Alhamdulillah. Kami salat bersama dan mereka benar-benar bahagia," kata Aysha haru.
Aysha menyatakan bahwa ia selalu berusaha memberikan kesan bahwa umat Islam adalah umat yang ramah dan memiliki hati yang penuh kasih sayang. Dulu, Aisyah akan bersuara keras jika ada seseorang melontarkan pernyataan yang membuatnya merasa terganggu. Tapi sekarang, Aysha selalu memberikan contoh yang baik sebagai seorang muslimah, kemanapun ia pergi. Aysha, meski baru masuk Islam satu setengah tahun yang lalu, kini sudah menunaikan salat lima waktu dengan rutin, banyak membaca buku Islam dan Al-Quran, berusaha mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah dan sekarang sedang belajar bahasa Arab. (ln/iol)
Kavita, Putri Keluarga Hindu Ekstrim yang Masuk Islam
Setelah memeluk Islam, ia mengubah namanya menjadi Nur Fatima. Kisahnya menjadi seorang muslim, melalui jalan panjang dan berliku. "Saya lahir dan menikah di Mumbai, India. Usia saya 30 tahun, tapi saya masih merasa seperti anak yang masih berusia lima tahun, karena pengetahuan saya tentang Islam masih sedikit, tidak lebih dari pengetahuan yang dimiliki anak usia lima tahun," kata Kavita atau Nur Fatima yang menyandang gelar master dari Universitas Cambrigde ini.
"Saya menyesal, karena selama ini saya cuma mengejar gelar kesarjanaan di dunia , tapi tidak melakukan apapun untuk kehidupan di akhirat kelak. Sekarang, saya ingin melakukan sesuatu untuk kehidupan di Hari Akhir nanti," ujar Nur Fatima yang dianugerahi dua putra ini.
Ditanya tentang bagaimana awalnya ia memilih menjadi seorang muslim, Nur Fatima menjawab dengan mengungkapkan rasa syukurnya pada Allah Swt. "Pertama kali, saya ingin mengucapkan syukur pada Allah Swt yang telah melimpahkan rahmat-Nya. Ketika Allah Swt. berkehendak, Ia akan memberikan pemahaman pada seseorang tentang agama Islam," tuturnya.
"Saya tumbuh di lingkungan orang-orang Hindu ekstrim yang sangat membenci orang-orang Islam. Saya memeluk Islam setelah menikah, tapi sejak remaja saya tidak senang dengan penyembahan terhadap patung-patung ..."
"Saya ingat, dulu pernah menaruh sebuah patung sesembahan ke dalam ruang untuk mencuci di rumah. Kakak saya menegur perbuatan itu dan saya menjawab, jika patung itu tidak bisa melindungi dirinya sendiri, lalu mengapa kita meminta perlindungan darinya? Apa yang diberikan patung itu pada kita?," kisah Nur Fatima mengingat masa kecilnya.
Ia mengatakan bahwa dalam keluarganya ada ritual dimana seorang anak perempuan, ketika menikah, harus mencuci kaki suaminya dan meminum air cuci kaki itu. Nur Fatima sejak awal menolak keras tradisi itu dan karenanya ia sering kena tegur keluarganya.
Sejak tinggal sendiri karena sekolah di luar negeri, Nur Fatima pernah sesekali mengunjungi sebuah Islamic Center. Dari pembicaraan yang sering ia dengar, ia jadi tahu bahwa kaum Muslimin tidak menyembah patung atau berhala tapi hanya menyembah apa yang kemudian ia ketahui disebut "Allah" Swt oleh kaum Muslimin.
Nur Fatima mengatakan bahwa ibadah salat yang membuatnya sangat terkesan dengan orang-orang Islam. "Awalnya saya tidak tahu bahwa ibadah yang mereka lakukan itu disebut salat. Tadinya saya pikir, mereka melakukan sejenis latihan kebugaran. Saya tahu ibadah yang mereka lakukan disebut salat ketika saya berkunjung ke Islamic Center itu," ujar Nur Fatima yang mengaku, sejak itu ia sering bermimpi berada di dalam sebuah ruangan empat dimensi, namun ia tidak tahu apa makna mimpi itu.
Setelah menikah dan menetap di Bahrain, Nur Fatima banyak belajar tentang Islam, apalagi lingkungannya adalah kaum Muslimin. Ia sering mengunjungi kenalan-kenalannya yang muslim. Pernah pada bulan Ramadan, sahabat muslimnya meminta Nur Fatima untuk tidak sering berkunjung karena sahabatnya itu merasa terganggu dengan kedatangan Fatima. Tapi Fatima meminta agar temannya itu tidak melarangnya datang ke rumah karena sebagai seorang yang baru masuk Islam, ia ingin mengamati apa saja yang dilakukan seorang muslim pada saat bulan Ramadan.
Sahabatnya lalu memperkenankan Fatima berkunjung selama bulan Ramadan, dan dari kunjungannya itu Fatima mengamati bagaimana sahabatnya salat dan membaca Al-Quran. Diam-diam, Fatima mengikuti gerakan salat meski saat itu ia tidak banyak tahu tentang salat dan bacaannya. Ia mengunci kamarnya saat melakukan semua itu. Tapi suatu ketika, ia lupa mengunci kamarnya dan suaminya menyaksikan apa yang dilakukan Fatima. Fatima tahu suaminya akan marah, awalnya ia merasa takut untuk menjelaskan, tapi akhirnya ia mendapatkan keberanian, entah darimana, untuk mengatakan bahwa ia sudah masuk Islam dan yang ia lakukan adalah salat, kewajiban sebagai seorang muslim.
Suami Fatima murka mendengarnya, begitu pula saudara perempuan Fatima saat mendengar bahwa Fatima sudah menjadi seorang muslim. Keduanya memukuli Fatima sampai babak belur.
Setelah kejadian itu, Fatima tidak boleh menemuai siap pun dan ia dikunci di dalam kamar. Ketika itu, Fatima belum resmi menjadi seorang muslim, ia sendiri heran mengapa ia berani dengan tegas mengatakan bahwa ia sudah masuk Islam pada suaminya.
Suatu malam, putera tertua Fatima yang masih berusia 9 tahun masuk ke kamarnya dan menangis. Anak lelakinya itu meminta ibunya untuk melarikan diri dari rumah, karena keluarga mereka berniat membunuh Fatima karena mengaku sudah masuk Islam.
"Saya tidak bisa melupakan momen yang berat itu ketika anak lelaki pertama saya membangunkan adiknya dan mengatakan, 'Bangun, mama akan pergi. Temuilah mama sekarang, karena tak ada yang tahu apakah mama akan bertemu kita lagi atau tidak'," kata Fatima.
"Anak kedua saya baru menemuai saya beberapa hari kemudian, ia bertanya apakah saya akan pergi dan saya cuma bisa mengangguk. Saya yakinkan dia bahwa kita akan bertemu lagi," sambung Fatima.
Di tengah malam gelap dan dingin, Fatima meninggalkan rumah dengan membawa dua cinta dalam hatinya. Cinta terhadap kedua puteranya dan cintanya pada Islam.
Fatima menuju sebuah kantor polisi. Beruntung, ada seorang petugas polisi yang mengerti bahasa Inggris. Setelah meminta istirahat sebentar, pada petugas polisi itu mengatakan bahwa ia pergi dari rumah karena ingin masuk Islam. Petugas polisi itu kemudian membantu Fatima dan memberikan tempat berlindung sementara di rumahnya. Fatima menolak untuk kembali pulang, ketika keesokan harinya suaminya datang ke kantor polisi dan mengatakan bahwa isterinya telah diculik.
Petugas polisi itu kemudian membawa Fatima ke rumah sakit untuk menjalani perawatan karena luka-luka yang dialaminya akibat pemyiksaan yang dilakukan suami Fatima. Setelah luka-lukanya sembuh, Fatima langsung mengunjungi sebuah Islamic Center terdekat. Di Islamic Center itu, ia melihat sebuah gambar tergantung di dinding. Saat itulah ia menyadari bahwa gambar itulah yang pernah hadir dalam mimpi-mimpinya. Seorang petugas Islamic Center mengatakan bahwa gambar itu adalah gambar Ka'bah.
Di Islamic Center itulah ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan Nur Fatima diangkat anak oleh pemilik Islamic Center itu. Ia kemudian dinikahkan dengan seorang lelaki muslim. Impiannya setelah resmi menjadi seorang muslim ketika itu adalah, segera pergi ke Baitullah dan menunaikan rukun Islam yang kelima. (ln/cti/isw)
S.S Lai, Masuk Islam Setelah Mimpi Mendengar Suara Azan
Setiap tahun, Lai selalu berharap dan antusias jika ayahnya mengajaknya ke kuil untuk melaksanakan peribadahan persembahan untuk para dewa-dewi. Sebagai anak-anak, kegembiraannya ketika itu bukan karena ia akan beribadah tapi karena setiap acara tahunan di kuil ia akan menikmati makanan yang banyak dan bervariasi.
Itulah sepenggal kenangan S.S Lai, seorang perempuan yang berasal dari etnis Cina yang tinggal di negeri muslim, Brunei Darussalam. Ia merasa bersyukur karena menghabiskan sebagian besar masa sekolahnya di sekolah yang mayoritas siswanya beragama Islam.
"Saya ingat, seorang teman pernah membawa buku komik bergambar tentang mereka yang dihukum di api neraka. Saya tidak begitu paham tentang apa itu neraka pada saat itu. Saya hanya tahu bahwa jangan pernah membuang sedikit pun permen atau keripik (makanan) atau kita akan dihukum di akhirat kelak," ujar Lai.
Ia paham, seorang muslim berpuasa pada bulan Ramadan dan dilarang makan daging babi. Ketika itu, Lai belum tertarik dengan Islam, meski banyak sahabatnya yang muslim. Tapi Lai mengakui, saat berusia 7 tahun, ia merasakan hal yang aneh bahwa suatu saat ia akan menjadi seorang muslim, seperti salah seorang pamannya.
"Namun saya tidak pernah bertanya pada siapa pun tentang Islam. Taku mereka ingin tahu, dan ini yang membuat saya takut dan malu," tutur Lai.
Perjalanan Lai menuju cahaya Islam bermula dari kebingungannya saat ia belajar geografi. Dirinya bertanya-tanya mengapa manusia bisa berdiri dan berjalan bumi dan tidak terlempar ke luar angkasa yang gelap. Pulang ke rumah, Lai menanyakan hal ini pada pamannya, namun sang paman malah menasehatinya agar jangan terlalu banyak bertanya "mengapa" pada semua hal. Sejak itu, Lai selalu menahan diri untuk tidak selalu menanyakan "mengapa" pada hal-hal yang menarik perhatiannya.
Tahun 1988, Lai mendapatkan beasiswa belajar ke Inggris. Sesuatu yang menjadi impiannya dan ia bekerja keras untuk bisa belajar ke luar negeri. "Saya menjadi orang yang berguna dan kaya, dan membuat kedua orang tua saya bangga. Satu-satunya yang saya tahu untuk mencapai ambisi saya itu adalah menjadi seorang dokter," ujar Lai.
Saat kuliah di Inggris, suatu malam Lai bermimpi mendengar suara azan dan ia berjalan menuju ke arah suara itu, lalu ia berdiri di sebuah pintu gerbang yang besar. Di pintu gerbang itu terlihat tulisan dalam bahasa Arab. Dalam mimpi itu, Lai merasakan kedamaian dan rasa aman. Ia masuk ke dalam sebuah ruangan yang bercahaya dan di sana ia melihat sosok yang sedang salat.
"Saya sulit menggambarkan bagaimana perasaan saya saat itu. Keesokan harinya saya memaksakan diri untuk menanyakan tentang mimpi saya itu pada teman saya, seorang mahasiswi dari Malaysia. Dia bilang, itu adalah 'hadassah' dari Allah," Lai mengisahkan perihal mimpinya itu.
Pembicaraan tentang mimpi itu mendorong Lai untuk lebih banyak bertanya tentang agama Islam. Selama ini, banyak orang mengatakan pada Lai bahwa kaum Muslimin adalah orang-orang yang jahat dan selalu menindas penganut agama lain.
Saat berkesempatan pulang kampun ke Brunei, Lai mengatakan pada keluarganya bahwa ia ingin menenangkan diri selama setahun ini dan melepaskan diri dari segala ambisinya. Ia merasa ada sesuatu yang lebih penting dari semua yang telah ia kejar selama bertahun-tahun. Sudah bisa dipastikan, keluarganya menolak permintaan Lai, yang membuat Lai hanya bisa menangis siang dan malam.
"Saya menangis karena yang terdengar di telinga saya adalah gema suara azan, sampai seorang teman saya menganggap saya sudah gila, dan saya pun mulai berpikir demikian," ungkap Lai.
Ia lalu ingat sahabat masa sekolahnya dulu, seorang muslim yang taat. Darinyalah, Lai mulai belajar tentang bagaimana menjadi seorang muslim. Akhirnya, hari bersejarah itu pun tiba. Tanggal 5 Oktober 1991, Lai mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi menjadi seorang muslimah.
"Saya percaya bahwa setiap anak lahir dalam keadaan suci dan hanya orang tua merekalah yang menentukan kemana anak akan melangkah. Semoga Allah menuntun hati-hati mereka menuju Islam," doa Lai menutup ceritanya menjadi seorang muslim. (ln/isc)
Husain Abdullah: Saya Menempatkan Allah Swt di atas Segalanya
Abdullah adalah pemain sepakbola ala Amerika yang memperkuat tim Vikings dari Minnesota. Bulan ini ia harus berlatih keras demi kemenangan timnya. Tapi sebagai seorang muslim yang taat, Abdullah menyatakan bahwa ia akan tetap menjalankan puasa Ramadan.
"Saya menempatkan Allah Swt di atas segalanya, tak ada satu pun yang lebih penting di atas agama saya. Agama ini bukan sekedar apa yang wajib saya lakukan, tapi ini adalah pilihan saya. Jadi, saya akan berpuasa selama Ramadan," ujarnya mantap meski ia harus tetap berlatih di tengah udara yang panas pada saat Ramadan.
Beruntung, tim Viking memberikan dukungan pada Abdullah. Pihak manajemen Vikings menyatakan akan memberikan komposisi makanan yang dibutuhkan selama Abdullah menjalankan puasa. "Tahun lalu, Ramadan jatuh pada awal September dan kami melihat ada penurunan dalam performanya. Kami bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Husain Abdullah, ia kelihatan seperti tak punya semangat," kata pelatih Vikings, Brad Childress.
Untuk menghadapi Ramadan tahun ini, Abdullah berkonsultasi dengan ahli gizi tim sepakbolanya untuk menentukan asupan makanan dan minum bagi Abdullah selama Ramadan nanti. Ahli gizi tim Vikings ingin memastikan bahwa Abdullah cukup mendapatkan kalori sebagai sumber energi dan menjaga staminanya, serta tidak mengalami dehidrasi.
"Tahun lalu, Abdullah mempersiapkan segalanya sendiri, sekarang kami akan membantunya menyiapkan makanan yang dibutuhkan saat berbuka dan sahur. Ia pemain yang berbakat dan pemain andalan di tim ini," sambung Childress.
Dalam musim pertandingan tahun lalu, Abdullah mengalami cedera di bagian punggung dan panggulnya yang membuat perjuangannya untuk bisa turun ke lapangan lagi bertambah berat. Latihan keras harus dijalaninya untuk menghadapi musim pertandingan tahun ini.
Abdullah yang menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya di Pomona California beradal dari keluarga besar. Ia memiliki tujuh saudara lelaki dan empat saudara perempuan. Kakak Abdullah, Hamza, juga pemain nasional sepakbola Amerika. Sejak usia 7 tahun, Abdullah sudah mulai berpuasa Ramadan.
"Saya selalu berusaha untuk menjaga kebiasaan itu. Sekarang, saya senang karena Islam sudah mendapatkan tangapan yang lumayan positif," kata Abdullah.
Selain Abdullah, sejumlah atlet muslim di AS juga berpuasa saat Ramadan meski tetap harus menjalankan aktivitas latihannya setiap hari. Salah satunya adalah bintang bola basket NBA, Hakeem Olajuwon. "Saya meliihat diri saya selalu bersemangat dan penuh energi. Ketika saya berbuka saat matahari terbenam, seteguk air rasanya nikmat sekali," kata Olujuwon dalam bografinya yang dimuat di situs NBA.
Situasi berbeda mungkin harus dialami oleh para pemain sepakbola muslim di Jerman. Bulan Juli kemarin, para pejabat organisasi sepakbola Jerman menyatakan bahwa seorang pemain sepakbola muslim boleh tidak puasa ketika harus bertanding saat bulan Ramadan. Pernyataan itu didukung oleh salah satu organisasi muslim di Jerman yang beralasan bahwa kelonggaran tidak puasa itu dilakukan jika si pemain terikat kewajiban berdasarkan kontrak bertanding yang menjadi satu-satunya sumber nafkah baginya dan jika puasa akan mempengaruhi performanya saat bertanding. (ln/isc/afp)
Dokter Gigi Angkatan Laut AS yang Memilih Agama Islam
Peristiwa serangan 11 September 2001 membuat Islam dan Muslim menjadi pemberitaan dan pembicaraan masyarakat dunia, meski sebagian bersar pemberitaan itu bias dan mengandung kebencian terhadap kaum Muslimin dan Islam.Di sisi lain, peristiwa ini justru mendorong sebagian non-muslim untuk beralih memeluk agama Islam dan Ramaha adalah satu diantara mereka.
Kurang dari tiga minggu setelah serangan 11 September 2001 terjadi Kota New York dan Washington. Ramaha yang bertugas di bagian medis--sebagai dokter gigi--Angkatan Laut AS, datang ke masjid Manoa, Hawai. Disaksikan oleh beberapa muslimah yang juga hadir di masjid itu, Ramaha mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai syarat sah untuk menjadi seorang muslim. Sejak itu, Ramaha resmi menjadi seorang muslimah.
Ia mengungkapkan, ia masuk Islam atas kemauannya sendiri dan bukan karena suaminya, Mike, yang seorang muslim. "Mike tidak pernah sekalipun berusaha meminta saya untuk pindah agama. Dia bilang, jika saya ingin masuk Islam, saya harus mencari tahu tentang Islam sendiri," tutur Ramaha.
Setelah menjadi seorang muslimah, sang suami membantu Ramaha belajar salat terutama bacaan salat yang semuanya dalam bahasa Arab. Ramaha juga selalu mengenakan kerudung jika ke masjid, tapi belum bisa mengenakan jilbab di kantor karena ia terikat peraturan sebagai bagian dari Angkatan Laut AS.
Persoalan lain yang ia hadapi setelah bersyahadat adalah memberitahu keluarganya yang tinggal di California. "Saya tidak menemukan cara yang pas untuk memberitahu mereka agar mereka tidak syok. Pada ayah, saya cerita bahwa saya pergi ke masjid tapi tidak bilang bahwa saya sudah masuk Islam," kata Ramaha.
Ramaha mengungkapkan, dulu, keluarganya juga tidak menganut agama tertentu. Rahama adalah orang pertama di keluarganya yang pergi ke gereja. Pada usia 5 tahun, ia berteman dengan anak perempuan seorang Pastor. Ia kemudian menyatakan menganut agama Kristen. Setelah itu, kelurganya mengikutinya menjadi Kristiani. Sampai sekarang, ibunya Ramaha menjadi seorang aktivis gereja.
Ramaha mengakui, walau sudah menjadi seorang Kristiani, ketika itu ia masih meragukan soal konsep Trinitas dalam agamanya. Sampai suatu hari di bulan Maret, ia memutuskan untuk kuliah online Univeristas California yang mempelajari agama-agama di dunia. Selanjutnya, setelah peristiwa 11 September 2001, Ramaha mengambil kelas pengantar tentang agama Islam di Hawai. Ia pun mulai membaca isi Al-Quran dan merasakan ada hal yang "menyentak" hatinya. Ramaha merasa mendapat jawaban atas keraguannya selama ini terhadap ajaran Kristen yang pernah didapatnya, terutama konsep Trinitas yang membuatnya bingung.
"Saya sudah menjadi seorang Kristiani selama 18 tahun. Banyak sekali celah dalam ajaran agama itu yang membuat saya ragu. Tapi setelah mengenal Islam, agama ini membuka wawasan berpikir saya ... dalam hati saya merasa bahwa inilah agama yang tepat untuk saya," ujar Ramaha.
Ia juga mendapat banyak pertanyaan soal mengapa perempuan berpendidikan sepertinya dirinya memilih masuk agama Islam. Dua orang yang menanyakan hal itu padanya mengatakan bahwa Islam adalah agama yang menindas kaum perempuan. Ramaha merespon pertanyaan itu dengan jawaban bahwa banyak orang yang mencampuradukkan antara ajaran Islam dengan tradisi.
Sekedar informasi, menurut Presiden Asosiasi Muslim Hawai, Hakim Ouansafi, pascaserangan 11 September jumlah orang yang masuk Islam di Hawai meningkat tajam. "Rata-rata ada tiga orang yang masuk Islam setiap bulannya, dan kebanyakan mualaf adalah kaum perempuan,"
kata Ouansafi.
"Secara nasional, rasio orang yang masuk Islam adalah 4 banding 1. Empat mualaf perempuan, satu mualaf laki-laki," sambungnya. (ln/IFT)
Lynette Wehner: Mengajar di Sekolah Islam Mengantarnya ke Cahaya Islam
"Yang penting, kamu tidak masuk Islam," begitu kata ayah mertuanya.
Selama dua hari Wehner merasa gelisah untuk mengambil keputusan apakah ia akan menerima tugas tersebut, apalagi pihak sekolah mewajibkannya mengenakan jilbab saat mengajar. Jilbab adalah sesuatu yang sangat asing baginya. Tapi akhirnya ia menerima pekerjaan mengajar di sekolah Islam itu dengan pertimbangan bahwa pengalaman mengajarnya yang pertama ini akan menjadi batu loncatan baginya kelak.
Hari pertama mengajar, seorang staf di sekolah Islam itu membantunya mengenakan jilbab di ruang guru. "Kami tertawa sambil mencoba berbagai gaya berjilbab," ujar Wehner yang mengaku pagi itu merasa sangat rileks berada di lingkungan muslim. Selama ini, Wehner selalu berpandangan bahwa orang-orang Islam tidak ramah dan selalu serius. Hari pertamanya di sekolah Islam membuat Wehner berbalik mempertanyakan, mengapa seseorang bisa sedemikian mudah membuat stereotipe terhadap orang lain tanpa mengenal lebih jauh orang yang bersangkutan.
"Saya belajar banyak hal di hari pertama mengajar. Saya terkesan dengan sikap para siswa, pengetahuan mereka tentang agama saya (Kristen) lebih baik dibandingkan pengetahuan yang saya miliki dan saya bertanya dalam hati, darimana mereka tahu semua itu," tutur Wehner.
"Murid-murid saya selalu menanyakan tentang ajaran agama saya dan itu membuat saya berpikir 'apa yang saya yakini?'" sambung Wehner.
Sejak kecil Wehner dididik dengan ajaran Katolik, tapi ketika dewasa ia meninggalkan ajaran agamanya itu. Wehner mengaku merasa tidak nyaman dengan ajaran Katolik dan merasa ada sesuatu yang salah. Ia lalu beralih ke aliran Kristen lainnya yang lebih modern, tapi aliran itu juga tidak memuaskan hatinya.
"Yang saya tahu, saya hanya ingin berhubungan dengan Tuhan. Saya tidak mau agama saya menjadi sesuatu yang hanya membuat saya merasa bahwa saya harus 'menjadi orang baik' di hadapan para kerabat. Saya ingin merasakan agama itu di hati saya. Ketika itu, saya kehilangan arah tapi saya tidak menyadarinya," papar Wehner.
Di sekolah Islam tempatnya mengajar, Wehner banyak berinteraksi dengan para siswanya yang masih usia anak-anak. Anak-anak itulah yang mengantarkan Wehner ke cahaya Islam. Namanya anak-anak, mereka seringkali meninggalkan buku-buku pelajaran mereka di sekolah. Diam-diam, Wehner sering membaca buku-buku yang berisi ajaran Islam, yang ditinggalkan murid-muridnya itu usai pelajaran sekolah. Saat itu Wehner mulai merasakan bahwa apa yang ia baca mengandung banyak kebenaran.
Selanjutnya, Wehner jadi sering bertanya soal Islam dengan seorang guru perempuan dan seorang guru lelaki di sekolah itu. Ia bahkan bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk berdiskusi dan memuaskan rasa ingin tahunya tentang Islam. "Perbicangan kami sangat intelek dan mendorong rasa ingin tahu saya. Saya merasa telah menemukan apa yang selama ini saya cari. Tiba-tiba saja, ada rasa damai yang menyebar di dalam hari saya ..." ungkap Wehner.
Di rumah, Wehner mulai membaca terjemahan Al-Quran. Suami Wehner (kala itu ia belum belum bercerai) tidak suka melihat minatnya pada Islam, sehingga Wehner harus mencari tempat tersembunyi jika ingin membaca Al-Quran. Awalnya, Wehner merasa takut telah melakukan pengkhiatan terhadap agamanya dan ragu untuk percaya bahwa ada kitab suci lain, selain Alkitab yang diturunkan Tuhan.
"Namun saya berusaha mendengarkan apa kata hati saya yang menyuruh saya membaca Al-Quran. Saat saya membacanya, saya merasa beberapa bagian dalam Al-Quran itu dituliskan khusus untuk saya. Seringkali saya membacanya sambil menangis. Tapi setelah itu, saya merasa tenang, meski masih bingung. Sepertinya masih ada sesuatu yang menahan saya untuk menerimanya sepenuh hati," tutur Wehner.
Butuh waktu berbulan-bulan lagi bagi Wehner untuk meyakinkan hatinya. Ia terus membaca, bertanya pada banyak orang dan melakukan pencarian jiwa, sampai ada satu momen yang menjadi menentukan keputusannya untuk menjadi seorang muslim.
"Saya mencoba salat di kamar anak lelaki saya. Tangan saya memegang sebuah buku tentang tatacara salat. Saya berdiri dengan konflik batin dalam diri saya. Saya tidak biasa berdoa secara langsung pada Tuhan. Sepanjang hidup saya, saya diajarkan untuk berdoa pada Yesus. Yesuslah yang akan menyampaikan doa saya pada Tuhan. Saya takut telah melakukan tindakan yang salah. Saya tidak mau Yesus marah. Saya merasa ada gelombang besar yang menghantam saya," ungkap Wehner mengungkapkan kekhawatirannya saat itu.
Tapi Wehner kemudian berpikir lebih dalam, bagaimana mungkin Tuhan marah pada hambanya yang ingin lebih mendekatkan diri padaNya. Bagaimana mungkin Yesus marah pada orang yang ingin mendekatkan diri pada Tuhan. Bukankah itu yang Yesus inginkan? Hari itu, Wehner yakin bahwa Tuhan sedang bicara padanya dengan suara yang kuat, yang menggema dalam hati dan pikirannya, bahwa tidak ada yang perlu ia takutkan jika memang ia ingin berpindah ke agama Islam.
"Ketika itu saya mulai menangis dan menangis. Suara itulah yang ingin saya dengar. Dan mulai hari itu saya yakin bahwa saya harus memeluk Islam. Keputusan inilah yang benar dan tidak ada yang perlu dipersoalkan lagi," ujar Wehner.
Wehner mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan seluruh siswa sekolah Islam tempat ia mengajar. "Saya menjadi orang yang baru. Semua keraguan dan pertanyaan saya ada di mana dan apa yang sebenarnya saya yakini, sirna. Saya yakin telah membuat keputusan yang benar. Saya tidak pernah begitu dekat dengan Tuhan, sampai saya menjadi seorang muslim. Alhamdulillah, saya sangat beruntung," tukas Wehner menutup kisahnya menjadi seorang mualaf. (ln/IfT)
Herrington, "Jika Menginginkan Kebenaran, Bergaullah dengan Muslim"
Keinginannya untuk mengenal lebih dekat dan memahami kehidupan sebagai Muslim itulah yang mendorongnya untuk mencoba "menjadi seorang muslimah" dengan cara mengenakan jilbab selama satu bulan penuh.
"Selama sebulan saya mengenakan jilbab, bergulat dengan persepsi yang ditunjukkan orang asing, teman bahkan keluarga saya sendiri," kata Herrington.
"Karena persepsi-persepsi itu, saya berjuang ketika harus menuliskannya. Pengalaman saya berjilbab sangat pribadi, tapi saya berharap dengan berbagi atas apa yang saya lihat, akan membuka ruang dialog yang lebih terbuka dan kritis," sambungnya,
Awalnya, Herrington khawatir akan reaksi komunitas Muslim ketika melihatnya yang non-Muslim mengenakan jilbab. Untuk itu, ia merasa harus mendapatkan persetujuan dari komunitas Muslim sebelum mulai mengenakan jilbab.
Tanggal 16 September, Herrington mendatangi sebuah organisasi Muslim Student Association (MSA) dan mengenalkan dirinya. Ia mengaku sangat grogi ketika pertama kali datang ke kantor itu. Di sana ia bertemu dengan Heba Sulaeiman, mahasiswi yang menjabat sebagai Presiden MSA, yang menyambut gembira setelah mendengar rencana dan maksud kedatangan Herrington ke tempat itu.
"Ide yang mengagumkan," kata Herrington menirukan respon Suleiman.
Herrington merasakan ketegangan dan kegelisahan yang dirasakannya mulai mencair. Ia mengucapkan "Assalamu'alaikum" saat mengenalkan dirinya di hadapan sejumlah anggota MSA dan ia mendengar belasan orang yang hadir membalasnya dengan ucapan "wa'alaikumsalam."
Ketika akan meninggalkan kantor MSA, beberapa orang remaja muslim mendekatinya. "Saya tidak akan melupakan seorang diantara mereka mengatakan 'ini memberi saya harapan', sementara remaja yang lain berujar 'saya muslim, dan saya bahkan tidak bisa melakukan hal itu'," tutur Herrington.
Ia tidak terlalu menanggapi perkataan remaja-remaja tadi sampai kemudian ia merasakan bahwa "proyek" yang dilakukannya bukan sekedar menutupi rambutnya dengan kerudung, tapi ia akan mewakili sebuah komunitas dan sebuah agama. "Konsekuensinya, saya harus benar-benar menjaga perilaku saya saat mengenakan jilbab," ujar Herrington.
Dua minggu setelah datang ke MSA, ia bertemu lagi dengan Heba Suleiman dan temannya, Leanna yang mengajarkannya mengenakan jilbab. "Meski ini inisiatif saya sendiri, saya merasa tidak seorang diri dan ini sangat membantu ketika saya merasa ingin melepas jilbab dan menghentikan proyek pakai jilbab ini," kata Herrington.
"Saya menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasanya. Saya bersepeda dan merasakan sensasi desiran angin yang menyelinap di sela-sela jilbab yang saya kenakan. Saya berjalan di depan etalase toko dan melihat sepintas refleksi wajah orang asing sampai saya terbiasa dan menyadari bahwa refleksi wajah orang asing itu adalah saya sendiri," tutur Herrington menceritakan pengalamannya setelah mengenakan jilbab.
"Mengenakan jilbab menjadi kegiatan rutin saya tiap pagi. Suatu hari, berangkat bersepeda ke tempat kuliah, dan ketika sampai baru sadar kalau saya lupa mengenakan jilbab," tukasnya sambilnya tersenyum.
Herrington mengakui jilbabnya kadang membuatnya tidak nyaman. Ketika berbelanja di toko grosir, ia merasa orang-orang memperhatikan dirinya. Ia tidak tahu apakah itu cuma perasaannya saja, tapi ia merasa terasing dari orang-orang yang ia kenal dekat. "Teman kuliah, para profesor dan teman-teman semasa sekolah menengah tidak mengatakan apapun tentang jilbab saya, dan itu menyakitkan. Kadang, terjadi gap setiap kali kami berbincang-bincang," ungkap Herrington.
Suatu ketika, ia makan di sebuah restoran Timur Tengah King Tut. Pemilik restoran bernama Ashraf Yusuf memuji proyek jilbabnya dan menanyakan apakah ia akan tetap mengenakan jilbab setelah proyeknya selesai. Herrington hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Seorang non-Muslim yang mengenakan jilbab, hanya mengenakan penutup kepala," kata Yusuf.
Herrington pernah juga dikirimi email dari seseorang. Ketika ia membuka email berisi file audio, terdengar suara bacaan salat dari Makkah, tapi tiba-tiba terdengar suara tembakan tiga kali lalu suara lagu kebangsaan AS.
Herrington menegur orang yang mengiriminya email itu dan orang itu mengatakan bahwa ia cuma bercanda. Herrington mulai mengerti bahwa memang ada masalah fobia dan sikap tidak toleran terhadap Islam dan Muslim.
"Email itu membuktikan bahwa banyak orang yang tidak akurat memandang Islam," imbuhnya.
Sebulan penuh mengenakan jilbab, selama bulan Oktober kemarin, memberikan pemahaman baru bagi Herrington bahwa tak ada yang perlu ditakuti dengan eksistensi komunitas Muslim. "Faktanya, banyak tentara AS yang muslim, yang ikut membela negeri ini. Apa yang Anda lihat atau Anda dengar dari media tentang Islam, bisa saja keliru. Kalau Anda menginginkan kebenaran, bergaullah dengan muslim," tandasnya.
Untuk saat ini, Herrington mungkin sudah melepas kembali jilbabnya, ia juga minta maaf pada orang-orang yang merasa telah tertipu dengan identintasnya. Tapi dengan pengalamannya berjilbab, semoga Allah Swt menganugerahkan hidayah dan cahaya Islam bagi Herrington. (ln/KK)
Jefferson Pinder, Menyelami Samudera Islam di Tengah Arus Budaya Amerika
Kala itu, bulan Juli tahun 2008. Di samping imam masjid, duduk seorang lelaki mengenakan celana jeans dan kemeja. Para jamaah masjid menjadi saksi ketika sang imam menuntun lelaki itu mengucapkan dua kalimat syahadat dalam bahasa Arab dan Inggris. Setelah prosesi itu selesai, pekikan Allahu Akbar menggema di dalam dan di luar masjid menyambut kehadiran seorang muslim baru (mualaf) di tengah komunitas Muslim Amerika. Para jamaah masjid pun membuat antrian panjang untuk memberikan selamat pada lelaki yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai muslim.
Tapi siapa lelaki yang baru saja mengucapkan syahadat itu. Dia adalah Jefferson Pinder, seorang profesor di jurusan seni Universitas Maryland. "Saya takjub," kata Pinder saat berada di halaman masjid sambil menerima ucapan selamat dari jamaah masjid di Washington yang bahkan belum ia kenal sebelumnya.
"Saya kira, mendatangi sebuah tempat ibadah dan berjumpa dengan beragam orang merupakan sesuatu yang menakjubkan sepanjang pengalaman hidup saya yang dibesarkan sebagai penganut Kristen," kata Pinder, warga Amerika keturunan Afrika.
Perjalanan mencari jati diri Profesor Pinder membawanya pada agama Islam. "Sebuah perjalanan yang panjang, berawal dari perjlanan ke Senegal," ungkap Pinder yang mengaku kagum melihat nilai-nilai dan disiplin orang-orang Islam yang pernah dijumpainya.
Ia mengatakan, "Saya seorang artis dan saya pernah bekerjasama dengan banyak seniman, termasuk seniman Muslim. Merekalah yang memotivasi saya. Saya melihat bagaimana mereka menjalani kehidupan ini."
"Ketika saya datang ke sini, ke Universitas Maryland tempat saya mengajar, salah seorang mahasiswa adalah seorang muslimah. Ia menciptakan karya seni dengan sentuhan Islam, yang membuat hati saya tergerak. Saya menemui keluarganya dan mereka dengan sikap terbuka membawa serta membimbing saya ke jalan ini," tutur Pinder.
Ia mengaku mengaku kagum dengan nilai-nilai, disiplin dan kebaikan kaum Muslimin yang tetap taat dan serius terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan mereka. "Sebuah nilai-nilai asli dari komunitas yang tidak hanya melakukan kewajiban salat, tapi lebih dari itu. Komunitas Muslim adalah sebuah komunitas yang selalu berpikir tentang masyarakat dan ingin menjadi bagian dari masyarakat itu," tukas Pinder.
Ia berharap keislamannya tidak mempengaruhi hubungan dengan keluarganya. Ayah Pinder adalah seorang pemuka agama Katolik dan Pinder yakin ayahnya bisa memahami keputusannya masuk Islam.
"Saya kira, ayah saya menyadari bahwa Islam memberikan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh ajaran Kristen dan pada saat yang sama ia juga akan menyadari bahwa banyak kesamaan antara kedua agama itu, dan itu akan tetap membuat hubungan kami kuat," ujar Pinder.
Pinder melihat keputusannya menjadi seorang muslim sebagai awal dari fase baru kehidupannya. "Ini kesempatan luar biasa bagi saya untuk lebih mengenal diri saya lagi, setelah kehilangan arah selama bertahun-tahun," ungkapnya.
"Kadang saya berpikir bahwa hidup kita akan kacau di tengah budaya Amerika dan tidak memikirkan ada alternatif lain, cara lain untuk belajar dan cara lain untuk menjalani sebuah kehidupan."
"Maka, hari ini, saya datang ke sini dan pelan-pelan belajar sebuah cara baru dalam melihat kehidupan dan saya berharap ini akan membuat saya menjadi orang yang lebih kaya," imbuh Pinder.
Ia menegaskan, masih banyak yang harus ia pelajari tentang agama Islam yang menjadi keyakinan barunya. "Saya baru memulai sebuah proses ... ini seperti menceburkan diri ke sebuah samudera dan berusaha untuk berenang di dalamnya," tukas Pinder yang baru akan belajar tatacara salat.
Untuk belajar banyak hal tentang kewjiban dalam Islam dan bahasa Arab, Pinder akan dibimbing dua orang mentor. "Saya seperti baru lahir saja," kata Pinder. (ln/oi)
Aisha Bhutta, Mualaf yang Berhasil Mengislamkan Keluarga dan 30 Temannya
Mata biru Aisha penuh dengan keceriaan, dia tersenyum dengan cahaya keimanan yang ia miliki. Wajahnya yang merupakan wajah gadis Skotlandia yang kuat - ia masih tetap memiliki cita rasa humor - meskipun wajahnya tetap ditutupi dengan jilbab.
Bagi seorang gadis Kristen yang baik untuk masuk Islam dan menikah dengan seorang Muslim adalah sesuatu yang luar biasa cukup. Namun lebih dari itu, ia juga telah mengislamkan orang tuanya, sebagian besar sisa keluarganya dan setidaknya 30 teman dan tetangganya. Subhanallah.
Keluarganya adalah penganut Kristen yang keras di mana mereka secara teratur menghadiri pertemuan Salvation Army. Ketika semua remaja lainnya di Inggris mencium poster George Michael untuk mengucapkan selamat malam, Debbie Rogers alias Aisha punya foto Yesus di dinding kamarnya. Namun ia menemukan bahwa Kekristenan tidak cukup, ada terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab dan dia merasa tidak puas dengan kekurangan struktur disiplin untuk keyakinannya itu."Masih ada yang membuat saya ragu untuk mematuhi daripada hanya melakukan doa ketika saya merasa seperti itu."
Aisha pertama kali melihat calon suaminya, Muhammad Bhutta, ketika dia masih berusia 10 tahun dan merupakan pelanggan tetap di toko, yang dijalankan oleh keluarganya. Dia sering melihat pria itu secara sembunyi-sembunyi, sewaktu melakukan shalat. "Ada kepuasan dan kedamaian dalam apa yang dia lakukan. Dia bilang dia seorang Muslim. Saya berkata: Apa itu seorang Muslim?
Kemudian dengan bantuan Mohammad Bhutta ia mulai mencari lebih dalam tentang Islam. Pada usia 17 tahun, ia telah membaca seluruh Alquran dalam bahasa Arab. "Semua yang saya baca", katanya, "Semuanya bisa diterima."
Dia membuat keputusan untuk masuk Islam pada usia 16 tahun. "Ketika saya mengucapkan kalimat syahadat, rasanya seperti beban besar saya telah terlempar. Saya merasa seperti bayi yang baru lahir. "
Masuk Islamnya dirinya tidak serta merta orang tua Muhammad Bhutta setuju mereka untuk menikah.
Namun, orang tua Muhammad menentang mereka menikah. Mereka melihat dirinya sebagai seorang wanita Barat yang akan memimpin putra sulung mereka dengan kesesatan dan memberikan nama keluarga yang buruk, ayah Muhammad percaya, dirinya "musuh terbesar."
Namun demikian, pasangan ini tetap menikah di masjid setempat. Aisha memakai baju yang dijahit oleh ibu Muhammad dan saudaranya yang menyelinap ke upacara perkawinan melawan keinginan ayahnya yang menolak untuk hadir.
Nenek Muhammad-lah yang membuka jalan bagi sebuah ikatan pernikahannya. Neneknya tiba dari Pakistan di mana perkawinan ras campuran bahkan sangat tabu, dan bersikeras untuk bertemu Aisha. Dia begitu terkesan oleh fakta bahwa Aisha telah belajar Alquran dan bahasa Punjabi dan dia yakin, perlahan-lahan, Aisha akan menjadi salah satu anggota keluarga.
Orang tua Aisha, Michael dan Marjory Rogers, meskipun tidak menghadiri pernikahan itu, lebih peduli dengan pakaian putri mereka yang sekarang dipakainya (tradisional shalwaar kameez) dan apa yang tetangga mereka pikirkan. Enam tahun kemudian, Aisha memulai misi untuk mengislamkan mereka dan seluruh keluarganya, serta adiknya. "Suami saya dan saya mendakwahkan Islam kepada ibu dan ayah saya, memberitahu mereka tentang Islam dan mereka melihat perubahan dalam diri saya sejak memeluk Islam.
Ibunya segera mengikuti jejaknya. Marjory Rogers mengubah namanya menjadi Sumayyah dan menjadi seorang Muslimah yang taat. Dia memakai jilbab dan melakukan shalat tepat pada waktunya dan tidak ada yang penting baginya, kecuali hubungan dengan Allah.
Ayah Aisyah terbukti lebih sulit untuk diajak masuk Islam, sehingga ia meminta bantuan ibunya yang baru saja masuk Islam (yang telah meninggal karena kanker).
"Ibu saya dan saya kemudian berbicara kepada ayah saya tentang Islam dan kami duduk di sofa di dapur pada satu hari dan ayahnya berkata: "Apa kata-kata yang Anda katakan ketika Anda menjadi seorang Muslim? Saya dan ibu saya hanya terkejut. "Tiga tahun kemudian, saudara Aisha mengucapkan syahadat melalui telepon - maka istri dan anak-anaknya menyusul, diikuti oleh putra kakaknya.
Hal ini tidak berhenti di situ. Keluarganya telah masuk Islam, Aisha mengalihkan perhatiannya untuk warga Cowcaddens. Setiap Senin selama 13 tahun terakhir, Aisha telah mengadakan kelas pelajaran Islam untuk wanita Skotlandia. Sejauh ini ia telah membantu orang masuk Islam lebih dari 30 orang. Para perempuan yag masuk Islam ditangannya berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Trudy, seorang dosen di Universitas Glasgow dan mantan Katolik, menghadiri kelas Aisha justru awalnya secara murni karena ia ditugaskan untuk melakukan penelitian.
Tapi setelah enam bulan mengikuti kelas pelajaran Islam yang Aishah bikin dia memutuskan untuk masuk Islam, dan memutuskan bahwa agama Kristen itu penuh dengan "inkonsistensi logis".
"Saya tahu dia mulai terpengaruh oleh pembicaraan saya", Aisha mengatakan.
Suaminya, Muhammad Bhutta, tampaknya tidak begitu terdorong untuk mengislamkan pemuda Skotlandia untuk menajdi saudara muslim. Dia kadang-kadang membantu di restoran keluarga, tetapi tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memastikan lima anak-anaknya tumbuh sebagai Muslim yag baik.
Putri tertuanya, Safia, hampir 14 tahun, juga mengikuti jejak ibunya mendakwahkan Islam. menolak untuk tempat merekrut dirinya. Suatu hari Safia bertemu dengan seorang wanita di jalan dan membantu membawa belanjaannya, wanita itu kemudian menghadiri kelas Aisyah dan sekarang menjadi seorang Muslim.
"Saya bisa jujur mengatakan saya tidak pernah menyesal", Aisha mengatakan masuk Islamnya dirinya. "Setiap pernikahan memiliki pasang surut dan kadang-kadang Anda perlu sesuatu untuk menarik Anda keluar dari kesulitan apapun. Tapi Nabi Muhammad berkata: "Setiap kesulitan ada kemudahan." Jadi, ketika Anda akan melalui tahapan yang sulit, Anda bekerja untuk itu kemudahan akan datang. "
Muhammad suaminya lebih romantis: "Saya merasa kami sudah saling kenal selama berabad-abad dan seakan-akan tak pernah menjadi bagian dari yang lain. Menurut Islam, Anda tidak hanya mitra seumur hidup, Anda bisa menjadi mitra di surga juga, selama-lamanya. Ini sesuatu hal yang indah, anda tahu itu."(fq/islweb)
Mustafa Davis: Lima Huruf yang Mengubah Kehidupanku
keterangan gambar ki-ka: Davis, Khadim dan Canon
Pertemuan Mustafa Davis dengan Usama Canon sepertinya bukan sebuah "kebetulan" semata. Karena dari pertemuan yang serba kebetulan itu, mengantar Mustafa menjadi seorang muslim. Sekarang, 15 tahun sudah Davis menjadi muslim dan peristiwa "kebetulan" tak pernah ia lupakan.
Davis secara tak sengaja bertegur sapa dengan Usama lima belas tahun yang lalu, saat sedang menuju ke tempat kuliahnya. Usama mengomentari t-shirt yang dikenakan Davis dan menyalaminya. Pertemuan selanjutnya di kelas bahasa Spanyol, karena ternyata mereka sama-sama mengambil kelas bahasa itu dan kerap duduk bersisian di dalam kelas. Keduanya akhirnya tahu bahwa mereka sama-sama menyukai musik dan seni. Oleh sebab itu, Davis dan Usama--yang jago main piano--kadang menyelinap ke aula kampus karena ada piano di sana. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain musik, dan kadang diselingi dengan perbincangan tentang spiritualitas. Itu mereka lakukan hampir setiap hari selama satu semester perkualiahan.
Suatu hari saat menikmati makanan sushi di restoran Jepang dekat kampus. Davis curhat ke Canon tentang kehidupannya yang agak kacau dan keinginannya untuk kembali ke "jalur" kehidupan yang benar. Kala itu, Davis tinggal seorang diri di San Jose. Malam bekerja, siang kuliah. Davis merasa masa lalunya menjadi beban yang selalu menghantui hidupnya dan mulai berpikir bahwa untuk mengatasi segala problema kehidupan yang dialaminya dengan cara kembali ke gereja, menjalani kembali kehidupan yang religius.
"Saya bilang pada Usama bahwa saya sedang mempertimbangkan untuk kembali pada Katolik, agama saya untuk memperbaiki hidup. Usama lalu bertanya, apakah saya pernah berpikir tentang agama Islam dan saya jawab tidak pernah, karena saya merasa Islam adalah agamanya orang Arab atau agama kelompok separatis kulit hitam. Saya juga beranggapan bahwa orang-orang Islam yang saya jumpai adalah orang-orang yang munafik dan saya tidak pernah melihat orang Islam yang menjalankan agamanya dengan baik," tutur Davis
Usama, kata Davis, lalu menceritakan tentang kakak lelakinya, Anas Canon yang pindah ke agama Islam tak lama setelah ia aktif dalam organisasi Nation of Islam. Usama mengatakan bahwa Islam bukan hanya untuk orang Arab dan dari yang ia tahu, Islam adalah agama yang universal, meski Usama sendiri saat itu belum memeluk Islam.
Dalam perbincangan itu, Usama juga menanyakan apakah Davis tahu tentang Nabi Muhammad Saw. dan Davis menjawab bahwa ia hanya kenal sosok Elijah Muhammad. Usama lalu menjelaskan bahwa Nabi Muhammad yang ia maksud berbeda dengan Muhammad yang Davis kenal. Pada titik ini, seperti biasanya, Davis berusaha menghindar jika ada orang yang mulai bicara banyak soal agama. Apalagi setelah ia tahu Nabi Muhammad itu berasal dari Arabia, Davis merasa Islam bukan untuknya. Obrolan hari itu itupun selesai begitu saja.
Surat Maryam Membuat Davis Menggigil
Suatu malam, setelah kerja, Davis ke toko buku untuk membeli Alkitab. Ia melewati rak berisi buku-buku "Filosofi Timur" dan melihat sebuah buku bersampul hijau bertuliskan "MUHAMMAD" dengan huruf-huruf yang berwarna keemasan. Ia berhenti dan berpikir sejenak, lalu meraih buku itu. Judul lengkap buku itu "MUHAMMAD – His Life Based On The Earliest Sources" yang ditulis oleh Martin Lings.
"Yang menarik perhatian saya adalah kata 'earliest sources' dalam judul itu. Saya bermaksud beli Alkitab di toko itu, dan saya tahu ada perdebatan teologis tentang kesalahan-kesalahan yang ada dalam alkitab, yang juga sangat mengganggu pikiran saya. Maka, saya buka buku 'MUHAMMAD' itu, meski sulit mengucapkan nama-nama Arab dalam buku tersebut, saya mencoba membaca beberapa baris isi buku. Empat atau lima baris kalimat yang saya baca menyebut kata 'Qur'an' beberapa kali. Nama-nama Arab yang baca makin membuat saya merasa bahwa Islam adalah agama orang Arab dan bukan yang saya inginkan dalam hidup saya. Saya pun meletakkan buku itu," ungkap Davis.
Tapi saat ia berjalan meninggalkan rak buku itu, huruf keemasan bertuliskan "MUHMMAD" muncul kembali di pelupuk matanya dan membuat Davis kembali ke rak buku tadi. Kali ini, Davis memperhatikan buku dengan judul "The Quran". Ia ingin mengabaikan buku itu, tapi ia ingat bahwa kata "Quran" disebut beberapa kali dalam buku Martin Lings yang baru saja ia baca-baca. Davis akhirnya mengambil buku "The Quran" dan membuka halamannya secara acak, dan kebetulan yang ia buka adalah halaman pertama Surat Maryam. Davis membaca terjemahan surat itu dari awal sampai akhir. Saat membaca isi surat Maryam yang menceritakan kelahiran Nabi Isa, David merasakan tubuhnya panas dingin. Ia tidak menyangka Muslim juga meyakini keajaiban dalam kelahiran "Yesus" yang diyakini dalam agama Davis, namun Muslim tidak meyakini Yesus sebagai anak dari Tuhan seperti keyakinan umat Kristiani. Selama ini, meski sebagai pemeluk Katolik, Davis menganggap ajaran bahwa Tuhan punya anak lelaki, sungguh tidak masuk akal.
Tanpa tahu apa sebabnya, Davis menangis terisak-isak di toko buku itu saat membaca Al-Quran yang dipegangnya. Ia memutuskan untuk membelinya agar ia bisa membaca lebih banyak tentang apa yang diyakini kaum Muslimin. "Dalam situasi perasaannya yang sedang emosional, Saya betul-betul sudah lupa untuk membeli Alkitab dan meninggalkan toko buku itu," ujar Davis.
Kejadian Aneh dalam Sehari
Setelah membeli Al-Quran, keesokan harinya Davis ke kampus dan di perjalanan ia melewati sebuah toko kecil milik seorang lelaki Sinegal yang menjual kerajinan tangan, dompet dan boneka khas Afrika. Davis tertarik melihat-lihat dompet. Lelaki Sinegal itu menyapanya, "Hello sobat apa kabar?". Davis menjawab, "baik-baik saja, terima kasih."
Davis bercerita, lelaki Sinegal itu lalu memperhatikannya dengan seksama, tersenyum dan melontarkan pertanyaan yang membuat Davis kaget. "Sobat, apakah kamu seorang muslim? Kamu seperti seorang muslim," tanya lelaki Sinegal itu. Davis tersentak, selama ini ini tidak pernah ada orang yang mengiranya seorang muslim, dan malam tadi ia baru saja membeli Al-Quran. Davis menjawab bahwa ia bukan seorang muslim, tapi semalam ia baru saja membeli Al-Quran.
Mendengar jawaban Davis, lelaki Sinegal itu keluar dari toko kecilnya dan memeluk Davis dan terus-terus berkata bahwa ia bahagia mendengarnya dan itu merupakan pertanda dari Allah untuk Davis. Nama lelaki Sinegal itu adalah Khadim.
Khadim sempat minta tolong Davis untuk menunggui tokonya, sementara ia berwudu dan menunaikan salat. Pada Davis, Khadim mengatakan bahwa sebagai muslim, ia berkewajiban salat lima waktu sehari. Begitu Davis menyatakan ia bersedia membantu, Khadim menunjukkan kotak tempat penyimpanan uang, memberitahu harga barang-barangnya pada Davis, lalu pergi salat.
Sekitar setengah jam Davis menjaga toko Khadim. Selama menunggu, Davis tak henti berpikir, "Siapa laki-laki ini, meninggalkan uangnya pada saya. Bisa saja saya kabur dan membawa uangnya dan ia tidak akan bisa menangkap saya." Davis heran, mengapa Khadim tidak mengkhawatirkan kemungkinan itu, mempercayakan uangnya pada orang asing.
Khadil kembali dari salat dan Davis melihat wajah Khadim seperti bersinar. Ia memeluk Davis dan mengucapkan terima kasih. Davis kemudian pamit dan menuju kampus. Sesampainya di kampus, Davis lagi-lagi terhenyak ketika seorang mahasiswa asal Pakistan menyapanya dan mengucapkan salam, lalu bertanya pada Davis "Apakah kamu seorang Muslim?". Ini adalah pertanyaan kedua dalam satu hari yang ditujukan pada Davis.
Davis menjawab bahwa ia bukan muslim dan balik bertanya mengapa mahasiswa Pakistan itu menanyakan hal itu. Mahasiswa Pakistan itu hanya berkata, "Saya tidak tahu, Anda kelihatannya seperti seorang muslim." Kejadian ini membuat Davis bertanya-tanya dalam hati. Davis mengatakan pada mahasiswa Pakistan tadi bahwa ia sekarang sedang membaca-baca Al-Quran. Si mahasiswa Paksitan sangat senang mendengar apa yang dikatakan Davis dan menanyakan apakah Davis pernah ke masjid. Davis terus terang bahw ia belum pernah ke masjid dan ia menerima ajakan mahasiswa Pakistan itu untuk pergi ke masjid keesokan harinya. Mereka pun saling bertukar nomor telepon. Davis makin penasaran.
Hari Jumat sore, mahasiswa Pakistan itu datang dan mengajak Davis ke rumahnya. Davis dijamu makan, duduk di lantai. Meski seumur hidupnya ia belum pernah duduk di lantai untuk makan, Davis merasa tidak canggung sama sekali. Setelah makan, mereka berangkat ke masjid milik Muslim Community Association di Santa Barbara, California.
Sesampainya di masjid, Davis disambut sekitar 40 jamaah masjid dengan senyum dan jabatan tangan. Davis diajak duduk bersama, membentuk lingkaran kecil. Seorang lelaki menanyakan apakah Davis tahu tentang Islam. Davis pun menceritakan bagaimana ia sampai membeli Al-Quran dan mulai membaca isinya. Davis ditanya lagi, apakah ia percaya pada Nabi Muhammad, tanpa ragu Davis menjawab "Ya". Pertanyaan lainnya, apakah Davis percaya bahwa Yesus adalah anak Tuhan, Davis menjawab "Tidak", tapi percaya bahwa Yesus adalah seorang nabi. Masih banyak pertanyaan lainnya yang diajukan ke Davis, mulai dari apakah ia percaya malaikat, ayat suci Al-Quran dan hari Kiamat, dan Davis menjawab bahwa ia meyakini semuanya.
Lelaki yang bertanya itu lalu mengatakan, "Itulah yang diyakini kaum Muslimin, jadi kamu (Davis) meyakini hal yang sama pula. Apakah suatu saat kamu mau menjadi seorang muslim?" tanyanya. Lagi-lagi, tanpa ragu Davis menjawab "Ya".
Bersyahadat
Lelaki itulah yang akhirnya membantunya mengucapkan dua kalimat syahadat di hari ke-17 bulan Ramadan tahun 1996.
Enam bulan setelah masuk Islam, Usama Canon menghubungi Davis dan menanyakan tentang Islam. Keduanya pergi makan malam dan membahas soal agama. Keesokan harinya, Davis mengajak Canon ke masjid dan Canon pun mengucapkan syahadat. Canon, orang pertama yang menyebut-nyebut Islam pada Davis dan sebuah kehormatan bagi Davis hari itu mengajak Canon ke masjid dan Canon masuk Islam juga.
"Bukan ilmu teologi atau perdebatan agama yang membawa saya pada agama Islam. Tapi musik, budaya, teman yang yang saya percaya dan seorang asing yang tersenyum pada saya. Yang ironis, budaya Arab-lah yang pertama kali membuat saya enggan mencari tahu soal Islam. Tapi sekarang, setelah menjadi muslim, saya berusaha meninggalkan budaya saya sendiri (budaya Amerika) dan mencoba menerapkan budaya Arab. Setelah beberapa tahun, saya bisa kembali pada akar budaya saya sebagai orang Amerika sekaligus sebagai seorang Muslim," papar Davis.
Davis sekarang tinggal di San Francisco Bay Area. Ia berprofesi sebagai fotografer dan sutradara. Belum lama ini, saat berjalan-jalan bersama Canon, Davis bertemu Khadim lagi. Mereka sangat bahagia dan berfoto bersama. "Segala puji bagi Allah atas rahmatnya pada Islam," doa Davis. (ln/Is/mx)