Sabtu, 07 Mei 2011

Situjuah 2 & Khatib Sulaiman

Masyarakat Kota Padang tentu tak asing lagi dengan nama salah satu jalan protokol nan membentang membelah daerah Padang Baru, Balanti, Lapai, hingga Ulak Karang ini. Trayek nan dilalui oleh bus kota “Trayek 14A”
Tetapi mungkin banyak nan tidak mengetahui siapa itu Khatib Sulaiman ??
Salah satu peristiwa sejarah nagari awal nan — mungkin — terlupakan adalah Peristiwa Situjuah Batur, berlokasi Kabupaten 50 Kota kini. Peristiwa tersebut terjadi pada saat Agresi Belanda II — telah menyebabkan gugurnya pejuang-pejuang Minangkabau.
Peristiwa tersebut diawali dengan penyerangan pasukan Belanda ke Koto Tinggi pada tanggal 10 Januari 1949, setelah penyerangan tersebut — para tokoh pejuang dan pemuda Minang mengadakan rapat untuk mengatur strategi mengusir Belanda. Perjuangan ini adalah mempertahankan kemerdekaan nan telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.
Rapat tersebut dirancang pada sebuah surau kecil di lurah Kincia, Nagari Situjuah Batur, Payokumbuah. Rapat ini dipimpin oleh Ketua Laskar Pertahanan
Sumatera Tengah — Khatib Sulaiman pada malam tanggal 14 Januari 1949. Rapat ini berlangsung hingga fajar menyingsing, akhirnya menghasilkan keputusan penting dan rahasia.

Setelah rapat tersebut, para pejuang beristirahat menunggu waktu Sholat Shubuh dan sebagian lagi berencana pulang ke rumahnya. Namun pada pagi harinya — sekitar pukul enam — Belanda secara tiba-tiba menggempur dari atas tebing, sehingga banyak membuat pejuang gugur, di antaranya : Arisun Sutan Alamsyah, Zainuddin Tembak, Tantowi, Ahmad, dan masih banyak lagi — termasuk Khatib Sulaiman.
Penyerangan ini terjadi sangat tiba-tiba dan terlihat tidak wajar, karena penyerangan tersebut setelah beberapa orang peserta rapat pulang menjelang subuh. Sedangkan penyerangannya sendiri terjadi setelah Sholat Shubuh.
Hal ini membuat beragam opini di masyarakat, ada nan mengatakan bahwa telah ada pengkhianat di antara mereka nan telah membocorkan hasil rapat tersebut, dan terjadilah saling tuduh-menuduh dan saling membela diri. Tuduhan pengkhianatan akhirnya banyak tertuju pada seseorang nan bernama Tambiluak.
Namun setelah diteliti akhirnya terdapat dua wacana nan berkembang di masyarakat — versi pertama menyebutkan bahwa Tambiluak benar adanya sebagai pengkhianat nan telah membocorkan keputusan rapat tersebut kepada Belanda, sedangkan versi kedua menyebutkan bahwa Tambiluak adalah orang nan dikorbankan.
***
Terlepas dari peristiwa itu, da Alkawi menjadikan Situjuah sebagai salah satu judul lagunya :
Nan Situjuah bandanyo dalam
Lah nan sakambuik pinang mudonyo
Ramuak bana hati di dalam
Lan nan di galak manihkan juo
Bajelo-jelo malah ka pandan
Bia den jalin nan di katuduang
Baibo-ibo malah badan
Nan bak panggang manggalang gunuang
Lah masak padi di Situjuah
Urang manyabik, lah tuo mudo
Nan di rantau, hati den rusuah
Lah nan ka pulang raso lah bedo
Tumbuah lah rumpuik nan di pamatang
Mati rang lendo … lendo sajo
Baniaik bana badan pulang
Nan di kampuang sagalo tido

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz