Sabtu, 07 Mei 2011

Suku Bugis di Sabah Malaysia

Bugis merupakan salah satu etnis yang bermukim di Sabah, Malaysia. Populasinya kebanyakan terkonsentrasi di Pantai Timur Sabah, khususnya di daerah Tawau. Orang Bugis mudah dikenali dari dialeknya yang unik dan berbeda dengan dialek asli orang-orang Sabah.

Orang Bugis kemungkinan tiba di Sabah sekitar abad ke-16 yang kebanyakan sebagai pedagang dan nelayan, walaupun belum ada data kuat yang mendukung pendapat ini, barulah pada Tahun 1840 kedatangan mereka di Sabah diakui. Ranggu (salah satu daerah di Tawau) dikatakan menjadi tempat pertama yang mereka tinggali. Mereka umumnya bekerja sebagai pedagang tetapi beberapa dari mereka juga dibayar untuk melawan para perompak dari Laut Sulu oleh Kesultanan Sulu.
Di era modern, orang-orang Bugis dianggap suku asli non-Sabah karena tingginya jumlah imigran Indonesia yang sebagian besar dari mereka berasal dari etnis Bugis. Sejak tahun 1970, beberapa kelompok Bugis INdonesia diajak ke Tawau Sabah untuk bekerja sebagai tenaga kontrak di beberapa Perkebunan. Pada saat itu, mereka memutuskan untuk bekerja di Sabah sementara waktu. Tapi tak lama kemudian, mereka mengubah rencana mereka dan tetap tinggal di Malaysia sampai mereka menjadi warga negara Malaysia. Sekitar tahun 1980 saat Sabah menjadi negara berkembang, sejarah kedatangan besar-besaran orang Bugis yang mencari pekerjaan ke Sabah Malaysia akibat masalah ekonomi di Sulawesi Selatan, kebanyakan menjadi buruh bangunan, perkebunan, pekerja transportasi dan pedagang di Pasar. HIngga sekarang terdapat lebih dari 500.000 orang Bugis di sekitar Sabah dan jumlah mereka terus bertambah baik yang terdaftar sebagai warga negara Malaysia maupun penduduk ilegal.
Saat ini banyaknya jumlah penduduk Imigran ilegal asal Indonesia si Sabah khususnya Tawau adalah masalah yang sangat utama yang belum terselesaikan. Beberapa dari mereka berusaha mendapatkan kewarganegaraan dengan cara apapun atau biaya berapapun. Sebagian dari mereka menggunakan dokumen dan informasi palsu untuk mendapatkan kartu tanda penduduk sebagai warga Malaysia. Banyak dari imigran ini ditangkap oleh polisi Diraja Malaysia karena tidak mempunyai Paspor dan Kartu kewarganegaraan.
Pengaruh bahasa Bugis di Tawau semakin meluas apa lagi kedatangan pedagang Bugis dan kemasukan buruh kasar khususnya dari kepulauan Sulawesi, Indonesia pada awal tahun 1900-an. Ini terbukti ketika Daeng Mapata bin Supu (Mustafa Bin Yusof) datang ke Tawau dan menjalankan perdagangan secara kecil-kecilan dari tempat asalnya di Suka Waji. Setiap kali datang ke Tawau dia membawa beberapa keluarganya lalu membentuk kampung dan juga masjid untuk beribadat pada 1903. Dicatatkan juga pada 1916 orang Bugis digelar “the most energetic and successful cultivator of coconuts” atas usaha mereka dalam mengusahakan tanaman kelapa.
Perluasan pengaruh Bugis ke Sabah dimulai pada abad ke-20 ketika mereka bermigrasi dari Sulawesi ke Jawa, Sumatera, Semenanjung Malaysia dan Borneo (Sumatera). Beberapa pria Bugis datang ke Tawau, menetap dan membentuk keluarga baru dengan menikahi penduduk asli seperti gadis Suluk atau gadis Tidong. Sebagai Contoh, Daeng Mapata menikahi gadis Tidong dan Daeng Kerahu menikahi gadis SUluk. Mereka tinggal dengan keluarga baru mereka di Tawau. Hdup dengan Suluk atau budaya TIdong, mereka menjadi orang Tawau Melayu. Anak mereka, Ahmad (Linat) Mapata dan Zainal Kerahu diasumsikan bahwa mereka adalah Tidong atau pria Suluk asli sesuai dengan keluarga asalnya dari keturunan Ibu. Mereka menjadi dua dari banyak pemimpin bagi semua orang Melayu (termasuk Suluk Malaysia Lokal, Tidung, Arab, dll) di Tawau. Saat ini, Bugis Indonesia berbeda dengan orang-orang Melayu di Tawau. Mereka lebih memilih untuk menikah hanya dengan ras mereka sendiri apakah dengan orang-orang mereka di Tawau atau dengan orang-orang dari tanah air mereka di Sulawesi selatan. Mereka beranggapan bahwa mereka adalah Bugis atau orang Indonesia mengacu pada ‘kampung’ mereka di Indonesia. Mereka tidak ingin menjadi orang Melayu karena mereka masih mencintai adat mereka sendiri atau budaya kehidupan yang mirip dengan Bugis Indonesia di Sulawesi Selatan. Namun, pada tahun 1980 mereka melakukan beberapa perpindahan ke Tawau, di mana mereka menetap di Ranggu, yang didirikan oleh kepala desa nenek KK Salim desa Sungai Imam, Bombalai. Para pemukim pedagang, dan lain-lain kemudian datang sebagai pekerja di perkebunan yang didirikan oleh Inggris. Kemudian, Petta Senong, yang merupakan anggota bangsawan Bone, tinggal di desa yang sama. Dia dikirim oleh pemerintah Sulu untuk menghentikan pembajakan di sekitar Laut Sulu. Orang-orang Bugis terus menjelajahi tempat-tempat baru untuk mengembangkan kota Tawau, antara para pemukim Bugis adalah Puang Ado, Wak Neke (DKI), Wak Gempe (DKI) dan Haji Osman (Suluk). Melihat aspek sosial suku ini, karena hubungan dekat mereka dengan adat dan budaya mereka menempatkan penekanan yang kuat tentang status individu serta hubungan keluarga. Orang Bugis lebih suka menikahi ras sendiri dan mereka sangat menentang perceraian karena mereka percaya dapat menghancurkan hubungan keluarga dan sangat bertentangan dengan agama mereka, Islam.:'' Sumber(kampung bugis com)

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz