Selasa, 31 Januari 2012

Mari Jangan Abaikan Kekuatan Doa

By Mahkota Cahaya | At 10.23.00 | Label : , , | 2 Comments
 

Mahkota Cahaya :Mari Jangan Abaikan Kekuatan Do'a


Assalamu'alaikum sahabats Mahkota Cahaya.,, kali ini mahkota cahaya membagikan artikel yang sangat sederhana adanya ini buat sahabats Mc semoga bermanfaat.

1. Do’a Seorang Muslim Untuk Saudaranya Tanpa Dia Ketahui
Diriwayatkan dari Abu Darda’ ra., bahwasanya ia berkata, “Apabila seorang Muslim mendo’akan saudaranya tanpa sepengetahuannya, maka pasti malaikat yang ditugaskan (kepadanya) akan mengucapkan, “Engkaupun akan mendapatkan yang semisalnya”. (HR. Muslim)
2. Do’a Orang Yang Teraniaya
Ketika Rasulullah SAW mengutus Mu’adz ke Yaman, beliau bersabda kepadanya, “Takutlah kalian terhadap do’a orang yang dizhalimi, karena tidak ada hijab antara do,a itu dengan Allah” (HR. Bukhari)
3. Do’a Orang Tua Untuk Anaknya
4. Do’a Seorang Musafir
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga do’a mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu do’a orang yang teraniaya, do’a musafir, dan do,a orang tua untuk anaknya” (HR. Tirmidzi, dll. Dinilai hasan oleh al-Albani)
5. Do’a Orang Yang Berpuasa Ketika Berbuka
6. Do’a Pemimpin Yang Adil
Dari Abu Hurairah ra., secara marfu’, “Ada tiga golongan yang do’anya tidak ditolak, orang yang berpuasa hingga berbuka, do’a pemimpin yang adil dan do’a orang yang teraniaya. Allah akan mengangkat do’a mereka ke atas awan, membukakan pintu-pintu langit untuknya, dan berfirman, ‘Demi kemuliaan-Ku, sungguh, Aku akan menolongmu walaupun dengan selang waktu’” (HR. Tirmidzi, dll. Dinilai hasan oleh al-Albani)
7. Doa Anak Shaleh
Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra., “Apabila manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih yang mendo’akan orang tuanya” (HR. Muslim)
8. Do’a Orang Yang Berada Dalam Keadaan Darurat
Allah SWT berfirman: “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)”. (QS. An-Naml 27: 62)
9. Do’a Orang Yang Tidur Dalam Keadaan Suci Dan Berdzikir
Dari Mu’adz bin Jabal, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Apabila seorang muslim tidur dalam keadaan berdzikir dan suci, lalu terbangun di malam hari, kemudian berdo’a kepada Allah SWT meminta kebaikan dunia dan akhirat, maka pasti Allah akan memberikan kepadanya”. (HR. Abu Dawud dan Ahmad, dinyatakan Shahih oleh al-Albani)
10. Berdo’a Dengan Menggunakan Do’a Dzun Nun (Do’a Nabi Yunus alaihissalam)
Dari Sa’ad bin Abi Waqash ra., ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Do’a Dzun Nun (Nabi Yunus alaihissalam) ketika berada di dalam perut ikan: ‘Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu min Azh-zhaalimiin’. Jika seorang berdo’a dengannya memohon sesuatu, niscaya Allah akan mengabulkannya’” (HR. Tirmidzi dll., dinyatakan shahih oleh al-Albani)
11. Do’a Orang Yang Terbangun Di Malam Hari Dengan Do’a Yang Ma’tsur
Dari Ubadah bin Shamit ra., dari nabi Muhammad SAW, bahwasanya beliau bersabda, “Brangsiapa yang terjaga di malam hari, lalu mengucapkan: ‘Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariika lah, lahul mulku walahul hamdu, wahuwaa ‘alaa kulli syai’in qadiir, Alhamdulillaah, wasubhanallaah, wa laa ilaaha illallaah, wallahu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah’ (Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nyalah seluruh kerajaan dan bagi-Nya pula segala pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah, tidak ada Tuhan selalin Allah, Allah Maha Besar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Kemudian mengucapkan: ‘Allahummaghfir lii’ (Ya Allah, ampunilah aku). Atau do’a yang lain, niscaya akan dikabulkan do’anya. Jika ia berwudhu’ dan shalat, maka diterimalah shalatnya” (HR. Bukhari, dll)
12. Do’a Anak Yang Berbakti Kepada Kedua Orang Tuanya
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga, lalu ia bertanya, ‘Dari mana aku memperoleh derajat ini?’. Allah SWT berfirman, ‘Dengan permohonan ampun anakmu untukmu’” (HR. Ahmad, sanadnya dinyatakan shahih olh Ibnu Katsir)
13. Do’a Orang Yang Menunaikan Haji, Umrah Dan Berperang Di Jalan Allah SWT
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra., dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, “Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang menunaikan haji, dan orang yang menunaikan umrah adalah utusan-utusan yang menghadap kepada Allah. Mereka dipanggil oleh-Nya, lalu mereka memenuhi panggilan-Nya, dan mereka pun meminta kepada-Nya, maka Allah akan memberinya” (HR. Ibnu Majah, dinyatakan hasan oleh al-Albani)
14. Do’a Orang Yang Banyak Berdzikir Kepada Allah SWT
Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, “Ada tiga golongan yang do’anya tidak akan ditolak, yaitu orang yang banyak berdzikir kepada Allah, orang yang teraniaya, dan pemimpin yang adil” (HR. al-Baihqi dan ath-Thabrani, dinyatakan hasan oleh al-Albani)
15. Do’a Orang Yang Dicintai Dan Diridhai Oleh Allah SWT
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT berfirman, ‘Barangsiapa memusuhi kekasih-Ku, maka sungguh Aku menyatakan perang dengannya. Hamba-Ku tidak akan dapat mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku terus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan amalan-amalan nafil, sehingga Aku mencintainya. Maka jika Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memegang dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku akan memberinya. Jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, pasti Aku akan melindunginya. Aku tidak pernah ragu-ragu dalam sesuatu yang Aku kerjakan seperti keraguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin. Hal itu karena ia tidak suka mati, sedangkan Aku tidak suka keburukan terjadi kepadanya’” (HR. Bukhari)
16. Orang Yang Memperbanyak Berdoa Pada Saat Lapang Dan Bahagia
Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda. “Barangsiapa yang ingin doanya terkabul pada saat sedih dan susah, maka hendaklah memperbanyak berdoa pada saat lapang”. (HR. Tirmidzi, dan al-Hakim. Dishahihkan oleh Imam Dzahabi dan di hasankan oleh Al-Albani).
Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa makna hadits di atas adalah hendaknya seseorang memperbanyak doa pada saat sehat, kecukupan dan selamat dari cobaan, sebab ciri seorang mukmin adalah selalu dalam keadaan siaga sebelum membidikkan panah. Maka sangat baik jika seorang mukmin selalu berdoa kepada Allah sebelum datang bencana berbeda dengan orang kafir dan zhalim sebagaimana firman Allah SWT.
“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya ; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu”. (QS. Az-Zumar : 8).
Dan firman Allah SWT:
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya”. (QS. Yunus : 12)
17. Doa Orang Dalam Keadaan Terpaksa.
Allah SWT berfirman. “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadanya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi ? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu menginga(Nya)”. (QS. An-Naml : 62)
Imam As-Syaukani berkata bahwa ayat diatas menjelaskan betapa manusia sangat membutuhkan Allah dalam segala hal terlebih orang yang dalam keadaan terpaksa yang tidak mempunyai daya dan upaya. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan orang terpaksa adalah orang-orang yang berdosa dan sebagian yang lain berpendapat bahwa yang dimaksud terpaksa adalah orang-orang yang hidup dalam kekurangan, kesempitan atau sakit, sehingga harus mengadu kepada Allah. Dan huruf lam dalam kalimat Al-Mudhthar untuk menjelaskan jenis bukan istighraq (keseluruhan). Maka boleh jadi ada sebagian orang yang berdoa dalam keadaan terpaksa tidak dikabulkan dikarenakan adanya penghalang yang menghalangi terkabulnya doa tersebut. Jika tidak ada penghalang, maka Allah telah menjamin bahwa doa orang dalam keadaan terpaksa pasti dikabulkan. Yang menjadi alasan doa tersebut dikabulkan karena kondisi terpaksa bisa mendorong seseorang untuk ikhlas berdoa dan tidak meminta kepada selain-Nya.

Minggu, 29 Januari 2012

Katalog Naskah Kuno Islam: Surau Lubuk Landur dan Mesjid Syekh Bonjol

By Mahkota Cahaya | At 07.09.00 | Label : | 0 Comments


Oleh: al-Haqir Apria Putra


Penyusun: DR. Ahmad Taufik Hidayat, Apria Putra dan Chairullah Ahmad
Hal: 139+xviii
cetakan pertama, November 2011
Penerbit: PT. Tinta Mas Indonesia, Jakarta dan Komunitas Suluah Padang

Pasaman, sebuah kawasan yang terletak di rantau Minangkabau sebelah utara, telah memainkan peranan penting dalam penyebaran keilmuan Islam lewat lembaga pendidikan tradisional, Surau. Tercatat beberapa Surau terkemuka, berikut tokoh-tokoh ulama yang mempunyai nama besar hadir di daerah ini. satu cacatan yang cukup tua, perihal jalannya agama di negeri Minangkabau, secara jelas menyebut Pasaman menjadi salah satu sentra pendidikan Islam di abad XVIII. Tepatnya di Rao, tempat mukim Syekh Tuanku di Tampang, yang mahir dalam ilmu Mantiq dan ma’ani, disamping pelajaran-pelajaran agama lainnya, khusus dalam bidang Tasawuf.

Di abad XIX, Pasaman juga menorehkan dinamika panjang yang mengisi lembar-lembar Sejarah Minangkabau, yaitu dengan perang Paderi, sebuah gerakan keagamaan yang berpengaruh luas hingga Sumatera bagian utara. Posisi Pasaman, tepatnya Bonjol, yang dijadikan wilayah inti Paderi bukan hanya karena daerahnya yang dipagar oleh benteng alam yang kokoh saja, lebih dari itu disebabkan oleh tokoh-tokoh ulama di Daerah ini memang teruji dalam bidang keagamaan, disamping alim dalam keilmuan, juga mempunyai keteguhan yang kuat dalam menegakkan perintah agama. Salah satu pusat pendidikan Surau yang terkemuka di abad XIX, begitu pula sampai saat ini, ialah Kumpulan. Ketokohan ulama besar Syekh Ibrahim bin Fahati al-Khalidi (1764-1914), yang dikenal dengan “Angguik Balinduang Kumpulan” memang menjadi buah bibir dikalangan orang-orang siak di berbagai wilayah Sumatera. Berikut Surau dan pengajarannya yang disamping mendalami agama lewat kitab, juga mengajarkan Tasawuf lewat kearifan Tarikat Naqsyabandiyah, menjadi daya tarik yang begitu kuat, sehingga banyak dikalangan penuntut ilmu agama jatuh hati ke Kumpulan.

Terdapat banyak surau-surau terkemuka di abad XIX dan awal abad XX yang menyandarkan isnad keilmuannya ke Kumpulan. Diantara surau-surau itu, yang masih eksis dan tetap menjaga tradisi keilmuannya sampai saat ini, ialah Surau Syekh Lubuk Landur dan Mesjid (baca: Surau) Syekh Muhammad Sa’id Bonjol. Keterikatan kedua lembaga tradisional ini, berikut eksistensinya dalam menjaga tradisi keilmuan Islam, layaknya surau Kumpulan, dapat disaksikan dalam manuskrip-manuskrip kuno yang masih tersimpan dan terpelihara pada koleksi dua lembaga ini.


Surau Lubuk Landur dan Mesjid Syekh Bonjol: Jejak historis pendidikan Islam ala Sufi di rantau Pasaman


Surau Lubuk Landur dan Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol menjadi basis intelektual Islam, terutama dalam bidang Tarikat Naqsyabandiyah, dan tetap begitu hingga saat ini. Kedua lembaga ini paling tidak telah memapankan posisinya dalam jaringan keilmuan Islam di Minangkabau pada (awal) abad XX, dan menancapkan pengaruh yang kuat ke berbagai daerah, bahwa ke luar wilayah Minangkabau.

Foto: Tim bersama Syekh Mustafa Kamal Lubuk Landur, Mei 2011

Surau Lubuk Landur, merupakan satu corak pendidikan Islam tradisional yang didirikan oleh Syekh Muhammad Bashir (w. 1912, dalam usia 122 tahun), seorang ulama terkemuka, setelah menimba ilmu agama beberapa tahun diberbagai surau, khususnya Kumpulan, dan Mekkah al-Mukarramah. Menurut garis keturunan nasab, diketahui bahwa beliau mempunyai hubungan yang erat dengan tokoh Paderi, dimana buyut beliau, Peto Sulaiman, berkerabat dengan Peto Syarif (Tuanku Imam Bonjol). Peto Sulaiman mempunyai istri dari Sikilang Sasak Pasaman, dari istrinya ini beliau dikaruniai seorang anak yang kemudian dikenal dengan Salim Peto Bandaharo, yang merupakan ayah dari Syekh Muhammad Bashir sendiri. Dalam catatan biografi Syekh Ibrahim Kumpulan disebutkan bahwa Syekh Muhammad Bashir ialah salah satu khalifah Syekh Ibrahim yang terkemuka, disamping ulama-ulama lain seperti Syekh Syahbuddin Sayurmatinggi, Syekh Mudo Kinali, Syekh Yunus Tuanku Sasak dan lainnya.

Setelah menimba ilmu ke berbagai surau, Syekh Muhammad Bashir kemudian melanjutkan pengembaraan intelektual ke Mekkah al-Mukarramah. Disamping melaksanakan Haji, beliau juga meluangkan waktu untuk menuntut ilmu kepada ulama-ulama terkenal disana, khususnya dalam bidang Tarikat Naqsyabandiyah. Karena prestasinya dalam bidang yang terakhir ini, beliau kemudian juga memperoleh ijazah Naqsyabandiyah dari Syekh ‘Ali Ridha di Jabal Abi Qubais Mekkah, disamping dari Syekh Kumpulan. Sekembalinya ke kampung halaman beliau, Syekh Muhammad Bashir kemudian memapankan karir keulamaanya di Lubuk Landur. Disini beliau mendirikan surau, disebuah kawasan yang asri, tepat dipinggir sungai Ikan Larangan. Syekh Muhammad Bashir mengajarkan keilmuan keislaman di surau Lubuk Landur sampai beliau wafat ditahun dalam usia yang sepuh 122 tahun. Kepemimpinan Surau Lubuk Landur kemudian dipegang oleh anak beliau yang juga ‘alim, yaitu Syekh Muhammad Amin. Setelah Syekh ini wafat, kepemimpinan surau ini digantikan sementara oleh Syekh Abdul Jabbar Lubuk Landur. Kemudian digantikan oleh seorang ulama yang cukup terkenal, Syekh Abdul Madjid, yang tak lain ialah anak Syekh Muhammad Amin sendiri. Syekh Abdul Madjid wafat pada tahun 1984. Beliau kemudian digantikan oleh anak beliau, Muzardin Syekh Mustafa Kamal, hingga saat ini.

Sentra pendidikan tradisional kedua, yang mempunyai koneksi dengan Kumpulan dalam hal Tarikat Naqsyabandiyah ialah Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol. Mesjid ini terletak di kampung Ganggo Hilir Bonjol. Tidak seperti surau-surau Tarekat kebanyakan yang terletak jauh dari keramaian, Mesjid ini berada di tepi jalan raya yang dapat dijangkau dengan mudah. Ulama yang terkemuka dan mempunyai pengaruh besar, sebagai pendiri Mesjid ini ialah Syekh Muhammad Sa’id Bonjol (1888-1979), atau yang lebih dikenal dengan Syekh Bonjol. Beliau terkemuka sebagai salah seorang ulama Tarikat Naqsyabandiyah yang diterimanya dari Syekh Kumpulan. Disamping itu, beliau merupakan salah satu sesepuh Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah), teman perjuangan Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung.

Lama Syekh Sa’id belajar keberbagai ulama mumpuni hingga Mekkah al-Mukarramah, setelah kembali ke kampung halamannya, beliau mendirikan Mesjid tempat sidang jum’at, disini beliau mengajar, khususnya Suluk Tarikat Naqsyabandiyah. Dalam transmisi keilmuan Islam di Pasaman, Syekh Sa’id merupakan mata rantai penting. Murid-murid beliau bukan hanya berasal dari wilayah sekitar, tapi juga dari berbagai pelosok Minangkabau. Hingga saat ini, Mesjid ini masih tetap eksis, memakai tradisi lama dan mengelar Suluk setiap tahun.

Karakter umum Naskah Lubuk Landur dan Mesjid Syekh Bonjol

Sebagai lembaga transmisi keilmuan Islam di Minangkabau pada abad-abad lalu, Surau Lubuk Landur dan Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol menyimpan khazanah Naskah yang mempunyai karakter yang khas. Disinyalir di dua lembaga ini dulunya menyimpan banyak koleksi Naskah keagamaan, berdasarkan fakta bahwa dulunya dua tempat ini begitu masyhur dikalangan penuntut ilmu.

Inventaris, berikut pendeskripsian dan digitalisasi naskah di Lubuk Landur dilakukan oleh sebuah Tim yang terdiri Mahasiswa Sastra Arab Fak. Adab yang tergabung dalam kelompok pecinta naskah “Komunitas Suluah”, yang diketuai Charullah Ahmad. Di Surau ini, dalam sebuah lemari tua, terdapat puluhan naskah dalam keadaan memprihatinkan. Setelah diadakan pembersihan, penyusunan kembali dan pendeskripsian tercatat lebih dari 40 buah naskah.

Naskah-naskah Lubuk Landur ini memiliki karakteristik yang cukup khas, yaitu naskah-naskah lokal contents yang ditulis oleh beberapa ulama Pasaman yang pernah menimba ilmu di tanah suci Mekah. Selain dari Syekh Lubuk Landur sendiri, juga terdapat nama-nama seperti Muhammad Shaleh bin Malin Pandito Ujung Gading, Haji Abdul Manan bin Abdul Jabbar Kajai Talu, Syekh Muhammad Amin (Anak Syekh Lubuk Landur), Ibnu Abdullah Rao, Muhammad Shaleh bin Murid Rao dan lainnya. Disamping itu juga ada karya-karya ulama terkemuka Melayu lainnya, seperti Syekh Daud bin Abdullah Fathani, Syekh Jalaluddin Aceh dan Syekh Ahmad Khatib Sambas. Dari kolofon naskah diketahui bahwa sebahagian besar naskah-naskah itu ditulis di Mekah, tepatnya di kampung Syamiyah.

Foto: Tim dan Naskah Kuno Lubuk Landur

Sedangkan dari segi isi, naskah-naskah Lubuk Landur termasuk kaya, sebab naskah-naskah ini mencakup berbagai bidang keilmuan Islam, seperti ilmu alat (Nahwu dan Sharaf), Tauhid, Fiqih dan Tasawuf. Naskah-naskah itu didominasi oleh teks-teks Tasawuf, termasuk didalamnya mengenai Tarikat Naqsyabandiyah, Tarikat Qadiriyah, Tarikat Rifa’iyah dan Tarikat Samaniyah. Salah satu naskah yang cukup istimewa di surau ini ialah, naskah al-Urwatul Wusqa wa Silsilah al-Wali al-Atqa, mengenai silsilah Syekh Muhammad Saman. Selain itu terdapat satu bundel naskah yang terdiri dari Surat-surat, kumpulan ijazah dan sebuah Wasiat Syekh Ibrahim Kumpulan.

Untuk lokasi kedua, Mesjid Syekh Muhammad Sa’id Bonjol, dilakukan inventaris dan pendeskripsian pada akhir tahun 2009, oleh Tim Filologia Mahasiswa Sastra Arab, yang dikoordinasi oleh Malik Akbar. Dilokasi ini ditemui 16 naskah dalam berbagai keilmuan Islam. Namun naskah-naskah yang mendominasi di lokasi ini ialah mengenai Tasawuf.

Al-Marhum Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka Tuo (W. 1922) dan Polemik Tarikat Naqsyabandiyah dengan Mufti Mekah Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (W. 1916)

By Mahkota Cahaya | At 07.08.00 | Label : | 0 Comments


oleh: al-Faqir ila Rahmatillah Apria Putra

Syekh Muhammad Sa’ad atau yang dikenal dengan Syekh Mungka atau “Beliau Surau Baru” merupakan salah seorang ulama besar yang terkemuka di Minangkabau di masanya. Di ranah Minang, beliau diakui kealimnya, digelari dengan Syaikhul Masyaikh (guru besar) karena dikunjungi oleh berbagai Ulama di Minangkabau, dan lebih dari itu beliau merupakan pemuka Tarikat Naqsyabandiyah al-Khalidi terkemuka di pulau perca ini. Kemasyhurannya paling tidak dikarenakan bantahan beliau terhadap Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi lewat risalahnya yang begitu besar pengaruhnya dikalangan ulama-ulama masa itu.

Beliau dilahirkan di Koto Tuo, Mungka, Payakumbuh, pada tahun 1857 dari suku Kutianyia (Pitopang). Di kampung halamannya, beliau telah berguru kepada beberapa ulama terkemuka Minangkabau kala itu, diantaranya Syekh Abu Bakar Tabiang Pulai (w.1889), Syekh Muhammad Jamil Tungkar (w. 1890), Syekh Muhammad Shaleh Padang Kandih (w. 1912). Kemudian beliau melanjutkan pengembaraan intelektualnya di Mekah, Yaman dan Madinah, yaitu pada tahun 1894-1898 dan 1912-1915. di Tanah suci beliau sempat menimba ilmu kepada ulama-ulama terkemuka seumpama Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Muhammad Hasbullah al-Makki dan Syekh Ahmad bin Zainuddin al-Fatani. Beliau dikabarkan juga pernah berguru kepada Mufti al-‘Allamah az-Zawawi, guru Sayyid Usman Betawi yang masyhur. Disana beliau juga bertemu dengan ulama-ulama Tarikat yang mempunyai reputasi seperti Syekh Abdul Karim Banten (Tarikat Qadariyah wa Naqsyabandiyah), Syekh Abdul ‘Azhim Maduri (Tarikat Naqsyabandiyah Muzhariyah) dan Syekh Abdul Qadir al-Fatani (Tarikat Syathariyah), halmana pertemuan beliau dengan ulama-ulama ini tentu menambah wawasan intelektual beliau.

Setiba di kampung halaman, Mungka, beliau mendirikan sebuah surau bertingkat dua yang dinamai dengan Surau Baru. Surau ini menjadi terkemuka, dan menarik banyak orang-orang siak dari berbagai penjuru Minangkabau. Banyak diantara murid-muridnya menjadi ulama besar dikemudian hari. Sebahagian besar ulama-ulama Tua yang mengikuti pergolakan awal XX tersebut merupakan hasil didikan beliau ini.

Foto: Surau Baru Mungka saat ini setelah beberapa kali renovasi. nampak ciri khasnya telah hilang, padahal dulu Surau ini besar bergonjong bertingkat 2, dengan sebuah menara menjulang ke langit

Dalam bidang intelektual, beliau dituakan diantara ulama-ulama Tua. Pernah, sebelum wafatnya beliau menjadi pendiri dan penasehat Ittihad Ulama Sumatera (Persatuan Ulama Sumatera) bersama dengan ulama-ulama besar lainnya seperti Syekh Abdullah Beliau Halaban (w. 1926). Dalam tulis menulis, beliau juga dikenal mahir mengarang dalam bahasa Arab, apalagi dalam jawi. Karangan-karangan beliau konon cukup banyak. Tapi sayang, hanya satu dua karangan beliau itu yang sampai kepada kita.

Pada tahun 1906 datanglah sebuah Risalah dari Mekkah al-Mukarramah, yang dikarang oleh Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi (1852-1915), seorang ulama di Mesjidil Haram – Mekkah, menjabat sebagai Imam dan Khatib dalam Mazhab Syafi’i, yang juga berasal dari Minang tepatnya dari Ampat Angkat –Bukittinggi. Risalah itu berjudul Izhar Zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bis Shadiqin (=menyatakan kebohongan orang-orang yang menyerupai orang yang benar). Risalah itu sesampainya di Padang kemudian dicetak di daerah itu dan tersebar luas di Minangkabau. Yang mana dalam Risalah (berjumlah 144 halaman pada cetakan Mesir) dipertanyakanlah keabsahan Tarikat Naqsyabandiyah, dipakailah beberapa dalil untuk menyatakan bahwa Tarikat Naqsyabandiyah tak lebih dari bid’ah belaka, hingga yang lebih parahnya dalam Risalah itu diserupakanlah orang-orang yang memakai Rabithah sebagai orang yang menyembah berhala.

Tentu saja dengan kemunculan Risalah ini membuah geger masyarakat Minangkabau, apatah lagi ulama-ulamanya, karena Tarikat Naqsyabandiyah telah menjadi amalan bagi setiap ulama, dan berbagai daerah di Minangkabau menjadi pusat Tarikat terpadat di dunia Melayu. Kehidupan Tarikat bagi ulama-ulama Minangkabau yang diibaratkan sebagai pakaian itu sekarang jelas terusik dengan kehadiran risalah tersebut.

Masyarakat luas jadi hiruk pikuk, banyak kehebohan terjadi, hingga ada yang saling mengkafirkan. Dari sinilah pangkal timbulkan kaum muda di Minangkabau, mereka yang hendak mengusik pengajian ulama-ulama tua itu, merusak kato mufakat, sampai sekarangpun masih banyak yang bertipe seperti ini.

Disaat kericuhan itu semakin menjadi, sedangkan ulama-ulama Tarikat sendiri masih banyak yang diam, maka tampillah Syekh Muhammad Sa’ad Mungka untuk mengangkat penanya, menuliskan sebuah Risalah sebagai I’thiradh (bantahan) akan kitab Syekh Ahmad Khatib itu, sekaligus mendudukan masalah Tarikat Naqsyabandiyah dengan sebenar-benarnya. Syekh Muhammad Sa’ad ketika itu menulis sebuah Risalah yang berjudul Irgham Unufil Muta’annitin fi Inkarihim Rabithathal Washilin (= meremukkan hidung penantang, yaitu mereka yang mengingkari Rabithah orang-orang yang telah sampai kepada Allah) . Kitab ini kemudian dikirim ke Mekkah lewat jama’ah haji. Pada permulaan Risalah itu, Syekh Sa’ad menulis:

(Setelah Basmallah dan Hamdalah serta shalawat)
Tatakala di thaba’ orang kitab izhar Zaghlil Kazibin dan masyhurlah sikatib negeri Minangkabau, gaduhlah orang awam dan caci mencaci mereka itu, hingga mengkafirkan setengah mereka itu mereka yang lain orang yang ditetapkan oleh Allah hatinya atas yang haq. Dan demikian itu dengan sebab tersebut di dalam kitab izhar tersebut menyerupakan orang yang pakai rabithah dengan orang yang menyembah berhala dan di datangkan beberapa dalil dari pada al-Qur’an dan hadist dan kalam sahabat dan ulama sufiyah. Maka dengan sebab itu memintalah dari pada al-haqir Muhammad Sa’ad bin Tanta’ Mungka Tuo setengah dari pada ikhwan dari pada ahlus shalah bahwa menyebutkan al-Haqir akan wajah bagi penguatkan segala dalil rabithah dan bagi penolakkan segala wajah membatalkan rabithah dan pemasukkan amalan Tarikat Naqsyabandiyah kepada syari’at, supaya jangan terlonsong dan terkecuh orang-orang yang tiada kuasa menfahamkan dalil. Maka oleh itulah terbukalah hati hamba bagi menyuratkan beberapa wajah mengambil dalil dengan beberapa ayat dan hadist bagi menetapkan Rabithah, dan beberapa wajah bagi penolakan mengambil dalil dengan beberapa ayat dan hadist atas batil rabithah dan lainnya. Dan memudakan hamba dengan kadar yang sedikit atas sekira-kira faham hamba yang lemah dan hamba namai akan dia dengan Irgham Unufil Muta’annitin fi Inkarihin Rabithathal Washilin. Dan harap hamba daripada Allah Ta’ala akan bahwa dijadikannya akan dia akan tulus ikhlas bagi wajahnya yang karim dan akan jadi sebab bagi me[ng]hela do’a ikhwan yang shaleh-shaleh dan bagi memperoleh limpahan cahaya yang dipetaruhkan-Nya pada hati auliya’-Nya yang shadiqin dan bagi menang dengan jannatul Na’im.

(kutipan al-Ayatul Bayyinat fi Izalati Khurafat ba’dh Muta’ashsibin karangan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, cetakan at-Taqdum al-Ilmiyah – Mesir pada tahun 1908, hal. 13-14)

Setelah muqaddimah-nya, Syekh Sa’ad Mungka kemudian menjelaskan duduk perkara masalah Tarikat, tersebab Beliau ulama Tarikat pula maka dijelaskan bahwa Tarikat Naqsyabandiyah ada asalnya dari Syara’ berdasarkan dalil-dalil yang sharih dan yang tersirat. Dibantahnyalah keterangan-keterangan Syekh Ahmad Khatib dengan hujjah yang berdalil pula. Tak tanggung-tanggung dalam risalah-nya, Syekh Sa’ad juga mempesertakan kajian ilmu alat yang komplit, mulai tata bahasa hingga ilmu ushul. Lalu masuklah Syekh Sa’ad mengoreksi keterangan-keterangan Syekh Ahmad Khatib yang menurut faham beliau berjauh-jauhan dalil dan madlul¬-nya itu, sebagai jauh panggang daripada api.

Kemudian Syekh Sa’ad berpesan kepada masyarakat luas agar tidak terpedaya dengan omongan orang-orang yang ingkar seumpama Syekh Ahmad Khatib itu, dengan ucapan :
Dan janganlah terpedaya segala saudara dengan kata segala orang yang ingkar, dan jika ada ia ulama pada zhahir sekalipun; bermula Tarikat Naqsyabandiyah tiada asal baginya pada syari’at, dan rabithah dan khalwat empat puluh hari dan meninggalkan makan daging selama suluk tiada pula asalnya bagi syari’at tetapi ia daripada setengah bid’ah yang ditegah, karena bahwasanya ini kata palsu saja dan kecohan dan supaya akan nyata asalnya kemudian. (al-Ayat al-Bayyinat hal. 32)

Syekh Sa’ad kemudian menjelaskan bahwa ilmu Tarikat ini ialah ilmu shudur (hati) bukan ilmu suthur (yang tersurat dalam kertas). Yaitu berupa Talqin khusus yang diberikan oleh Ahlinya, oleh karena itu pokok dalil tidak dituntut diketahui oleh orang awam. Dan lagi para tokoh Tarikat ini terkenal sebagai orang-orang yang tsiqah (terpercaya). Asal talqin berasal dari Nabi Muhammad, kemudian turun kepada sayyidina Abu Bakar, lanjutnya tali bertali kepada tokoh-tokoh dan Syekh-syekh ikutan, yangmana mereka itu orang-orang yang alim, mempunyai dua sayap zhahir dan Bathin. Mereka tidak mempunyai sifat-sifat keliru, baik itu kekeliruan basyariyah maupun kekeliruan nafsiyah. Mereka mempunyai kemuliaan turun temurun sampai hari kiamat.

Mengenai ungkapan Syekh Ahmad Khatib perihal bid’ah, maka Syekh berujar betapa banyak bid’ah-bid’ah yang bisa menjadi sunat. Adapun mengenai hadist yang diketengahi oleh Syekh Ahmad Khatib, dan yang banyak dipakai oleh penentang-penentang Tarikat:
كل بدعة ضلالة و كل ضلالة فى النار
Maka Syekh Sa’ad mengemukakan, bahwa yang dimaksud bid’ah yang sesat dalam hadist ini tertentu pada bid’ah syar’iyyah semata, bukan bid’ah lughawi, ini merupakan kekeliruan memahami. Keterangannya ada dalam kitab Fatawa al-Haditsiyah karangan Imam Ibnu Hajar al-Haitami, ungkap beliau. Kemudian Syekh Sa’ad mengungkapkan, pengingkaran Syekh Ahmad Khatib terhadap Tarikat Naqsyabandiyah merupakan pengingkaran terhadap “Ahlullah yang auliya’”, sebab waliyullah itulah yang mengajarkannya. Perbuatan Syekh Ahmad Khatib ini sangat terlarang, “saya takut menyebutnya”, ungkap Syekh Sa’ad.

Menyangkut masalah larangan makan daging selama suluk yang disebutkan Syekh Ahmad Khatib tidak berasal dari Syara’ itu, dijawab oleh Syekh Sa’ad bahwa ada asalnya dari syara’. Ada beberapa hadist yang dikemukakan oleh Syekh Sa’ad yang intinya menghentikan makan daging beberapa waktu gunanya untuk i’tidal ikhtiyari (menjaga kesederhanaan diri), apatah lagi dalam rangka berriyadhah (berlatih diri) bersuluk tentu dianjurkan. Adapun dalil yang dipakai Syekh Ahmad Khatib yang menegahkan larangan makan daging, menurut Syekh Sa’ad tidak tepat, sebab hadist yang menegahkan itu maksudnya ialah menghentikan makan daging selama-lamanya, sedangkan suluk tidak begitu adanya. Itulah yang dimaksud hadist tersebut jika ditinjau asbabul wurud-nya.

Mengenai “Suluk” yang dikatakan Syekh Ahmad Khatib merupakan buatan guru-guru tarikat semata, dijawab Syekh Sa’ad bahwa itu merupakan hal keliru. Syekh Sa’ad kemudian menyebutkan hadist yang secara tersirat merupakan dalil menegakkan “Suluk”, kemudian beliau katakan dalam kitab-kitab mu’tabar juga banyak ditemui dalil-dalilnya, seumpama dalam kitab Ittihaf Saadat Muttaqin Syarah Ihya’ Ulumuddin, disini disebutkan bahwa Imam Ghazali pernah melakukan khalwat 40 hari selama 3 kali.

Bantahan yang keras dikemukakan oleh Syekh Ahmad Khatib terhadap rabithah guru yang diamalkan oleh ahli Naqsyabandiyah, dengan beberapa ayat syekh Ahmad Khatib mencela rabithah hingga sampai menyerupakan orang yang berabithah dengan penyembah berhala. Syekh Sa’ad membantah hujjah Syekh Ahmad Khatib tersebut, beliau berujar bahwa syekh Ahmad Khatib keliru memahami makna rabitah yang hakiki. Menghadirkan rupa guru, ungkap Syekh Sa’ad, sesaat sebelum berzikir bukan berarti menyembah guru. Tidak sama halnya dengan orang musyrik yang menyembah berhala dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah. Yang satu menghadirkan sementara, yang satu menyembah, amat jauh perbedaan keduanya, jawab Syekh Sa’ad. Sehingga hal ini tidak cocok menjadi dalil menolak rabithah, tambah beliau.

Dengan adanya Risalah Syekh Sa’ad ini, menjadi legalah ulama-ulama Minangkabau kala itu. Kericuhan yang terjadi akibat Risalah Syekh Ahmad Khatib mulai mereda perlahan-lahan. Hal ini diungkap dengan syukur oleh Syekh Muhammad Sa’ad Mungka sebagai berikut:

Maka terbujuklah dengan dia setengah segala hati yang pecah-pecah wal hamdulillah ‘ala dzalika.
(Risalah Tanbihul Awam ‘ala Taghrirat Ba’dhil Anam karangan Syekh Muhammad Sa’ad Mungka, cetakan De Volherding – Padang, tahun 1910, hal. 3)

Namun ketenangan ulama Naqsyabandiyah tidak bertahan lama, sebab beberapa waktu kemudian datang lagi Risalah karangan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi sebagai bantahan atas kitab Irgham Unufil Muta’annitin. Kitab ini berjudul al-Ayatul Bayyinat fi Izalati Khurafat Ba’dhil Muta’assibin (= bukti-bukti yang nyata untuk menghilangkan khurafat sebahagian orang-orang yang fanatik), sampai di Padang pada tahun 1907 dan dicetak untuk disebarkan. Dalam Risalah ini Syekh Ahmad Khatib menambah keterangannya perihal Tarikat Naqsyabandiyah yang menurutnya tak berasal dari Syara’ tersebut. Risalah ini lebih tebal dari kitab Izhar (yakni 224 halaman), lebih luas cakupannya. Dalam kitab ini, Syekh Ahmad Khatib berujar bahwa Syekh Sa’ad tidak membaca dengan cermat kitabnya. Dalil-dalil Syekh Sa’ad diibaratkan sebagai “sarang lawah” (laba-laba) yang rapuh, tidak berarti.

Pada dasarnya hujjah yang dipakai Syekh Ahmad Khatib dalam al-Ayatul Bayyinat sama dengan yang terdapat dalam Izhar, cuma pada risalah ini beliau berusaha mengoreksi keterangan-keterangan Syekh Sa’ad Mungka, mencari cela di mana kelemahan beliau. Dalam risalah-nya, Syekh Ahmad Khatib tampak lebih menfokuskan waktu untuk membahas persoalan rabithah secara utuh, sehingga perkara rabithah lebih mendominasi halaman-halaman al-Ayatul Bayyinat, di samping masalah-masalah lainnya.

Dengan hadirnya al-Ayatul Bayyinat membuat masyarakat kembali ricuh, perdebatan masalah Tarikat kembali semarak di Minangkabau. Beberapa ahli Tarikat meminta kepada Syekh Sa’ad untuk kembali mengangkat pena buat menolak segala hujjah dan sangka Syekh Ahmad Khatib atas Tarikat Naqsyabandiyah. Namun Syekh Sa’ad tidak serta merta menggoreskan kalamnya untuk menolak Sang mufti. Ditimbangnyalah baik-baik masalah ini, sesudah berdo’a dan bertawassul kepada arwah saadat Naqsyabandiyah, maka terbukalah hati beliau untuk menyuratkan sebuah wajah menolak hujjah orang yang mungkir kepada Tarikat Naqsyabandi. Maka beliau tulislah sebuah risalah yang berjudul Tanbihul Awam ‘ala Taghrirat Ba’dhil Anam (= peringatan bagi orang yang awam akan tipuan sebahagian orang-orang). Setelah selesai ditulis risalah inipun dibawa kehadapan Syekh Ahmad Khatib di Mekkah, selain itu risalah ini juga di cetak untuk disebarkan kepada khalayak ramai. Tanbihul Awam dicetak di Padang pada percetakan De Volherding di tahun 1910, terdiri atas 87 halaman.

Foto: Sampul kitab Tanbihul Awam 'ala Taghrirat Ba'dhil Anam karangan Syekh Mungka (Terbitan de Voltherding, Padang, 1910)

Pada permulaan risalah ini, Syekh Sa’ad menuliskan perihal pribadi beliau. Dengan rendah hati dan tawadhu’, beliau umpamakanlah keadaan yang menimpanya seperti seekor kambing yang hendak menanduk sebuah batu besar. Bagaimanapun caranya kambing itu menanduk, mustahil batu besar itu akan hancur, malahan tanduk kambing itu yang akan luluh. Beliau, dengan kerendahan hatinya, membilang diri beliau belumlah cukup ilmu, belum alim benar. Namun karena ini mencakup perihal orang banyak, beliau lalu mencoba merangkai kata, sehingga jadilah sebuah risalah yang berjudul Risalah Tanbihul Awam dengan berkat pertolongan Allah dan Tasawwul dengan segala penghulu Tarikat Naqsyabandi, maka selesailah kitab Tanbihul Awam, yang menurut beliau hanya berupa “lafazd-lafazd yang sedikit”. Tak lain harapan yang beliau ingini dari penulisan ini ialah supaya “terbujuk kembali segala hati yang pecah”. (hal. 4)

Secara umum isinya juga mempertegas dan memperluas cakupan risalah-nya terdahulu, Irgham Unufil Muta’annitin, sambil menolak i’tiradh (penolakan) dari Syekh Ahmad Khatib. Namun walau begitu, di sinilah tampak keulamaan besar beliau. Dalam Tanbihul Awam Syekh Sa’ad banyak menggunakan kalimat-kalimat kinayah (sindiran) terhadap Syekh Ahmad Khatib, dinama dalil-dalil Syekh Ahmad Khatib yang semula menjadi hujjah penolak Tarikat Naqsyabandiyah, beliau jadikan pula hujjah untuk memperkuat dan memperkokoh Tarikat Naqsyabandiyah. Disini kemahiran beliau yang ahli ilmu Alat nampak sekali, kelihaian beliau memainkan ilmu Mantiq jelas terlihat. Disini terlihat kecerdasan beliau, yang kadangkala keras, kadangkala penuh humoris, bahkan bisa membuat orang merasa geli dan tertawa.

Salah satu contoh ungkapan Syekh Ahmad Khatib, yang beliau –Syekh Sa’ad- tanggapi dengan sangat cerdas dan menggelitik, ialah ungkapan Syekh Ahmad Khatib yang mengatakan : “Dalil yang di dalam kampir garam beliau (maksudnya Syekh Sa’ad) hanya sekedar itulah”. Dijawab dengan cerdas oleh Syekh Sa’ad:
Maka berkata hamba : telah maklum bagi tiap-tiap orang yang berakal bahwasanya yang di dalam kampir garam ialah garam dan rasanya masin (asin), gunanya memperelok rasa tiap-tiap makanan. Maka memintak mengeluarkan dalil dari kampir garam ialah perkataan orang yang berubah akal. Dan jika ada murad [maksud] beliau menyerupakan ilmu hamba dengan garam pada pihak masin (asin) boleh memberi muslahat, maka demikian itu puji yang mentaqdirkan akan dia Allah ta’ala pada mulut beliau, tetapi murad beliau tiada munasabah (sesuai) akan dia. Dan jika ada murad beliau memperolok-olokkan hamba dengan menyerupakan ilmu hamba yang kurang dengan garam yang baik faedah, maka yaitu tiada patut dengan maqam (kedudukan) beliau yang tinggi, karena beliau orang alim besar, sudah lama mengajar dalam Mesjidil Haram, jadi guru oleh segala guru, tiada bandingan beliau dalam alam Minangkabau ini, tapi karena hawa nafsu takut juga beliau bahasa akan gugur pangkat beliau karena kitab beliau dibanding orang, maka sebab itulah beliau buat perkataan seperti perkataan orang jalang-jalang seperti yang telah dilihat dalam kitab yang beliau buat itu.
(Tanbihul Awam hal. 14)

Diantara ungkapan Syekh Sa’ad yang bernada keras kepada Syekh Ahmad Khatib, misalnya :
Jika ditanya kepada orang yang sadar, apa hukumnya kepada orang yang bercakap seperti cakap beliau ini (maksudnya Syekh Ahmad Khatib. Pen), barangkali orang tersebut akan menjawab: sepatutnya dijahit saja mulutnya dengan jarum besi, supaya orang-orang lain jangan terpedaya pula dengan ucapannya lalu mereka turut sesat dan menyesatkan. (Tanbihul Awam hal. 20)

Adapula ungkapan Beliau Syekh Sa’ad yang menggelikan dan humoris, yaitu ketika menanggapi ungkapan Syekh Ahmad Khatib yang mengatakan : “Segala yang engku sebutkan dalam kitab engku tersebut tidak sanggup untuk menolak kentut serangan saya itu dari janggut engku, seperti yang telah dilihat pada awal kitab engku”. Maka dijawab oleh Syekh Sa’ad dengan ucapan:
Memang serangan engku itu mempunyai beberapa kentut, seperti binatang kukuih yang selalu menyerang dengan kentutnya. Jika memang kentut serangan tidak akan dapat hamba tolak dari janggut hamba, maka pastilah baunya amat busuk. Dan setiap yang berbau busuk amatlah batil. Lalu hamba berkata, kebenaran telah datang, kebatilan telah lenyap, sebenarnyalah kebatilan itu pasti lenyap. (Tanbihul Awam hal. 67)

Selain membahas katerangan-keterangan Syekh Ahmad Khatib mengenai Tarikat Naqsyabandiyah, dalam risalah Tanbihul Awam ini juga terdapat sindiran Syekh Sa’ad kepada Syekh Ahmad Khatib yang mencela adat Minangkabau mempusakakan harta kepada kemenakan. Ungkapan Syekh Ahmad Khatib itu ialah : “betapakah orang kita Minangkabau yang berpusaka kepada kemenakan yang ada segala hartanya pusaka daripada mamaknya, maka makanan dan minuman dan pakaian daripada pusaka mamaknya. Dan meng-adat-kan ia akan pusaka bagi kemenakan yang menyalahi suruh Allah… “ (al-Ayatul Bayyinat hal. 15). Maka dijawab oleh Syekh Sa’ad :
Fa aqulu maka berkata pula hamba : tiada lazim daripada keadaan orang Minangkabau berpusaka kepada kemenakan bahwa akan ada sekalian harta mereka itu dan pakaian mereka itu dan minuman mereka itu haram, karena telah maklum bagi tiap-tiap orang bahwasanya mereka itu senantiasa mencari kehidupan seperti berniaga dan bertanam padi dan tembakau dan sebagainya. Dan jika haram harta mereka itu semuanya maka sepatutnya bahwa tiada menerima akan dia orang di Mekkah, apabila dikirim orang kepada mereka itu atas jalan sedekah atau badal haji atau sebagainya. Tetapi yang hamba lihat dan hamba dengar mengambil saja mereka itu akan dia. Dan beliau yang mengharamkan itupun (maksudnya : Syekh Ahmad Khatib. Pen) tiada juga menolak akan dia, apabila dikirim orang kepada beliau hanyalah beliau terima saja, maka antara perbuatan beliau dan kata beliau berlain-lainan. (Tanbihul Awam hal. 11)

Pada akhir bahasannya, Syekh Sa’ad dalam Tanbih-nya memberikan wasiat yang cukup panjang dengan menjelaskan kedudukan ilmu zhahir dan bathin (yaitu halaman 77-84), kemudian beliau menyebutkan beberapa kitab karangan ulama-ulama besar Mekkah dan Madinah yang menolak ingkar orang kepada Tarikat Naqsyabandiyah, memperkokoh amalan Naqsyabandi, diantara yang beliau sebutkan ialah kitab as-Suyuful Maslulah karangan Syekh Husein Ahmad al-Hindi, beberapa karangan as-Sayyid Muhammad Mahdi al-Kurdi dan karangan Sayyid Umar bin Salim al-‘Attas.

Hadirnya Tanbihul Awam kembali membuat lega ulama-ulama Minangkabau, bahkan ada sebagian ulama tersebut yang mengikuti jejak Syekh Sa’ad untuk membela Tarikat Naqsyabandiyah, diantaranya ialah menantu Syekh Sa’ad sendiri, Syekh Khatib ‘Ali al-Minangkawi yang mengarang kitab Burhanul Haq (terbit tahun 1928 di Pulo Bomer – Padang). Banyak pula diantara ulama-ulama yang sebelumnya belum memasuki ranah Tarikat kemudian bertekun mengamalkan Tarikat Naqsyabandi, setelah memuthala’ah, memperbanding-bandingkan kitab Syekh Ahmad Khatib dengan kitab Syekh Sa’ad Mungka. Salah seorang dari ulama besar itu ialah Maulana Syekh Muda Wali al-Khalidi Naqsyabandi, ulama besar di Aceh, pernah menulis dalam kitabnya Intan Permata mengenai keputusan perdebatan Syekh Ahmad Khatib dengan Syekh Sa’ad Mungka sebagai berikut:
Ketahuilah hai segala ummat Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwasanya karangan yang mulia Syekh Ahmad al Khatib yang bernama: Izhar Zighlil-Kazibin, tentang membantah Rabithah dan Thariqat naqsyabandiyah itu adalah silap dan salah paham dari Syekh yang mulia itu, karena beliau itu telah ditolak oleh yang mulia Syekh Sa`ad Mungka Payakumbuh (Sumatra Tengah) dengan kitabnya Irghamu Unufil Muta`annitin. Kemudian kitab ini dijawab pula oleh yang mulia Syekh Ahmad al khatib dengan kitabnya as Saiful Battar (maksudnya kitab al-Ayatul Bayyinat. Pen). Kitab ini pun ditolak oleh yang mulia Syekh As`ad Mungka dengan kitabnya yang bernama Tanbihul `Awam. Pada akhirnya patahlah kalam Tuan Syekh Ahmad al-Khatib. Karena itu maka hamba yang faqir ini, Syekh Muhammad waly al Khalidy sebabnya mengambil Thariqat Naqsyabandiyah adalah setelah muthala`ah pada karangan karangan Syekh Ahmad Khathib dan karangan karangan Syekh Sa`ad Mungka, dimana antara karangan kedua-dua orang ulama itu sifatnya soal jawab dan debat-berdebat. Perlu diketahui bahwa Tuan Syekh Ahmad Khatib itu murid Sayyid syekh Bakri bin sayyid Muhammad Syatha. Sedangkan Tuan Syekh As`ad Mungka murid Mufti Az Zawawy, gurunya Syekh Usman Betawi yang masyhur itu. Maka muncullah kebenaran ditangan Tuan Syekh Sa`ad Mungka apalagi saya telah melihat pula kitab as-Saiful Maslul karangan ulama Madinah selaku menolak kitab Izhar Zighlil Kazibin. Oleh sebab itu bagi murid-muridku yang melihat karangan syekh Ahmad Khatib itu janganlah terkejut, karena karangan beliau itu ibarat harimau yang telah dipancung kepalanya.

Menurut keterangan dari yang mulia Syekh Arifin Batu Hampar (w. 1939), salah seorang murid Syekh Ahmad Khatib dan sebagai pelaku sejarah, pada satu ketika, setelah perdebatan itu, Syekh Ahmad Khatib dan Syekh Muhammad Sa’ad pernah bertemu dalam satu acara jamuan makan di Mekkah al-Mukarramah. Syekh Ahmad Khatib merasa heran melihat penampilan Syekh Sa’ad, yang menurut dugaan beliau Syekh Sa’ad bertubuh gemuk seperti beliau dan ulama-ulama Arab lainnya, padahal postur Syekh Sa’ad kecil dan agak kurus. Kemudian, Syekh Ahmad Khatib mempersilahkan Syekh Sa’ad duduk di sampingnya. Setelah usai makan minum, Syekh Ahmad Khatib dan Syekh Mungka tampak berbicara panjang lebar dalam suasana ramah tamah. Seakan-akan diantara beliau berdua tidak pernah terjadi perdebatan sengit lewat kitab-kitabnya.

Foto: Makam Syekh Mungka (kiri) dan anak beliau Syekh Muhammad Jamil Sa'adi (kanan). (Foto: Penulis)

Syekh Batu Hampar: Jejak Rekam Tokoh Pendidikan Tradisional Surau di Pedalaman Minangkabau

By Mahkota Cahaya | At 07.06.00 | Label : | 0 Comments


oleh: al-Faqir Ilallah Apria Putra
Sebahagian besar artikel ini dikutip dari buku penulis, "Ulama-ulama Luak nan Bungsu"

1. Pengantar

Dalam sejarah pendidikan Islam di Minangkabau, Surau merupakan institusi yang tidak bisa dikesampingkan. Surau memainkan peranan yang sangat signifikan dalam menyebarkan keilmuan Islam jauh sebelum pendidikan modern yang berbasis Madrasah muncul. Dalam sejarah tercatat, tokoh-tokoh besar yang mempunyai pengaruh luas banyak lahir dari Surau. Mereka dididik dan dibesarkan dalam lingkungan Surau. Sebutlah beberapa nama seumpama Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1916) yang pernah menjadi Mufti mazhab Syafi’i dan Imam di Mesjid al-Haram Mekah; Syekh Thahir Jalaluddin yang menjadi Mufti di Pulau Penang Malaysia; Syekh Janan Thaib yang menjadi guru besar pula di Mekah al-Mukarramah, dan banyak lagi lainnya. Begitu pula tokoh-tokoh nasional yang berjasa dalam masa awal pembentukan Indonesia, semisal Agus Salim, Hamka, Hatta dan lainnya. Ketokohan mereka tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari Surau, atau boleh dikata pernah beroleh pendidikan di Surau.

Untuk memperoleh gambaran sebuah komplek pendidikan surau di abad-abad yang lalu di Minangkabau, kita akan melihat aktifitas surau besar yang didirikan oleh Syekh Abdurrahman (1777-1899), yaitu surau Batu Hampar, Payakumbuh.

2. Syekh Batu Hampar dan Jejak Biografis Tokoh abad XIX

Syekh Batu Hampar ialah salah seorang ulama terkemuka di pedalaman Minangkabau di abad XIX. Ulama besar nan shaleh itu ialah Tuan Syekh Abdurrahman Batu Hampar, kakek dari poklamator RI, Muhammad Hatta. Tuan Syekh Batu Hampar ini disebut oleh orang banyak dengan panggilan “Beliau”, sebagai ta’zhim dan hormat akan ulama kharismatik ini, sebab bila disebut nama Beliau secara langsung terasa akan kurang adab. Menurut Tarikh-nya Beliau dilahirkan pada tahun 1783. Ayah Beliau Abdullah gelar Rajo Baintan, sedang ibu beliau dikenal dengan panggilan Tuo Tungga. Beliau dilahirkan dilingkungan yang taat beragama dan cinta ilmu pengetahuan, kondisi inilah yang secara langsung membentuk kepribadian beliau yang shaleh dan cinta dengan ilmu, watak ini pula yang diwarisi oleh keturunan Tuan Syekh Batu Hampar dikemudian hari, tercatat anak cucu beliau merupakan Syekh belaka.

Pengembaraan Beliau menuntut ilmu di mulai pada usia yang masih beliau. Tepat di umur 15 tahun, Beliau meminta izin kepada ayahnya untuk pergi merantau menuntut ilmu ke Gologandang di daerah Batu Sangkar. Beliau-pun berangkat ke Batusangkar untuk menemui seorang ulama yang terkemuka masa itu, “Beliau Gologandang”. Syekh Abdurrahman menghabiskan beberapa tahun menuntut ilmu kepada ulama besar ini. Konon kabarnya, Syekh Abdurrahman pergi ke Gologandang dengan membawa tas rotan yang berisi pakaian, sebuah buntil berisi beras, satu leha (untuk mengaji) dan uang 6 sen yang diberikan orang tuanya untuk bekal selama berjalan.

Setelah bertahun-tahun menimba ilmu di Gologandang, kemudian Beliau berangkat ke tempat yang lebih jauh lagi. Dengan berjalan kaki, menempuh perjalanan yang memang sulit, Syekh Abdurrahman pergi ke Tapak Tuan – Aceh Barat untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi lagi. Di sini Syekh Abdurrahman menghabiskan waktu selama 8 tahun, menuntut ilmu agama. Dari Tapak Tuan, Beliau berlayar ke Mekkah untuk mengerjakan Haji dan menambah ilmu yang lebih tinggi lagi. Di Mekkah, Beliau sempat bermukim menuntut ilmu selama 7 tahun. Di sini pula beliau belajar Tarikat Naqsyabandiyah, dan mendapat ijazah di Jabal Abi Qubais. Syekh Abdurrahman pula kembali ke Aceh, kemudian pergi lagi ke Mekkah. Pada akhirnya beliau kembali pulang ke Minangkabau.

Foto: salah satu "Ijazah Qira'at Imam Ashim" yang diterima oleh seorang Siak (Penuntut) yang bernama Usman bin Abdullah at-Taifuri, diterimanya dari Syekh Arsyad Batu Hampar, diterima dari Syekh Abdurrahman Batu Hampari, beliau terima dari Syekh Muhammad As'ad bin Abdullah Aceh

Lama sudah Syekh Abdurrahman meninggalkan kampung halaman, terhitung sudah 48 tahun semenjak beliau berangkat menuntut ilmu pertama kalinya di usia 15 tahun. Selama masa 48 tahun itu pulalah beliau menuntut ilmu kepada ulama-ulama terkemuka saat itu, sampai ke negeri yang jauh-jauh, Mekkah al-Mukarramah. Di usia-nya yang ke-63 tahun beliau teringat kampung halamannya, Batu Hampar, negeri yang telah lama ditinggalkannya. Sedang beliau telah lama mengaji, dada beliau-pun telah berisi penuh dengan ilmu pengetahuan. Beliau kemudian pulang ke kampung halamannya melewati jalur Galogandang tempat beliau mengaji dulu. Di sebuah perkampungan, di negeri Barulak Tanah Datar, Beliau bertemu dengan seorang sosok perempuan tua yang sedang mengambil upah menuai padi di sawah-sawah sekitar itu. Ternyata Syekh Abdurrahman tak ingat lagi jalan ke Batu Hampar, karena sudah sangat lama ditinggalkannya, lalu bertanya kepada perempuan tua itu. Setelah bertanya dan bercakap-cakap sebentar dengan perempuan itu, keduanya saling berpandangan lama. Tiba-tiba mereka saling berpelukan dengan berlinang air mata, menangis tersedan-sedan, karena ternyata mereka adalah anak dan ibu. Kala itu si ibu sedang mencari nafkah hidup dengan pergi menuai padi ke negeri yang jauh dari Batu Hampar. Si anak, karena sudah lama sekali merantau, tak tahu lagi jalan ke rumah orang tuanya, begitupun beliau tidak dapat mengenal ibunya dengan segera. Si ibu sudah mengira selama ini anaknya telah tiada dan tak diharapkan lagi pula. Tiba-tiba kini mereka telah berjumpa, begitu mengharukan. Akhirnya beliau ajak ibunya untuk pulang bersama ke Batu Hampar. Kabarnya Beliau sendiri yang menjujung beban-beban padi ibunya itu dari Barulak terus hingga sampai di kampungnya Batu Hampar.

Mula-mula Beliau bersama ibunya tinggal menetap di kampungnya yang terletak di lereng bukit antara bukit Pauh dan bukit Sulah di Batu Hampar. Kerja Beliau pertama kali di kampungnya ialah membuat ladang tebu dimana sering anak-anak gembala datang ke tempat Beliau. Sesuai dengan sifat pribadi Beliau yang ramah tamah, maka anak-anak gembala itu Beliau pergauli secara baik. Mereka sering kali datang untuk meminta atau membeli tebu obat haus dahaga mereka setelah mengembala. Mereka Beliau beri tebu dan sering berucap: “tebu-tebu itu semakin manis rasanya jika lebih dahuli membaca Basmallah sebelum memakannya”. Dengan keramah tamahan itulah Beliau meresapkan rasa beragama kepada anak-anak gembala itu. Dengan sikap dan cara beliau itulah, tak heran jika dibelakang hari beliau didatangi oleh ribuan orang-orang siak dari berbagai daerah.

Pekerjaan berat yang mula-mula beliau lakukan ialah membina masyarakat banyak, dan menyadarkan mereka untuk mengerjakan perintah syara’ dengan sebaik-baiknya. Walaupun masyarakat waktu itu telah beragama Islam, namun yang namanya berbuat maksiat masih juga dikerjakan. Menyabung ayam dan berjudi menjadi kebiasaan yang telah mendarah daging, bahkan kalangan adat-pun ikut menyokong perbuatan-perbuatan seperti itu. Dengan rasa simpati, wibawa serta cara beliau yang persuasif, beliau berhasil menjalankan pekerjaan menegakkan agama dengan sukses. Beliau mampu menyadarkan tetua adat di kampung itu, Datuak Malano. Melihat Dt. Malano yang telah pergi ke Mesjid untuk shalat jum’at, maka berbondong-bondonglah anak kemenakannya dan masyarakat banyak mengikuti beliau pergi ke Mesjid. Begitupula dengan acara adu ayam dan berjudi yang telah populer itu, secara beransur-ansur mulai di tinggalkan, sampai tidak dikerjakan lagi. Kesuksesan Syekh Abdurrahman melaksanakan dakwahnya terletak pada kelembutan beliau, himbauan yang persuasif, tidak melalui kekerasan sama sekali dan dakwah beliau menyinap ke hati yang paling dalam. Apatah lagi beliau selaku ulama besar, keilmuan dan keshalehan beliau tentu menjadi modal dasar arah dakwah beliau.

Syekh Abdurrahman semakin terkenal oleh masyarakat banyak dan mendapat tempat di hati mereka. Beliau-pun semakin dihormati selaku orang alim, namanya semakin harum hingga daerah-daerah di luar Batu Hampar. Beliau yang berperawakan tinggi dan tegap, kulit kuning bersih. Jubah dan sorban beliau yang selalu terpasang rapi menandakan keulamaan.
Syekh Abdurrahman wafat pada tanggal 23 oktober 1899, dalam usia 122 tahun. Beliau ulama yang berjasa besar terhadap Islam, hingga ke daerah-daerah jauh di Minangkabau. Dedikasinya untuk mendidik orang siak memang tak ternilai. Posisi beliau dalam mengajar ilmu al-Qur’an, Syari’at dan Tarikat Naqsyabandiyah sangat istimewa. Beliau telah meninggalkan kompleks penguruan Islam yang besar di masanya, orang-orang siak yang menjadi muridnya yang selalu menjadi perpanjangan tangan beliau setelah wafatnya dan beliaupun telah meninggal anak-anak cucu yang telah berhasil dididik menjadi orang-orang shaleh dan taat untuk menggantikan Beliau nantinya. Dan nama Beliau akan tetap abadi, sebagai tertera pada cap stempel besi dan ijazah Beliau, tersuratlah nama besar “Maulana Syekh Abdurrahman bin Abdullah al Khalidi an-Naqsyabandi al-Jawi Batu Hampari”.

3. Surau Batu Hampar dan Model Ideal Pendidikan Surau Minangkabau

Pada mulanya Syekh Abdurrahman membangun sebuah surau untuk mengajarkan ilmu agama yang telah puluhan tahun beliau tuntut. Pelajaran yang mula beliau berikan ialah Tilawah al-Qur’an, sebab Beliau sangat mahir Qira’at dengan bermacam-macam iramanya, maka banyaklah masyarakat berdatangan ke surau Beliau, dari semua kalangan tua muda belajar membaca al-Qur’an dengan berbagai model pelafalan dan alunan irama yang syahdu. Selain itu, pelajaran yang Beliau beri juga diawali dengan dasar-dasar pengetahuan agama, dimulai dengan mengkaji rukun tiga belas (rukun-rukun shalat) dan segala hal yang berhubungan dengan ibadah, kemudian dikaji pula tauhid dengan mendalami sifat dua puluh.

Nama Syekh Abdurrahman semakin masyhur kemana-mana, sehingga makin banyaklah jumlah orang siak yang datang ke Batu Hampar, buat mengaji kepada Tuan Syekh. Orang siak ini datang dari seluruh wilayah Minangkabau, sampai ke negeri yang jauh-jauh, seperti Jambi, Bengkulu dan Bangka Hulu. Sedangkan rumah-rumah penduduk telah penuh sesak dihuni oleh oleh orang-orang siak sebelumnya. Maka muncullah inisiatif Syekh Abdurrahman buat membangun sebuah kompleks yang khusus dihuni oleh orang-orang siak, kompleks tersebut dikenal dengan “Kampung Dagang”. Beberapa bangunan induk dan berpuluh-puluh surau di bangun mengelilinginya.

Bangunan induk yang terpenting ialah mesjid besar dengan gaya arsitektur Minangkabau, terbuat dari kayu yang ada pula berukir-ukir, gonjongnya bertingkat-tingkat. Di sini Syekh Abdurrahman mengajar al-Qur’an dan mengajar perkara-perkara agama kepada murid-muridnya yang silih berganti. Mesjid ini dikenal dengan nama “Mesjid Dagang”. Bersebelahan dengan Mesjid, terdapat sebuah bangunan yang cukup besar, bertingkat dua, itulah bangunan tempat melaksanakan Suluk, kabarnya sewaktu itu peserta suluknya pernah mencapai jumlah 400 orang dalam setahun. Persis di sebelah timur Mesjid ini dibangun sebuah bangunan permanen dengan sebuah menara yang cukup menarik, dengan gaya menara khas timur tengah. Menara ini dibangun di masa Syekh Arsyad, anak Beliau, yang dipergunakan untuk mengumandangkan azan. Di sebelah timur menara itu terdapat bangunan permanen lain, di sinilah Syekh Abdurrahman dan anak cucunya di makamkan. Sebuah bangunan lagi yang menjadi daya tarik dan simbol kejayaan Batu Hampar kala itu ialah sebuah rumah gadang yang cukup besar, didirikan diatas kolam. Rumah gadang ini menjadi tempat penginapan para penziarah, pejalan kaki yang kemalaman atau masyarakat yang hendak beribadah selama berbulan-bulan di Batu Hampar.

Foto: Salah satu sudut Kampung Dagang (Surau Batu Hampar), khas dengan gaya ornament Timur Tengah, yang dibangun di era 1920-an oleh Syekh Arsyad Batu Hampar setelah kepulangannya dari berpetualang di Timur Tengah.

Lebih kurang 200 meter ke arah timur, diseberang jalan raya yang membatasi perkampungan itu, terdapat satu bangunan induk lainnya yaitu “surau Baru”. Disekitar bangunan-bangunan induk inilah berdiri lebih kurang 30 surau yang rata-rata berukuran 7x8 meter, umumnya bertingkat dua. Di surau-surau inilah para orang-orang siak yang ramai itu bertempat tinggal dan mengualang pelajarannya dengan guru-guru tuo (guru-guru bantu Syekh Abdurrahman). Surau-surau ini diberi nama sesuai dengan asal daerah orang siak yang menghuninya. Untuk daerah Limapuluh Kota ada surau Mungka, surau Tiakar, surau Payobasuang, surau Suayan, surau Sarik Laweh, surau Taeh, surau Koto nan IV, surau Sungai Beringin, surau Suliki, surau Sungai Rimbang, surau Pauh Sangik, surau Tiakar Guguk, surau Lundang dan surau Pangkalan; untuk daerah Agam ada surau Canduang, surau Sungai Angek, surau Tilatang Kamang, surau Banuhampu, surau Magek, surau Padang Tarab dan surau Lasi; untuk daerah Solok ada surau Saniangbakar, surau Kacang dan surau Solok; untuk daerah Tanah Datar ada surau Simabur dan surau Batipuah; untuk daerah Pesisir Selatan ada surau Bayang, surau surau Painan, surau Batang Kapas dan surau Siguntur; untuk daerah Pariaman ada surau Pariaman; untuk daerah Padang ada surau Padang; untuk daerah Riau dan Jambi ada surau Limo koto; dan untuk daerah Palembang dan Bengkulu ada surau Palembang dan surau Krui.

Untuk mengurus administrasi dan kebutuhan orang-orang siak yang sangat banyak tersebut, maka Syekh menunjuk petugas-petugas khusus untuk membidangi segala sesuatu yang berkaitan dengan orang-orang siak. Hal ini bertujuan agar pesuluk dan orang-orang siak tidak terbebani dengan urusan-urusan yang dapat mengganggu kosentrasi beribadah dan belajarnya. Diantara hal-hal yang kelola oleh petugas-petugas itu ialah untuk membangunkan orang-orang siak di waktu Subuh, tukang sapu dan menjaga kebersihan, tukang kelola air bersih, tukang masak untuk orang-orang siak, tukang masa bagi pesuluk, tukang kelola alat-alat dapur dan tukang simpan bahan-bahan makanan. Dengan adanya petugas-petugas khusus ini membuat orang-orang siak menjadi semakin betah belajar dan melaksanakan ibadah suluk, sebab makan telah tersedia begitupula kebersihan surau masing-masih telah pula terjaga, sehingga hati penghuni surau besar Batu Hampa ini benar-benar bulat tertuju untuk belajar agama dan ibadah.

Sedang keperluan air bersih telah diusahakan oleh Syekh sendiri, yaitu dengan mengalirkan air dari sebuah mata air yang tidak jauh dari kompleks surau. Air itu dialirkan dengan pipa-pipa besi dan melewati 4 bak penyaring, kemudian disalurkan ke surau-surau tempat orang-orang siak bermukim. Air-air itu membuat sarana surau Baru Hampar semakin lengkap. Dengan air itu orang-orang siak dapat mencukupi kebutuhan mandi dan mencuci. Disamping itu, tak ketinggalan dikompleks surau sendiri dilengkapi dengan sebuah pasar kecil dan beberapa kedai kelontong yang menjual segala kebutuhan orang-orang siak.

Kedisiplinan sangat dituntut bagi penghuni-penghuni surau. Tata tertib dan peraturan sangat dipentingkan. Bagi mereka yang melanggar akan dikenai sangki berupa hukum rendam. Seorang santri yang melanggar direndam di dalam kolam yang telah disediakan dengan disaksikan oleh orang-orang siak lainnya. Hal ini kontan saja secara praktis membuat penghuni kompleks surau Batu Hampar menjadi aman, sebab hampir-hampir tak ada yang melanggar kedisiplinan. Semua sistem diatur dengan sebaik-baiknya, maka dapat dipastikan model surau Batu Hampar ialah salah satu contoh tipikal pendidikan Islam yang bermutu tinggi dan paling baik.

Cara pengajaran yang dikenal dengan itu sesuai dengan cara surau ialah berhalaqah, murid-murid hadir mengelilingi guru. Menyimak serta mendengarkan penjelasan Syekh. Untuk membantu mengulang pelajaran, maka orang-orang siak akan dibimbing oleh “guru-guru tuo”, yaitu sejumlah orang-orang siak yang senior yang telah cakap dalam pelajaran dan sudah beberapa lama mengaji kepada Syekh. Para orang siak-pun tak dipungut bayaran sepeserpun. Namun mereka secara berkala, dan dengan sukarela memberikan shadaqah kepada sang Syekh. Ada pula dari penziarah dan pesuluk yang datang cukup banyak dari negeri yang jauh-jauh, mereka telah menyediakan sadakah untuk syekh jauh-jauh hari, dengan ikhlasnya. dari pemberian sukarela orang-orang siak dan para penziarah telah mebuat kehidupan sanga Syekh menjadi mapan, lebih dari cukup. Bahkan sang syekh dapat pula dengan hasil sadaqah itu mengantar anak-anaknya pergi ke Mekkah untuk berhaji dan belajar agama, sehingga tercatat anak cucunya dikemudian hari merupakan ulama terkemuka yang belajar ke Mekkah. Dengan hasil sadaqah itu pulalah kehidupan kompleks surau Batu Hampar menjadi semakin makmur, para petugas komplek dibiayai dengan itu, juga makan orang siak dan kebutuhan hidup mereka dapat di tanggung pihak surau dengan baik. Selain itu, sang Syekh juga mempunyai beberapa piring sawah dan beberapa kebun kelapa, yang itu semua digunakan untuk kemakmuran surau Besar Batu Hampar dan para penghuninya.
Orang-orang siak seluruhnya laki-laki, jumlah mereka diperkirakan 1000 sampai 2000 orang, termasuluk para pesuluk yang terdiri dari ratusan orang. Jumlah tertinggi di masa kepemimpinan Syekh Arsyad, anak Beliau, dan di masa Syekh Arifin, cucu Beliau. Sebuah jumlah yang cukup fantastis. Maka dapat dibayangkan betapa meriahnya suasana surau Syekh Abdurrahman kala itu, di mana ribuan orang-orang belajar agama, tampak betapa pendidikan Islam ala surau terasa sangat hidup di Luak nan Bungsu. Jika malam hari, suasana semakin asyik dan semarak. Berpuluh-puluh damar menyala di surau-surau dan tiang-tiang penerang di kompleks surau Batu Hampar. Sekali-kali, sewaktu acara-acara penting jumlah-jumlah damar (lampu penerang) bertambah hingga ratusan banyaknya. Jika dilihat dari jauh tampak seperti kerumunan bintang-bintang, sangat indah dan menyenangkan. Apatah lagi setiap malamnya, alunan suara-suara merdu dan bacaan ayat-ayat al-Qur’an begemuruh di kerumunan cahaya-cahaya damar itu. Bunyinya ibarat dengungan lebah terbang, itulah suara orang-orang siak mendaras kaji dan membaca al-Qur’an, sakin banyaknya. Sangat ramai dan sangat semarak.

Di surau Besar Batu Hampar yang terkemuka itu, Syekh Abdurrahman dan anak cucunya mengabdikan diri untuk mendidik dan mengajar orang-orang siak dari berbagai daerah. Pelajaran pertama dan dasar diberikan kepada orang-orang siak itu ialah kecapakan tilawah al-Qur’an, terutama dalam Qira’at Imam ‘Ashim. Syekh Abdurrahman sendiri beberapa lama di Mekkah telah belajar Qira’at kepada Qari-qari terkemuka di tanah suci. Kemahiran beliau dalam soal Qira’at tidak dapat disangsikan lagi. Pelajaran al-Qur’an dengan segala macam Qira’at-nya menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang siak untuk ramai mengaji di Batu Hampar. Setelah menamatkan al-Qur’an dan melakukan khatam al-Qur’an dengan acara yang cukup meriah, orang-orang siak akan diajarkan pelajaran-pelajaran agama yang lebih mendalam lagi, sesuai dengan peringkatnya masing-masing. Pelajaran selanjutnya mengenai ilmu-ilmu alat dan hukum syari’at, yang mencakup kajian bahasa Arab (Nahwu, Sharaf dan Balaghah), Tafsir, Hadist dan Fiqih Syafi’iyyah. Sedang untuk orang-orang siak yang telah mantap dalam ilmu-ilmu tersebut, dapat melanjutkan untuk mengaji ilmu Tarikat kepada Syekh, yang untuk selanjutnya mengikuti suluk dalam Tarikat Naqsyabandiyah selama beberapa hari. Bagi mereka yang telah sampai maqam suluknya, maka akan diberi sang Syekh ijazah sebagai tanda pengakuan akan ilmunya, dan orang siak diizinkan untuk pulang mengembangkan ilmu yang telah didapat atau tinggal bersama syekh untuk menjadi “guru tuo” sekaligus “khalifah” beliau.

Sebagai seorang ulama tua, Beliau Syekh Abdurrahman terbilang tipe ulama shaleh yang sangat dihormati dan disegani. Apatah lagi Beliau ialah Qari, alim pula dalam syari’at dan dalam pula fahamnya dalam bidang Tasawwuf dan Tarikat, maka Beliau jelas merupakan tipe ulama besar yang berpengaruh luas. Ini terlihat dari banyaknya orang-orang siak yang menyauk ilmu dari Batu Hampar, Beliau mampu menjadikan surau Batu Hampar menjadi pemukiman orang siak besar dari berbagai penjuru Minangkabau, ditambah pula dengan sistem administrasi yang sangat baik untuk masa itu.

Mengenai keshalehan Beliau yang masyhur itu, diusia yang lebih 100 tahun bilangannya, berbulan-bulan Beliau sakit tua terlentang berbaring diatas kasur disebuah kamar di belakang Mesjid beliau, sehingga dengan cara demikian beliau selalu shalat berjama’ah sambil berbaring menekurkan kepala, akhirnya dengan mengerdipkan mata saja tanpa tinggal waktu shalat satu waktupun sampai datang ajal Beliau. 11 tahun sebelum Beliau wafat, Beliau telah lumpuh total karena faktor usia sudah sangat tua, 111 tahun. Namun Beliau telah terlihat taat beribadah, tak terhalangi oleh fisik yang sudah lemah dan usia yang sudah renta. Jika waktu shalat telah tiba, maka murid-muridnya yang banyak itu menggotong beliau dengan tandu ke Mesjid untuk shalat. Begitu lah Beliau Batu Hampar.

Selaku ulama besar yang shaleh, beliau terkemuka pula dalam Tasawwuf, sebagai pengamal sekaligus Syekh Tarikat Naqsyabandiyah. Pada musim-musim suluk, disamping aktifitas mengaji yang terus dijalankan, surau Batu Hampar berubah menjadi pemukiman pesuluk yang jumlahnya ratusan orang. Dapat dikatakan bahwa surau Batu Hampar kala itu merupakan salah satu pusat Tarikat Naqsyabandiyah yang terbesar, terkemuka dan tertua di Luak nan Bungsu yang masih tercatat rapi oleh para ahli Biografi. Sampai saat sekarang, setelah usia surau yang kini menjadi Pesantren itu mendekati 2 abad lamanya, aktifitas suluk tetap menjadi daya tarik sendiri, dan ratusan orang masih mengerjakan khalwat di Batu Hampar setiap tahunnya.

Menurut cacatan Belanda yang ditulis J. C. Boyle, yang merupakan catatan Syekh-syekh Naqsyabandiyah di dataran tinggi Minangkabau abad-19, digambarkan sosok Syekh Abdurrahman sebagai seorang ulama besar yang sangat dihormati oleh masyarakat Banyak dan murid-muridnya ramai berdatangan dari berbagai penjuru.

Ribuan orang siak belajar kepada Syekh Batu Hampar, hingga menjadi alim semuanya. Merekalah yang pulang ke kampung masing-masing membuka surau pengajian yang tak kalah penting kedudukannya dalam transmisi keilmuan islam selanjutnya. Diantara murid-murid beliau yang terkemuka yang masih ditemui catatannya ialah :

1. Syekh Salim Batu Bara, dimasyhurkan orang dengan “Beliau Andalas”, termasuk murid Beliau periode pertama.
2. Syekh Abdus Shamad
3. Syekh Ibrahim Kubang Suliki.
4. Syekh Muhammad Arsyad, anak Beliau sendiri dan pengganti Beliau setelah wafatnya. Syekh Arsyad ialah alim terkemuka dan dapat dikatakan mewarisi keilmuan Syekh Abdurrahman. Pada mulanya Beliau ialah guru tuo di surau Ayahnya, kemudian pergi ke Mekkah untuk naik haji dan belajar. Pernah pula berkeliling timut tengah antara lain Mesir, Baitul Maqdis dan Istanbul.
5. Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi (wafat 1927) Kumango – Batu Sangkar. Sangat masyhur dikalangan ahli Tarikat, digelari dengan “Beliau Kumango”. Beliau syekh Tasawwuf yang terkemuka, sampai pula belajar ke Mekkah dan Madinah. Termasuk salah satu pembawa dan penyebar Tarikat Samaniyah di Minangkabau. Ulama perumus silat Tradisional yang kental akan Tasawwuf “Silek Kumango”. Masyhur keramat Beliau ditengah-tengah masyarakat.
6. Syekh Sulaiman ar-Rasuli (wafat 1970), dimasa belianya beliau belajar al-Qur’an di surau Syekh Batu Hampar.
7. Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus Payakumbuh (wafat 1957), dimasyhurkan orang “Beliau Belubus”, ulama besar Tarikat Naqsyabandiyah dan Samaniyah yang sangat berpengaruh di Luak nan Bungsu. Terkenal pula sebagai syekh yang keramat. Menurut catatan sejarah Beliau, gelar “Syekh Mudo” diberikan langsung oleh Syekh Abdurrahman Batu Hampar kepada Syekh Abdul Qadim, sebab dimasa muda belajar ke Batu Hampat telah dapat mencapai maqam yang tinggi dalam mengamalkan Tarikat Naqsyabandiyah.
8. dan banyak lagi lainnya. Kabarnya Syekh Abdullah “Beliau Halaban” pernah pula menyauk ilmu di Batu Hampar ini.

Setelah Tuan Syekh tersebut wafat, maka kepemimpinan surau Batu Hampar dipimpin kemudian oleh anak-anak cucu Beliau yang tak pula kurang alim-nya. Periode-periode kepemimpinan setelah Syekh Abdurrahman ialah :
1. Syekh Muhammad Arsyad (wafat 1924), anak Syekh Abdurrahman. Memimpin dari tahun 1899 hingga 1924. di masa Beliau ini perkembangan surau Syekh Abdurrahman semakin pesat, para orang siak makin berdatangan ke Batu Hampar.
2. Syekh Muhammad Arifin Arsyadi (wafat 1938), cucu Syekh Abdurrahman, anak dari Syekh Arsyad. Terkemuka sebagai salah seorang ulama besar Perti. Beliau memimpin surau Batu Hampar dari tahun 1924 hingga 1938. selain itu beliau juga mendirikan MTI Batu Hampar, yang juga ramai dikunjungi orang-orang siak.
3. Syekh Ahmad (wafat 1949), anak Syekh Abdurrahman. Beliau memimpin surau dari tahun 1938 hingga 1949.
4. Syekh Darwisy Arsyadi (wafat 1964), cucu Syekh Abdurrahman, adik dari Syekh Arifin. Memimpin surau dari tahun 1952 hingga tahun 1964.
5. Syekh Dhamrah Arsyadi (wafat 1992), cucu Syekh Abdurrahman, adik Syekh Arifin. Memimpin surau dari tahun 1964 hingga 1992. di masa Beliau ini surau Batu Hampar di kembangkannya menjadi lebih modern dengan nama “Madrasah al-Manar”. Namun materi pelajaran tidak diobah-obah, dan Aktifitas Tarikat Naqsyabandiyah tidak pudar sama sekali.
6. Buya H. Sya’rani Khalil Dt. Majo Reno (lahir 1926), biasa dipanggil dengan gelar “Datuak Oyah”, cucu Syekh Abdurrahman. Beliau memimpin Perguruan al-Manar dari tahun 1992 hingga sekarang. Disamping mengasuh perguruan, beliau juga memimpin suluk di Batu Hampar yang masih digemari hingga ratusan orang jumlahnya setiap tahun.

Sjech Tuanku Limopuluah Malalo (1730-1930): Ulama Besar Pendekar Syathariyah di Pedalaman Minangkabau

By Mahkota Cahaya | At 07.04.00 | Label : | 2 Comments


Oleh : Yang Taqshir Apria Putra
Berdasarkan perjalanan ke Surau Uwai Limopuluah di Malalo, juni 2011. Dilengkapi keterangan Tuanku Lubuak Ipuah, berikut cacatan arsip-arsip lama dan inskripsi penghargaan Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1929.

Beliau masyhur digelari dengan Uwai Limopuluah Malalo, tokoh dikenal sebagai salah seorang ulama besar Tarikat Syathariyah. Beliau mempunyai jaringan intelektual yang luas dikalangan ulama-ulama Minangkabau, apakah di Rantau, sebagai pusat Syathariyah, maupun di Darek yang dipandang secara gamblang menjadi pesaing Ulakan. Disamping itu, ulama yang satu ini mempunyai karir serta reputasi yang sangat diperhitungkan dalam membidani surau-surau basis Tarikat di Pesisir maupun di pedalaman Minangkabau.


Meski menjadi salah satu icon inti dalam jaringan pendidikan di abad XVIII hingga akhir awal abad XX, namun tak banyak sumber yang berbicara langsung mengenai tokoh yang satu ini. bukti keterkaitan beliau selanjutnya kita lihat dalam silsilah keilmuan Tarikat Syathariyah, dimana cukup banyak ulama-ulama di abad XIX dan XX, yang mengaitkan keilmuan mereka kepada Tuanku Limopuluah ini.

Demi melihat sejarah intelektual beliau, kita akan mendapati berbagai macam kesaksian tentang ketokohan ulama ini. Dalam satu besluit gubernur jenderal pemerintahan Belanda, yang dipahat pada sebuah marmer, terdapat inskripsi yang menginformasikan wafat beliau. Beliau dicatat wafat pada tahun 1930, dalam usia yang sangat sepuh, yaitu 200 tahun. Bisa dibayangkan berapa peristiwa besar sepanjang abad XIX telah dijalaninya diusianya yang panjang itu, terutama dalam membina karir intelektual, dalam ranah keulamaan Syathari.

Foto: Keindahan Danau Singkarak, tempat terletaknya Kampung Malalo, Mukim Syekh Tuanku Limopuluah

Bila kita hitung mundur dari informasi wafat Tuanku Limopuluah, kita dapati bahwa tahun kelahiran beliau ialah diawal abad XVIII, tepatnya tahun 1730. nama kecil beliau ialah Djinang, setelah dewasa yang agak alim digelari dengan Pakiah Madjolelo, dan setelah menjadi ulama terkemuka masyhur disebut dengan Tuanku Limopuluah Malalo. Ada beberapa versi kisah yang diterima dari sumber-sumber oral di Malalo mengenai sebab pemakaian gelar “Limopuluah” setelah tanda keulamaan “Tuanku”. Yang pasti ungkapan “Limopuluah” merujuk kepada sebuah negeri, yaitu Luak Limopuluah, salah satu daerah di pedalaman Minangkabau yang termasuk wilayah asal (inti) Minangkabau. Versi pertama menyebutkan bahwa gelaran “Limopuluah” berasal dari dedikasi intelektual beliau ketika berdebat dengan ulama-ulama “Limapuluah Kota”. Inti perdebatan yang dimaksud ialah mengenai permasalahan “Martabat Tujuh”, kajian filosofis dalam Tarikat Syathariyah. sebagaimana disebut dalam beberapa sumber, terdapat polemik yang cukup hangat antara ulama-ulama Darek dengan ulama-ulama Pesisir dalam hal Tarikat ini. Ulama Darek kala itu, yang secara genetis dikenal sebagai pembaharu, mengungkapkan kajian Martabat Tujuh yang dibawa oleh pemuka Syathariyah merupakan satu materi yang rumit, sehingga hanya dapat dipahami dan diajarka oleh ulama-ulama besar yang mumpuni seperti Syekh Abdurrauf Singkel. Selain itu, pengajian Martabat Tujuh yang berkembang dikalangan ulama-ulama masa itu sudah terlalu jauh melewati ranah filsafat metafisika yang rumit, bahkan terkadang bisa membawa kepada kekufuran. Sedangkan ulama-ulama pemangkunya tidak dipandang begitu alim untuk mengajarkan faham yang pelik ini. selain itu juga ada sementara kalangan yang mencap kajian ini sebagai celah menjadi Zindik, bukan memperdekat, malah memperjauh dari ketuhanan. Tak banyak ulama-ulama Syathariyah yang maju kedepan membela ajaran mereka, kebanyakan nampak berdiam diri. Namun tidak begitu dengan Uwai Limopuluah.

Salah satu daerah yang dihuni oleh ulama-ulama ialah Luak Limopuluah, disana telah dinyatakan sengketa terhadap faham “Martabat Tujuh”. Melihat demikian diadakanlah semacam muzakarah untuk membicarakan faham yang pelik tersebut dimuka sekalian ulama-ulama Luak Limopuluah, sedangkan dikalangan Syathariyah diundanglah Tuanku Limopuluah sebagai pembandingnya. Setelah dilangsungkan, ternyata Tuanku Limopuluah dapat mempertahankan argumentasinya terhadap Martabat Tujuh tersebut, meskipun telah berganti-ganti Ulama Limopuluah untuk mendedah sekaligus mendebat pengajian lama itu, tiada yang mampu menjatuhkan hujjah Uwaih. Akhir dari muzakarah itu para ulama Limopuluah mengakui kealiman Tuanku Limopuluah, sehingga digelarilah beliau dengan “Tuanku Limopuluah”, yang berarti Tuanku yang telah mempertahankan kaji “Martabat Tujuh” didepan ulama-ulama Limopuluah. Sehingga sebagian orang mengatakan, kalau tidaklah Tuanku Limopuluah, tentu habis sajalah pengajian Syathariyah ini di Minangkabau.

Versi kedua dari sebab gelaran “Limopuluah” ialah dimana Tuanku ini telah lama menetap dan mengajar di Luak Limopuluah kota. Sehingga digelari sajalah beliau dengan “Tuanku Limopuluah”.

Mengenai jaringan intelektual beliau, kita tidak menemui satu catatan yang sempurna mengenai guru-guru beliau tempat menimba ilmu. Hal ini telah merupakan implikasi dari kitab-kitab peninggalan beliau yang sebahagian besarnya raib, sehingga informasi, betapa besarpun, tidak bisa kita korek dari cacatan-cacatan yang ditinggalkannya.

Dari sumber-sumber yang ada disebutkan bahwa Tuanku Limopuluah pernah menimba ilmu kepada Tuan Syekh Abdullah “Beliau Surau Gadang” (w. 1901), ayah dari Syekh Abbas Abdullah, Padang Japang Payakumbuh. Guru beliau diketahui sebagai seorang ulama besar, pemimpin lembaga pendidikan tradisional “Surau” yang besar di abad XIX, yaitu Surau Gadang Padang Japang. Syekh Abdullah memiliki rantai keilmuan yang kokoh, sebab beliau telah memperoleh ilmu di Surau Taram, dari Tuanku Syekh Sungai Durian. Guru Tuanku Limopuluah lainnya yang cukup terkemuka dikalangan Syathariyah ialah Tuanku Syekh Abdurrahman Lubuak Ipuah Pariaman, beliau merupakan salah seorang ulama tersohor dalam jaringan Ulama Syathariyah, mempunyai sanad keilmuan hingga Syekh Burhanuddin Ulakan sendiri. Cukup lama Syekh Limopuluah di Lubuak Ipuah, sehingga beliau dipercaya Syekh Lubuak Ipuah untuk mengajar murid-murid yang banyak disurau ini. hanya tokoh ulama ini yang diketahui sebagai tempat pengambilan ilmu Tuanku Limopuluah. Untuk selanjutnya, setelah laam menimba ilmu, Tuanku Limopuluah kemudian kembali ke Malalo dan mendirikan surau terkemuka dikalangan penuntut ilmu belakangan di kaki sebuah gunung. Kemudian hari surau itu dikenal dengan nama “Surau Uwai Limopuluah”.

Sistem belajar yang beliau terapkan di Surau Uwaih ialah sistem kaji duduak (Halaqah) dimana murid-murid mengelilingi guru. Materi yang diajarkan mencakup cabang-cabang pokok keilmuan Islam, yaitu Fiqih, Tauhid dan Tasawuf, disamping ilmu alat berupa Nahwu. Kitab yang diajarkan berupa kitab-kitab klasik dikalangan ulama-ulama Mazhab Syafi’i, seperti Minhajutthalibin (Karya Imam Nawawi) dalam ilmu Fiqih, Awamil dan Fawakih Janiyyah (karya Syekh Khatab) dalam ilmu alat. Kitab-kitab itu disalin dengan tangan oleh murid-murid dari kitab-kitab induk yang berusia lebih tua. Pengajaran Tarikat Syathariyah menjadi pelajaran yang populer tentunya disurau Uwai Limopuluah, namun kita tidak menemui catatan kitab-kitab apa yang menjadi rujukan di Surau Uwai, namun disinyalir, kitab-kitab Syekh Abdurrauf seperti Tanbihul Masyi tetap menjadi pegangan utama.

Salah satu bentuk inovasi yang dikembangkan oleh Tuanku Limopuluah dalam mengajar pengajian Tubuh ialah dalam kesenian salawat Dulang, berupa nyanyian sya’ir-sya’ir dalam bahasa Minang, yang sangat kental dengan pengajian Tubuh. Diantara materi Selawat Dulang (atau Selawat Talam) ini ialah:

Assalamu ‘alaikum e tolan sahabat
O jikalau kito ka mangaji hakikat
Nyawa jo tubuah lah nyato sakabek
Urang mandanga samonyo ingek
Urang ulama banyak nan kiramaik
……………

Lai malainkan suci sungguah Tajali
Banamo Muhammad, banamo Muhammad
Zahir batini, zahir batini
A’yan Tsabitah iyo mangko katantu

Syekh Tuanku Uwai Limopuluah wafat pada tanggal 28 agustus 1930, dan beliau dimakamkan diketinggian bukit Malalo, tidak jauh dari suraunya. Sebelum dimakamkan, ketika dimandikan, nampak betapa beliau digandrungi oleh masyarakat banyak, hingga air bekas mandi beliau itu diperebutkan orang untuk diambil berkahnya.

Cukup banyak ulama-ulama yang menyandarkan silsilah keilmuannya kepada Uwai Limopuluah Malalo. Sebahagian mereka menjadi pionir dari kalangan ulama Syathariyah dkemudian hari, diantaranya ialah:

1. Syekh Angku Aluma Koto Tuo (w. 1961)
Beliau ialah seorang ulama Tarikat Syathariyah di Darek yang mempunyai pengaruh besar, hingga disebut ketika Ulakan tidak lagi menampakkan pengaruh, nyaris Koto Tuo (dalam hal ini Surau Angku Aluma ini) menyaingi posisi Ulakan, bahkan merebut pengaruh Ulakan dikalangan pengikut Syathariyah.

2. Pakiah Majolelo
Mungkin yang orang yang dimaksud dengan Pakiah Madjolelo ini ialah H. Abdul Latief Tuanku Imam Gapuak (1840-1960, dalam usia 120 tahun)

3. Syekh Cubadak Aia Pariaman

4. Syekh Mato Aia Pakandangan

5. Syekh Balinduang Pilubang

(surautuo)
◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz