Minggu, 08 Mei 2011

Zionis Membantai Tanpa Kenal Rasa Kasihan

Entah apa yang ada dipikiran Zionis israel, terus- terusan membantai palestine tanpa kenal rasa kasihan. Lalu setelah membantai mereka, membuat alasan, ya palestine duluan lah yang menyerang, ya tidak sengaja lah, atau apalah, lalu dunia percaya saja dengan apa yang mereka katakan, bahkan dunia tidak bisa berbuat apa- apa, sedikit pun tidak bisa berbuat apa- apa, karena takut karena zionis yang satu itu dibelakang nya ada Amerika yang senantiasa setia mendukung apapun yang dilakukan Zionis Israel. Oke boi, liat lah kejahatan mereka, cekidot grak!!!
Gaza- Infopalestine Semua plosok dan sudut Jalur Gaza nyaris tak tersisa untuk sebuah kehidupan berlangsung. Terutama Gaza utara yang paling pertama mendapatkan agresi. Malam-malam di sana bagaikan siang, saking terangnya roket-roket dan bom dari mesin pembunuh Zionis. Sejumlah keluarga sock menyaksikan pemandangan dan apa yang mereka alami. Satu diantaranya keluarga Basyir yang kehilangan empat anggota keluarganya menyusul gempuran tiga roket dari pesawat-pesawat tenpur Zionis secara langsung. 
Minta Perlindungan
Pembantaian terhadap keluarga Alauddin Basyir (17 tahun) masih tergambar dalam benaknya. Walau sudah tahun berlalu, persitiwa tersebut serasa baru kemarin terjadi. Ia menuturkan, saat terjadi gempuran roket secara terus menerus, ia keluar dari rumahnya bersama ibu dan saudaranya, Mush’ab berangkat menuju rumah kakeknya yang masih berada di wilayah tersebut. Ibunya yakin, rumah orang tuanya lebih aman dari rumah yang ditempatinya sekarang. Karena rumahnya dibangun dari asbes dan seng. “Ibuku meminta saudaraku Shuhaib dan ayahnya untuk berangkat bareng bersama kami. Namun keduanya menolak dan meyakinkan bahwa mereka akan aman-aman saja di sana”.
Akhirnya sebagian anggota keluar meninggalkan rumah mereka untuk mencari wilayah yang aman. Namun mereka tidak sadar, sebenarnya mereka menghampiri daerah yang berbahaya. Basyir melanjutkan, kami berangkat ke rumah kake yang tak terlalu jauh dari rumah kami. Sementara ayah berdiri bersama salah seorang kerabatanya sedang menunggu Shuhaib kembali.
Belum juga keluarga mendapatkan tempat yang aman, ternyata pesawat pembunuh Israel sudah dari tadi mengintai mereka. “Tiba-tiba terdengar suara yang memekakan telinga dan terlihat kepulan asap tebal disertai api yang menyala dimana-aman. Saat itu, ayahku mengira rudak tersebut mengenai anaknya, Shuhaib. Walau masih terhalang dengan asap yang tebal, namun ia mengenali suara Shuhaib yang memanggil-manggil minta tolong. Ia merangkak diantara reruntuhan dan asap yang tebal menuju ke arah dengan keadaan yang sangat menyedihkan, sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka. 
Hoby Membunuh
Pesawat-pesawat tempur Zionis tidak pernah member alasan untul melancarkan gempuranya ke Gaza. Yang penting dapat membunuh sebanyak mungkin rakyat sipil. Mereka  sangat menikmati pemandangan luluh lantak, hancur berkeping, pembunuhan dengan tingkat kebiadaban yang tidak ada bandingnya.
Di sisi lain, suara anak-anak dan wanita yang menjerit, meraung-raung minta pertolongan. Bapak-bapak yang mengacung tanganya minta pertolongan, tak pernah digubris pesawat pembunuh itu. Bahkan mereka tambah gencar memuntahkan pelurunya ke arah warga sipil.
Belum sampai Shuhaib ke dekat ayahnya yang sedang berdiri, tiba-tiba datang lagi gempuran yang kedua, hingga semua yang ada disana tewas. Shuhaib terluka parah, sementara teman ayahnya yang sama-sama berdiri sudah tidak ada di tempat.
Ternyata ayahnya berhasil menyelamatkan diri, ia berlari ke rumah pamanya untuk minta pertolongan. Ia minta penghuni rumah menghubungi mobil ambulans untuk mengevakuasi korban sipil yang luka.
Setelah memanggil-manggil beberapa kali, pamanya Abu Bilal akhirnya keluar untuk memberikan pertolongan, walau tidak tahu siapa yang meminta tolong tersebut.
Di tempat lain, ibunya tak kepalingan, walau suara rintihan dan jeritan korban pengeboman tersebut masih banyak. Namun ia kenal betul dengan suara anaknya Shuhaib yang sedang minta tolong. Ia lalu berteriak, anakku terluka dan segera menuju tempat suara diikuti neneknya. Adapun aku masih dipegangi oleh bibiku yang melarangku keluar. Aku hanya bisa melihat mereka melalui jendela. 
Darah dan potongan tubuh yang berserakan
Pemandangan yang terlihat, hanyalah puing-puing bangunan dan kehancuran yang terjadi dimana-mana. Pemandangan seperti ini sudah menjadi bagian hidup dari Shaeb yang melihat keluarganya tewas di depan matanya dengan kondisi bercerai-berai tidak utuh lagi jasadanya.
Saat itu, ayah serta ibuku berusaha memberikan pertolongan kepada para korban. Jarak antara keduanya kurang dari setengah meter. Tiba-tiba datang gempuran roket ketiga, suara yang keras dan api dimana-mana menyebabkan semua yang ada disana hancur berkeping-keping, berserakan. Tidak ada yang tersisi dari tubuh ayahku kecuali kepalanya yang sudah terpisah dari badanya. Sementara tubuhnya sudah tercerai berai di jalanan tak bisa lagi dikumpulkan. Hingga datangnya ambulans yang berusaha mengumpulkan jasad para korban, ternyata jasad ayahku masih belum utuh. Selama enam jam petugas media berusaha mengevakuasi para korban, sejak terjadinya serangan tersebut. Kondisi ayahku masih tidak lengkap.
Hingga tengah malam, tadi pesawat tempur Israel masih terus membombardir wilayah Kamp Jabalia, utara Gaza mengakibatkan, empat orang gugur syahid. Masing-masing, Alauddin Fathi Basyir (44 tahun), Miya Hasan Ziyadah (42 tahun), Shuhaib (20 tahun) dan Jamilah Hasan Ziyadah (77 tahun)
Sumber: Infopalestina.com/ 15 januari

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz