Selasa, 06 Agustus 2013

Ternyata Gaza Palestina Pusat Kesehatan Terbesar Di Dunia, Mungkinkah ?

Seorang wartawan yang baru
beberapa bulan bekerja di salah
satu majalah terkenal di negera
Arab menjelaskan bahwa Gaza
adalah pusat kesehatan terbesar
(The Biggest Health Center) di
dunia. Ceritanya bermula ketika
sekretaris pimpinan redaksi
(Pemred) majalah itu
memberitahukan bahwa wartawan
bernama Sa’id itu harus segera
menghadap sang Pemred. Dengan
hati gembira, wartawan yang masih
muda dan enerjik tersebut segera
menghadap pimpinannya.
Sa’id diterima dengan sangat
hangat oleh pimpinannya sambil
berkata : Selamat datang wartawan
muda…. Terbukti keberadaan Anda
yang tidak begitu lama di Gaza
telah membuktikan pada kami
bahwa Anda adalah wartawan yang
tangguh dan serius. Saya mewakili
pimpinan media ini mengucapkan
banyak terima kasih..
Sebagai imbalannya, saya
memutuskan Anda menulis laporan
utama untuk terbitan pekan depan
terkait dengan blokade terhadap
Gaza yang dilakukan oleh Yahudi
dan pemerintah Mesir. Sa’idpun
menjawab dengan penuh
semangat : Terima kasih pak atas
kepercayaan yang diberikan kepada
saya. Semoga saya bisa
melaksanakan tugas mulia ini
dengan baik dan maksimal. Tema
Gaza ini memang menjadi
konsentrasi saya sejak saya
diterima bekerja di majalah ini.
Sa’id melanjutkan ungkapan
kegembiraannya : Saya akan tulis
semua hal terkait dengan Gaza
secara detail karana saat ini hati
kaum Muslimin sedunia memang
sedang terluka dan bersedih
melihat blokade terhadap Gaza.
Sambil menganggukkan kepala,
sang Pemred berucap; Anda benar,
Anda benar… lalu Sa’id berkata :
Saya akan mulai segera dan akan
buat tulisan-tulisan yang akan
menggema ke seluruh penjuru
dunia, insya Allah…Barakallahu fika
ya akhi… (semoga Allah
memberkahimu saudaraku), ucap
sang Pemred tadi. Namun, sebelum
Anda mulai menulis, ada beberapa
catatan kecil yang perlu Anda
perhatikan. Sai’id segera
beratanya : Apakah catatan kecil itu
pak?
Lalu sang Pemred meneruskan:
Andakan tahu bahwa majalah kita
ini tidak didukung oleh tokoh-tokoh
besar di negeri ini. Maksudnya?
Kata Sai’d, sambil menyela
perkataan pimpinannya itu.
Maksudnya, tulisan Anda jangan
sampai menyinggung pemerintahan
Arab yang terlibat memblokade
Gaza dengan penuh semangat dan
begitu aktif.. Semoga Allah
meridhai Anda..Kita tidak mau
bermasalah dengan para inteligen
negera-negara Arab yang ikut
memblokade Gaza… Bisa-bisa kita
dituduh merusak hubungan
persaudaraan antar negara-negara
Arab, kata Pemred itu..
Sambil melepaskan nafas
panjangnya, Sai’d menjawab :
Yaach… Oke pak. Saya akan jaga
catatan itu, kendati saya melihat
hubungan persaudaraan negara-
negara Arab tidak akan bisa dirusak
oleh siapapun…Lalu sang Pemred
meneruskan arahannya :
Barakallhu fik… Tapi, ada catatan
kecil lagi yang tak kalah pentingnya
yang perlu Anda ingat. Apa itu?
Jawab Sa’id… Andakan tahu bahwa
distribusi majalah kita bukan hanya
di negera-negara Arab, akan tetapi
juga di negara-negara Eropa dan
Amerika. Kita tidak mau dituduh
mendukung terorisme sehingga
majalah kita dilarang beredar di
sana. Sebab itu, dalam tulisan
nanti, Anda jangan sama sekali
menyinggung perlawanan bangsa
Palestina terhadap Israel dan hak
mereka untuk memerangi penjajah
Yahudi… Kita tidak mau
menghadapi banyak masalah…
Nanti kita dituduh mendukung
teroris. Oke? Semoga Allah
meridhai Anda. Kata Pemred
majalah tersebut.
Mendengar keterangan
pimpinannya, Sa’id menjawab : Baik
pak! Padahal dalam hatinya
berkata : Sadis amat Pemred ini,
mau membela Gaza, tapi tidak
boleh ini dan tidak boleh itu?
Dalam hatinya ia berkata : Aku
tidak mengerti bagaimana cara
membela masyarakat Gaza yang tak
punya senjata menghadapi pasukan
teroris Israel yang dilengkapi
dengan berbagai senjata canggih
itu?
Sa’id mengira ceramah Pemrednya
selesai. Tiba-tiba ia dikagetkan lagi
dengan ungkapannya : Kita tidak
boleh menyinggung oarng-rang kaya
Arab dan bagaimana mereka
menghabiskan uang mereka jutaan
dolar AS untuk pesta kembang api,
pesta artis, penyanyi di saat
penduduk Gaza mati kelaparan.
Andakan tahu sumber pendapatan
majalah kita dari iklan. Bila orang-
orang kaya itu tersinggung dan
marah pada majalah kita, kita tidak
akan mendapatkan iklan mereka..
Anda mengerti kan? Kita belum
siap kelaparan seperti penduduk
Gaza. Oke?
Mendengar ungkapan terakhir itu,
Said tidak bisa lagi
menyembunyikan marahnya, lalu ia
berkata. Oke Bos… Masih ada
perintah lain? Tanya Sa’id.
Sebenarnya tidak ada lagi. Saya
sebenarnya tidak mau banyak
menasehati Anda… Ingat ya!
Jangan bicara soal anak-anak Gaza
yang sedang berjuang menghadapi
kematian karena kelaparan dan
serangan berbagai penyakit. Anda
tahukan bahwa media Arab sibuk
mengurusi kontes kecantikan
hewan ternak. Sedangkan media
Barat sibuk pula meliput anjing
yang ditemukan pasukan Amerika
di Irak, bahkan mereka meminta
agar pemerintah Barack Obama
meberikan suaka poltik agar anjing
tersebut bisa masuk dan menjadi
warga negara Amerika.. Masalah ini
juga jangan Anda singgung. Nanti
organisasi penyayang hewan dunia
bisa marah kepada kita. Mengerti?
Kata Pemred itu kepada Sa’id.
Di muka Said memancar warna
kemerahan pertanda marahnya
sudah memuncak. Namun, karena
Sai’id seorang yang taat ibadah, ia
bisa menahan marahnya. Lalu ia
memuji Allah sambil berkata :
Subhanallah… Apalagi perintahnya
Bos? Bosnya dengan tenang
menjawab : Tidak ada lagi, hanya
itu saja, bagi saya sudah cukup.
Lalu Sa’id menimpali perkataan
bosnya : bapak yakin tidak ada lagi
perintah lain? Kitakan tidak ingin
orang lain marah karena tulisan
kita kan?
Mendengar pertanyaan itu, sang
Pemred ingat lagi masalah lain
yang tak boleh disinggung sambil
berkata : Oh ya, karena Anda
ingatkan saya, saya masih punya
larangan lain yakni, terkait dengan
dialog antar agama yang akan
diadakan di Negara kita bebrapa
hari lagi. Kita tidak mau dituduh
oleh para promotornya sebagai
penghalang acara tersebut. Sebab
itu, Anda jangan sama sekali
menyinggung kaum Yahudi dan
penindasan mereka terhadap
bangsa Palestina serta penghinaan
mereka terhadap tempat suci kaum
Muslimin. Nanti para penggagas
dan pendukung dialog antar agama
bisa marah pada majalah kita loh!.
Dengan suara keras, Sa’id
menjawab : OKE BOOOSS?
Akhirnyanya Sa’id keluar dari
ruangan pimpinannya dalam
keadaan marah besar karena dia
ditugaskan menulis tentang
kenyataan yang ada di Gaza, akan
tetapi dengan seribu satu
pantangan…Namun Sa’id tidak
kehabisan akal, karena ia seorang
wartawan cerdas. Tanpa melanggar
perintah bosnya, ia menulis
laporan utama terkait Gaza dan
keesokan harinya ia serahkan hasil
tulisannya itu kepada pimpinannya
agar dikoreksi sebelum diturunkan.
Isi tulisannya ialah :
Gaza adalah The Biggest Health
Center and NO.1 di dunia.
Penduduknya menghabiskan hari-
hari mereka dengan sangat bahagia
setelah memutuskan untuk
mengikuti nasehat para ahli
kesehatan moderen agar tidak
mengkonsumsi makanan yang
menyebabkan kolesterol tinggi,
tekanan darah naik, dan
kegemukan. Demikian pula, mereka
berhasil menghindari faktor-faktor
yang menyebabkan terjadinya
pencemaran lingkungan yang
disebabkan bahan bakar minyak
dan zat kimia lainnya. Untuk itu,
mereka menerapkan olah raga
berjalan kaki yang sangat
bermanfaat bagi kesehatan tubuh
dan akal, khususnya bagi para
manula, orang cacat, orang sakit
dan para wanita hamil.
Adapun rumah sakit dan tempat-
tempat pelayanan kesehatan sudah
ditutup, karena sudah terbukti dan
tidak perlu diragukan bahwa obat-
obat tradisional alias moderen
adalah penyebab munculnya
berbagai penyakit dan membunuh
daya imunitas tubuh. Sebab itu,
para penduduk Gaza kembali
mengkonsumsi obat-obatan yang
terbuat dari daun kayu dan
rumput-rumputan atau apa yang
disebut dengan alami atau herbal
karena mengikuti petuah atau
metode pengobatan kuno, atau
konsep, back to nature.
Sebab itu, penduduk Gaza menjadi
orang-orang yang kuat dan sehat
sehingga mampu menggali
terowongan sepanjang belasan
kilometer, pemberani, dan seakan
tidak mempan senjata canggih,
kendati dihujani dengan white
phosphor lebih dari 1.5 juta kg.
Karena itu pulalah semua
penduduk Gaza, laki-laki, wanita
dan anak-anak banyak
mengucapkan terima kasih pada
pemerintah yang ikut memblokade
mereka. Boikot dan blokade itu
telah menyebabkan mereka
menemukan jalan hidup (life style)
yang sehat wal afiat dan jauh dari
godaan peradaban yang merusak
kesehatan, baik fisik maupun akal.
Yang lebih utama, mereka meminta
pada Allah agar Allah memberikan
kesempatan pada para pemimpin
negera yang ikut memblokade Gaza,
isteri-isteri dan anak-anak mereka
agar dapat kesempatan
menerapkan pola hidup sehat
seperti yang mereka lakukan sejak
beberapa tahun belakangan.
Demikian juga, penduduk Gaza
berterima kasih pada pemerintahan
Israel yang dengan terpaksa
menugaskan ribuan pasukannya
untuk mengontrol dan meyakini
tidak sampainya bantuan dan
bahan-bahan yang berbahaya –
seperti yang dijelaskan
sebelumnya- ke Gaza. Semoga
blokade itu mejadi faktor kebaikan
yang banyak bagi Gaza dalam
segala hal dan turunnya
pertolongan dari Allah.
Amin yaa Robb."

(zadalebad.com)
(eramuslim.com)

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda,Kritik Dan Saranya Sangat Ber Arti

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. MAHKOTA CAHAYA - All Rights Reserved B-Seo Versi 4 by Blog Bamz